Malam Tadi

Malam Tadi
bab 23


__ADS_3

Tampan sekali wajah kekasihku. Apalagi dalam keadaan beku seperti ini.


.


.


.


.


.


"Segera lahir ya cucu nenek dan kakek, kami berharap kau akan terlahir menjadi seorang wanita yang kuat," Ujar seorang ibu sambil mengusap perut anaknya yang terdapat malaikat kecil di dalam sana.


"Harus seorang wanita, tidak boleh laki-laki." Sahut sang ayah memaksa.


"Laki-laki ataupun wanita itu tidak terlalu penting, yah, yang terpenting sehat fisiknya." Sang anak sepertinya sudah kesal, karena kedua orang tuanya begitu terobsesi untuk mendapatkan cucu berjenis kelamin perempuan.


"Ibu dan ayah, berharap anak yang kamu kandung sepasang anak kembar perempuan. Bukan laki-laki, seperti anak yang dikandung saudarimu itu." Sinis Ibu sambil melirik ke arah seorang wanita yang sedang tertunduk menahan air mata.


"Jangan begitu Bu."


Sepasang anak kembar perempuan non identik  yang bernama saras Mayang Afika dan Laras Mayang Atika. Laras, sang adik, selalu dikucilkan oleh keluarga terutama kedua orang tuanya. Yang selalu di specialkan hanyalah Saras. Adik dari kedua orang tuanya pernah berkata kepada Laras, kalau sebenarnya kedua orang tua mereka tidak pernah menginginkan anak kembar jadi pada saat kelahiran Saras, mereka tidak berharap lagi ada anak yang lainnya.


Dan mereka begitu merasa kecewa, ketika Bu Mita melahirkan 1 anak perempuan lagi yaitu Laras. Mereka tidak terima akan kehadiran Laras, karena itu lah, kedua orang tua Laras tidak pernah menganggapnya ada. Selalu dibanding-bandingkan dengan Saras kakaknya.


Saat ini Saras dan Laras sama-sama sedang mengandung. Kandungan Laras sudah di USG, dan dokter menyampaikan, kalau anak yang dikandung laras adalah sepasang anak kembar laki-laki. Sedangkan kandungan sang Kakak belum diketahui apa jenis kelaminnya.


***


Beberapa bulan kemudian, dan hari ini sepertinya Laras dan Saras akan sama-sama melahirkan anak mereka. Mereka berdua sudah sama-sama merasakan keram di perutnya yang amat sangat terasa sakit. Ibu dan ayah senantiasa menjaga Saras dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Sedangkan Laras, tidak ada 1 orang pun yang mendampinginya.


Sang suami kebetulan bekerja di luar kota, dan saat ini sedang berada di perjalanan menuju rumah sakit.


Mata Laras berkaca-kaca, meratapi nasibnya yang sungguh malang, bahkan sejak kelahirannya. Meskipun begitu, Dengan bodohnya, Laras masih tetap bertahan hidup sampai sekarang. Laras selalu merasa dirinya orang terbodoh di dunia, karena sudah bertahan selama ini. Perlakuan orang tuanya dari dulu hingga sekarang kepada dirinya semua menyatu menjadi satu. Luka hatinya menganga semakin lebar bersamaan dengan nyawa yang akan dirinya pertaruhkan demi anaknya terlahir ke dunia dengan selamat.


Laras tiba-tiba berteriak, dan semua dokter juga suster menghampirinya.


"Ayo!! Tarik nafas! " Dokter dan suster membantu proses kelahiran Laras.


Beberapa jam kemudian, "selamat ya, Bu, anaknya terakhir kembar, dan semuanya perempuan." Ujar dokter dengan senyum yang merekah di wajahnya.


"Apa?! perempuan? Yang benar saja, dok?!"


"Iya, Bu, anak Ibu cantik sekali," dokter menyerahkan salah satu anak kembar perempuan kepada Laras.


"Bagaimana bisa? Dok? Beberapa bulan yang lalu saya USG dan mereka laki-laki."


"Hasil USG tidak semuanya akurat, Bu, kalau begitu saya permisi ya. Nanti kalau ada apa-apa pencet saja bel darurat yang ada di sini."

__ADS_1


Dokter tersebut meninggalkan Laras sendirian di dalam kamar rawatnya.


"Anakku perempuan apakah ayah dan ibu akan menyayangiku? " Laras sudah berekspektasi tinggi.


"Tututu, anak-anakku cantik sekali. Ibu berjanji, akan memperlakukan kalian seadil-adilnya, Ibu tidak akan pernah membiarkan kalian merasakan apa yang ibu rasakan," Laras Mencium pipi anaknya satu persatu.


Keadaan saudari kembar Laras, yaitu saras, masih belum tersadar dari pingsannya pasca melahirkan. Tanpa diduga-duga, ternyata anak kembar yang terlahir dari kandungan Saras ternyata laki-laki. Anehnya Bu mita dan pak Fendi tidak merasa kecewa sedikitpun. Hanya saja mereka berdua tidak ingin menyentuh anak laki-laki itu.


Bu Mita berinisiatif untuk menjenguk Laras hanya ingin memastikan saja apakah benar benar Laras juga melahirkan sepasang anak kembar laki-laki.


Pintu kamar rawat Laras terbuka, Laras sangat berharap itu adalah suaminya. "Mas--"


"Apa? Kenapa? Kau berharap yang datang kemari adalah suamimu? Sepertinya kau belum mengetahui sesuatu. Baru saja, aku melihat ada pasien korban kecelakaan, dan aku mengenal siapa orang itu dia fahdan, suamimu. Kasihan, suamimu meninggal ketika kamu melahirkan anakmu."


Bu Mita berbicara menyampaikan kabar duka dengan nada mengejek. Air mata yang sedari tadi Laras bendung kini benar-benar mengalir dengan deras. "Itu gak mungkin terjadi! Ibu pasti salah lihat!"


"Terserah kamu mau percaya atau tidak, pastikan saja sana di kamar mayat." Bu Mita tidak sengaja melihat dua Putri kecil di sisi Laras.


"Sial! Bagaimana bisa?! " Ibu mita bertanya-tanya dalam hati, karena tidak terima kalau cucu yang diidam-idamkannya terlahir dari rahim anak yang tidak pernah diharapkan oleh dirinya beserta suaminya. Terbesit rencana licik dalam pikiran Bu Mita.


"Itu anakmu? Kau pergilah sana ke kamar mayat! Pastikan itu benar suamimu atau bukan takut jikalau beneran ibu salah lihat. Dan anakmu, biar aku yang menjaganya di sini." Tiba-tiba sikap Bu mita berubah 180°.


"I-ibu serius?"


Laras merasa terkejut dengan nada Bu mita yang sangat lembut ketika berbicara padanya.


Bu Mita mengangguk, lalu mendekati sepasang anak kembar di sisi Laras. Dalam hati laras benar-benar memiliki rasa yang campur aduk, di sisi lain ada rasa takut jika benar kalau suaminya mengalami kecelakaan dalam perjalanan ke rumahsakit, namun disisi lainnya, Laras merasa bahagia karena sepertinya kedua orang tua laras akan menerimanya dengan baik ketika dirinya melahirkan sepasang anak kembar perempuan. Sesuai dengan yang mereka idam-idamkan selama ini.


Bu Mita tersenyum simpul ketika melihat Laras keluar dari kamar rawatnya. Entah apa yang direncanakannya, Bu Mita membawa anak Laras ke kamar rawat Saras.


"Ibu dari mana saja? Mengapa lama sekali? " Protes Pak Fendi kepada Bu Mita.


"Ssttt.. ayah diam saja! Ibu punya rencana bagus."


Pak Fendi melirik bayi yang berada di gendongan Mita lalu Pak Fendi juga ikut tersenyum. Seolah sudah mengerti apa yang direncanakan oleh istrinya, pak Fendi pun langsung membantu Bu Mita untuk menjalankan rencananya.


Bayi kembar perempuan anaknya Laras diletakkan di dalam box bayi tempat anaknya Saras berada. Sedangkan anak kembar Saras dibawa Bu Mita untuk diberikan kepada Laras. Itu artinya mereka sengaja menukar anak Saras dan Laras.


Laras berjalan di koridor rumahsakit berlinangan air mata. Karena benar saja, suaminya mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat. Benar-benar lucu sekali semesta bercanda kepadanya. Saat Laras hendak kembali ke kamar rawatnya Pak Fendi segera menarik tangan Laras dan memaksa Laras untuk mengikutinya keluar rumah sakit.


Laras tidak bertanya apa-apa, dirinya hanya pasrah diperlakukan seperti itu oleh ayahnya. Pak Fendi membawa Laras ke parkiran  rumah sakit, lalu memaksanya untuk masuk ke dalam mobil.


Laras tidak tahu dirinya akan dibawa ke mana.


Di dalam kamar rawat Saras...


Saras membuka matanya secara perlahan Dirga suami Saras, dan Bu Mita langsung menghampirinya.


"Syukurlah kamu udah sadar sayang." Dirga tersenyum kepada Saras.

__ADS_1


"Anak kita mana? Yah?"


Dirga menyerahkan sepasang anak kembar perempuan kepada istrinya. Ada yang mengganjal pikirannya, karena Dirga mengetahui apa yang dilakukan oleh ibu dan bapak mertuanya. Dirga tidak bisa mencegah, karena mertuanya itu keras kepala. Dirga hanya bisa berharap, semoga Laras bisa menjaga anak Dirga dan Saras dengan baik. Begitupun dengan Dirga dan saras akan menjaga anak Laras dengan baik.


"Anak kamu perempuan sayang, ibu senang banget deh."


"Keadaan Laras bagaimana Bu?"


"Ibu tidak tahu, karena tadi kata dokter yang menangani Laras, Laras dipindahkan ke rumah sakit lain. Sudahlah, kamu jangan terlalu memikirkan dia. Lebih baik kamu pikirkan sebuah nama yang indah untuk mereka."


...


Saat dirasa sudah menemukan tempat yang tepat, Pak Fendi langsung membuka pintu mobil dan menarik paksa Laras agar keluar dari mobil.


"Tempat seperti ini yang cocok untuk kamu anak tidak penting!!!," Pak Fendi mendorong tubuh Laras dengan keras hingga Laras tersungkur di tanah. Pak Fendi meletakkan sepasang- anak kembar laki-laki tak jauh dari tempat Saras terjatuh.


"Jangan kau pikir, dengan kau melahirkan anak perempuan, saya dan Mita akan menerimamu. Sampai kapanpun kami tidak akan pernah menganggap kau ada di dunia ini. Paham?!! Kau rawat anak Saras dan biarkan Saras yang merawat anakmu. Karena memang Saras yang lebih berhak mendapatkannya."


Pak Fendi langsung masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Laras begitu saja.


Ketika mobil Pak Fendi menghilang dari pandangannya, ekspresi Laras langsung berubah menjadi datar dan senyuman miring tercetak di bibirnya. "Tidak ada yang tahu bagaimana diriku sebenarnya. Lihat saja nanti, jika takdir mempertemukan aku dengan salah satu keluargaku Aku akan menunjukkan kepada dunia siapa aku sebenarnya." Ucap Laras sambil menatap kosong ke sembarangan arah.


Laras melirik ke arah anak kembar itu berada dan Laras mengambil salah satu dari mereka. Yang Laras ingin hanyalah salah satu dari mereka, bukan keduanya.


Laras melangkahkan kakinya tanpa arah yang pasti.


Beberapa jam kemudian setelah kepergian Laras, ada seorang laki-laki yang sedang mencari rumput untuk hewan ternaknya. Laki-laki tersebut tidak sengaja melihat bayi yang ditinggalkan Laras, karena tidak tega, laki-laki itu juga sudah mencari orang di sekitarnya, namun tidak menemukan siapa-siapa, laki-laki tersebut memutuskan untuk membawa anak itu ke rumahnya.


Laras terus berjalan hingga dirinya menemukan sebuah gubuk reog di tengah-tengah hutan. Laras Masuk ke dalam gubuk tersebut lalu mencoba merapikan bagian dalam gubuk agar nyaman untuk dijadikan tempat tinggalnya.


"Sampai jumpa dengan diriku yang berbeda, wahai semesta."


*****


3 tahun kemudian, dan dua pasang anak kembar itu sudah tumbuh menjadi seorang anak yang berkembang dengan baik pastinya.


Terutama anak Laras yang dirawat oleh Saras, dan juga. 3 tahun lamanya, Saras tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Yang Saras tahu, kalau memang anak yang dirinya rawat selama ini adalah anak kandungnya. Dan untuk keberadaan Laras, Saras sudah mencoba mencarinya namun hasilnya nihil.


Yang Saras dan Dirga ketahui hanyalah kabar kalau fahdan sudah meninggal.


Karena sudah tidak sanggup lagi untuk merahasiakan semuanya, akhirnya dengan hati yang tenang dan tutur kata yang lembut Dirga menjelaskan semuanya kepada Saras. Saras yang mendengarnya sangat sedih, terlebih lagi Saras tidak tahu di mana keberadaan Laras beserta anaknya.


"Laras, kalau di dalam kehidupanmu aku tidak pernah membahagiakanmu izinkan aku untuk memberikan kebahagiaan untuk anakmu. Aku tahu kau bukan orang yang pendendam, tolong jaga anakku dengan baik ya. Aku yakin, suatu saat nanti, takdir akan mempersatukan kita kembali." Ujar Saras penuh harap.


•••


Ada yang paham nggak maksud dari isi bab 23 ini?


Aku mau tahu pendapat kalian dong, aku yakin para readers  udah bisa menebak yang sebenarnya.

__ADS_1


Tuliskan pendapat kalian di kolom komentar Ya.


-------------------------


__ADS_2