
Hari itu Ryan dibuat terkejut berkali-kali dengan perubahan sikap Diana. Kini selain berani melawan dirinya, dia tidak menyangka dengan mudahnya Diana mengeluarkan keinginan untuk menggugat cerai dirinya.
"Apa?!"
"kamu sekarang berani mengatakan itu?!"
Kebingungan nampak di wajah Ryan. Dia dalam benaknya berputar-putar pertanyaan yang sama. Kemana Diana yang biasanya? Istrinya yang dulu diam dan hanya menurut kepadanya?
"Apalagi mas yang mau dipertahankan? kamu sudah menghancurkan semua kepercayaanku..."
"kamu sudah berselingkuh dengannya bahkan sudah menghamilinya dan sekarang kamu sudah berani mendorong Indra!"
"dan coba kamu pikirkan sejak kapan aku melawan kamu Mas?"
"sedari tadi dapur hingga saat ini kamu terus-terusan mengelak dan tidak mau mengakui bahwa kamu itu salah dan memutar balikan omongan..."
"kamu bahkan terus-menerus menunjuk nunjuk aku sebagai pelaku sama seperti yang tadi kamu lakukan di depan Indra..."
"sekarang aku tanya Mas apalagi yang mau dipertahankan?!"
Ryan melihat mata istrinya itu dengan lekat. Terlihat kemarahan yang sudah memuncak dari wajah Diana. Air matanya memang terus mengalir, namun dia bisa mengontrolnya dengan baik sehingga tidak terdengar isak tangis seperti di dapur tadi.
"Diana pikirkan baik-baik, kamu sedang emosi..." Ryan mencoba untuk membujuk Diana agar bisa berpikir ulang.
Mendengar permintaan suaminya, Diana justru menunjukkan sikap yang semakin yakin dengan keputusannya. Sembari meneteskan air mata, kini dia terlihat tenang dan kembali menatap mata Mas Ryan.
"pernikahan ini sudah ada cinta lagi kan Mas?"
"semua cinta kamu sudah kau berikan kepadanya kan?
"Kalau aku nggak cinta sama kamu, untuk apa aku ikut kamu ke Turki untuk melanjutkan S2 kamu?"
"Kalau kamu masih cinta sama aku kenapa kamu selingkuh dengannya dan bahkan menghamilinya..?"
"kamu jangan membolak-balikan kalimatku!"
"dengar baik-baik ya. Aku tidak akan mau menceraikan kamu!"
"bukti perselingkuhan dan perzinahan kamu sudah ada di HP aku Mas..."
"Aku akan memperjuangkan ini ke pengadilan..."
"Kamu... kamu benar-benar ya!"
"Apa jangan-jangan kamu sudah punya selingkuhan di kampus?!"
Kehabisan kata-kata dan kebiasaan pelaku. Terkadang dia akan menuduh korban melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan.
__ADS_1
"Astaghfirullah! Mas sekarang kamu bahkan memfitnah aku?!"
"Yah, siapa yang tahu. Kan tidak ada yang memeriksa handphonemu.."
Diana sama sekali tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Sudahlah suaminya tidak mau mengakui kesalahannya. Kini ia bahkan tega memfitnah Diana berselingkuh! Berzina, seperti dirinya!
Ryan merasa berhasil sudah membuat Diana kehilangan kesabarannya kembali. Pikirnya, sebentar lagi dia akan menerima hp Diana untuk membuktikan bahwa Diana tidak berselingkuh. Lalu saat itulah Ryan bisa dengan alasan untuk menghapus bukti-bukti percakapan dan foto-foto perselingkuhannya.
"kalau sudah tidak saling percaya seperti ini, lalu untuk apa diteruskan Mas?"
"kamu masih saja bertanya Diana?"
"Ya tentu saja karena aku masih menyayangimu. Aku tidak mau menceraikanmu!"
"Lalu kenapa kamu berzina Mas, bahkan sampai perempuan itu hamil?!" Seolah tidak mau kalah dari Ryan, suara Diana meninggi.
"Ya kan tinggal nikahkan kami saja!"
"Apa?!"
Kenapa Diana bisa lupa? Bukankah itu jawaban yang diberikan mas Ryan saat Mba Sinta meminta pertanggungjawabannya?
Hal yang membuat Diana saat malam itu bahkan dengan tidak sengaja menjatuhkan handphone suaminya karena membaca pesan terakhir dari suaminya itu.
"Hahahaha....!"
"sudahlah kamu yang berzina, lalu memfitnah ku, kini kamu bahkan ingin menikahi pasangan selingkuhanmu?!"
"dengan alasan poligami apa kamu mau menyembunyikan dosa besar kamu Mas?!"
"sampai kapan kamu akan lari dari masalah ini, Hah?!"
"aku tidak lari, aku bertanggung jawab atas perbuatan ku dan aku juga tidak menceraikanmu kan?"
"demi Allah Mas, seandainya kamu tidak berselingkuh dan bicara dengan baik-baik padaku tentang kekurangan ku yang tidak bisa aku perbaiki dan kamu ingin berpoligami aku akan menerima hal itu dibandingkan dengan menutupi hasil zina kamu..."
Diana mengucapkan itu dengan ekspresi tenang kembali. Merasa Diana sudah berkata benar dan menghujam dengan kuat di hatinya, Ryan merasa Diana berhasil memojokkannya.
Bukankah itu berarti Diana menyetujui suaminya poligami jika saja Ryan jujur? Padahal dia tidak dengan berzina di belakangnya hingga melemparkan kebohongan demi kebohongan untuk membodohi istrinya.
Indra yang sedari tadi melihat kedua orang tuanya bertengkar di kamarnya, seperti mendapatkan bahwa papanya lah yang bersalah. Mata kecilnya tidak mau lepas dari papanya. Matanya menunjukkan sedang melucuti dosa Ryan.
Perkataan Diana yang benar dan tatapan Indra yang tidak lepas dari wajah Ryan kini membuat Ryan berbalik yang hilang kendali. Tangannya mengepal dan mengangkat. Dengan kekuatan dirinya sebagai lelaki dewasa, dia layangkan ke pipi istrinya.
"BERISIK!"
PLAK
__ADS_1
Pukulan itu telah tepat mendarat di pipi kanan Diana. Walau Diana sempat melihat arah pukulannya, tapi dia tidak sempat menghindar. Gerak refleks-nya tidak berfungsi karena tubuh dan pikirannya telah lelah setelah seharian ini berjibaku menerima kenyataan pahit.
Kerasnya pukulan dari Ryan membuat Diana terjatuh. Pandangannya sesaat kosong dan terasa dari bibirnya darah segar perlahan mengalir.
Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah yang dialami Diana. Dia yang mengetahui suaminya berselingkuh lalu suaminya yang justru memfitnahnya bahwa dia yang berselingkuh. Sekarang, kini suaminya pun melakukan KDRT di depan anaknya sendiri.
Harga dirinya sebagai seorang ibu hancur. Menyadari Indra melihat dirinya diperlakukan memalukan dan terhina di depan mata kepalanya sendiri membuat Diana benar-benar hampir hilang kesadarannya. Tubuhnya mendadak lemas dan tidak bisa untuk berdiri lagi.
Indra yang terkejut melihat mamanya dipukul seperti itu segera menghampiri Diana dan menunjukkan sikap protesnya terhadap Ryan.
"Papa kok sekarang pukul mama?!"
Indra bertanya heran kenapa Papanya yang selama ini baik dan mengucapkan kata-kata manis sekarang berubah menjadi seperti hewan buas yang mengamuk.
Ryan sendiri yang memukul Diana sejenak terdiam. Sebenarnya dia tidak berniat untuk sampai melayangkan pukulannya di pipi Diana. Namun itu sudah terjadi dan waktu sepersekian detik pun tidak bisa diputar kembali.
Mau bilang Ryan tidak sengaja? Siapa yang akan percaya? Keadaannya jelas menunjukkan Ryan marah dan memukul istrinya.
Tidak bisa menjawab pertanyaan Indra, Ryan justru keluar dari kamar itu dia turun ke bawah dengan buru-buru. Lalu terdengar dari arah lantai 1 pintu yang dibuka dan ditutup dengan kencang.
Betul, Ryan pergi meninggalkan Diana dan Indra yang sedang sedih dengan suara tangis mereka yang menyayat hati.
Merasa lemah dan tidak berdaya Diana segera mengambil handphonenya, dia bergegas menelpon Tina dan Intan yang saat ini sedang menunggu kabar darinya.
Dia membuka hp-nya dan menekan nomor kontak Intan. Tidak perlu panjang lebar Diana mengatakan dengan jelas bahwa dirinya telah mengajukan gugatan cerai kepada suaminya lalu respon dari Mas Rian adalah dengan melayangkan pukulan kepada dirinya.
Mendengar jawaban dan kondisi dari Diana saat, itu Tina dan Intan tidak perlu menunggu waktu lama untuk segera menuju rumah Diana. Mereka sudah siap siaga agar bisa berangkat kapan pun saat Diana membutuhkan mereka.
Pintu Diana segera terbuka. Ucapan salam dari Tina dan Intan membuat Diana sedikit lega. Mereka berdua segera menuju ke lantai 2. Melihat kondisi Diana dan Indra yang sangat menyedihkan.
Pipi kanan Diana yang berdarah dan lebam. Lalu dari sudut bibirnya keluar darah segar. Hal itu membuat mereka berdua tidak kuasa menahan tangis.
Tangis semakin terdengar jelas dari kamar Indra. Mereka berempat menambah suasana kelabu saat itu.
Sudah sedikit reda, Diana lalu mulai bercerita bahwa dia sudah tidak sanggup lagi mempertahankan rumah tangganya dengan Ryan. Ia saat ini benar-benar sedang dalam kondisi lemah, tidak bisa mengendalikan emosinya dengan baik.
Menyadari hal itu, Tina dan Intan berniat akan menginap di tempat Diana sampai kondisinya benar-benar lebih baik.
Lagipula siapa yang tega meninggalkan sahabatnya saat sudah tahu suaminya tega hingga melakukan tindakan kekerasan.
Saat itu mereka berdua tidak bisa mendesak Diana untuk segera menghubungi Ibunya dan kak Andi. Mereka sama-sama paham Diana butuh waktu lagi untuk meredam emosinya meluapkan kembali rasa sedihnya.
Ketika sudah cukup tenang, Intan ke dapur untuk menyiapkan teh agar bisa membuat Diana merasa lebih baik sedangkan Tina masih berada di kamar Indra. Mereka bertiga masih butuh waktu untuk meluapkan segala kesedihannya.
Diana tidak habis-habis meratapi kejadian yang menimpanya. Dia terus menangis sambil memeluk Indra. Mantra yang diucapkan tadi siang agar dirinya kuat nyatanya tidak cukup untuk membuat dirinya bisa berdiri tegak didepan anaknya.
Kini dia lemah secara fisik maupun mental. Diana hanya bisa terus memeluk dengan erat jagoan kecilnya. Baju Indra sudah cukup basah dengan air mata Diana.
__ADS_1
Si kecil Indra yang melihat ibunya menangis dengan terisak seolah tidak tega untuk melepaskan pelukannya. Indra menunjukkan kasih sayangnya dengan tetap menerima pelukan ibunya.