
Jalanan disekitar kampus tidak seramai tadi pagi. Mungkin karena siang ini matahari sudah semakin percaya diri untuk meninggi. Kami hanya cukup jalan kaki beberapa meter dari kampus menuju restoran tempat kami biasa nongkrong.
Yah, maklumlah emak-emak juga butuh nongkrong dan me time biar tetap waras kan? Hihihi.
Sepanjang jalan kami bertiga tetap heboh sambil bercerita dan bercanda. Tanpa sadar kami sudah berada didepan pintu masuk restorannya.
"hoşgeldiniz." ( Selamat datang)
Sapa waiter yang siaga begitu pintu resto dibuka. Kami bertiga hanya tersenyum mengangguk. Tidak disangka ternyata bukan cuma kami saja yang mau me time. Namun pengunjung yang lain juga. Suasana restoran yang cukup ramai membuat kami bertiga bingung hendak duduk dimana.
"lütfen beni takip edin. Bir yer buldum." ( Silahkan ikut saya. Saya carikan tempat duduk )
Kami menurut mengikut arahan waiter. Semua tempat duduk sudah penuh kecuali tempat yang ada dipojokan jendela. Dua meja bundar ukuran sedang dan empat kursi lebih dari cukup untuk kami bertiga.
"teşekkür ederim." ( Terima kasih)
Kami bertiga kompak mengucapkan terimakasih dan mengangguk pada waiter.
"rame banget ya. Tapi wajar sih, diluar lumayan panas. Jadi resto jam siang gini penuh," kata Intan sambil menaruh tas dimeja.
"iya, untung kita masih kebagian tempat duduk loh."
"kalau panas gini sih, enak yang seger-seger ya," Tina segera membuka daftar menu yang ada dimeja.
"aku mau hoşaf dong. Hoşaf disini seger. Pakai buah tin dan anggur. Ana mau apa?"
"aku juga mau hoşaf Tina."
"oke, berarti hoşaf tiga. Makannya apa?"
"aku mau sarma börek sama cappadocian meatballs," Intan sudah selesai memesan.
"hmm... Kalau aku mau pesen kumpir sama dolma."
"oke, aku pesannya sama dengan Ana aja."
" affedersiniz, sipariş vermek istiyoruz ( Permisi, kami mau memesan)," Tina segera memanggil pelayan.
Selagi menunggu pesenan kami kembali mengobrol ringan. Obrolan dibuka dengan pertanyaan Intan kepadaku.
"ana, kamu sampai sekarang belum tahu password medsos suamimu?"
"belum Tan. Aku bahkan sampai sekarang gak pernah ngecek HP-nya."
"kalian 24jam dan 7 tahun bersama tapi sama sekali gak pernah nge-cek HP?" tanya Intan memastikan
"iya Tan. Sama sekali gak pernah. Aku sama Mas Ryan udah janji dari awal nikah untuk saling jaga privasi masing-masing. Dan saling percaya. Alhamdulillah selama 7 tahun ini semua berjalan sangat baik."
"yah, walaupun yang namanya nikah pasti ada berantemnya. Tapi hanya perkara remeh. Dan bisa kami selesaikan."
"kamu sama sekali gak ada rasa curiga sedikitpun gitu Na?" Intan masih tidak percaya.
__ADS_1
"gak ada Intan. Kami tetap saling percaya. Dan menurutku itu kunci langgengnya pernikahan. Kalau kamu masih gak percaya coba tuh tanya Tina. Dia kan juga suaminya ada di Indonesia. Gak mungkin bisa ngecek HP suaminya sesuka hati."
"iya, aku memang jarang ngecek HP suami. Karena paling cuma janjian meeting sama kliennya," jawab Tina.
"tapi, kalau aku sih masih tahu password akun medsosnya," nyengir Tina sambil melirik ke arahku.
"hadeuhh.. Iya deh iya. Yang udah saling tukeran password akun.."
Melihat respon yang aku berikan mereka berdua hanya tertawa kecil.
"yang penting aku kan gak jomblo, "ledekku mengarah Intan.
"ihh jahat banget kamu Na," Intan mulai manyun.
"hahahaha... makanya jangan kepo lagi sama rumah tangga orang Tan.."
"iya deh maaf. Aku sebenarnya cuma kagum sama kamu Na. Kamu yang bisa ta'aruf sama suamimu cuma satu Minggu . Itu pun kenalannya dari sosmed. Dan kalian bisa langgeng harmonis sampai sekarang," Intan menjelaskan sambil tangannya mengambil hoşaf yang sudah disediakan oleh pelayan.
"alhamdulillah.. kalaupun kami bertengkar kecil, Mas Ryan yang selalu minta maaf dan mengalah duluan. Mas Ryan juga kalau marah gak pernah ngomong kasar dan selama 7 tahun nikah ini gak pernah mukul."
"iya, ditambah lagi Indra anakmu yang lucu ya Na," tambah Tina sambil melamun.
Duh, gawat. Tina pasti sedih, karena walaupun sudah menikah selama tujuh tahun Tina dan suaminya belum dikaruniai anak. Intan yang masih jomblo juga seketika ikut sedih.
"loh, loh.. kok jadi sedih gini suasananya? Ayo yang mau me time. InsyaAllah pasti kamu dan suamimu segera dikasih momongan Tina."
"Intan, kamu juga manis dan Allah sudah menciptakan manusia berpasangan-pasangan. Yang artinya jodoh kamu juga sudah Allah siapkan kan. So, semua pasti akan datang pada saat yang tepat," hiburku pada dua sahabat yang sedang sedih.
"kalau gitu ayo kita mulai makan sekarang. Aku udah lapar karena sedih terus. Hahaha," kata Intan sambil melahap cappadocian meatballs pesanannya.
"triing..."
Bunyi pesan masuk dari HP ku membuat aku menunda memasukkan dolma ke dalam mulutku. Segera aku ambil dan buka HP.
(Selamat makan sayangku yang cantik. Kami juga lagi makan siang)
Tidak hanya chat , Mas Ryan juga mengirimkan gambar sedang makan bersama Indra. Tidak lupa juga tambahan emoticon kiss diakhir chatnya. Pesan Wha**App dari suamiku yang masuk membuatku tersenyum senang.
Intan yang tahu bahwa itu dari suamiku segera berkomentar.
"kalian bener-bener harmonis ya Na. Seperti difilm itu tuh, yang judulnya apa ya? Keluarga Cem*r* kalau gak salah ya?"
"heuhem... yang pasti Na, kalau kamu senang kita berdua ikut senang," Tina menambahkan sambil mengunyah kumpir.
"kan kita sahabat. Jadi senang bareng dan sedih bareng gaess," aku segera memegang tangan kedua sahabatku itu.
"pardon bayan. Bir koltuk hala kullanılabilir mi?" ( Permisi nona. apa kursi yang masih kosong satu boleh dipakai?)
Tiba-tiba seorang pelayan menghampiri kami dengan seorang yang sepertinya customer yang baru masuk. Seketika kami bertiga kompak melihat keliling restoran dan memang kondisi masih penuh pengunjung.
"Tina, Ana gimana? Dia boleh gabung?" tanya Intan berbisik.
__ADS_1
"kasian sih dia kalau berdiri nunggu gitu. Toh, memang kursi yang satu ini kosong. Kalau aku sih gak masalah," jawab Tina.
"iya, aku juga gak apa-apa. Takutnya dia juga udah lapar. "
" mayıs. lütfen buraya otur ve bize katıl ( Boleh. silahkan duduk disini dan bergabung bersama kami )," Tina segera mempersilahkannya untuk duduk.
" teşekkür ederim." ( Terima kasih)
Kami bertiga tersenyum menyambut customer yang baru saja bergabung.
" i'm sorry, are you from Indonesia?" tanyanya.
" iya, kita bertiga dari Indonesia."
" oh oke. Kalau gitu pakai bahasa Indonesia aja ya," dia balas tersenyum kepada kami.
"boleh. Namanya siapa mba?" tanya Intan kepo.
Nih, anak satu emang gak pernah hilang sifat keponya. Aku hanya menggeleng dan tersenyum mendengar pertanyaan Intan.
"kenalin nama saya Sinta," jawab Sinta sambil menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. Kami segera menyambut jabatan tangannya dan saling memperkenalkan diri.
" terimakasih ya udah boleh gabung. Di restoran lain dekat sini juga sama udah penuh. Kalau aku muter nyari-nyari lagi, udah keburu kelaparan dijalan."
"mungkin karena siang ini panas, jadi orang-orang pada ngadem di restoran yang ada AC-nya mbak. Sama kayak kita . hihihi."
Mbak Sinta tersenyum mendengar respon Intan. Aku malah fokus pada wajah Mbak Sinta. Ternyata selain Tina ada juga perempuan yang cantik bak model. Mata hitam, kulit putih, wajah glowing dan hidungnya mancung. Badannya juga langsing. Tingginya kira-kira mungkin 170cm. Lebih tinggi dari aku yang cuma 165cm.
"hei..." Tina segera menyikut tangannya menyadari bahwa sedari tadi aku terpaku pada Mbak Sinta. Dan itu memang tidak sopan.
"ohh, maaf Mbak Sinta saya tadi tidak sopan melihat Mbak Sinta seperti itu. Tapi Mbak Sinta beneran cantik. Apa Mbak Sinta model di Indonesia?" duh, kenapa aku malah jadi ikutan kepo kayak Intan ya.
"aku bukan model kok Mbak Diana. Kebetulan aku punya usaha kuliner di Jakarta dan sekarang lagi liburan aja."
"ohh.. orang kaya nih," bisik Intan kepadaku. Aku spontan menoleh ke arah Intan agar dia diam tidak berkomentar apapun.
"mbak Sinta kesini sendirian?"
"iya, aku kesini sendirian. Tapi aku udah ada janji sama teman lama waktu sekolah dulu," jawab Sinta sambil makan pesanannya.
Bincangan kami sudah selesai sebagaimana makanan yang ada diatas meja. Kami bertiga sepakat untuk keluar duluan karena aku sudah dichat suamiku untuk pulang dan jam sudah menunjukkan pukul 16.00.
"mba, mohon maaf kami keluar duluan. Aku harus segera pulang karena anak dan suami sudah nunggu dirumah."
"kalau aku dekat dengan tempat Diana tinggal jadi kami harus pulang bareng," Intan menambahi
"aku juga harus pulang. Nanti suami sudah janji mau berkunjung ke tempatku malam ini," ucapan Tina membuat aku dan Intan serentak meledeknya.
"cieeeee....."
Tanpa menanggapi ledekan kami, Tina segera berpamitan lalu pergi. Kami berdua segera mengejarnya keluar. Meninggalkan Mbak Sinta yang masih harus menghabiskan setengah pesenannya.
__ADS_1