
Delvin segera menggeser tubuhnya ke kiri. Karena lagi-lagi insting Delvin berkata kalau psikopat ada di sisi kanannya. Selain karena insting, pisau yang ditancapkan oleh psikopat itu di tangan kanan delvin.
Delvin berhasil menghindar dari perbuatan kejam psikopat. Namun sepertinya psikopat itu sudah bisa membaca gerak-gerik targetnya dalam keadaan apapun bahkan dalam keadaan gelap. Tanpa cahaya psikopat itu mengetahui di mana targetnya berada saat ini. Karena posisi badan delvin yang miring psikopat itu langsung menarik paksa pisau yang tertancap di bahu delvin.
Ya, dari tadi posisi Delvin memanglah miring. Tidak mungkin dia tergeletak dengan posisi terlentang jika pisau itu masih menancap di bahunya.
"Aakkhh! "Delvin meringis kesakitan karena bekas tusukannya terasa begitu sakit.
Di dalam Gubuk tempat tinggal seorang ibu dan seorang anak terlihat ada seorang gadis sedang duduk bersender di salah satu bagian dinding gubuk.
Wanita itu belum tidur, karena rencananya tadi siang. Benar saja, di dalam gelapnya malam dan di antara suara hewan-hewan malam bersahutan dirinya mendengar teriakan seseorang. Meskipun suaranya lirih namun ia masih bisa mendengarnya karena suasana malam yang begitu sunyi.
Ia bangkit dari posisinya, melangkahkan kaki menuju keluar. Dia adalah Natalie marecha yang sudah membulatkan tekat kalau malam ini dia harus menemukan satu jawaban saja dari pertanyaannya.
Setelah memastikan tidak ada yang terbangun selain dirinya. Recha membuka pintu gubuk secara perlahan. Tak lupa juga Recha membawa obor yang ada di ruang tamu untuk menjadi sumber penerangannya.
Ketika melihat ada cahaya obor, psikopat itu langsung melarikan diri meninggalkan targetnya.
Delvin belum menyadari kalau ada seseorang yang menghampirinya karena delvin memejamkan matanya untuk meredam rasa sakit yang diakibatkan oleh pisau yang menancap di bahunya ditarik dengan paksa.
"Seperti seseorang yang aku kenal." Gumam Recha sambil melangkahkan kakinya semakin mendekati delvin.
Delvin mendengar langkah kaki berjalan ke arahnya. Seketika juga delvin membuka matanya. Dan delvin melihat cahaya berwarna orange menuju ke arahnya.
Setelah sudah dekat, recha memperhatikan seseorang yang sudah tidak asing lagi menurutnya. "Ternyata dia delvin, apa kalau aku bantu dia terima? " Ucap Recha di dalam hatinya.
"Tolong saya." Ujar delvin lirih sebelum matanya berkunang-kunang dan kepalanya terasa pusing kemudian Delvin pingsan tak sadarkan diri.
"Ternyata dia masih sadar tadi. Oke, akan aku bantu silahkan salahkan aku jika nanti kau sudah sadar dari pingsanmu." Dengan bersusah payah Recha memapah tubuh delvin hingga masuk ke dalam Gubuk.
Recha memperhatikan wajah delvin yang terlihat begitu pucat, juga tangan Delvin yang ternyata ada pisau tertancap di sana. Recha tidak mencabut pisau itu karena jika Recha cabut darah Delvin akan keluar semakin banyak.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Mengapa kamu bisa ada di sini? Dan, apakah Resha dan Varo bersamamu? " Sebenarnya Recha bertanya dengan seseorang, namun hanya mendapatkan jawaban dari kesunyian.
...
Sementara di lain tempat, lebih tepatnya di area luar gubuk. Setelah melihat ada seseorang yang sudah menyelamatkan targetnya, bukannya marah atau pun kesal karena kesenangannya digagalkan psikopat itu malah tersenyum sambil menatap seseorang yang masih tak sadarkan diri di tempatnya.
"Yah dia pingsan. Aku tidak suka kalau target ku pingsan, karena aku tidak bisa mendengar jeritan merdu yang keluar dari mulutnya." Ucap psikopat itu dalam hati, karena baginya jeritan memilukan dan kesakitan itu sebuah alunan nada di telinganya.
Meskipun begitu, psikopat itu tetap mendekati target selanjutnya. Lalu mulai menyeretnya untuk dibawa ke tempat tinggal dirinya.
Setelah sampai di tempat tinggalnya psikopat tak punya hati itu pergi ke suatu tempat untuk mengambil air agar bisa menyadarkan targetnya.
Ketika psikopat itu pergi ada seseorang yang melintas.
"Astaga kenapa kamu ada di sini?! " Seseorang tersebut cukup terkejut ketika melihat target psikopat.
Seseorang itu adalah Aidan yang tidak sengaja melintasi tempat tinggal psikopat dengan membawa panah dan alat berburunya. Aidan memang suka berburu karena terkadang hanya daging hasil buruannya saja yang bisa dikonsumsi oleh dirinya beserta ibunya. Meskipun terkadang kakaknya mengirimkan daging ayam dan daging daging yang dikonsumsi oleh manusia pada umumnya namun itu jarang sekali, maka dari itu tak jarang Aidan lebih memilih berburu di setiap malamnya.
Aidan langsung membawa wanita itu ke gubuknya.
Saat sampai di gubuknya, Aidan merasa heran karena pintu gubuk yang terbuka. Perasaannya berkata kalau tadi Aidan sudah menutup pintu sebelum dirinya pergi keluar untuk berburu.
Tanpa mencoba menerka-nerka lagi Aidan segera memasuki gubuk dengan resha yang ada di gendongannya. Yah, wanita yang hendak dijadikan psikopat sebagai target selanjutnya itu adalah resha.
Recha kaget karena tiba-tiba saja Aidan masuk ke dalam gubuk. "Kamu dari luar?"
"Iya saya baru saja selesai berburu, dia siapa? " Tanya Aidan kepada Recha sambil menatap delvin yang masih terbaring lemah.
"Dia temanku, sepertinya dia juga tersesat sama seperti aku dan yang lainnya di sini. itu siapa yang kamu gendong?"
Aidan segera melepas gendongannya kemudian membaringkan Resha di sisi Delvin. "Dia kembaranmu?"
__ADS_1
Recha menatap seseorang yang tadi digendong Aidan dengan tatapan tidak percaya. "Iya. Dia kembaranku, kamu menemukannya di mana?"
"Di suatu tempat. Jaga mereka, saya ingin mengambil beberapa obat di dalam."
Aidan berlalu meninggalkan recha bersama kedua orang yang pingsan dengan kondisi memprihatinkan.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian berdua? " Recha lagi-lagi melontarkan pertanyaan.
Tak lama kemudian Aidan pun kembali dengan membawa sebuah kotak berisikan beberapa jenis obat P3k.
"Kamu bisa bantu saya?"
"Tentu," Recha segera mengambil beberapa salap dan kapas untuk menyembuhkan luka-luka lecet di tubuh Resha. Sedangkan aidan mencoba menghentikan darah yang keluar dari luka bekas tusukan di bahu Delvin.
"Kamu tahu apa penyebab mereka bisa seperti ini? " Aidan bertanya kepada Recha.
Recha menggeleng cepat.. "tidak, aku tadi mendengar sedikit teriakan seseorang lalu aku pergi keluar dan aku melihat delvin dengan keadaan seperti ini."
"Temanmu yang lain tidak dibangunkan? Atau mau saya yang membangunkan teman laki-lakimu?"
"Boleh saja kalau tidak merepotkan."
"Tidak merepotkan, saya akan segera membangunkan mereka berdua." Aidan memasuki kamar tidurnya hendak membangunkan Aksa dan Arvin.
...
Di sisi lain psikopat yang sudah menghabisi beberapa nyawa orang-orang yang dikenal Recha sedang kesal karena lagi-lagi target lolos darinya.
"Sial! Siapa yang sudah berani mengambil target ku?! Apa dia?! Kalau memang dia curang sekali dia, bukankah kita sudah sepakat kalau hanya membutuhkan satu manusia saja di setiap malamnya, kan dia tadi sudah mendapatkannya dan aku belum mendapatkan malam ini dasar serakah!!!" Psikopat itu menancapkan pisaunya di tanah untuk melampiaskan kekesalannya.
-------------------------
__ADS_1