Malam Di Istanbul

Malam Di Istanbul
Di Bawah Langit Istanbul


__ADS_3

Kami bertiga sudah tiba di kantin. Intan dan Tina sedang sarapan. Sedangkan aku sedang menunggu pesananku yang belum tiba. Karena aku sudah sarapan di rumah, aku sempat bingung ingin pesan apa tadi.


Akhirnya pilihanku jatuh pada teh cay dan lokum. Teh cay yang terbuat dari daun teh hitam memiliki warna yang lebih gelap dibandingkan teh di Indonesia. Aku memesan teh cay yang tidak terlalu manis karena aku juga memesan lokum. Lokum yang aku pesan terbuat dari bahan gel pati dan gula. Menurutku dua menu ini cocok untuk sekedar menemani mereka sarapan.


Kami lanjut menyantap makanan. Tina seolah sudah mengerti maksudku berbicara tentang permasalahanku dengan Mas Ryan via chat agar kami tidak mengungkitnya lagi didepan Intan.


" Hari ini kita ngampus sampai sore ya?" Intan membuka percakapan setelah sarapan di piringnya habis bersih.


" Iya, Tan. Kamu mau pinjam buku catatan ku kemarin gak?" Tina menawarkan bantuan.


"Mau lah Tin. Oia, kemarin ada tugas gak?"


" Ada Tan. Tugas dari Profesor Adskhan. Tapi dikumpulkan dua hari lagi pas jadwal beliau ngajar. " Aku menjelaskan.


Seketika aku teringat tentang kejadian kemarin saat Profesor Adskhan mentraktir kami membeli minuman.


"Oia, Tan kamu tahu enggak? Kemarin pas kamu enggak masuk kuliah, aku sama Tina bertemu loh dengan Profesor Adskhan di minimarket.." Aku menceritakan dengan wajah ingin menggoda Intan.


"Terus Profesor Adskhan mentraktir kami membeli minuman disana.."


"Ha? Serius?" Respon Intan tepat sesuai dugaan ku.


"Iya, sayang kamu gak ada.." Tina seolah tidak ingin melewatkan kesempatan menggoda Intan.


"Ih.. Kok gitu ya? Kenapa pas aku gak ada sih?" Intan mulai merengek.


Usia Intan sama dengan kami. Tapi dia sangat kekanak-kanakan. Mungkin karena dia sangat dimanja oleh orangtuanya.


Walaupun kadang sifat kekanak-kanakannya tidak jarang membuat kami malu, tapi saat ini sikap itu cukup membuat kami tersenyum. Dan mudah sekali untuk menggodanya.


"Mungkin memang bukan jodoh?" Sepertinya Tina mulai menikmati menggoda Intan.


"Yaahhh.... Jangan gitu dong. Masa aku jomblo terusssss..." Rengekannya semakin keras . Kami tidak sanggup menahan tawa.


" Memang segitunya kamu suka sama Profesor Adskhan?" Aku penasaran dengan perasaan sahabatku ini.


"Siapa yang enggak bakal suka sih Ana? Nih ya, kalau kalian berdua belum menikah pasti juga bakal suka sama Profesor Adskhan.. "


"Udah ganteng jomblo lagi. Dan karena Profesor Adskhan mentraktir kalian, berarti dia baik juga kan?"


" Dan rajin menabung ya?" Sambungku sambil tertawa.


"Ihh, apaan sih Ana?"


" Tapi beneran deh aku bakalan senang banget kalau Profesor Adskhan nanti jadi jodohku.."


" Haluuu...." Aku dan Tina kompak merespon dan menertawakan angan-angan Intan.


" Eh, siapa tahu ada malaikat yang lewat dan meng-aminkan hayo?" Intan masih berharap


" Iya deh iya.. Ya ampun.." Aku mulai mengecilkan tawanya.


" Apapun itu kami doakan jodoh yang terbaik untukmu Tan.." Kata Tina sambil tersenyum.

__ADS_1


" AAMIIN YA ALLAH.." Teriak Intan semangat.


Aku segera memasukkan lokum ke mulut Intan agar mengecilkan suaranya.


"Ssstttt.. aduh ya ampun. Gak usah teriak bisa gak sih?" Tina tampak sedikit malu.


Intan hanya tertawa sambil menelan lokum yang aku masukan ke dalam mulutnya. Merasa seolah sudah puas membuat kami berdua malu.


Kami bertiga melanjutkan ke kelas. Jadwal kelas dimulai dari pagi pukul 09.00 hingga pukul 16.30. Ada jam istirahat siang. Kami gunakan waktu itu untuk solat dan makan siang.


Saat jam makan siang kami kembali ke kantin. Tapi saat tiba di kantin hanya ada aku dan Tina. Intan ada keperluan dengan bagian administrasi kampus. Jadi nanti dia akan menyusul.


Melihat peluang ini, Tina seolah tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menanyakan soal kemarin.


Walau aku sudah memberi tahu melalui pesan, tentu lebih enak jika berbicara langsung bukan?


" Ana, hubungan kamu dan suamimu sudah beneran sudah membaik?" Tina masih tampak sedikit khawatir.


"Iya Tin. Alhamdulillah semua sudah membaik.."


"Bagaimana suamimu tidak marah Ana saat kamu menanyakan bahwa dia berubah?"


" Awalnya Mas Ryan marah Tin. Bahkan suamiku sempat memberikan umpatan lagi."


" Dia mengumpat dan yah, seperti biasa tidak mau menjawab pertanyaanku.."


Tina fokus mendengarkan. Tidak memotong pembicaraanku sama sekali.


" Saat aku bertanya siapa yang ditelpon oleh Mas Ryan, dia langsung meminta maaf dan akhirnya mau menjawab penyebabnya berubah..."


"Dan yah, jawabannya seperti yang aku katakan melalui pesan tadi.."


" Adapun tentang seseorang yang sayang-sayangan itu percakapan suamiku dengan adik ipar yang mau resign dari perusahaan ternama..."


" Syukurlah... Aku lega mendengarnya.."


" Tapi, sejujurnya aku masih sedikit sakit hati Tin dengan umpatan Mas Ryan.."


" Rasanya seperti masih terdengar jelas ditelinga ku.." Aku tersenyum getir.


" Ibuku dan Kak Andi sama sekali tidak pernah mengumpat ku Tin..."


" Untungnya Indra tidak mendengar umpatan itu Tin.."


" Mas Ryan memang menyadari bahwa tidak akan bisa mengobati sakit hatiku dengan hanya minta maaf, tapi apa yang bisa aku lakukan selain menerima permintaan maafnya?"


" Sabar ya Ana. Kalau aku diposisi kamu aku pasti merasakan hal yang sama..."


" Wajar kalau kamu masih merasa sakit hati Na. Semoga berjalannya waktu dan sikap suamimu yang romantis dan perhatian bisa menyembuhkannya..."


" Aamiin.. Makasih Tin.."


" Mulai sekarang aku juga akan mencoba dan memaafkan sikap Mas Ryan tersebut."

__ADS_1


" Hayoo lagi ngobrol apaan nih? Serius banget?" Intan menghampiri. Untung dia datang saat aku sudah selesai bercerita.


" Urusan kamu sudah selesai Tan?" Tina mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


" Belum. Tinggal sedikit lagi. Aku hanya tinggal memfoto copy saja."


" Nanti habis makan mau menemani aku foto copy enggak? Di dekat perpustakaan ada tempat foto copy." Intan membujuk.


" Boleh, nanti kita kesana."


" Oke, sekarang kalian mau makan apa?" Tina sudah mengambil ancang-ancang untuk memesan makanan.


" Aku mau pesen lahmacun. Minumnya mau ayran dingin." Aku mulai memesan.


" Aku juga mau.." Intan menyamakan pesanan.


" Oke. Kita samakan pesannya ya."


Kami makan siang bertiga dengan menu yang sama. Ini bukan pertama kalinya kami menyamakan menu makanan. Selain kami sahabatan, mungkin karena selera kami yang sesekali sama makanya kami jadi dekat.


Setelah mengantar Intan untuk foto copy, kami lanjutkan kembali ke kelas untuk mengikuti jam berikutnya.


Sore hari kami pulang ke rumah. Walaupun seharian di kampus tidak membuatku lelah. Yah, aku mungkin sudah berkata ini berkali-kali.


Perasaanku sedang senang sekarang. Walaupun masih ada sedikit luka tentang sikap Mas Ryan tapi itu tidak seberapa dibandingkan dengan Mas Ryan yang sudah kembali romantis dan perhatian.


Saat sela-sela dikelas tadi, Mas Ryan mengirim pesan cinta dan foto tentang kegiatannya dengan Indra dirumah. Bahkan Mas Ryan mau menjemputku di kampus. Dengan Indra tentunya.


Kami sudah berencana ingin makan malam diluar sekedar untuk family time. Memang bukan makan makanan mewah, tapi kualitas berkumpul dengan keluarga merupakan momen yang sudah jarang kami nikmati bersama. Apalagi Indra dan Mas Ryan yang jarang keluar rumah.


Tina yang melihat Mas Ryan membawa Indra untuk menjemputku tersenyum senang seolah dia lah yang habis bertengkar dengan suaminya lalu berbaikan.


" Wah, yang jemput Ana sekampung nih.." Ledek Intan sambil tertawa.


" Apaan sih Tan. Orang cuma Mas Ryan sama Indra kok."


" Tante Intan!" Sapa Indra dengan semangat.


" Halo Indra. Mau kemana sama Papa dan Mama?"


" Mau jalan-jalan Tante."


" Kami mau mampir-mampir dulu Tan sebelum pulang. Jadi maaf hari ini gak bisa pulang bareng dulu." Aku menjelaskan


" Iya deh enggak apa-apa. Aku juga mau ke rumah Tina. Aku mau nyalin pelajaran yang ketinggalan kemarin."


" Oke, kalian berdua hati-hati ya." Kami bertiga pun berpisah didepan gerbang kampus.


Aku melihat Indra yang begitu senang bisa jalan-jalan bareng aku dan Mas Ryan. Dia berjalan riang sambil terus mengoceh. Aku perhatikan juga wajah suamiku. Dia tersenyum lebar menikmati momen ini.


Malam ini seolah berkah untukku. Makan malam keluarga diluar yang penuh kehangatan di bawah langit Istanbul. Lengkap dengan suamiku dan jagoanku.


Berkali-kali aku ucapkan syukur atas semua kejadian hari ini mulai dari pagi hingga malam. Aku berharap keluarga kami akan terus baik-baik saja dan kami bisa selalu bersama menghadapi cobaan apapun.

__ADS_1


__ADS_2