
Tepat setelah salat Dhuhur Diana, Intan dan Tina segera menuju ke kantin yang ada di kampus. Tidak perlu menunggu waktu lama, mereka segera memesan menu makan siang.
"Diana ingin makan siang dengan apa?" Tina membuka obrolan.
"Aku ikut yang kamu pesan saja Tina."
Ya, siapa yang bisa memikirkan ingin makan dengan apa jika mereka berada pada posisi Diana saat ini? Mau makan saja sudah syukur.
Tina memahami akan segera pergi untuk memesan, namun Intan nampaknya mengetahui jika Diana masih butuh teman cerita.
"Aku saja yang pesan makanan. Tina kamu yang temani Diana ya."
Suasana kantin yang ramai dan hiruk-pikuk mahasiswa yang bolak-balik seolah mereka tidak peduli dengan apa yang Diana alami. Diana sadar waktu akan terus berputar dan dia kini tidak punya pilihan lain selain menghadapinya.
"Diana, setelah apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku masih belum bisa berpikir dengan jernih..." tatapan Diana kembali seperti menjauh.
"Aku sebenarnya ingin menyudahi ini semua..
Mas Ryan sudah benar-benar kelewatan Tin..."
Bukan air mata, tapi kini senyum pahit yang tersungging di bibirnya.
"Tapi kalau teringat Indra, aku rasa aku tidak bisa dengan mudah untuk memutuskannya..."
"Kamu sudah cari tahu siapa Sinta Diana?"
"Yang baru aku tahu baru sebatas dengan nama kontaknya di hp Mas Ryan.."
"Kalau dinamakan masa lalunya Mas Ryan, mungkin mantan pacarnya... "
"Tapi itu sangat menggelikan. Karena masih teringat jelas dalam benakku, Mas Ryan sendiri pernah mengatakan jika dia sama sekali belum pernah pacaran. Dan aku adalah cinta pertamanya..."
"Aku benar-benar bodoh ya Tin... Begitu mudah aku termakan tipuannya.."
"Kamu terlalu polos Na..."
"kamu tahu Na, tadi sewaktu aku di mesjid Ibu menelpon.."
"ibu kamu menelepon Na?"
"Iya, Ibu menelpon setelah tidak lama kalian berdua pergi."
"kamu sudah menceritakan semuanya ke Ibumu Na?"
"belum Tin aku sama sekali belum menceritakan semuanya ke ibu..."
"lidahku terasa kaku saat bicara sama Ibu. Aku berusaha menahan agar suaraku tidak terdengar seperti habis menangis tadi..."
"Aku juga takut. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika ibu tahu keadaan rumah tangga anak perempuannya disini..."
Diana pun menceritakan semua isi percakapan antara dia dengan ibunya via telepon tadi pagi. Tina tidak menyangka bahwa Diana sampai berbohong kepada ibunya.
"Jadi kapan kamu akan menceritakannya kepada Ibumu Na?"
"Kamu tahu kan bagaimanapun juga Ibumu dan Kak Andi harus tahu bagaimana keadaanmu saat ini..."
"Iya. Aku tahu. Aku pasti akan memberitahu ibu dan Kak Andi, hanya saja tadi pikiranku sangat kacau..."
"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini Na?"
"Aku masih belum tahu. Aku masih bingung Tin..."
"Bagaimana kalau kamu coba bicarakan dulu dengan suamimu Na?"
"Entah apa aku bisa bicara dengan Mas Ryan? Aku takut tidak bisa menahan emosiku Tin..."
"Mau aku temani Na?"
"Tidak... Aku rasa aku memang harus bicara empat mata dengan Mas Ryan dulu Tin.."
Tidak lama kemudian, Intan datang dengan membawa nampan yang penuh dengan makan siang. Dia harus bolak-balik untuk mengambil pesanan. Melihat itu, Tina sigap berdiri untuk membantunya.
Setelah meja mereka penuh dengan makan siang dan minuman, mereka menjeda sejenak obrolan tadi dan melanjutkan dengan makan siang.
Terlihat di wajah Intan rasa ingin tahu. Sebenarnya dia penasaran dengan apa yang dari tadi dibicarakan oleh Tina dan Diana. Tapi ia harus menahan rasa penasarannya dulu hingga mereka semua menghabiskan makan siang.
Butuh waktu sekitar dua puluh menit bagi mereka untuk menghabiskan makan siang. Lalu saat makan siang telah selesai, mereka seperti telah bersiap untuk melanjutkan perbincangan tadi.
__ADS_1
"Selama aku enggak ada tadi sedang membicarakan apa saja?" Intan nampak penasaran.
"tadi kami baru saja bicara tentang obrolan aku dengar Ibuku via telepon Tan. Lalu aku berniat ingin membicarakan semua ini berdua dengan mas Ryan dahulu..."
"kami temani ya Diana?"
"tidak Tan, terima kasih. Tapi aku ingin bicara berdua dulu."
"Ana kami berdua tetap khawatir. Dan untuk berjaga-jaga malam ini aku akan menginap di rumah Intan. Jika sekiranya kamu ada apa-apa kamu bisa segera ke kosannya Intan atau kita yang akan segera menuju ke rumahmu..."
"Iya, baiklah. Sekali lagi terima kasih ya. Dan aku mau meminta maaf kepada kalian berdua. Karena 7 tahun yang lalu aku tidak mendengar tentang kekhawatiran kalian..."
"Jika saja aku mendengar semua kekhawatiran kalian, mungkin aku tidak akan mengalami nasib pernikahan yang seperti ini..."
"Sudahlah Diana tidak apa-apa sekarang kita fokus aja bagaimana menyelesaikan masalah ini. Yang sudah berlalu kita ambil saja pelajaran supaya lebih berhati-hati lagi kedepannya..." Tina mengelus punggungku.
"Iya Na.. sekarang kita fokus saja bagaimana kedepannya. Toh kalaupun seandainya kamu tidak mengalami hal ini maka Indra juga tidak akan ada kan?" Intan ada benarnya.
"Iya.. sekali lagi terima kasih ya."
"Nanti pulangnya bareng ya Na..."
"Baik, aku tunggu kalian di mesjid ya..."
Setelah perbincangan itu mereka bertiga berpisah. Tina dan Intan melanjutkan jam mata kuliah mereka dan Diana kembali menuju masjid sembari menunggu Tina dan Intan selesai kuliah.
Pukul lima sore waktu setempat, Tina dan Intan sudah selesai kuliah. Mereka segera menjemput Diana yang berada di masjid.
Tidak banyak yang mereka bertiga bicarakan saat perjalanan pulang. Mereka tidak berani menanyakan hal lainnya, melihat Diana yang seolah masih sangat terpukul.
Keheningan masih terus mewarnai perjalanan mereka pulang hingga sampai ditempat tujuan. Tina dan Intan sudah sampai di depan kosan Intan. Tapi mereka belum mau masuk hingga memastikan dengan mata kepala sendiri bahwa Diana sudah masuk duluan kerumahnya. Nampak Intan dan Tina melihat dari jarak beberapa meter.
"Apa kamu yakin Diana akan baik-baik saja Tan?"
"melihat Diana seperti itu aku sebenarnya masih merasa cemas apa dia bisa melakukan ini sendirian ya?"
"aku juga sebenarnya masih merasa khawatir apalagi jika waktu itu dia bercerita suaminya sudah pernah melemparkan umpatan kepada dirinya.."
"tapi yang bisa kita lakukan sekarang hanya bisa melihatnya saja kan? Dia tidak ingin kita berdua ikut campur dalam urusan nya.." Intan seperti pasrah tidak dapat melakukan apapun untuk sahabatnya.
Diana seperti sedang mengepalkan tangannya. Matanya sudah tidak bengkak lagi seperti tadi pagi tapi masih terpancar kesedihan di wajahnya. Bibirnya nampak gemetar dan sebelum dia membuka pintu terdengar helaan nafas yang panjang keluar dari hidungnya.
"Assalamualaikum warahmatullahi.. "
Diana segera membuka pintu dan masuk ke rumah. Terdengar suara jawaban salam dari dalam rumah. Itu artinya Mas Ryan memang sedang ada di rumah.
"Wa'alaikumsalam Ma..." Seolah tidak terjadi apa-apa Ryan menyambut istrinya dengan senyuman.
Walaupun merasa jijik dan gusar tapi dia harus kontrol emosinya. Karena tidak mungkin dia meledak-ledak saat di rumah ada Indra
"Indra mana Pa?"
"Indra masih tidur..."
"Kok tumben tidur dijam segini?"
"Iya tadi kami main seharian sepertinya dia kelelahan..."
(apa berarti Mas Rian hari ini tidak keluar rumah sama sekali?)
Berusaha untuk tidak ingin terlalu lama melihat wajah Ryan, Diana segera ke dapur sambil menyiapkan makan malam.
"Aku tadi masak Ma. Jadi, tidak perlu repot-repot membuat makan malam.."
Mendengar suaminya berkata seperti itu Diana menghentikan sejenak kegiatannya di dapur. Namun tiba-tiba matanya tertuju pada tumpukan piring yang ada di wastafel.
Ada tiga tumpukan piring kotor. Jika memang tadi Indra dan Mas Ryan makan siang seharusnya hanya ada dua piring kotor saja. Lalu satu piringnya itu bekas siapa?
"Pa apa tadi ada tamu?" Dengan to the point, Diana bertanya kepada suaminya.
"nggak. Nggak ada tamu Emang ada apa Ma?"
Terlintas dalam benak Diana, selagi Indra masih tidur dan kini hanya tinggal dirinya dengan Mas Ryan di dapur maka kenapa tidak langsung saja mereka bicara?
Ryan yang duduk di meja makan nampak bingung dengan Diana yang tidak seperti biasanya.
"Kamu kenapa Ma? Tadi pagi juga sebelum berangkat kamu seperti nyuekin aku Ma.."
Diana segera membalikkan badannya dan duduk berhadapan dengan Ryan. Tak lupa dia mengambil handphone yang berada di saku bajunya.
__ADS_1
"rasanya aku tidak perlu lagi ya untuk ngomong panjang lebar sama kamu..."
Seperti muak kepada suaminya, Diana segera menunjukkan bukti-bukti percakapan dan foto-foto yang berhasil disimpan di memori hp-nya. Dia ingin menunjukkan kepada Ryan apakah dia masih bisa lagi untuk membohongi dirinya jika semua bukti itu sudah ia tunjukkan.
Ryan nampak seperti pencuri yang tertangkap basah. Dia memang nampak terkejut. Dari mana Diana mengetahui itu semua dan otaknya seolah-olah sedang berputar memikirkan alasan apalagi yang bisa dia lontarkan untuk membela dirinya. Namun saat ini Ryan diam membisu. Matanya melotot dan kaget. Yang pasti dia tidak bisa mengelak atas bukti-bukti yang Diana tunjukkan. Karena semuanya jelas bahwa itu adalah dirinya dengan Sinta.
Tidak kuasa untuk menahan ketenangan dirinya, Diana mulai menunjukkan emosinya. Air matanya tumpah. Wajahnya merah dan darahnya seolah mendidih. Kata-kata yang dari tadi dia tahan seolah ingin dia tumpahkan semuanya saat itu.
"Kenapa kamu menyembunyikan semua ini mas?"
"kamu bahkan sudah menghamili Shinta. Kamu sudah berzina Mas. Bagaimana kamu mempertanggungjawabkannya Mas?"
"apa yang salah dengan diriku Mas sampai kamu tega melakukan hal seperti itu? apa kekurangan aku?"
"dan sudah berapa banyak Mas kebohongan yang kamu sembunyikan dari aku?"
Diana berturut-turut menanyakan hal tersebut kepada Ryan. Nada suaranya memang pelan namun penuh dengan penekanan. Diana berusaha agar suara tangisnya tidak meledak sehingga tidak dapat membangunkan Indra.
Ryan seperti kembali ke masa lalu dimana saat 7 tahun dia melamar Diana, dia dihujani pertanyaan oleh Kak Andi. Kini masa itu terulang kembali. Namun sekarang Diana lah yang menginterogasinya dan posisinya Ryan memang seorang pelaku.
"tunggu Diana berarti kamu sendiri sudah melanggar kesepakatan kita?"
"Kamu mendapatkan screenshot itu dengan membuka sendiri handphoneku?"
"bukannya kata kamu kita harus menjaga privasi? Tapi mana?"
Diana yang memang selama ini begitu Naif membuat Ryan memanfaatkan sifatnya itu. Dia berharap Diana bisa menjadi ciut dengan perkataannya tadi.
"Kamu tidak usah mengalihkan pembicaraan Mas. Kesepakatan itu dengan fakta ini hal yang berbeda..."
"kalau kamu berharap aku akan merasa bersalah karena sudah membuka HPmu kamu salah besar. Seharusnya kamu yang merasa bersalah karena sudah menghianati kepercayaan aku Mas..."
"kenapa kamu malah menjadi membolak-balikan fakta? Aku cuma bertanya pertanyaan tadi. Tinggal jawab saja tidak usah muter-muter!"
Walau sambil menangis namun nada suara Diana meninggi. Tangannya mengepal seolah dia sudah tidak sabar lagi dengan sikap Ryan. Bukannya mengakui kesalahannya dan mengatakan alasannya Ryan justru berusaha untuk mengalihkan pembicaraan dan membuat Diana merasa terpojok karena telah melanggar kesepakatan.
"Jawab aja Mas kenapa sih kamu sampai melakukan itu? Apa kekurangannya aku?"
Kini giliran Ryan yang mengeluarkan keringat dingin. Dia seolah bingung harus bicara apa? Apa kekurangannya Diana? Sebenarnya Diana cerdas karena selalu mendapat beasiswa hingga bisa melanjutkan S2 di Turki. Bahkan dia tidak pernah menuntut Ryan untuk mencari nafkah ketika Ryan hingga saat ini belum berpenghasilan.
"Kamu... Kamu terlalu cuek Ma. Kamu nampak tidak perduli dengan penampilanmu..." Seolah menemukan alasannya, Ryan segera mendapatkan hujjah.
"Mas, Kamu tahu kan alasan aku tidak merawat wajah? Uang kita tidak cukup mas. Kita hidup selama ini itu kan dari beasiswa dan uang yang dikirim kak Andi. Kenapa kamu sekarang mengatakan seperti itu?!"
"aku baru belakangan ini saja merawat wajah itu pun karena Tina yang memberikan Skin Care Mas!"
"kalau memang aku tidak cantik, aku cuek dengan penampilan lalu kenapa kamu tidak berusaha memberikan kebutuhan aku? Dengan kamu bekerja misalnya?"
"Oh jadi sekarang kamu menuntut aku untuk kerja? Lalu siapa yang bakal mengurus rumah dan menjaga Indra?"
"kamu sudah full kuliah loh. Lagipula kamu ngapain sekolah tinggi-tinggi tapi tidak menjadi wanita karir seperti kebanyakan orang?"
"kamu lihat Sinta. Dia cuma lulusan SMA tapi sudah mampu mandiri dan mempunyai usaha yang cukup berhasil."
Seperti disambar petir, Diana tidak menyangka akhirnya Ryan membandingkan dirinya dengan Sinta. Seorang wanita yang baru saja memasuki kehidupan mereka dan merebut seluruh cinta Mas Ryan.
"Astaghfirullah... Mas!! kamu bandingkan aku dengan seorang pezina?!!"
Sudah cukup! Ryan tidak bisa diajak bicara. Itulah yang ada di benak Diana. Sudah cukup dia menahan semua ini. Akhirnya suara Diana berteriak hingga terdengar jelas ke lantai dua, kamar Indra.
Indra sudah terlanjur bangun. Dan Ryan serta Diana masih berdebat hebat di bawah. Walau masih berusia enam tahun, seorang anak juga menyadari jika ada yang tidak beres dengan orang tuanya. Kaki kecilnya penasaran, apa yang sedang dilakukan oleh orang tuanya hingga berteriak seperti itu?
Indra menuruni tangga. Suara mamanya yang menangis terdengar semakin jelas dari arah dapur. Sedangkan sang Papa terus memberi umpatan kepada mamanya.
"Ma, Pa... ada apa? Kenapa Mama menangis?"
Indra sudah tiba di dapur dan memecah pertengkaran Diana dan Ryan. Mereka berdua sempat diam sejenak dan saling memandang. Mereka sama-sama tidak menyadari jika suara mereka semakin tinggi hingga membangunkan Indra.
"tuh kan Ma, gara-gara kamu Indra bangun.."
"Cukup Mas! Kamu yang salah dan tidak mau mengakui kesalahan kamu!"
"Apa?! Sekarang bukannnya kamu juga cuma menyalahkan aku?!"
Mereka kembali berdebat. Seolah tidak mempedulikan kehadiran Indra. Indra tampak bingung dan sedih melihat keduanya seperti itu.
"Ma, Pa kenapa kalian berantem?" Indra ikut menangis.
Diana yang menyadari Indra yang juga ikut sedih melihat pertengkaran mereka, meninggalkan Ryan di dapur dan segera memeluk Indra. Diana juga menutup telinga Indra agar tidak mendengar umpatan dari papanya sambil membawa Indra kembali ke lantai dua.
__ADS_1