Malam Di Istanbul

Malam Di Istanbul
Ada Apa Dengan Mas Ryan?


__ADS_3

Pagi harinya aku melakukan kegiatan sehari-hari. Solat, bikin sarapan dan berangkat kuliah bersama Intan. Tidak ada yang berubah dengan rutinitas keseharianku.


Tapi sikap Mas Ryan membuatku kepikiran setengah mati. Kenapa tadi Mas Ryan sama sekali gak bantuin aku beresin bekas sarapan ya? Tadi pagi juga gak cium pipiku seperti biasa. Apalagi setelah solat subuh tadi langsung masuk ke kamar lagi. Biasanya selalu menemani Indra main atau belajar sambil nunggu sarapan siap.


"Ana, ada apa? Kok masih ngelamun aja?" senggol Intan membuat aku tersadar dari lamunan.


"oh enggak Tan. Gak ada apa-apa."


"gak ada apa-apa gimana? Aku dari tadi perhatiin kamu. Semenjak jalan ke halte sampai duduk dalam bus ini kamu udah ngelamun loh."


Aku hanya diam mendengar pernyataan Intan. Aku ingin bercerita tapi aku ragu karena ini tentang rumah tanggaku. Dan mungkin ini hanya perasaanku aja.


"gak apa-apa Tan. Sepertinya memang aku saja yang terlalu sensitif."


"kamu sensitif karena apa?"


"tadi Mas Ryan sikapnya gak seperti biasa. Tapi setelah aku pikir-pikir mungkin akunya aja yang sensitif jadi terlalu kepikiran," aku berusaha tersenyum dan meyakinkan agar Intan tidak melanjutkan pertanyaan keponya lagi.


"hmm...yaudah kalau menurut udah gak apa-apa."


Untunglah dia gak lanjut nanya lagi.


"tapi kalau ada apa-apa kamu harus cerita ya. Jangan dibiasain dipendam sendiri ya. Kita kan udah sahabatan dari SMA."


"iya Intan sahabatku yang baik," aku langsung mengacungkan jempol tanda setuju.


Kami lanjut mengobrol ringan. Aku tidak boleh melamun lagi. Karena Intan pasti akan langsung khawatir. Lupakan aku tadi pasti hanya sedang sensitif saja.


Begitu sampai depan kampus Tina sudah menunggu seperti biasa. Kami masuk ke kelas bersama.


Selama jam kuliah kami fokus pada materi pengajaran. Namun sesekali aku mengecek HP saat ada selang waktu pergantian jam kuliah.


(Kok sama sekali gak ada chat dari Mas Ryan ya? Biasanya Mas Ryan kalau jam segini selalu tanya aku sampai kampus jam berapa)


( Tadi juga gak nawarin pingin dianter atau dijemput )


( Mas Ryan juga selalu kirim foto kegiatan dengan Indra dirumah )


( Gak biasanya kayak gini? )


( Apa akhirnya kami memasuki masa jenuh pernikahan? )


Dalam kepalaku berputar-putar pertanyaan. Hatiku gelisah. Sudahlah sedari subuh bersikap demikian kini ditambah Mas Ryan sama sekali tidak ngirim chat apapun dari tadi pagi hingga sekarang jam10.00.


Ah, tapikan kalau aku dengar dari cerita Tina ini masih hal yang wajar. Tina dan suaminya saja sudah lama gak sayang-sayangan. Bahkan suaminya untuk balas chat saja dijawab singkat.


Mungkin ini saatnya aku yang bergerak duluan chat Mas Ryan. Toh, selama ini selalu Mas Ryan yang bersikap dan menunjukkan rasa cintanya. Baik itu chat atau yang lainnya.


Aku lihat dari arah pintu kelas. Dosen selanjutnya masih belum datang. Aku ambil kembali HP dari tas. Aku segera menyusun kata untuk chat Mas Ryan.


( Assalamualaikum Mas. Lagi ngapain aja dirumah sama Indra? )


Aku selipkan emoticon senyum diujung kalimat. Berharap Mas Ryan segera balas sebelum Dosen datang.


( Ah, WAnya masih ceklis satu. Apa Mas Ryan lagi gak ada kuota ya? )


Tidak lama kemudian Dosen selanjutnya masuk kelas. Aku bergegas memasukan kembali HPku.

__ADS_1


Selama aku chat Mas Ryan dan bingung bolak-balik lihat layar HP, ternyata Tina dan Intan memperhatikan dari samping. Namun mereka sepertinya lebih memilih diam sampai aku sendiri yang menceritakan.


Saat ini sedang jam kelas Professor Muhammad Adskhan. Sayang sekali untuk dilewatkan, tapi pikiranku tidak bisa fokus.


( Ayolah Ana, fokus... fokus. Sudah susah payah kamu tembus dapat beasiswa disini )


( Mas Ryan mungkin memang lagi gak ada kuota. Toh kan sudah aku chat tapi hanya ceklis satu )


( Nanti setelah kelas usai, kamu bisa beliin kuota untuk Mas Ryan )


Aku berusaha untuk kembali fokus memperhatikan penjelasan Professor Adskhan.


Akhirnya aku bisa fokus sampai jam kelas selesai. Aku langsung tanya ke Intan langganannya yang jual kuota.


"Tan, temen kamu masih jualan kuota kan?"


"masih kok Ana. Kemarin aku baru beli kuota ke dia."


"aku mau beli juga dong. Nanti aku bayar melalui kamu ya."


"oh oke. Mau beli yang berapa? Ke nomor kamu kan?"


"ke nomor Mas Ryan Tan. Minta tolong diisiin 7 GB ya."


Intan diam sejenak. Terlihat dari wajahnya kalau dia sedang berpikir, bahwa dari tadi aku liat layar HP menunggu chat dari suamiku karena mungkin Mas Ryan belum bisa balas.


"oke. Berapa nomornya Na?"


Aku segera menyebutkan nomor handphone Mas Ryan. Intan tampak segera mengetik walau sesekali mengecek nomornya.


"sudah aku minta Ana pulsa kuotanya ke temanku. Katanya nanti sekitar lima menit dikirim."


"tinggal satu kelas lagi kan? Setelah ini kita pulang," Tina mengalihkan topik pembicaraan.


"yup. Mau langsung pulang aja atau mau kemana dulu nih?" Intan nyengir.


"eh, kita ada tugas loh yang harus dikumpulkan lusa," aku mengingatkan


"gimana kalau kita ngerjainnya bareng-bareng? Dirumah siapa gitu?" usul Intan.


"wah boleh tuh. Pasti waktu gak akan terasa."


"tapi, inget ya. Kita ngerjain tugas loh nanti. Bukannya gosip atau ngomong ngarongidul," Tina seolah tahu kebiasaan kami berdua.


"siap Tina.. hihihi."


"eh, jadi dirumah siapa?"


"aku gak boleh pergi jauh-jauh. Gak diijinkan sama suami," aku seolah ingat pesan Mas Ryan. Kalau mau kemana-mana tanpa Mas jangan pergi jauh-jauh.


Mengingat tempat Tina yang lumayan jauh dari kampus dan tempat tinggalku, sudah pasti Mas Ryan tidak akan kasih ijin.


"yaudah kalau gitu dirumah Intan ya?" Tina memang peka.


"oke sip. Tenang saja. Kosan ku walau kecil muat kok untuk kita bertiga."


"tapi aku boleh sekalian nginep di tempatmu gak Tan? Kalau pulang malam aku juga gak diijinkan sama suami," Tina meminta ijin.

__ADS_1


"boleh banget dong. Btw , nanti kita jangan lupa beli cemilan juga ya."


"oiya, pasti. Harus itu. Belajar mah gak enak kalau tanpa cemilan," aku menambahi.


"dasar kalian ini. Jadi mau ngerjain tugas apa mau ngemil?" Tina tertawa melihat kekompakan aku dan Intan.


Dosen sudah datang dan masuk jam selanjutnya. Kami mulai fokus kembali. Aku tetap berusaha untuk bisa menyerap pelajaran dengan baik. Disamping itu aku juga tidak mau terlihat gelisah didepan kedua sahabatku. Aku sangat tidak enak kalau mereka juga nantinya ikut khawatir.


( Tring )


Handphone dari tasku bunyi. Gawat aku lupa untuk aktifkan mode silent tadi. Segera aku membuka tas dan mencarinya.


"ehem... Bu kimin telefonu?" ( Ehem.. Bunyi handphone siapa itu?)


Profesor segera melirik ke seluruh mahasiswa yang ada di ruangan. Tanpa perlu lama lagi aku segera menyadari kesalahanku dan berdiri.


"affet beni Prof. Sesi kapatmayı unuttum ( maafkan aku Prof. aku lupa matikan suaranya)"


" tamam. Neyse ki artık önemli değil. bir daha tekrarlama ( baiklah, untuk sekarang tidak masalah. Jangan kamu ulangi lagi ya)"


" teşekkür ederim prof." ( Terima kasih Prof )


Aku mengangguk dan segera duduk kembali. Intan menyenggol lengan ku sambil melirik.


"tumben kamu lupa silent ," Intan berbisik.


"karena tadi aku buka handphone terus chat Mas Ryan dan nungguin balasannya, aku jadi lupa silent lagi," kataku ikutan berbisik.


Kelas telah usai. Aku segera melihat layar HP. Tadi aku sama sekali tidak sempet melihat siapa yang kirim chat. Apakah Mas Ryan sudah balas chatku setelah aku kirim kuota? Aku benar-benar berharap.


( Sayang maaf baru balas. Mas tadi gak ada kuota. Untung kamu langsung sadar dan isiin aku kuota)


( Iya Mas gak apa-apa. Tadi sama Indra ngapain aja dirumah mas?)


Aku kembali menanyakan pertanyaanku yang belum dijawabnya.


( Tadi Indra mas ajarin baca sayang. Walau masih terbata-bata, tapi Indra semangat belajarnya dan Mas jadi makin semangat ngajarin Indra. Jadi Mas lupa foto sayang )


( Alhamdulillah. Jadi kangen aku ingin segera pulang dan cium Indra)


Menanggapi keinginanku Mas langsung kirim foto selfie dengan Indra. Tangan Mas yang menunjukkan simbol peace dan Indra disebelahnya sambil tersenyum riang.


Seolah lupa dengan sikap Mas Ryan tadi yang sama sekali tidak menghubungiku, aku tersenyum sendiri memandangi layar HP.


( Suamiku sayang dan jagoannya Mama)


Aku mengirimkan banyak emoticon kiss.


( Oia, Mas nanti aku mau ngerjain tugas bareng sama Tina dan Intan ya )


( Oh boleh sayang )


Aku berhenti sejenak. Kok tumben Mas Ryan enggak nanya aku ngerjain tugasnya dimana. Ini juga aku chat dengan emoticon kiss biasanya dibalas sama Mas Ryan, kok sekarang engga ya?


( Oke. Makasih sayang )


Tanpa pikir panjang, aku segera balas chat suamiku.

__ADS_1


Hal itu kembali membuatku gelisah. Wajahku yang tadi sempat senyum seolah menjadi mengkerut. Penuh tanda tanya dikepalaku. Ada apa dengan Mas Ryan?


__ADS_2