Malam Di Istanbul

Malam Di Istanbul
Kepercayaan


__ADS_3

Sudah berbulan-bulan sejak saat hubunganku dan Mas Ryan kembali harmonis. Dan aku membenarkan perkataan Tina. Jika sakit hatiku akan sembuh seiring dengan berjalannya waktu dan sikap Mas Ryan.


Mas Ryan beberapa kali mengantar dan menjemputku ke kampus. Kami juga sering menghabiskan waktu bertiga dengan Indra.


Dan aku sudah melupakan masalah itu. Tentu saja aku berusaha agar tidak menyinggung perasaan Mas Ryan tentang nafkah.


Aku dan Mas Ryan bahkan sudah membuat kesepakatan tidak akan ada yang disembunyikan lagi apapun itu. Baik perasaan minder, sedih, kecewa atau marah . Kami sepakat untuk membicarakan semuanya untuk menghindari pertengkaran.


Walau pertengkaran kecil tidak dapat dihindari, tapi kini tidak hanya Mas Ryan yang duluan minta maaf. Aku juga sering berinisiatif meminta maaf duluan kepada Mas Ryan.


Mas Ryan sudah berubah kembali menjadi romantis dan perhatian. Maka aku juga harus berubah lebih baik kan?


Kami sama-sama berubah. Kami sama-sama jadi lebih baik. Tidak ada lagi yang aku inginkan selain keluarga yang harmonis.


Namun, saat ini aku tengah memasuki masa-masa sibuk di kampus. Tugas-tugas, makalah, jurnal bahkan sudah harus menyiapkan tesis walau masih berupa gambaran. Aku mulai merasa tidak enak dengan Mas Ryan karena akan sering pulang malam.


Sesuai kesepakatan aku pun mencoba berbicara dengan Mas Ryan tentang jadwal kuliahku yang mulai padat.


Setelah sarapan pagi, aku bicara dengan Mas Ryan.


" Mas, gimana ya? Jadwal kuliahku mulai hari ini sampai beberapa bulan kedepannya padat banget.."


" Kemungkinan aku bisa-bisa pulang malam Mas.." Aku menatap Mas Ryan sembari tanganku menumpuk piring-piring bekas sarapan.


" Oh, udah mulai banyak tugas ya?"


" Iya Mas. Gimana dong?"


" Gimana apanya Dek? Ya namanya kuliah memang pasti banyak tugas.." Mas Ryan tampak tersenyum.


" Aku nanti pulang malam, Mas dan Indra enggak apa-apa aku tinggal seharian?"


" Enggak apa-apa sayang. Namanya kamu lagi kuliah. Mas bisa apa?"


" Masa iya Mas marah-marah?"


" Aku minta maaf ya Mas..."


" Kamu sekarang memang berubah sayang. Sekarang suka minta maaf duluan.."


" Tapi untuk masalah jadwal kuliah kamu yang padat, kamu enggak perlu minta maaf kok..."


Mas Ryan berdiri lalu memeluk pinggang ku dan mengecup keningku. Melihatku sambil tersenyum. Rasanya sudah cukup lama aku tidak melihat suamiku tersenyum seperti itu.


Itu adalah senyuman yang bikin aku berdebar-debar kencang. Ditambah dengan perawakan Mas Ryan yang tinggi dan gagah. Hidung mancung, alis tebal dan matanya yang tajam. Warna kulitnya yang tidak terlalu gelap tapi tidak putih juga. Rambut Mas Ryan juga tergolong ikal. Walaupun Mas Ryan termasuk cuek dengan penampilan, seandainya belum menikah denganku, pasti sudah banyak perempuan mengantri untuk menjadi istrinya.


"Sayang, kok wajahmu merah? Kamu sakit?"

__ADS_1


Mas Ryan menempelkan keningnya dengan keningku.


" Aneh, enggak demam ya padahal..."


" A, aku enggak sakit kok Mas.." Duh kenapa malah gagap sih jawabnya?


" Hahahaha... kamu malu ya sayang? Duhh lucunya..."


"Ma, Pa, Indra haus..." Suara Indra yang datang ke dapur membuat Mas Ryan melepas pelukannya dari pinggangku.


" Oh iya Nak, ini Mama ambilkan gelas..."


Suasana menjadi canggung. Kami seolah sedang kepergok berbuat yang tidak-tidak.


" Assalamualaikum..." Suara Intan didepan pintu cukup menjadi penolong aku dan Mas Ryan keluar dari suasana itu.


" Wa'alaikumsalam warahmatullahi..."


Aku segera mengambil kerudung yang ada di kursi dan membuka pintu. Intan terlihat sudah rapi dengan kerudung ungu dan gamis pinknya.


" Intan kamu cantik banget.." Pujiku


" Sudah enggak usah basa-basi. Ini sudah jam berapa hei. Dan kamu bahkan belum siap?" Responnya sangat judes melihatku belum bersiap.


" Maaf ya Tan. Aku sudah mandi kok. Tinggal ganti baju. Ayo masuk dulu.."


" Siap Tan. Ayo duduk. Aku ke kamar bentar ya."


Tepat lima belas menit aku sudah selesai bersiap dan kami langsung berangkat.


Aku sedikit mengingat kejadian tadi dengan Mas Ryan.


( Alhamdulillah... semua berjalan baik sampai saat ini )


( Ini seperti awal-awal tahun pernikahan kami )


" Hehehe...."


"Ana, kamu sehat Na?" Intan heran melihat aku tiba-tiba tertawa sendiri.


" Sehat, Tan.. Alhamdulillah..."


Intan makin mengerenyitkan dahinya. Dari tatapannya terlihat bahwa dia berkata kalau aku ini aneh.


" Karena banyak tugas kamu jadi stress ya Na?"


" Ngawur kamu. Aku lagi senang gini kok malah dibilang stress?"

__ADS_1


"Oh, kirain.." Intan meledek sambil menjulurkan lidahnya.


"Tugasmu sudah selesai Tan?"


"Selesai darimana? Bingung yang ada. Kalau kita bertiga ngerjain bareng-bareng gimana?"


"Yah, tapi kita bakal lama dan bisa-bisa kamu pulang malam Na..." Intan seperti khawatir aku tidak dapat ijin dari Mas Ryan.


"Tugasku juga belum selesai. Dan memang lebih enak ngerjain tugas bareng..."


"Lalu aku sudah minta ijin ke suamiku kalau mulai hari ini hingga beberapa bulan kedepan akan pulang telat karena jadwal kuliah yang padat dan banyaknya tugas. Jadi kita bertiga bisa ngerjain bareng kok.."


"Wah, asyik.."


Setibanya di kampus, kami bertiga sudah janjian mau ngerjain tugas di perpustakaan.


"Perpustakaan kampus buka sampai Maghrib, nanti setelah itu kita pindah ke kosannya Intan gimana?" Usul Tina.


"Boleh tuh..."


"Aku setuju..."


"Aku boleh nanti numpang nginep enggak Tan?. Takutnya selesai kemalaman."


"Boleh kok Tina. Tenang aja.."


Begitulah hari-hariku dikampus dengan jadwal perkuliahan yang padat dan tugas, makalah dan jurnal yang menggunung.


Aku sering pulang malam. Walaupun aku terkadang mengerjakan tugas dikosan Intan, namun posisi aku tetap tidak ada di rumah.


Sudah beberapa hari berlalu seperti itu. Namun sikap Mas Ryan tidak berubah. Indra semakin manja. Dan aku maklum. Karena mungkin ia kangen denganku.


Dalam semua ikatan kepercayaan adalah kunci berlangsungnya hubungan yang baik. Baik ikatan sahabat, bisnis tak terkecuali ikatan pernikahan.


Walau ditengah kesibukanku dan sering pulang malam, Mas Ryan tidak pernah curiga atau mengintrogasiku. Dia tidak pernah bertanya baik kepada Intan atau Tina, apa aku benar-benar mengerjakan tugas bersama mereka.


Untuk beberapa orang mungkin itu sikap suami yang tidak perduli. Tapi menurutku itu adalah kepercayaan yang Mas Ryan berikan kepadaku. Mas Ryan percaya padaku bahwa aku pulang malam memang karena mengerjakan tugas bersama Intan dan Tina. Dan kepercayaan yang Mas Ryan berikan padaku tidak akan pernah aku sia-siakan.


Begitu pun denganku kepada Mas Ryan. Aku percaya Mas Ryan bisa melakukan terbaik untuk Indra dirumah selama aku tidak ada. Dan aku tidak pernah sekalipun mengecek apa yang dikatakan Mas Ryan benar atau tidak. Mas Ryan hanya mengirim gambar kegiatannya dengan Indra dan dirumah dan menurutku itu sudah lebih dari cukup.


Kami saling percaya dan aku benar-benar tenang dengan kepercayaan yang Mas Ryan berikan kepadaku. Sehingga aku bisa fokus kuliah.


Aku memang ingin menargetkan untuk menyelesaikan S2 disini dengan cepat. Oleh sebab itu aku, Intan dan Tina sudah menyiapkan tesis walau masih berupa gambaran. Dan mengerjakan tugas tepat waktu. Belajar dengan giat agar IPK tidak turun. Kalau turun, beasiswa kami terancam dicabut. Tentu bukan masalah besar bagi Tina jika dicabut. Karena sebenarnya dia mampu dengan biaya dari suaminya sendiri.


Aku juga sudah kangen dengan Ibu dan Kak Andi. Walau sesekali menelpon, tapi aku ingin bertatap muka langsung.


Aku berharap semua berjalan lancar hingga kami bertiga bisa lulus dengan baik dari sini.

__ADS_1


__ADS_2