Malam Di Istanbul

Malam Di Istanbul
Yang Selalu Ada


__ADS_3

Tidak sedikit waktu yang berlalu Diana, Indra dan Tina nangis bertiga. Tentu bukanlah hal yang mudah bagi Diana untuk menerima semua kejadian ini. Suaminya yang selama ini bersikap manis, romantis dan perhatian ternyata tega melakukan hal yang membuat hatinya hancur berkeping-keping.


Menyadari mereka bertiga belum turun dari kamar Indra, Intan berinisiatif menjemput Indra di atas. Intan tahu betul mungkin ada yang ingin di keluh kesah kan Diana kepada Tina. Namun tidak ingin jagoan kecilnya ikut mendengar.


Intan segera ke atas menuju kamar Indra. Ketika dia sudah didepan kamar Indra, Ia merasa iba kepada anak sahabatnya itu. Mata Indra sudah sayu. Terlihat di wajahnya jiwanya sangat shock. Dengan lembut Intan memeluk dan membisikkan, bahwa dia sudah membuat susu hangat dan menemen.


"Indra sayang turun ke bawah yuk.. Tante Intan sudah bikin susu hangat dan menemen.."


Indra hanya diam saja. Nampaknya dia bingung. Tidak tega meninggalkan ibunya yang masih menangis. Matanya yang sayu tetap mengarah kepada ibunya.


"Indra nggak usah khawatir di sini ada Tante Tina yang menemani mamanya Indra...sekarang Indra makannya sama tante Intan ya sayang..."


Indra perlahan mulai melepaskan pelukan mamanya. Dia menuruti ajakan Intan untuk turun ke bawah. Saat Intan ingin memeluk dan menggendong Indra, tangannya Indra begitu lemas. Kakinya seolah tidak kuat untuk berdiri.


"Astaghfirullah...."


Kondisi yang sangat menyedihkan untuk anak seusianya. Hanya ucapan lirih istighfar yang keluar dari mulut Intan.


Sambil menuruni tangga dengan menggendong Indra, Intan tidak pernah sedikitpun melepaskan tangannya dari mengelus-elus punggung Indra. Seolah Intan ingin memberikan semangat kepada anak sahabatnya yang sudah dianggap seperti keponakannya sendiri.


Kini dikamar Indra hanya tertinggal Diana dan Tina. Mata Diana langsung tertuju kepada Tina. Sorot matanya seolah ingin mengatakan kembali perasaannya.


" aku sudah berusaha bicara baik-baik pada Mas Ryan Tin..."


" aku sudah berusaha menahan amarah ku.."


" aku pendam semua perasaan,kecewa, marah, kesal dan jijik..."


"tapi Mas Ryan tidak mau mengakuinya dan dia malah memfitnahku berselingkuh.."


" dia pun mengelak untuk mengakui bahwa dia bersalah padahal sudah jelas buktinya. Dia memutar balikan fakta terus-terusan Tina..."


" bahkan tega-teganya Mas Ryan membandingkan aku dengan pezina itu..!"


" a-aku selama ini tidak pernah menuntut apapun dari Mas Ryan..."


" aku tidak pernah minta dibelikan apapun..."


" aku tidak pernah rewel ingin dibelikan ini dan itu..."


" bahkan untuk mencari nafkah saja aku tidak pernah memaksanya berlebihan..."


" tapi Mas Ryan selingkuh karena aku cuek dan tidak menarik lagi Tin..."


Diana kembali menangis. Tapi suara tangisannya tidak sebesar yang tadi. Sepertinya dia sudah sangat lelah. Matanya terlihat hampir redup namun tatapannya tetap dalam melihat sahabatnya.


" Tina, aku salah apa sama Mas Ryan?"


" aku bahkan sampai dipukul didepan Indra, anakku sendiri..."


Padahal baru saja siang tadi, Diana sudah tampak lebih baik. Diana bahkan sudah bisa makan dan tersenyum walau senyumnya mungkin hanya selebar nol koma dua centi.


Tapi saat ini, Diana seperti kembali down. Bahkan sepertinya lebih parah dibandingkan tadi siang.


Jika tadi siang Diana merasa down karena mengetahui suaminya berselingkuh, kini dia harus menerima suaminya yang tidak mengakui perselingkuhannya bahkan memukulnya hingga membuat luka di pipi nya. Hal itu pun dilakukan di depan mata kepala anaknya sendiri. Posisinya yang mulia sebagai seorang istri dan Ibu pun dibanding-bandingkan dengan seorang pezina.


" entah kejadian apa lagi yang lebih buruk yang akan menimpa aku Tin..."


Merasa putus asa. Itulah yang dirasakan Ana sekarang ini. Tidak banyak kata yang Tina keluarkan. Dia ingin menjadi pendengar yang baik bagi sahabatnya. Agar sahabatnya tidak merasa tertekan dan terbebani dengan semua kejadian buruk yang berturut-turut menimpanya.


Mulut Tina memang diam tapi tangan nya tidak berhenti memegang erat pundak Ana.


" semuanya sekarang ini sudah hancur Tin... sudah tidak bisa diperbaiki lagi Tina..."


" sudah tidak ada lagi harapan untuk nasib pernikahan aku Tin..."


" ana...." baru satu kata yang diucapkan Tina, Diana sudah tahu betul kelanjutannya.


" aku pasti kuat kan Tin? aku pasti bisa melewati ini semua kan Tina?"


Pertanyaan Ana disambut pelukan hangat oleh Tina sahabatnya.


Pelan suara Diana, namun dalam maknanya. perkataannya menyiratkan bahwa dia sedang berada di posisi terendah dan butuh support dari orang-orang sekitar.


Tidak terbayang dalam pikiran Tina, bagaimana jika ia dan Intan tidak berada di kosan Intan saat itu juga. Mungkin Diana hanya bisa menangis berdua dengan anaknya tanpa seorang sahabat yang selalu berada dan saling menguatkan.


" terima kasih ya. Kamu dan Intan selalu ada disaat aku sedang sedih sekalipun..."


Respon Diana atas pelukan hangat sahabatnya jelas membuat Tina tidak sanggup lagi menahan rasa harunya.


" Ana, Aku tahu kamu pasti bosan mendengarnya. Tapi seperti yang sudah-sudah aku katakan, aku dan Intan akan selalu ada buat kamu. Saat kamu sedang sedih pun kami akan selalu ada..."


" kami berdua juga tidak akan lelah untuk kita bertiga saling menasehati..."


" kamu padahal mungkin sibuk dengan urusan kamu sendiri Tina..."


" aku mau minta maaf jika aku selalu merepotkan kalian berdua..."


" sudahlah Ana, jangan memikirkan kami..."

__ADS_1


" sekarang jika kamu masih punya unek-unek dalam hati kamu, keluarkan saja. Tidak apa-apa. Indra sudah dengan Intan dibawah dan aku akan di sini untuk mendengarkan semuanya..."


Mendengar sahabatnya berkata demikian seolah Diana diberikan lampu hijau untuk kembali mengeluarkan rasa yang sedari tadi sempat tertahan.


Diana terus mengoceh dan menceritakan lebih detail dibandingkan via telepon, apa saja kejadian yang menimpanya. Hingga kecurigaan Diana bahwa sepertinya tadi Sinta datang ke rumahnya.


" kamu yakin Na, Sinta ke sini?"


" aku memang baru curiga saja melihat tumpukan piring kotor ada 3 buah. Padahal jika seharusnya mereka selesai makan dan tidak ada aku di rumah, maka piring kotor di wastafel harusnya hanya 2 Tin..."


" lalu apa kamu sempat bertanya kepada suamimu?"


" aku sudah menanyakan ya ke Mas Ryan. Dan dia bilang, ya tidak ada tamu..."


" tapi dengan semua kejadian seperti ini apa masih wajar Tin jika aku masih percaya dengan kata-katanya?"


" a-aku sudah percaya apapun yang dia katakan..."


" tapi Na, kalau pun benar suamimu mengajak Sinta ke sini berarti Indra juga bertemu dengannya?"


" aku juga sebenarnya ingin memastikan itu dengan bertanya kepada Indra..."


" tapi kejadian hari ini benar-benar sangat buruk dan terjadi sangat cepat..."


" aku seperti kehilangan kesempatan bertanya kepada Indra."


" aku juga tidak mungkin menanyakan hal itu pada Indra sekarang kan?"


" Iya Na... anakmu saja sepertinya sangat terpukul."


" kita juga pasti akan mengetahuinya, cepat atau lambat Na..."


Diana mengangguk pelan. Sebenarnya perasaannya masih sangat kacau. Hatinya masih ingin menangis akan tetapi nampaknya air matanya sudah kering habis tidak bersisa. Ya, Diana sangat lelah menangis seharian ini.


Merasa sahabatnya sudah kehabisan tenaga, Tina bermaksud mengajak Diana turun kebawah untuk makan bersama Intan dan Indra. Tina yakin sekarang ini Diana pasti lelah lahir batin. Bagaimana tidak? Dari pagi saat di kampus Mesjid saja sudah menangis. Kini ia harus menangis kembali saat dirumah.


"Na, kita turun ke bawah yuk. Kamu harus makan dan mengisi kembali energimu."


" aku tidak ada selera makan Tin."


" oh yasudah kalau kamu ttidak mau makan, tapi pipimu yang luka harus segera diobati. Kotak P3K nya dimana?"


" ada di bawah, di ruang tamu Tina.."


" aku ambilkan dulu ya."


" aku juga ikut ke bawah Tin. Supaya kamu tidak bolak-balik."


" aku juga harus menemani Indra..."


Tina dengan sigap membantu Diana berdiri. Ia memegangi lengan kanannya. Masih tertatih dan tubuhnya terasa lemas, Diana sempat kehilangan keseimbangan untuk sekedar berjalan. Dia sesekali memijat pelipisnya. Ia pasti merasa pusing karena menangis seharian.


Perlahan mereka menuruni tangga. Tina menopang tubuh Diana. Dua belas anak tangga terasa lama untuk mereka turuni. Tina sempat mengecek suhu tubuh Diana. Suhu tubuhnya terasa sedikit hangat.


" Ana kamu punya plester kompres demam juga?"


" punya Tin. Semuanya lengkap ada di kotak P3K."


" kamu coba makan sedikit ya. Suhu tubuh kamu sedikit hangat loh." Tina tidak bisa lepas dari mengkhawatirkan sahabatnya.


" iya Tin. Nanti nanti aku coba makan."


Setibanya mereka berdua di dapur, mereka mendapati Intan dan Indra yang masih menyantap makan malamnya. Indra terlihat lesu sekali, nampak tangannya tidak kuat untuk mengangkat sendok bahkan sekedar untuk menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri. Intan yang tepat berada disampingnya, segera mengambil peran dengan menyuapi si kecil Indra.


Melihat anak semata wayangnya yang begitu terpukul bahkan terhapus senyum ceria diwajahnya membuat Diana kembali berkaca-kaca.


" Ana, tenang saja. Aku dan Intan akan berada di sini sampai semuanya selesai."


Tina tahu betul bagaimana menyemangati sahabatnya. Mendengar kata-kata dari Tina, akhirnya tersungging senyuman kecil di wajah Diana.


" habiskan makannya ya sayang.." kata Diana sembari menghampiri dan mencium jidat jagoan kecilnya.


Diana mencoba untuk kuat di hadapan anaknya. Perasaan untuk anak seusia Indra sangatlah peka sehingga membuat Diana berikrar dalam hati, tidak akan terlihat sedih ketika sedang bersama Indra.


" Mama..." Indra hanya bisa berkata dengan nada yang sangat lemah kepada mamanya. Dari matanya terlihat bahwa sebenarnya si kecil ingin bertanya apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun ia masih terlalu kecil hanya sekadar untuk mengerti kata-kata itu.


" sayang, Mama akan selalu bersama kamu..."


Diana mengerti apa yang ingin ditanyakan oleh Indra. Sembari berkata seperti itu dia memeluk Indra dan mencium pipinya.


" ada Tante Intan dan Tante Tina juga Indra. Jadi Indra jangan sedih ya." Intan ikut serta memeluk pemilik pipi chubby itu.


Sisa tangis Indra sepertinya masih ada. Mendengar kata-kata mamanya dan Intan, walaupun pelan dia kembali menangis.


Tidak beberapa lama kemudian, Diana ikut makan malam bersama Tina dan Intan. Setelah selesai makan malam Tina membantu Diana untuk mengobati luka di pipi kanannya yang tadi lebam bahkan ujung bibirnya yang sempat mengeluarkan darah segar. Kotak P3K sudah terbuka dan Tina dengan telaten mengompresi lukanya.


Di ruang tamu, saat jam segini biasanya Ryan, Diana dan Indra menghabiskan waktu untuk bercengkrama atau mereka menonton TV sambil sesekali bercanda. Namun kini terasa hening di ruang tamu. Yang terdengar hanya bunyi plester yang dibuka untuk ditempelkan diluka Diana.


Indra yang kelelahan karena menangis nampaknya sudah mulai mengantuk. Intan mulai menggendongnya dan hendak membawanya ke kamar lantai dua. Namun, Indra seperti trauma jika kembali ke kamarnya sendiri. Bagaimana tidak? Di kamarnya, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kedua orangtuanya yang dulu harmonis lalu bertengkar habis-habisan.

__ADS_1


" Indra mau ke Mama..." Matanya setengah terbuka ketika Intan membawanya.


"Oh, iya. Indra sayang kita ke mama ya."


Intan segera membawa Indra menuju ruang tamu. Diana sudah selesai diobati oleh Tina. Tangan Diana meraih tubuh Indra yang dialihkan kepada dirinya. Dalam hitungan detik, Indra segera tertidur dalam pengakuan Diana.


Diana hanya memandang dengan matanya yang sayu sambil mengelus-elus Indra. Sadar bahwa sahabatnya pun sedang kelelahan, Intan meminta ijin untuk menurunkan selimut dan bantal-guling dari kamar.


" Na, mau aku ambilkan selimut dan bantal-guling?"


" iya boleh Tan. Aku minta tolong ya ambilkan dikamar. Kalau aku yang keatas aku takut Indra nanti bangun."


Mendapat persetujuan, Intan bergegas keatas lalu membawanya ke ruang tamu. Sofa tempat Diana menidurkan Indra di pangkuannya cukup untuk mereka berdua beristirahat. Diana segera menyelimuti tubuh Indra. Matanya Diana pun terlihat sudah berat untuk melihat sekelilingnya. Dia menguap sebentar.


" Ana, kalau kamu ngantuk tidur saja. Seperti yang tadi aku katakan, aku dan Intan akan berada di sini kok."


Merasa aman dengan keberadaan dua sahabatnya yang masih setia menemani mereka di ruang tamu, Diana segera memejamkan matanya. Dia bersandar diujung sofa dengan bantal dipunggungnya.


Sesaat setelah Diana tertidur, Tina dan Intan langsung bertukar cerita.


" Tan, tadi diatas Diana sempat bercerita. Kalau dia curiga jika Sinta tadi kemari."


" kok bisa? Curiga dari mana?"


" katanya dia curiga karena piring kotor di wastafel jumlahnya ganjil."


" itu kan masih belum pasti. Sepertinya kita harus segera mencari tahu..."


" aku juga sebenernya penasaran, sudah seberani apa Ryan dengan Sinta."


" Sinta saja sudah hamil, maka jelas jika mereka sangat berani..."


" Akhh Aku kesal!! Tahu seperti ini aku jambak saja rambutnya Sinta sewaktu kita bertemu di toko kosmetik." Kini giliran yang mengepal tangannya saat dia mengingat pertemuan dengan Sinta beberapa bulan lalu.


" kalau kamu jambak Sinta waktu itu, kita yang akan dikeluarkan dari toko dan berurusan dengan polisi Tan."


" tapi dia sudah membuat Diana seperti ini Tin!"


" kalau kamu ingin menjambaknya lakukan di tempat yang sepi, tidak ada orang yang bisa melihat. Baru aku setuju." Tina seperti merestui niat Intan.


" hahahaha, dasar kamu ini Tina.. "


" huft... seandainya waktu bisa diputar, aku benar-benar ingin mencakar wajahnya."


" aku benar-benar merasa eneg karena belum sempat melampiaskan kekesalan ku kepadanya."


Sambil mendengar ocehan Intan Tina mengambil handphone dari saku bajunya. Dia terlihat sedang menghubungi seseorang.


" Tina kamu lagi ngapain?"


" Aku sedang menghubungi suamiku. Aku ingin minta tolong kepadanya untuk mencari tahu sebenarnya orang seperti apa Ryan itu."


" Tina, apa kamu sudah gila? Kalau kamu menghubungi suamimu lantas suamimu memberitahu ibunya Diana kamu pikir apa yang akan terjadi?"


Tina menghentikan sejenak aktivitasnya. Dia merasa bahwa perkataan Intan benar.


" apa kamu kira suamimu tidak akan memberitahu ibunya Diana dan Kak Andi? Ini berita besar yang membuat *shoc*k. Tidak mungkin kan kalau mereka tidak akan tahu?"


" kita tidak bisa memberitahu mereka sebelum Diana yang menyampaikannya sendiri..."


Tina segera meremas handphone di dalam genggamnya. Dia menundukkan kepalanya sambil menahan agar air matanya tidak banyak yang keluar.


" aku sangat kesal Intan. Aku merasa tidak bisa berbuat banyak untuk Ana."


" sekarang Ana sudah sangat menderita Tan."


" a-aku juga ingin berbuat sesuatu Tan.."


" kenapa harus Anna yang mengalami semua ini Tan?"


Intan yang memang cengeng langsung mengeluarkan air mata begitu melihat Tina menangis.


" hiks..hiks.. aku juga ingin sekali membantu Ana."


" tapi gimana Tin?"


" aku juga kesal dengan keadaan kita yang hanya bisa menyaksikannya saja..."


" seandainya kamu tadi mendengar secara detil yang dikatakan Diana, aku rasa kamu akan lebih marah dibandingkan aku Tan."


" apa saja yang belum aku ketahui Tin?"


Tina lalu menceritakan semuanya secara detail kepada Intan. Mendengar ucapan Tina, Intan tidak berhenti-henti nya menggeleng sambil mengucapkan istighfar.


" ya Allah... Si Ryan itu benar-benar harus dikasih pelajaran Tin!" Intan nampak sangat emosional. Tapi dia tetap memelankan suaranya agar Diana dan Indra tidak terbangun.


" aku juga sangat ingin Tan. Tapi seperti katamu, kita harus menunggu Ana mengambil langkah dulu."


Dua sahabat itu sama-sama melihat ke arah Diana dengan rasa iba. Sifat polosnya yang dimanfaatkan oleh Sinta dan suaminya sendiri sudah membuat kehancuran bagi rumah tangganya.

__ADS_1


__ADS_2