
Malam itu Tina dan Intan bermalam di rumah Diana. Mereka berdua juga turut tidur di ruang tamu. Beralaskan karpet dengan bantal dan guling, sudah cukup untuk membuat kedua sahabatnya itu tidur dengan lelap.
Seperti biasa, Diana yang selalu terbangun di sepertiga malam saat itupun tetap terjaga dengan sendirinya. Walau dirasa seluruh badannya sakit terutama di bagian pipinya, ia di tetap berusaha untuk bangkit.
Dengan perlahan dia memindahkan posisi Indra agar tidak terbangun. Indra hampir saja membuka matanya ketika Diana berdiri dari sofa. Segera Diana mengecup keningnya dan mengelus kepalanya agar Indra kembali terlelap.
Dirasa Indra sudah tertidur kembali, Diana menuju ruang salat. Dia mengambil wudhu dan menggunakan mukena.
Dirinya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Tuhannya. Cukup tertatih Diana untuk berdiri. Namun ia tetap melakukannya karena ia sadar saat ini tidak ada lagi yang bisa dia lakukan selain bercerita kepada Sang Pencipta.
Baru saja *t*akbiratul Ihram , hatinya sudah terasa sakit mengingat kejadian kemarin. kenangan-kenangan manis saat bersama suaminya terlintas di benaknya. Tapi saat ini Diana berusaha untuk tetap fokus.
Ayat demi ayat bacaan salat nya terdengar lirih perlahan keluar dari mulutnya. Empat rakaat sudah dia lakukan dan diakhiri dengan salam. Tidak perlu menunggu aba-aba Diana segera mengangkat kedua tangannya.
Mungkin bagi sebagian orang Diana pun termasuk wanita yang cengeng. Seharian ini tidak ada yang dilakukannya selain menangis. Bahkan ketika suaminya menuduh dia selingkuh, tidak mengakui kesalahannya hingga dipukul oleh suaminya pun Diana hanya bisa merespon dengan mengeluarkan air mata.
Diana tidak sekuat seperti wanita lainnya yang mungkin ketika terluka saat itu bisa segera bangkit kembali. Dia perlu waktu untuk mengobati lukanya sendiri.
Saat kemarin siang dia sudah berusaha untuk kuat, namun usahanya itu hancur seketika. Kini dia rapuh kembali. Pernikahan yang dia impikan dan suami yang dia idamkan, sirna oleh kehadiran seorang wanita.
Dirinya memang sudah membulatkan tekad untuk menggugat cerai Ryan. Tapi dalam hati kecilnya yang terdalam, wanita mana yang ingin mengakhiri pernikahannya kecuali jika maut memisahkan? Bukankah itu impian semua wanita? Apalagi sudah ada si kecil Indra, buah cinta dia dengan Ryan.
Kegelisahan dan kebingungan melanda hatinya. Kini ia nampak memikirkan kembali perkataan Ryan tadi malam. Mungkin ada benarnya jika saat Diana ingin menggugat cerai suaminya memang dalam keadaan emosi.
Karena Diana juga harus memikirkan kondisi Indra. Belum bisa terbayangkan oleh Diana bagaimana nasib Indra sebagai seorang anak korban broken home. Mungkin sudah banyak realita di lapangan seorang single parent yang berjuang untuk buah hatinya. Tapi dia tidak ingin hal itu menimpa Indra. Dia tidak mau Indra mengalami hal seperti dirinya waktu kecil yang kehilangan sosok ayah.
Walau jelas berbeda kasusnya. Jika Diana kehilangan sosok Ayah di usia 2 tahun karena Ayahnya yang sudah meninggal, maka Indra harus kehilangan sosok Ayah jika mereka jadi bercerai.
Memang Ryan dan Indra masih bisa bertemu, tapi hati Diana tidak bisa mentolerir jika anaknya masih ada hubungan dengan Ryan. Tapi bagaimana pun juga Indra adalah anaknya. Darah Ryan sudah menjadi bagian dari dalam tubuh Indra.
" ya Allah, apa yang harus hamba lakukan?"
" hamba sudah tidak kuat lagi jika harus mempertahankan pernikahan ini. Tapi hamba tidak tega dengan Indra yang akan menjadi korban dari perceraian... hiks..hiks..."
" ya Allah mohon petunjukMu..."
" Mas... ya Allah... tega banget kamu..."
" kenapa sampai melakukan ini padaku Mas?"
Penyesalan kembali menyelimuti Diana. Walau Diana tahu tidak ada yang bisa menjawab pertanyaannya, tapi kata-kata itu selalu terlontar berulang-ulang dari mulutnya.
Diana masih dalam posisi mengangkat kedua tangannya. Kepalanya mendongak ke atas. Pelan suaranya tapi masih bisa terdengar jika dia sedang menangis. Karena khusyuknya berdoa Diana sampai tidak menyadari bahwa dirinya tengah diamati oleh Tina dan Intan.
Keduanya hanya bisa melihat Diana dari balik pintu. Rasa trenyuh tidak lepas dari pandangan Tina dan Intan kepada dirinya. Tidak lama mereka saling bertatapan.
"aku sempat terpikirkan untuk mengajak Diana visum di rumah sakit sekitar sini." Tina membuka obrolan dengan sedikit berbisik.
"visum untuk apa Tin?"
"kamu tahu kalau visumnya keluar kita bisa memenjarakan Ryan? Karena itu adalah bukti dari KDRT."
"oh iya benar juga."
" nanti aku akan membicarakannya dengan Ana. Semoga dia setuju."
"iya, aku udah tidak sabar untuk melihat Ryan masuk sel."
" walau mungkin proses untuk memenjarakan Ryan tidak mudah karena kita warga negara asing disini, tapi tidak ada salahnya kita mencoba dulu kan?"
Intan mengganggu mendengar pernyataan Tina. Matanya sedikit berbinar seolah dia berharap bisa segera memberi pelajaran kepada Ryan.
Waktu siang yang berjalan di Istanbul Turki memang lebih panjang. Pukul tiga lebih tiga puluh lima menit saja sudah masuk jadwal solat subuh.
Ketiga sahabat itu menunaikan salat subuh berjamaah. Tina dan Intan tidak berkata kepada Diana bahwa sebenarnya sedari tadi mereka sudah bangun. Yang Diana tahu, saat adzan subuh mereka sudah siap untuk solat.
Salat subuh telah mereka lakukan. Diana sepertinya masih betah berada di atas sajadahnya. Mengerti bahwa sahabatnya masih membutuhkan waktu untuk sendiri, Tina dan Intan meninggalkan Diana berdua kembali dengan Tuhannya.
" Ana, kami ke dapur dulu ya."
Diana menjawab dengan anggukan kepala.
Tidak lama Tina dan Intan pergi ke dapur, Indra yang sudah bangun menghampiri mamanya.
Wajahnya yang dulu selalu ceria dan tersenyum riang kini hanya diam dan matanya masih terlihat sayu walau sudah tidak ada rasa kantuk.
Melihat anaknya sedang berbaring di pangkuan Diana, membuat hatinya yang tadi hancur tidak terbentuk kini sedikit membaik. Kehadiran anak memang terkadang mampu menjadi obat bagi orang tuanya.
Berkali-kali Diana mengucapkan kembali mantra di dalam hatinya bahwa dia harus kuat. Dia harus bisa melewati ini semua demi anaknya Indra.
Meskipun begitu dirinya masih terlihat bingung antara melanjutkan gugatan cerai kepada suaminya atau mempertahankan pernikahannya demi Indra.
(Aku rasa saat ini aku membutuhkan saran)
" Ana bahan makanan habis, aku mau belanja di tempat sekitar sini dulu ya." Pamitan Intan membuat Diana sedikit membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
Diana segera menoleh kearah Intan. Meskipun matanya masih sembab, kini walau sedikit senyum terlukis di wajahnya. Diana mengangguk.
" Indra sayang mau ikut nggak sama Tante Intan? Kita beli bahan makanan yuk!" Intan bermaksud mengajak Indra agar dia kembali riang seperti sebelumnya. Mungkin dengan berjalan-jalan sebentar, Indra bisa sedikit melupakan kejadian yang dilihatnya semalam.
" kamu mau ikut Tante Intan sayang?"
" ikut yuk Indra! Nanti Indra mau apapun Tante beliin deh." Intan mulai membujuk Indra.
Indra yang biasanya menjawab dengan riang, sekarang hanya bisa merespon lemas. Wajahnya masih terpancar kesedihan. Ia beranjak bangun dari pangkuan Diana dan berjalan menuju Intan.
Sebelum keluar Intan membantu mengganti pakaian Indra. Tidak butuh waktu lama, mereka segera bersiap untuk keluar. Salam sudah mereka ucapkan sebagai tanda pamit. Sekarang hanya Tina dan Diana yang berada di dalam rumah.
Diana membereskan mukenanya dan pergi ke arah ruang tamu. Dia menyalakan TV namun Diana nampak melamun dengan tatapan kosong. Air mata yang hangat kembali mengalir.
Tina yang melihat kondisi seperti itu, segera meninggalkan pekerjaannya membuat teh di dapur. Dan langsung bergegas menuju ruang tamu. Dia menepuk pundak Diana agar segera terbangun dari lamunannya.
"Na, istighfar Na..."
Diana sudah kembali sadar. Tapi dia hanya menghela nafas dan nampak seperti orang yang sedang linglung.
" aku tidak apa-apa Tin." Diana berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya.
" kamu minum teh dulu ya Na..."
Tina menyodorkan segelas teh yang masih hangat yang ia bawa dari dapur.
Walau kesadaran Diana sudah kembali, fakta bahwa hatinya sudah hancur tidak bisa dipungkiri.
Dia berulang-ulang kali sedari kemarin berusaha untuk kuat namun rapuh kembali. Berrniat untuk bangkit namun jatuh lagi.
Tina hanya bisa mengelus-elus punggung Diana agar kesadarannya tidak tertidur kembali.
" astaghfirullah..." istighfar Diana terdengar dengan suara yang pelan namun jelas. Ia terkadang meminum teh yang dibawa Tina.
" Na..jangan ngelamun."
Diana menoleh ke arah sahabatnya dengan wajah yang sangat menyedihkan. Matanya sudah berkaca-kaca. Hidungnya sudah merah dan pipinya sudah basah oleh airmata.
Sepertinya tanpa perlu bicara apapun, hanya diam saja tanpa melakukan apapun Diana akan langsung menangis.
" Ana bagaimana kalau luka di wajahmu kita visum dulu di rumah sakit sekitar sini?"
" hasil visum nya bisa menjadi bukti Ryan melakukan KDRT dan hal itu bisa menyeret dia agar bisa dijebloskan ke penjara..."
Belum selesai perkataan Tina, Diana menangis histeris. Tubuhnya yang memang sudah kurus kini nampak lebih kasihan dibandingkan dengan sebelumnya.
Siapa yang tega meninggalkan sahabatnya dengan emosi yang tidak stabil saat ini? Psikologi Diana sangat terganggu. Dibandingkan memikirkan untuk visum nampaknya membantu memulihkan kesehatan mental Diana lebih penting untuk sekarang ini.
Di satu sisi Intan yang bersama Indra sedang membeli bahan makanan di minimarket sekitar masih mencari-cari beberapa bahan makanan yang dijajarkan di etalase.
Minimarket yang Intan dan Indra datangi berjarak sekitar dua puluh lima meter dari rumah Diana. Jarak yang cukup dekat untuk ditempuh dengan jalan kaki.
Selama perjalanan dan di dalam minimarket Intan berkali-kali mengajak ngobrol Indra. Namun sedari tadi respon Indra hanya diam dan mengangguk. Wajah ceria dan tawanya yang riang kini benar-benar seperti sudah terhapus di wajahnya yang chubby. Kemana perginya anak yang periang itu sekarang?
Sembari memilih-milih bahan makanan, Intan sedetikpun tidak melepaskan genggaman tangan Indra. Matanya begitu jeli melihat jejeran bahan makanan yang dipajang.
Dianggap sudah cukup belanja, Intan segera menuju kasir. Ia berjalan pelan mengikuti irama langkah Indra. Sembari menuntun Indra dirinya dikejutkan dengan sosok pria yang sangat mirip dengan Ryan.
Siluet wajah dari samping dan tinggi badannya sangat mirip dengan suami Diana. Intan memicingkan matanya agar bisa melihat lebih jelas. Dia mengikuti perlahan ketika pria itu beranjak pergi. Dirinya ingin memastikan bahwa yang dia lihat itu adalah Ryan.
Sayangnya sosok yang mirip dengan Ryan sudah keluar dari minimarket. Sedangkan Intan terjebak dalam antrian kasir.
Namun bukan Intan namanya kalau rasa penasarannya tidak bisa dipenuhi. Dia merelakan antrian kasirnya. Sambil menggendong Indra dia menaruh belanjaan di dibawah, lalu ia pergi sebentar menuju arah pria itu keluar.
Indra yang diam saja digendong, hanya bisa pasrah dengan posisi kepalanya menempel di pundak membelakangi arah pandang Intan.
Intan tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Sesuai dugaannya pria itu memang Ryan dan dia sedang bersama selingkuhannya Sinta!
Intan hendak berlari dan sudah diniatkan dari semalam dia ingin melampiaskan kemarahan kepada mereka berdua. Tapi langkahnya tertahan saat ia sadar bahwa ia sedang membawa Indra. Anak itu masih lemas dalam pelukannya. Tidak mungkin kan Indra harus mengalami shock untuk kedua kalinya, melihat ayahnya bersama dengan selingkuhannya.
Intan segera kembali ke minimarket dan melanjutkan pembayaran atas belanjanya. Dia sempat bersyukur Indra tidak melihat laki-laki kurang ajar itu dengan perempuan perebut suami orang.
Selesai belanja Intan berjalan menuju rumah Diana. Dalam perjalanan pikirannya tidak bisa lepas dari sosok Ryan dan Sinta.
( Kurang ajar. Bisa-bisanya si Ryan itu masih tertawa dengan selingkuhannya)
( Padahal istri dan anaknya dari semalam tidak berhenti menangis)
( Bukannya pulang ke rumah, dia malah pergi bersama selingkuhannya!)
( Laki-laki enggak ada otak!)
( Kalau aku tidak membawa Indra sudah aku kejar dua orang itu)
( Ahh...sial. Kenapa aku selalu tidak bisa menghajar mereka!)
__ADS_1
( Tapi tunggu dulu, kalau mereka berdua terlihat di sekitar sini apa itu berarti tempat Sinta ada di dekat sini?)
( Waktu itu juga aku lihat mereka sedang makan tidak jauh dari sini)
( Aku harus segera pulang dan memberitahu Diana dan Tina!)
Sambil menggendong Indra dan membawa belanjaan Intan mempercepat langkahnya. Walau harus mengeluarkan keringat banyak dia tidak mengurangi kecepatannya sedikitpun. Dia sudah tidak sabar ingin menceritakan apa yang dia lihat barusan. Dia sangat berharap agar kedua orang yang berselingkuh itu bisa segera tertangkap.
Tak lama kemudian Intan sudah berada di depan pintu rumah Diana. Dia memanggil Tina agar membantunya membukakan pintu dari dalam karena kedua tangannya yang sudah penuh oleh Indra dan belanjaan tidak mampu meraih gagang pintu.
" Assalamualaikum Tina tolong bukakan pintu."
" Wa'alaikumsalam. Iya bentar Intan."
Cklek.
Pintu terbuka dan Intan bergegas masuk. Tina dengan sigap membantu membawa belanjaan dari tangan kiri Intan.
" kamu kenapa kok kelihatan terburu-buru gitu?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Tina, Intan memegang mulutnya dengan jari telunjuk agar bertanya dengan suara pelan karena Indra sedang tertidur. Si kecil Indra yang tubuhnya masih lelah karena menangis semalam ternyata selama perjalanan dia tertidur pulas.
Intan memindahkan tubuh Indra dari pelukannya dengan perlahan. Dia hendak menaruh Indra di sofa.
" huft... walau aku tadi buru-buru untung Indra tidak terbangun."
" loh kemana dia nak Tin?" Matanya segera mencari ke seisi ruang tamu namun ia tidak mendapati sosok Diana di situ.
" Ana ada di kamar, dia lagi istirahat Tan."
Mendengar posisi Diana sedang berada di kamarnya di lantai dua membuat Intan bersegera meninggalkan ruang tamu.
Penasaran dengan hal yang membuat Intan terburu-buru, Tina menahan sejenak langkah Intan dengan memegang tangannya.
"ada apa Tan? Coba kamu cerita dulu."
"Ryan Tina.. Ryan!" Nafas Intan masih belum stabil.
" kenapa dengannya?"
" aku tadi lihat Ryan bersama dengan Shinta di minimarket tempat aku belanja!"
" dan kamu tahu? Mereka masih bisa ketawa-ketiwi tanpa rasa bersalah."
" Astagfirullah..." Tina hanya bisa beristighfar mendengar keadaan Ryan yang masih baik-baik saja walau sudah memberikan luka lahir dan batin kepada Istrinya.
" aku ingin segera memberitahu Diana."
" kayaknya sekarang kurang tepat Tan kalau kamu ingin memberi tahu Diana."
" kurang tepat gimana Tin?"
" tadi saat kamu dan Indra pergi berbelanja, Diana memang menyalakan TV. Tapi Dia melamun dan tiba-tiba menangis. Tatapannya kosong.."
"lalu saat aku menyebut nama Ryan dia langsung menangis histeris. Dan hal itu terjadi berulang kali..."
"aku bahkan belum selesai membicarakan tentang visum terhadap lukanya.."
"mentalnya saat ini sangat terguncang dan tidak stabil. Emosinya mudah meluap-luap dan mudah untuk berubah..."
"aku khawatir berita yang kamu bawa akan menambah keadaan psikologisnya yang bisa semakin buruk..."
" Ya Allah bener-bener itu si Ryan! Anak dan istrinya sudah seperti ini dia masih bisa senang-senang sama selingkuhannya!"
"ssstttt. Nanti Indra bangun."
"huft... seandainya aku tadi tidak membawa Indra , sudah aku beri pelajaran si Sinta."
"ah sebal. Kenapa aku selalu kehilangan momen itu!"
"Tan, katamu kamu melihat mereka di minimarket sekitar sini?"
"iya Tina."
"sebelumnya kamu juga bilang melihat mereka makan di sekitar sini kan?"
" nah, itu dia yang mau aku bicarakan juga sama kamu. aku jadi menduga-duga apa jangan-jangan Sinta itu tinggal di dekat sini ya?"
" bisa jadi. karena kalau Sinta tidak tinggal di dekat sini dan itu jauh nggak mungkin kamu lihat Ryan yang bahkan sampai sekarang dia belum pulang tapi masih berkeliaran di sekitar sini."
"iya jelas sih, karena Ryan pasti kabur ke tempat selingkuhannya kan?!"
"kita harus segera cari tahu tempat dimana Sinta tinggal. Kalau di dekat sini mungkin tidak akan sulit."
"kita akan memberitahu Diana saat kondisinya sudah benar-benar baik."
__ADS_1
Intan mengangguk setuju dengan pendapat Tina. Karena memang yang terpenting sekarang adalah kondisi mental baik Diana dan Indra kembali membaik.