
"assalamualaikum. Pa, Indra, Mama udah pulang."
"mama!" Indra lari sambil berteriak menghampiriku yang masih didepan pintu.
Aku tangkap Indra dengan pelukan yang erat. Mas Ryan segera menghampiriku.
"tadi ngapain aja Indra sama Papa dirumah?"
"papa tadi ngajarin Indra berhitung sama main ular tangga Ma. Terus Papa kalah pas main ular tangga," nyengir Indra ke arah Mas Ryan.
"wah, hebat anak mama bisa ngalahin Papa."
"iya nih, Papa kalah dari Indra," ucap suamiku sambil mengelus rambut Indra.
"ayo Ma, masuk dulu. Sekalian kamu mandi dan siap-siap solat ashar berjamaah."
"iya Pa. Aku langsung ke kamar ya."
Mas Ryan dan Indra masih dilantai bawah. Sesekali aku mendengar suara bercanda mereka.
Aku yang menyadari sudah seharian mandi keringat, kini saatnya mandi air dingin. Segera aku masuk kamar mandi dan bersiap untuk kebawah untuk solat ashar berjamaah.
Kami selalu berusaha untuk solat berjamaah dirumah. Kecuali kalau aku ada kuliah sampai malam, maka Mas Ryan akan mengajak Indra untuk solat di Masjid terdekat.
"gimana tadi kuliahnya Ma?" tanya Mas Ryan setelah kami selesai solat.
"lancar Pa. Cuma tadi ada jam kosong. Salah satu Professor ada yang gak hadir."
"nanti makan malam mau Mama masakin apa Pa?"
"gak usah masak Ma. Tadi Papa masak sayur sop-nya sama goreng tahunya banyak."
"makan menu yang sama dengan tadi siang gak apa-apa Pa?"
"gak apa-apa Ma. Aku memang sengaja masak banyak biar kamu gak perlu masak makan malam. Takutnya kecapean habis kuliah."
"makasih yah Pa. Indra makan malamnya sama dengan menu makan siang ya?" aku langsung memeluk Indra yang sedaritadi melihat kami.
"iya Ma," jawabnya menurut.
"ma, kecap habis. Cuma Papa belum sempat keluar karena tadi masak dan beberes sambil nemenin Indra."
"oh iya Pa. Mama siap-siap sekarang ke mini market dekat sini ya."
__ADS_1
"gak usah Ma. Mama juga baru sampai kan. Papa aja yang keluar."
Seperti biasa. Mas Ryan gak mau aku terlihat capek atau kelelahan.
"iya Pa. Maaf ya Pa ngerepotin."
"gak apa-apa Ma. Sekalian ada yang lain mau dibeli?"
"belanja bulanan udah kemarin Pa. Jadi kayaknya kecap aja sama cemilan untuk Indra aja."
Aku segera mengeluarkan dompet dan kartu ATM.
"aku berangkat sekarang ya Ma. Assalamualaikum," mas Ryan langsung keluar sambil menutup pintu.
"wassalamu'alaikum," jawab Indra dan aku kompak.
Loh, kok tumben. Biasanya Mas Ryan selalu nunggu kamu jawab salam baru keluar. Kok kayak buru-buru gitu ya.
"ma, ayo temenin Indra ngulang berhitung tadi pagi," permintaan Indra seolah mengalihkan pikiranku.
"boleh. Yuk mulai Indra, Mama dengerin," aku segera memangku Indra.
"satu.. dua.. tiga... empat..."
Indra terus melanjutkan berhitung sampai angka 20. Aku memberinya reward dengan pujian dan kecupan dipipinya yang chubby.
Hari sudah semakin larut. Indra mulai menguap ngantuk. Mas Ryan segera menggendong Indra menuju kamar tidurnya yang tepat bersebelahan dengan kamar kami.
Setelah menidurkan Indra kami segera ke kamar. Aku nyalakan lampu dahulu hendak mengganti pakaian tidur.
Saat mengambil baju tidur dilemari, pantulan cermin dimeja rias membuatku duduk sejenak.
Aku amati baik-baik wajahku. Keriput halus sudah terlihat digaris senyum bibir. Ketika aku mencoba untuk tersenyum ternyata di ujung mata juga ada. Flek-flek hitam juga tidak mau kalah menghiasi kulit diwajah ku.
Aku lirik meja rias. Disana hanya ada bedak tabur, foundation dan dua batang lipstik warna natural. Sama sekali tidak ada Skincare.
Ya, aku tidak beli Skincare untuk menghemat pengeluaran. Karena untuk kebutuhan sehari-hari kami hanya mengandalkan dari uang full beasiswa dan kiriman kak Andi kakakku.
Biasanya aku selalu cuek. Toh mas Ryan juga gak pernah protes karena aku tidak merawat wajah. Tapi setelah bertemu dua orang cantik tadi baik Tina dan Mba Sinta, normalnya semua wanita pasti ingin kulit wajah seperti mereka. Dan sekarang aku merasa aku benar-benar tidak secantik dulu ketika aku masih remaja.
"kenapa sayang, kok ngelamun didepan kaca?"
Tepukan lembut Mas Ryan membangunkan untuk kembali sadar.
__ADS_1
"mas, apa aku masih cantik?" Tanyaku ragu.
"kamu cantik kok sayang. Cantik, cantik, cantik," jawab Mas Ryan sambil mencium pipiku berkali-kali.
"tapi umurku udah 30 tahun Mas. Dan ada keriput halus dan flek hitam diwajah. Aku udah gak kayak remaja lagi. Aku udah gak seperti kita saat pertama ketemu dan awal-awal nikah Mas."
"sayangku, Bidadariku. Dimataku kamu tetap yang paling cantik. Lagian semua manusia itu kan memang nantinya akan jadi tua. Nih, Mas juga udah keriput didekat bibir. Terus otot perut Mas dari sixpack jadi onepack," kata Mas Ryan sambil menunjukan perut onepacknya.
"hehehe.. iya Mas."
"nah, gitu dong. Senyum kamu itu udah kayak gula. Manis banget."
"ihh.. Mas Ryan gombal."
"lagian kenapa tiba-tiba seperti itu sayang? Biasanya kamu cuek aja dan gak begitu memikirkan penampilan."
"tadi pas aku makan sama Tina dan Intan aku ketemu wanita Indonesia yang lagi jalan-jalan Mas. Dia cantik banget kayak model. Dan kami sempat ngobrol sebentar. Ternyata usianya diatasku tiga tahun Mas. Tapi kulit wajahnya bagus banget. Seperti sering perawatan. Dan Mba itu terlihat seperti usia 25 tahunan."
"aku pikir selama ini aku cukup cuek karena Tina juga cantik dan sahabatku sendiri. Tapi ketika ada dua orang cantik di hadapanku aku jadi minder. Aku sama sekali gak bisa make up dan sama sekali gak perawatan wajah..."
"padahal dulu waktu usiaku masih 25 tahun, kulitku juga masih bagus."
Aku seolah mengeluarkan uneg-uneg ku kepada Mas Ryan yang selama ini aku pendam.
"sayangku galau daritadi karena itu?" mas Ryan langsung merangkul dari belakang.
"coba sekarang Mas tanya, yang ketemu sama kamu dirumah dan melihat keseharian kamu Mas atau mereka?"
"ya, Mas Ryan lah.."
"terus kenapa pikirin orang-orang yang bahkan gak tau keseharian kamu sayang?"
Aku hanya diam mematung mendengar pertanyaan Mas Ryan. Dalam batinku, aku hanya ingin beli skin care untuk perawatan. Dan menurutku itu masih batas wajar. Hanya saja ya itu. Masalahnya uang kami yang tidak cukup.
Tapi ini sudah malam dan aku sudah capek. Lagipula omongan Mas Ryan ada benarnya juga.
Aku yang selama ini cuek dengan penampilan masa goyah hanya karena dua wanita cantik?
"iya Mas. Makasih ya," jawabku sambil tersenyum.
Mas Ryan menjawab ucapan terimakasihku dengan ciuman lembut dibibir.
"tidur yuk sayang. Kamu harus istirahat yang cukup."
__ADS_1
Aku mengiyakan ajakan Mas Ryan dan tidur seperti biasa. Walaupun bukan jawaban yang aku inginkan, namun respon Mas Ryan seolah menjadikan hati ini lega.
Aku mungkin tidak secantik dulu . Tapi dimata suamiku, aku selalu cantik seperti pertama kali kami bertemu.