Malam Di Istanbul

Malam Di Istanbul
Kamu Berubah Mas


__ADS_3

Setelah selesai mengerjakan tugas kami bermain bersama Indra. Indra terlihat sangat gembira.


Hari sudah semakin gelap. Setelah solat Maghrib berjamaah aku kembali melihat layar Handphone, namun tidak ada satu chat pun dari Mas Ryan. Mas Ryan sama sekali tidak menanyakan kabar aku dan Indra.


( Apa karena aku pergi ke kosan Intan ya jadi Mas Ryan gak khawatir?)


"nak, sudah makin gelap kita pulang yuk."


"iya Ma," Indra segera membereskan mainnannya.


"kamu jadi menginap di sini Tin?"


"jadi Na. Aku gak diijinkan pulang malam sama suami."


"hati-hati loh, Intan kalau tidur ngorok," goda ku kepada Intan.


"mending dong aku ngorok, daripada kamu suka ngiler," seolah puas Intan membalas ledekanku dia tertawa.


Kami segera berpamitan dan kembali pulang ke rumah. Kalau sudah malam seperti ini, mungkin Mas Ryan sudah sampai di rumah.


"ma, tadi Indra senang banget main sama Tante Intan dan Tante Tina. Indra udah lama gak main selain dirumah Ma," Indra bercerita sambil tersenyum riang.


"main sama Papa juga seru. Indra diajarin macam-macam. Tapi Indra pingin main diluar juga Ma."


"kapan-kapan kita main lagi ya ke rumah Tante Intan. Nanti Mama juga akan ajak Indra jalan-jalan," aku sadar karena sibuk kuliah, sampai melupakan hak anakku untuk menghabiskan waktu bersamaku.


"asyik.. janji ya Ma."


"iya sayang Mama janji."


Selama perjalanan Indra terus mengoceh. Dia mengoceh hal-hal yang biasa dia lakukan bareng Mas Ryan di rumah kalau aku lagi nggak ada dirumah. Namun aku berhenti sejenak saat mendengar pernyataan Indra.


"papa tadi sebelum pergi ke minimarket telponan dulu Ma. Indra kira telpon Mama, mau jemput Mama."


"yang Papa telpon mungkin Om Toni teman Papa atau Pakde-Bukde."


"kok pakai sayang-sayangan ya Ma?"


Deg!


Jantungku kembali berdetak tak beraturan. Aku mematung, berusaha menenangkan kembali pikiran yang sedari tadi sudah susah payah aku ademkan.


"mungkin Indra salah dengar Nak."


Indra terlihat bingung dan memikirkan jawabanku. Kami sudah berada di depan pintu rumah. Tidak mungkin aku masuk ke rumah dengan pikiran yang kacau. Apalagi ada Indra disini. Aku mencoba membuka pintu, berharap Mas Ryan sudah pulang.


Cekrek. Pintu terbuka.


"assalamualaikum.."


"wa'alaikumsalam," aku lega mendengar suara Mas Ryan dari dalam.


"papa..!" Indra segera berlari menghampiri Mas Ryan yang sedang duduk di ruang TV.


"tadi kemana aja anak Papa yang pintar ini?" tanya Mas Ryan sambil mengelus rambut Indra.


"tadi Indra diajak Mama ke rumah Tante Intan. Ada Tante Tina juga disana. Indra senang Pa main di sana," Indra bercerita dengan penuh semangat.


Melihat interaksi Mas Ryan dan Indra aku jadi sedikit lega. Dan menyalahkan pikiranku yang sempat ngawur.


( Mas Ryan seperti biasanya kok )


"kamu udah makan malam Mas?"


"udah, tadi Mas masak. Kamu sama Indra udah makan?"


"aku sama Indra udah makan tadi di kosan Intan."


Sekilas aku memperhatikan dapur. Dapur bersih seperti tadi pagi aku tinggalkan.


( Mungkin sudah Mas bereskan tadi setelah selesai masak)


"Indra ganti baju tidur yuk."


Aku segera mengajak Indra menuju kamarnya untuk ganti baju bersiap tidur.


Malam sudah larut. Indra sudah tidur di kamarnya. Mas Ryan yang baru saja dari kamar mandi, mulai menarik selimut. Aku melihat mimik wajah Mas Ryan.


( Sepertinya Mas Ryan tidak sedang banyak pikiran atau sedang marah)


( Apa aku tanyakan sekarang aja ya?


Aku berusaha menyusun kata-kata. Dan memilih pertanyaan prioritas. Karena tidak mungkin aku menghujaninya dengan banyak pertanyaan dalam waktu yang sama.


Aku hampiri Mas Ryan. Aku pegang pundaknya dengan lembut dan aku pelankan suaraku.


"mas, kok tadi Indra gak diajak pas Mas pergi ke minimarket?"


Aku memilih pertanyaan yang paling membuatku nyesek. Namun aku tetap tersenyum. Jangan sampai aku terlihat marah.


"oh, Mas tadi buru-buru karena mau beli minyak goreng. Minyak goreng tadi tinggal sedikit. Takutnya gak cukup buat Mas masak."

__ADS_1


"karena cuma sebentar, jadi Mas gak ajak Indra."


"mas beli di minimarket mana?" aku kembali bertanya.


"di dekat sini kok."


"kok aku gak ketemu Mas ya pas pulang dari kampus?"


"ya kamu kan diluar , Mas didalam minimarket."


"mas di minimarket lama? Apa ada yang dicari? Indra nungguin di rumah sampai film Spongeb*b kesukaannya selesai."


"iya, Mas pas disana jadi ingat perlu beli beberapa keperluan Mas yang sudah habis."


"kata Indra Mas mau beli jajanan di minimarket," aku masih kurang puas dengan jawaban suamiku.


Mas Ryan tidak langsung menjawab. Dia malah melihat ke arahku dengan ekspresi wajah tidak suka.


"kenapa Mas?"


"aku yang seharusnya tanya kenapa. Kamu kenapa nanya yang gak penting gitu sih?" nadanya mulai meninggi.


Seketika aku diam. Aku kembali memutar memori yang selama tujuh tahun ini kami habiskan bersama.


( Biasanya Mas gak akan marah dengan pertanyaan remeh seperti ini)


( Mas Ryan dari awal tahu kalau aku cerewet)


Ah, sudahlah. Aku tidak ingin kami bertengkar. Ini sudah malam dan kami berdua butuh waktu untuk istirahat.


Aku raih tangannya dan aku segera minta maaf.


"maaf ya Mas kalau bikin Mas gak suka," mas Ryan hanya diam melihatku.


"tidur aja yuk Mas. Mas juga harus istirahat." Bujuk ku.


Mas Ryan masih diam. Namun dia segera memasukkan seluruh badannya dibalik selimut. Dia tidur dengan memberikan punggungnya ke hadapanku.


( Aneh. Aneh banget. Gitu aja Mas Ryan marah?)


( Kemana Mas Ryan yang selama ini sabar?)


( Kemana Mas Ryan yang selalu minta maaf duluan kalau kami bertengkar?)


Aku rasa aku tidak bisa tidur nyenyak malam ini. Sekalipun AC diruangan ini dinyalakan, tapi hatiku masih panas dan aku sangat gelisah.


( Ayo tidur Ana. Mungkin Mas Ryan sedang capek)


( Mungkin memang ini giliranku untuk berinisiatif memberikan yang terbaik sebagaimana Mas Ryan selama ini memperlakukanku )


Setelah berusaha menenangkan pikiran, aku kembali mencoba untuk tidur. Dan itu manjur.


Hari-hari semakin terlewatkan. Sikap Mas Ryan ternyata tidak kembali saat kami pertama kali menikah. Yang masih bertahan hanya perhatiannya terhadap Indra anak kami.


Tapi aku tetap tidak menyerah. Aku selalu menunjukkan rasa cintaku duluan kepada Mas Ryan. Aku berusaha meminta maaf duluan jika kami bertengkar. Aku merasa senang melakukan itu. Namun disaat bersamaan aku merasa sedih. Karena respon dari Mas Ryan sangat jauh dari harapan.


( Mas sayang, aku nanti pulang lebih awal karena dosennya tidak hadir. Mau aku belikan makanan apa?)


Tanyaku sambil menyelipkan emoticon kiss sebanyak sepuluh gambar.


( Gak usah . Mas masak kok)


Jawabnya datar. Tidak ada panggilan "Dek" sama sekali yang biasa diucapkan kepadaku. Sama sekali tidak ada emoticon kiss yang dia tambahkan diakhir kalimat.


Dan yang membuatku semakin merasa aneh. Mas Ryan sering meninggalkan Indra sendirian dirumah. Padahal katanya cuma sekedar pergi ke minimarket atau beli makan di sekitar rumah.


( Kenapa Indra gak diajak sekalian?)


Perhatiannya ke Indra memang tidak berubah. Tapi sikapnya yang suka meninggalkan Indra sendirian dirumah seolah menjadi kebiasaan barunya. Dan itu sudah berlangsung berhari-hari.


Malam hari di Turki tetap terasa panas ketika masuk musim panas. Diluar seakan-akan angin tidak akan mampir walau sekedar hanya numpang lewat. Dan sayangnya malam itu AC kamarku mati karena sedang rusak.


"duh, panas banget!"


Aku sangat kaget mendengar suara Mas Ryan yang tiba-tiba teriak.


"mas AC-nya kan rusak..."


"ya benerin dong. Panggil tukang servis AC kek," suaranya masih meninggi.


"aku sudah hubungi tukang servis AC langganan, tapi dia lagi sakit. Jadi gak bisa benerin hari ini."


"kalau dia gak bisa ya kamu cari yang lain dong, dasar b*go."


"astaghfirullah... Mas. Mas kok ngomong gitu?" seolah aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar.


Mas Ryan yang selama ini tidak pernah berkata kasar, kini malam ini, di kamar ini, dia memberikan umpatannya kepadaku.


Aku masih kaget dan bengong dengan apa yang aku lihat dan dengar namun Mas Ryan tidak menghiraukan dan langsung keluar kamar menuju ruang tamu.


( Aku salah dengar kan?)

__ADS_1


( Mas Ryan barusan bilang "b*go"?)


( Kata-kata kasar yang tidak pernah keluar dari mulutnya kini dengan enteng dia keluarkan hanya karena AC dikamar ini rusak?)


Benar saja malam itu aku sama sekali tidak bisa tidur. Aku ingin minta maaf dan menyusul Mas Ryan ke bawah ke ruang tamu. Tapi aku enggak berani. Aku benar-benar takut kalau nanti Mas Ryan akan memaki lagi.


Air mataku turun walau pelan. Menurutku ini pertengkaran kami yang paling hebat selama tujuh tahun pernikahan. Bagaimana tidak? Selupa ataupun seceroboh diriku, Mas Ryan tidak pernah sekalipun mengeluarkan makian.


Aku benar-benar sedih. Sefatal ini kah kesalahanku hingga membuat Mas Ryan marah?


( Astaghfirullah... Astaghfirullah... astaghfirullah...)


Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00. Aku tidak bisa memejamkan mata. Aku merasa mataku sembab karena menangis tadi.


Aku segara bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Aku gelar sajadah yang ada dikamar. Segera aku pakai mukena. Solat sunnah Tahajjud empat rakaat sudah aku tunaikan. Alhamdulillah hatiku sedikit lega.


Masih ada waktu sekitar satu setengah jam lagi untuk menunggu adzan subuh. Aku segera membereskan buku-buku untuk kuliah hari ini.


( Aku udah gak kuat lagi kalau menahan ini sendiri)


( Apa saatnya aku sharing sama Tina ya?)


( Tapi ada Intan juga. Aku enggak enak kalau ada Intan. Karena dia tinggal dekat sini takutnya Intan malah makin kepikiran )


( Apa yang harus aku lakukan ya Allah?)


Suara sayup-sayup orang yang membacakan ayat suci Al-Qur'an terdengar dari arah mesjid. Beberapa saat lagi mungkin masuk waktu Shalat subuh.


Aku bulatkan tekad untuk kebawah dan membangunkan Mas Ryan agar bersiap untuk solat.


Aku lihat Mas Ryan tidur dengan nyenyak di sofa. Badannya sama sekali tidak ditutupi selimut. AC diruang tamu masih menyala dan menunjukkan suhu yang lumayan dingin.


( Bagaimana bisa dia tidur dengan nyenyak setelah memakiku? )


Ah, sudahlah. Ini saatnya aku harus sabar.


"Mas Ryan, bangun yuk Mas. Sebentar lagi adzan subuh." Aku membangunkannya dengan lembut.


Mas Ryan menepis tanganku yang ada di pundaknya. Seolah tidak mau dibangunkan.


( Astaghfirullah...)


"yasudah kalo Mas masih mau tidur sebentar lagi. Nanti aku bangunkan setelah adzan saja ya," aku membisikkannya dengan pelan.


Mas Ryan sama sekali tidak memberikan respon apapun. Tapi aku tahu kalau Mas mendengar apa yang aku katakan.


( Sepertinya Mas masih marah karena AC semalam )


Pukul 03.25 sudah masuk solat subuh waktu setempat. Kami solat subuh berjamaah. Selesai solat aku menghampiri dan mencium tangan Mas Ryan.


"mas , aku mohon maaf yang semalam ya," kalau mengingat kembali umpatan itu, dadaku kembali sesak. Tapi aku tidak boleh terlihat sedih karena ada Indra disini.


"iya gak apa-apa," jawab Mas Ryan dengan datar seperti biasanya.


"aku langsung siapkan sarapan ya."


Aku segera ke dapur dan menyiapkan sarapan. Indra kutinggal bersama Mas Ryan berharap bisa menemani Indra walau sebentar.


"mama, mau bikin sarapan apa?"


Aku kaget mendengar suara kecilnya di dapur. Ternyata dari tadi dia membuntutiku ke dapur.


"mama mau bikin omelette rice kesukaan Indra," Indra tersenyum mendengar jawabanku.


"Indra sayang sama Papa aja ya? Di dapur ada kompor yang nyala."


"papa tadi langsung ke atas ke kamar Ma."


"yaudah Indra tunggu di ruang tamu ya sambil nonton TV?"


"iya Ma."


( Mas Ryan ini kenapa lagi ya? Apa masih marah?)


Setelah sarapan , aku langsung bersiap berangkat kuliah. Hari ini mulai masuk kelas jam08.30. Saat aku bersiap-siap Mas Ryan masuk kamar.


"kalau kamu udah pulang kuliah jangan lupa cari tukang servis AC. Biar malam gak panas." Perintahnya dengan nada yang ketus.


"iyaa Mas. Nanti aku cari."


"kayak gitu aja harus diajarin. Percuma kuliah tinggi-tinggi otak gak dipake."


"apa Mas?" aku kaget setengah mati mendengar ucapan Mas Ryan tadi.


"biasakan pake otak. Gitu aja gak ngerti. Gobl**," mas Ryan segera pergi meninggalkan kamar setelah makian itu.


Tubuhku langsung bergetar dan keluar keringat dingin. Kerudung yang tadi aku ambil dari lemari kini jatuh. Dan air mata tanpa aku perintahkan keluar dengan sendirinya.


Kenapa? Kenapa Mas Ryan bisa berubah seperti ini?

__ADS_1


__ADS_2