
Setelah solat subuh aku selalu ke dapur untuk membuat sarapan. Walaupun terkadang Mas Ryan membantu membuatkan sarapan. Tapi semenjak Mas Ryan peduli dengan penampilannya, dia jadi jarang membantuku.
Cucian piring setelah sarapan yang biasanya Mas Ryan bersihkan kini selalu menumpuk dan tidak pernah disentuhnya hingga aku yang membersihkan semuanya.
Aku sempat ingin bicara dengannya. Tapi aku segan. Entahlah seperti ada rasa trauma. Aku takut Mas Ryan nantinya marah dan mengumpat kembali.
Lagipula Mas Ryan masih membersihkan rumah saat aku tidak ada. Jadi menurutku masih wajar jika membersihkan piring sisa sarapan setiap pagi.
(Toh, Mas Ryan seharian bahkan bisa sampai malam dirumah dengan Indra)
(Belum beberes rumah, mengajak Indra main dan masak makan siang)
Begitu pikirku hingga memaklumi perubahan yang tidak seberapa ini.
"Ma, bikin sarapan apa? Kok wanginya enak?" Indra sedang duduk di kursi sambil terus memperhatikan aku.
"Mama bikin nasi uduk sayang. Lengkap dengan tempe orek dan bihun goreng."
"Hmm... kedengarannya enak sekali.." Indra bergaya meniru chef yang ada di TV.
Aku hanya bisa tertawa melihat tingkah lakunya.
Nasi uduk sudah matang. Wangi gurih santan, daun salam dan sereh menyerbak hingga mampu memanggil Mas Ryan yang masih dikamar untuk turun.
Tap..Tap..Tap..
"Wangi banget Ma.." Kata Mas Ryan sambil turun dari tangga dengan terburu-buru.
"Ayo Pa, Makan."
Sesuai dugaanku. Mas Ryan masih bertahan dengan gaya pesoleknya. Dia sudah mandi dan wangi. Rambutnya seolah sudah biasa dengan minyak rambut. Bahkan kulit wajahnya saja sudah semakin mulus.
Memang aku juga sudah memakai skincare. Tapi belum bisa rutin. Karena begitu pulang malam setelah kuliah terkadang aku hanya cuci wajah saja. Mata dan tubuh sudah berat rasanya untuk sekeder duduk dimeja rias untuk memakai skincare.
Aku ingin sekali memuji suamiku. Tapi sedang ada Indra. Setelah selesai sarapan aku akan memuji Mas dan mengatur jadwal untuk bersama berdua sesuai saran Tina.
Indra seolah sudah tidak sabar. Dia langsung melahap nasi uduk buatanku. Bahkan minta nambah. Tempe orek dan bihun sudah hampir habis dimeja makan. Untung aku masak banyak tadi.
Sarapan pagi sudah selesai. Indra segera menuju tempat favoritnya. Ya, ruang TV. Menyetel acara kesukaannya. Sesekali dia meniru gaya tokoh kartun yang dia tonton.
Saat Indra sudah asyik dengan dunianya, tinggal aku dan Mas Ryan di dapur dengan handphone di genggaman tangannya. Suamiku tampak fokus memperhatikan layar HP.
"Mas, aku masak nasi uduk banyak. Aku boleh bawa ke kampus untuk Tina dan Intan?" Tanyaku sembari memindahkan piring kotor.
"Terserah kamu."
Aku terdiam sejenak.
(Apa aku salah dengar? Kok nadanya ketus lagi?)
Aku segera menatap Mas Ryan. Aku ingin memastikan sendiri apa memang aku yang salah dengar.
"Mas, kamu kenapa?".
Mas Ryan hanya diam sambil mengetik sesuatu di handphonenya.
"Apa nasi uduk nya kurang enak?"
"Ck... Cerewet..."
Alih-alih menjawab pertanyaan ku Mas Ryan berlalu sampai berkata demikian. Dia segera naik ke atas.
(Ada angin apa Mas Ryan jadi seperti itu?)
(Baru beberapa menit tadi padahal baik-baik saja)
(Belakangan ini juga tidak ada masalah apa-apa)
(Kenapa Mas Ryan jadi seperti ini lagi?)
(Apa ada kata-kata ku yang menyinggungnya?)
(Ayo pikirkan Ana, kamu tadi ngomong apa?)
(Ah, dipikirkan pun aku tidak tahu ada salah apa. Sebaiknya aku tanyakan ke Mas Ryan langsung)
Aku segera menyusul suamiku ke kamar. Tapi sebelum ku susul ke atas, aku sempatkan mengecek Indra. Syukurlah dia masih anteng.
Setibanya aku dikamar, pintu kamar terbuka dan Mas Ryan sedang tiduran dengan handphone masih digenggamnya.
"Mas, aku ada salah ngomong apa? Aku benar-benar tidak tahu.."
"Dan aku minta maaf kalau bikin Mas Ryan jadi marah..." Aku hampiri perlahan suami ku yang sedang gusar.
__ADS_1
Aku dicuekin. Mas Ryan tetap diam.
"Mas, aku tidak bisa tenang berangkat kuliah kalau kamu masih marah." Kupegang pundak Mas Ryan.
PLAK!!
Tanganku ditepis dengan keras. Aku benar-benar kaget.
"Mas....Aku mohon maaf kalau ada salah. Tetapi sesuai kesepakatan kita beberapa minggu lalu, apapun itu harus kita bicarakan..."
"Aku benar-benar tidak paham kalau kamu tiba-tiba marah seperti ini.. "
Mas Ryan langsung melotot ke arahku. Dari tatapannya aku tahu bahwa aku diminta segera pergi dari kamar itu. Tapi aku tidak bisa berangkat kuliah dengan tenang kalau Mas Ryan tiba-tiba marah seperti ini.
(Bagaimana ini?)
(Apa aku keluar dan berangkat saja?)
(Khawatir Mas Ryan juga tambah marah)
"Aku minta maaf Mas, aku tidak tahu penyebab Mas tiba-tiba marah..."
Mas Ryan masih terdiam dan melotot melihatku. Bahkan wajahnya sedikit merah. Seperti memendam amarah yang besar. Bukan seperti Mas Ryan. Aku benar-benar takut.
"Yasudah Mas, kalau begitu aku pamit pergi ke kampus ya..."
"Assalamualaikum Mas..." Aku putuskan segera pamit ke Mas Ryan.
Mungkin Mas Ryan butuh waktu sendiri. Nanti ketika istirahat siang di kampus aku akan coba telepon.
Aku segera menuruni tangga. Aku lihat Indra masih menonton televisi. Duh, aku jadi galau. Apa bisa aku meninggalkan Indra bersama Mas Ryan lagi marah begini?
Tapi Mas Ryan juga tidak mau aku ada di rumah. Apa aku tidak kuliah dulu dan ajak Indra jalan-jalan saja ya?
(Berarti aku hari ini bolos kuliah?)
(Padahal aku sama sekali tidak pernah membolos)
(Jika aku ingin mengajak Indra jalan-jalan aku harus pamit lagi ke Mas Ryan)
(Karena tadi aku pamit mau ke kampus)
"Indra sayang, hari ini mau jalan-jalan sama Mama enggak?" Aku menghampiri Indra yang sedang duduk di karpet.
"Hari ini Mama mau jalan-jalan sama Indra. Indra enggak mau?"
"Mau banget Ma...!"
"Kalau Indra mau pergi, mandi dulu ya. Yuk kita ke kamar mandi."
Dirumah ini ada dua kamar mandi. Yang satu kamar mandi yang berada didalam kamar tidur aku dan Mas Ryan. Satunya lagi ada dibawah dekat dapur.
Indra terlihat senang aku mandikan. Tidak berhenti dia mengoceh dan tertawa. Dia sudah punya cita-cita saat kita jalan-jalan nanti mau jajan apa saja.
"Ma, nanti Papa ikut juga kan?"
"Hmm... Papa lagi tidak enak badan sayang. Jadi nanti kita jalan berdua..." Aku bingung mau menjawab apa. Tidak mungkin kan aku jawab kalau Mas Ryan lagi marah denganku?
Selesai memandikan Indra tepat pukul 09.00. Aku segera membawa Indra ke kamar dan memakaikannya baju.
"Assalamualaikum... Ana." Suara Intan terdengar dari arah pintu.
"Wa'alaikumsalam... Bentar Tan.."
"Indra sayang, Mama buka pintu dulu ya. Indra bisa pakai celana sendiri?"
"Bisa Ma.."
"Pintarnya anak Mama..."
Aku meninggalkan Indra dan menuju pintu yang ada di ruang tamu.
Cklek.
"Yuk berangkat Na..." Ajak Intan.
"Tan, maaf. Aku hari ini bolos kuliah dulu.."
Intan tidak percaya aku berniat bolos kuliah hari ini. Dari semenjak SMA saja, walau aku sakit kepala selama aku masih bisa berangkat sekolah aku akan tetap berangkat.
"Tumben banget Ana. Ada apa? Selama ini absen kuliah kita selalu hadir."
"Aku ada keperluan Tan..." Aku masih belum bisa menjelaskan apa yang terjadi pagi ini dirumah.
__ADS_1
"Mama, aku sudah pakai celana..." Indra tiba-tiba menghampiriku yang sedang berdiri di depan pintu.
"Aduh Indra pagi-pagi sudah mandi, sudah ganteng..." Intan menyapa Indra sembari mengelus rambutnya.
"Iya Indra sudah mandi soalnya mau diajak jalan-jalan sama Mama.."
Intan terkejut mendengar jawaban Indra. Ia segera melirik ke arahku. Dari wajahnya terlihat bertanya-tanya. Mau tidak mau aku rasa aku harus menjelaskan kepadanya.
"Indra, bisa pakai bedak sendiri sayang?" Aku berusaha membuat Indra tidak mendengar percakapan aku dengan Intan.
"Bisa Ma.."
"Kalau begitu Indra pakai bedak dulu ya. Nanti kita segera berangkat.."
"Iya Ma.." Indra langsung berlari ke kamarnya.
"Ana, sebenarnya ada apa? Kamu Beneran hanya ingin mengajak Indra jalan-jalan sehingga tidak masuk kuliah..?"
"Kalian jalan-jalan bertiga dengan suamimu?"
"Tan aku bingung bagaimana menjelaskannya kepada kamu..."
"Tadi pagi Mas Rian tiba-tiba marah. Aku sama sekali tidak tahu penyebabnya dia menjadi marah.."
"Dan aku merasa cemas meninggalkan Indra bersama dengan mas Ryan. Apalagi kita kuliah sampai malam.."
"Tapi aku juga tidak bisa berada di rumah sekarang, karena Mas Ryan sepertinya butuh waktu untuk sendiri..."
"Jadi aku memutuskan hari ini tidak masuk kuliah dan mengajak Indra jalan-jalan keluar.."
"Tidak mungkin juga kan aku bawa indra ke kampus Tan?"
Intan menghela nafas mendengar penjelasanku.
"Kalau memang kamu terpaksa bolos ya mau bagaimana lagi?" Intan tampaknya sudah mengerti.
"Ana tapi janji ya Nanti siang kamu hubungi aku dan Tina..."
"Kalau ada apa-apa pokoknya kamu harus cerita dan mengabari kami."
Setelah berkata seperti itu Intan pamit lalu berangkat ke kampus. Masih terpancar kekhawatiran di wajah Intan. Aku yakin Intan mungkin merasa aneh mendengar sikap suamiku yang tiba-tiba marah.
Aku segera bersiap-siap untuk pergi dengan Indra. Aku menuju kamar lantai 2 untuk pamit kembali kepada Mas Ryan.
"Mas, aku hari ini tidak berangkat ke kampus. Aku ingin pergi jalan-jalan dengan Indra.."
"Mas, mau ikut?" Aku bertanya hati-hati karena takut Mas Ryan kembali marah.
Dan benar saja dia masih marah. Wajahnya menunjukkan ketidak sukaan aku bertanya seperti itu.
"Kamu berisik banget sih? Sudah sana pergi, dasar b*go!"
DEG!
"Mas...." Aku tidak percaya Mas Ryan mengumpatku lagi.
(Astaghfirullah... Mas Ryan kenapa begini lagi?)
Aku tidak ingin berlama-lama disini. Aku takut akan lebih banyak menerima umpatannya.
"Aku pamit Mas.. Assalamualaikum.."
Aku menuruni tangga dengan perasaan shock. Bagaimana mungkin Mas Ryan kembali menjadi pemarah lagi?
Aku ingin menangis dan merasa kecewa. Tapi Indra sudah menungguku di bawah dan tidak mungkin aku menunjukkan wajah yang sedih di hadapannya.
(Ayo Ana kamu kuat. Kamu sudah pernah menghadapi Mas Ryan yang seperti ini)
(Dan Indra sudah menunggu di bawah. Jangan biarkan dia ikutan sedih melihat wajahmu)
Seolah tidak terjadi apa-apa aku menggandeng tangan Indra dan kami pergi berdua.
Kami jalan-jalan di sekitar taman dan pergi membeli beberapa jajanan. Indra terlihat senang. Beberapa kali dia bermain kejar-kejaran dengan anak-anak seusianya.
Aku duduk di bangku sekitar taman sambil mengawasi Indra bermain. Pikiranku terbagi menjadi dua.
Aku masih merasa bingung dan sedih dengan sikap Mas Ryan yang kembali berubah. Padahal baru semalam kami baik-baik saja. Saat sarapan juga baik-baik saja.
(Kalau tidak salah semenjak Mas Ryan memegang HPnya dia mulai terlihat kesal)
(Sebenarnya ada apa di hp-nya Mas Ryan?)
(Kalau memang ada masalah kenapa tidak cerita?)
__ADS_1
(Mas, kamu sedang melakukan drama apa?)