
Diana tiba di kampus pukul delapan waktu setempat. Agar tidak menjadi perhatian kembali Diana bergegas turun dari bus.
Setelah turun dari bus dia tampak bingung. Kemana dia akan mendapatkan tempat sambil menunggu teman-temannya. Tidak mungkin dia langsung masuk ke kelas atau ke kantin yang sudah pasti ramai.
Langkahnya tertuju kepada sebuah masjid yang terletak tidak jauh dari kampus. Masjid itu berjarak sekitar dua meter. Diana cukup menempuh nya hanya dengan berjalan kaki.
Masjid yang berukuran cukup besar di wilayah sekitar dengan kubah yang berlapis emas. Terdapat juga sebuah menara untuk panggilan salat. Dinding dengan dominan cat warna hijau membuatnya terlihat sejuk untuk dikunjungi. Ditambah dengan ukiran kaligrafi dan Asmaul Husna membuat Masjid itu kian terlihat mewah walaupun sederhana.
(Kalau aku tunggu mereka di mesjid itu mungkin lebih baik)
Diana berjalan dengan menundukkan kembali pandangannya agar matanya tidak menjadi sorotan bagi orang-orang sekitar. Menurutnya menunggu di masjid itu pada jam segini kemungkinan belum ramai karena masih jauh untuk memasuki waktu salat Dhuhur.
Diana sudah berada di dalam halaman Masjid saat hendak melanjutkan melangkah menuju masjid bagian salat untuk perempuan, suara salam dari seseorang menghentikan langkahnya sejenak.
"Assalamualaikum..."
Merasa tidak mungkin tidak menjawab salam tersebut dengan refleks dia menjawab salam dan mengangkat kepalanya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi..."
Pofesor Adskhan ternyata sudah berdiri di depannya dengan kacamata dan pakaian yang biasanya rapi. Nampaknya dia baru saja keluar dari mesjid.
(Duh, kenapa malah bertemu Profesor Adskhan disini?)
"İyi misin?" (Apa kamu baik-baik saja?)
Tatapan Profesor seakan tidak mau lepas dari wajah Diana terutama matanya yang saat ini menjadi pusat perhatian.
"Ben iyiyim Prof." (saya baik-baik saja Prof)
"Eminsin? Gözlerin kırmızı ve çok terlisin." (Kamu yakin? Mata kamu merah dan kamu sangat berkeringat)
"Evet, iyiyim. Affedersiniz Prof. Wassalam.." (Iya, saya baik-baik saja. Saya permisi Prof. Wassalam)
"Oh evet...Wa'alaikumsalam." (Oh iya... Wa'alaikumsalam)
Diana segera pergi meninggalkan Professor Adskhan yang terlihat masih tidak begitu yakin dengan jawaban Diana bahwa dia baik-baik saja.
Begitu sampai dalam masjid Diana istirahatkan sejenak tubuhnya. Dia duduk dengan menjulurkan kakinya. Tepat dugaannya jika saat ini dan dijam segini masjid belum terlalu ramai. Terutama di bagian salat khusus perempuan yang hanya ada Diana seorang diri.
Diana mengambil handphone di tasnya dan segera menghubungi Intan serta Tina untuk mengabarkan bahwa dia sudah berada di masjid di dekat kampus nya.
Sambil menunggu pesan itu dibalas oleh Tina dan Intan, Diana tidak ingin hanya duduk saja. Dia berinisiatif mengambil air wudhu untuk menunaikan empat rakaat salat Dhuha.
Disaat-saat hancur seperti ini sepertinya sudah menjadi fitrah bagi setiap manusia untuk menyerahkan semua urusan kepadaNya.
Sekitar tiga puluh menit Diana sudah berada di dalam masjid terlihat sosok Tina dan Intan yang langsung menghampiri Diana.
Tergambar di wajah mereka berdua jika mereka sangat khawatir melihat kondisi Diana terutama dengan mata yang bengkak dan merah.
Mata bengkak dan merah milik Diana seperti menceritakan kejadian apa saja yang terjadi tadi malam. Intan yang sangat peka tidak perlu menunggu Diana untuk bercerita. Karena kini pipinya sudah banjir dengan air mata.
Tina yang tidak menyangka melihat kondisi sahabatnya itu sebenarnya juga sudah tidak kuasa menahan air matanya. Tapi ia harus kuat karena jika mereka semua menangis siapa yang akan menguatkan Diana?
Mereka berdua tidak mendesak Diana untuk segera bercerita. Mereka menunggu hingga Diana sendiri yang siap untuk menceritakan semuanya.
Tanpa perlu berkata-kata Diana mengeluarkan hp-nya dan menunjukkan bukti screenshot yang semalam ia ambil dari HP suaminya. Diana menunjukkan kepada Tina dan Intan apa saja isi pesan dan gambar yang terpampang di foto Mas Ryan dengan wanita itu.
"Yang kamu lihat waktu itu benar Tan. Itu adalah Mas Ryan dengan Mbak Sinta.."
"Selama berbulan-bulan ternyata mereka sudah saling berhubungan..."
"Dan selama itu pula aku sudah ditipu dan dibohongi mentah-mentah seperti anak kecil.."
Senyum pahit dan tatapan kosong terlihat dari wajah Diana saat mengatakan semua itu. Diana melanjutkan menceritakan semuanya yang terjadi tadi malam.
Suasana masjid yang tadinya tidak begitu ramai kini terwarnai oleh suara sesenggukan dari Intan dan Diana. Tina yang berusaha kuat di depan sahabatnya hanya bisa menutupi rasa sedihnya dengan memeluk Diana.
Mereka berdua sama sekali tidak menyangka jika suaminya Diana bisa bertindak sejauh itu sampai berzina hingga menghamili Mbak Sinta.
Berkali-kali terdengar ucapan istighfar dari mulut Tina dan Intan. Mereka berdua seolah bisa merasakan dengan persis jika di posisi Diana.
"Ke-kenapa....Kenapa ini terjadi padaku?"
"Memangnya apa salahku dengan Mas Ryan sampai dia tega berbuat seperti ini?"
Diana tahu walaupun dia bertanya seperti itu, kedua sahabatnya tidak akan pernah bisa menjawabnya. Meski begitu pertanyaan itulah yang terngiang-ngiang di kepala Diana saat ini.
Suasana kelabu menyelimuti mereka bertiga. Mereka saling berpelukan. Saling mengelus punggung. Tina dan Intan terus berusaha menenangkan dan menguatkan Diana.
"Bagaimana dengan Indra Na?" Tanya Tina sambil menghapus air mata Diana.
"Indra masih belum tahu apa-apa. Tadi aku meninggalkan dia dengan Mas Ryan setelah selesai bikin sarapan..."
"Jadi kamu langsung berangkat ke kampus tanpa sarapan Ana?"
"Aku sama sekali tidak ada nafsu makan. Lidahku terasa pahit..."
__ADS_1
"Ana, kamu harus makan Na. Kamu harus kuat. Ingat kamu punya Indra Na.."
Diana terdiam mendengar bujukan Tina. Memang benar, apapun yang terjadi dan bagaimanapun juga ia harus kuat. Karena ada jagoan kecil yang menjadi pelipur hati.
"Aku belikan makanan ya Na.." Intan berinsiatif.
"Iya Tan. Makasih..."
Intan bergegas pergi untuk membeli sarapan. Kini tinggal Tina dan Diana di sana. Tina tidak henti-hentinya mengelus punggung Diana.
Mata Tina kini tertuju kepada tas yang Diana bawa. Nampak berat seperti diisi dengan buku-buku kuliah.
"Diana kamu serius mau masuk kelas hari ini?"
"Iya Tina kemarin kan aku sudah tidak masuk.."
"Lagipula mungkin jika aku ikut kelas aku bisa sedikit melupakan rasa sakit ini. "
"Diana Maaf... tapi kalau menurut aku di saat kamu seperti ini yang pertama kali kamu perlukan mungkin bukan dengan melupakan rasa sakit itu....."
"Di saat seperti ini kamu harus luapkan semuanya. Kamu harus meluapkan rasa sedih, kecewa, marah, jengkel. Kamu harus luapkan Na...."
"A-aku harus meluapkan semuanya?"
"Iya Na... kamu tidak boleh mengalihkan semua rasa itu. Kamu tidak boleh menahan rasa itu. Tapi kamu luapkan semuanya hingga rasa itu tidak tersisa sedikitpun di hati kamu..."
"Setelah kamu menghabiskan semua rasa itu baru kamu bisa berpikir dengan jernih Na..."
Diana nampak memandangi wajah sahabatnya itu dengan penuh rasa terima kasih.
"Iya aku akan lakukan saran kamu. Terima kasih ya Tina.."
Karena jarak kampus dengan masjid yang begitu dekat Intan tidak memerlukan waktu lama untuk membeli sarapan di kantin. Dia belikan Börek isi daging untuk Diana.
"Ini Na, kamu makan ya." Intan menyerahkan Börek sambil terengah-engah. Dia sepertinya setengah berlari karena khawatir sahabatnya kelaparan.
"Terima kasih ya Tan. Padahal kamu enggak perlu sampai berlari..."
"Iya sama-sama Na.."
"Tina, Intan aku rasa ini sudah lewat dari jam kelas kita mulai. Kalian sudah telat 15 menit. Sekarang saatnya kalian ikut kelas kan?"
"Kami berdua akan tetap di sini sampai kamu sudah merasa lebih baik Diana.."
"Tidak.. Kalian sebaiknya sekarang kembali ke kelas. Aku tidak ingin hanya karena hal ini kalian jadi tidak ikut kelas.."
"Aku akan baik-baik saja. Aku tidak akan ke mana-mana. Aku akan tunggu kalian saat jam istirahat makan siang di sini.."
Diana terus berusaha meyakinkan kedua sahabatnya bahwa ia tidak apa-apa. Namun Tina dan Intan saling bertatap mata mereka seolah ragu untuk meninggalkan Diana sendiri.
"Ayolah kalian masuk kelas. Aku tidak akan bisa meluapkan semua rasa ini jika ada kalian..."
"Huft..... Baiklah kami akan kembali ke kelas tapi kamu janji ya Na akan mengabari jika terjadi apa-apa."
"Iya Tina, aku janji."
"Yasudah kami ke kelas ya. Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi.."
Sosok Tina dan Intan segera menghilang dari pandangan Diana. Kini dia kembali seorang diri.
Setelah beberapa langkah Tina dan Intan meninggalkan Diana sendiri dan memastikan sudah cukup jauh, air mata Tina yang sedari tadi ia tahan kini baru mengalir deras.
Tina segera berjongkok sambil menangis. Ia masih tidak percaya akan kejadian yang menimpa sahabatnya. Intan yang panik melihat Tina seperti itu segera mencari tempat yang sepi untuk membawa Tina kesana.
"kamu kok aneh sih. Kenapa baru nangis sekarang?"
"kalau kita bertiga nangis di sana, siapa yang nanti akan menguatkan Diana?"
"Diana kenapa semua ini terjadi kepadanya? Kenapa suami seperti itu?
Kini Tina yang menangis sesenggukan dihalaman mesjid.
"Sudah dong Tina jangan menangis. Nanti aku jadi ikutan nangis lagi loh..." Mata Intan mulai berkaca-kaca.
Kini dua sahabat itu saling berpelukan dan menenangkan diri satu sama lain.
Di satu sisi saat Diana masih mematung memandang pintu Tina dan Intan keluar, dering telepon masuk membuatnya terkejut.
(Dari Ibu?)
Diana sempat ragu untuk mengangkat telepon dari ibunya. Hp-nya dibiarkan berdering cukup lama. Ia bingung bagaimana ia akan menjawab dengan perasaan yang sangat kacau.
Iya berusaha menarik nafas dalam-dalam. Mengatur nada bicaranya dan mengatur suaranya agar tidak terdengar seperti habis menangis.
"Halo Assalamualaikum Bu.."
__ADS_1
"Waalaikumsalam.. Ana kok lama diangkat teleponnya? Biasanya langsung kamu angkat Na?"
"Hmm..Bu, I-ini sedang jam kuliah.."
"Oh maafkan Ibu nak ibu tidak tahu. Kamu lagi kuliah ya? Ibu Matikan ya?"
Disaat seperti ini dia merindukan suara ibunya dan ingin mendengar suaranya lebih lama.
"Ng..nggak ada dosen Bu. Dosennya sedang tidak hadir..."
"Oh begitu..?"
"Iya jadi kita masih bisa teleponan Bu.."
"Oh syukurlah...Kamu gimana kabarnya Na?Beberapa minggu ini kok udah jarang hubungin Ibu?"
"Alhamdulillah baik Bu.. maafin Diana ya Bu jarang hubungin Ibu kemarin-kemarin.."
"Yasudahlah tidak apa-apa.. Yang penting kamu sekeluarga di sana sehat-sehat saja.."
"Oh ya kalau kamu lagi di kampus berarti Ibu nggak bisa ngobrol sama Indra ya?"
"Iya Bu dan Diana hari ini kuliah sampai malam karena sudah harus mempersiapkan penelitian dan sudah mulai banyak tugas..."
"Oh iya kamu sudah masuk jadwal semester yang padat kuliah ya Na?"
"Iya Bu. Oh iya Bu, Ana mau tanya.."
"Tanya apa Na?"
"Ibu saat Ayah masih hidup, Bagaimana sikap Ayah terhadap Ibu?"
"Kok tiba-tiba bertanya seperti itu Na?"
"nggak apa-apa bu Ana cuma penasaran karena Ana sudah benar-benar lupa akan wajah Ayah. Dan Ana lupa bagaimana kita menjadi keluarga yang utuh saat itu..."
"Oh... sikap Ayah dulu terhadap ibu, yah Ayahmu itu bukan termasuk pria yang romantis..."
"Tapi ayah akan melakukan berbagai macam cara untuk menafkahi kita ya dengan cara yang halal tentunya."
"Ayahmu sangat pekerja keras. Saat itu masa lagi susah-susahnya, hingga kita hanya makan cukup tiga orang saja..."
"Kalau sudah seperti itu, Ayahmu pasti akan berkata sudah makan di luar jadi makanan yang dia bawa atau makanan yang Ibu masak bisa kita makan bertiga. Walaupun ibu tahu yang dikatakan Ayahmu itu bohong, Ayah akan marah sama Ibu jika ibu tidak jadi memakan karena memikirkannya.."
"Ibu lagi nelpon siapa?"
Walaupun samar tapi terdengar suara kak Andi dari balik telepon.
"loh Kak Andi ada di rumah Bu? Hari ini nggak kerja?"
"anaknya Andi, Cantika dan istrinya lagi sakit. Jadi hari ini enggak masuk kerja dulu."
"Sakit apa Bu Cantika dan Mbak Via?"
"kena demam berdarah Na. Makanya kamu di sana harus jaga kondisi ya. Apalagi kamu kan jauh dari ibu.."
"Kamu harus jaga kesehatan makan yang teratur. Apalagi kamu kan sekarang lagi sibuk-sibuknya kuliah."
Diana terdiam mendengar ucapan ibunya. Dia merasa sangat bersalah karena saat ini harus berbohong padahal Ibunya sangat mengkhawatirkannya . Tapi di sisi lain Ia juga tahu bahwa sekarang mungkin bukan saat yang tepat untuk menceritakan semuanya kepada ibunya.
Diana akan cerita kepada ibunya jika dirasa sudah saatnya. Entah kapan waktu itu akan tiba. Tapi bagaimanapun juga ia pasti akan menceritakan semuanya kepada ibu dan kak Andi.
"Ana? Sayang? Kamu masih ada di situ?"
"Oh iya Bu Ana masih mendengarkan. Terima kasih Ibu sudah khawatir sama Ana.."
"kok kamu ngomong gitu sih Na? Ya wajar lah pasti ibu khawatir sama kamu. Kamu itu udah tinggal paling jauh di sana..."
"Ibu tidak bisa setiap hari menengok kamu. Kalau pun Ibu kangen, Ibu paling cuma bisa nelpon dan lihat kamu melalui layar HP.."
"Ibu nggak bisa meluk kamu secara langsung sampai kamu nanti pulang ke Indonesia.."
Tangis Diana yang sudah sedari tadi berhenti kini tumpah kembali. Walaupun dia berusaha menahan dengan menutup mulutnya namun suara sesenggukannya terdengar di balik telepon ibunya.
"Ana kamu kenapa? Kamu nangis ya?"
"Ibuuu.... A-ana kangen. Ana kangen banget sama Ibu...."
"Oh, anak bungsu kesayangan Ibu..."
"Ibu juga kangen sama kamu sayang. Nanti begitu pulang ke Indonesia kita habiskan waktu bersama ya Nak.."
"Iya Bu. Tapi Bu, dosennya sudah datang. Telponnya Ana tutup dulu ya. Assalamualaikum..."
"Iya Ana sayang.. Wa'alaikumsalam warahmatullahi.."
Setelah menutup telepon dari ibunya, Diana seperti meluapkan semua rasa sakit yang ia alami dari semalam ditambah dengan rasa bersalah karena harus berbohong kepada ibunya.
__ADS_1
Rasa sakit dan bersalah itu seperti memberi beban yang sangat berat bagi tubuhnya hingga sulit baginya untuk duduk dengan tegak. Dia meringkuk di pojokan dan hanya menangis sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.