
Pukul 01.00 dini hari aku baru saja pulang setelah bekerja seharian. Dalam perjalanan menuju rumahku, memanglah sangat sepi dikala malam hari. Entah mengapa, perasaan aku sungguh tidak enak malam ini. Apalagi, aku melihat dari kaca spion mobilku, kalau di kursi belakang terlihat tangan berlumuran darah sedang melambai-lambai. Reflek aku menghentikan mobilku dan aku membuka pintu mobil bagian belakang. "Kan tadi sudah aku bilang! Diam! Jangan berisik apa lagi terlalu banyak gerak."
.
.
.
.
.
Recha mendongakkan kepalanya melihat ke arah depan. "Sheila...."
Betapa terkejutnya Recha, karena seorang wanita yang sedang memperkenalkan diri di bagian kelas paling depan adalah Sheila seseorang yang berhasil mengancam nyawa recha beserta teman-temannya.
Nazwa yang duduknya bersebelahan dengan recha pun mendengar apa yang baru saja Recha katakan. Nazwa pun mengalihkan pandangan dari buku mata pelajaran matematika yang sedang dipahaminya.
"Penampilannya beda, kalau dilihat sekilas sih emang nggak terlalu mirip, tapi kalau diperhatiin lebih detail, memang orang yang sama."
"Iya. Kira-kira apa ya tujuan Sheila masuk ke sekolah ini?"
"Gua nggak tau, cha, mending kita pantau aja."
"Tapi feeling gua nggak enak."
"Jangan negatif thinking dulu."
"Oke semua! Kita lanjutkan pelajarannya lagi ya. Dan untuk Sheila Kamu duduk di bangku paling belakang. Karena hanya bangku itu saja yang kosong."
"Baik, Bu." Sheila segera duduk di bangku yang posisinya paling belakang, kemudian pelajaran yang sempat terhenti dilanjutkan kembali sampai selesai.
***
Suara bel sekolah menggema ke seluruh penjuru ruangan di sekolah bertanda kalau jam istirahat sudah waktunya. Seperti biasa Resha, Aksa, Arvin, dan Nazwa pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang sedari tadi merasakan kelaparan. Sedangkan Recha, Recha memang selalu memilih untuk tetap di kelas walaupun jam istirahat berlangsung.
"Mau nitip sesuatu kagak?"
"Nggak usah deh, sha, gue nggak lapar."
"Ya udah. Gue sama yang lain ke kantin dulu ya."
__ADS_1
"Ya."
Jika hari-hari sebelumnya Recha di kelas hanya sendirian saja ketika jam istirahat berlangsung, namun tentunya berbeda dengan hari ini. Parahnya, sepertinya Recha melupakan perbedaan yang terjadi pada hari ini. Buktinya saja, recha masih tetap beraktivitas dengan ponselnya.
Tanpa Recha sadari, seseorang melangkahkan kakinya mendekati ke arah Recha.
"Halo, masih ingat dengan aku kan? Wah hebat ya, kita masih bisa bertemu lagi."
Recha terkejut dengan suara yang baru saja memberi sapaan hangat kepadanya. Dan pada akhirnya Recha mengingat sesuatu.
Recha tidak menanggapi perkataan Sheila, recha memilih untuk bungkam dan diam saja. Ada perasaan menyesal mengapa dirinya baru mengingat jika saat ini nyawanya sedang terancam di tangan manusia tak punya hati.
'Sial! Seharusnya gue tadi ikut aja ke kantin bareng mereka.'
"Kenapa diam saja? Oh pasti kamu merasa bahagia sekali kan? Kalau aku bersekolah di sini, dan kita bisa bertemu tiap hari." Sheila berkata dengan percaya dirinya yang tinggi.
'gilaa! ' umpat recha dalam hati.
"Ah kau selalu diam. Sama seperti korban-korbanku jika mulutnya terjahit dengan rapi, tapi, aku lihat di mulutmu tidak ada jahitan lalu mengapa kau diam saja? Apakah Vita suaramu bermasalah?"
Sungguh mengerikan kata-kata Sheila yang menembus pendengaran Recha.
"Coba saja aku bisa bebas bermain kapanpun dan di manapun di tempat ini, pasti detik ini juga kita sudah bermain dan bersenang-senang. Tapi sayang, ada seseorang yang melarangku untuk tidak bermain dalam waktu dekat." Setelah mengucapkan kata-kata yang membuat Recha berpikir keras, sheila pergi keluar kelas meninggalkan Recha sendirian tentu membiarkan recha bersama ketenangan.
...
"Eh, Siswi baru itu kok mirip sheila ya? " Arvin sedikit ragu jika mengambil kesimpulan kalau itu memang benar Sheila.
"Memang itu sheila."
Perkataan Nazwa berhasil membuat ketiga sahabatnya tersedak makanan yang sedang disantapnya.
"Hah? Beneran? Kok lu bisa tau? Na? " Aksa sedikit tidak percaya. Karena Aksa berpikir kalau siswi itu memang kebetulan saja memiliki wajah dan postur tubuh yang mirip dengan Sheila.
"Coba aja perhatiin lebih detail."
"Gawat dong! Kalau Sheila ada di sekolah ini. Lagian kok bisa?, Sheila keluar dari hutan dan bersekolah di sini?"
"Sorry, gua nggak bisa jawab pertanyaan lu, Sha."
...
__ADS_1
Kita berpindah tempat, ke ruangan yang ada di kantor tempat papanya Resha Recha, yang bernama Fernando dirgantara atau biasa dipanggil dengan sebutan Dirga.
"Jadi, apa yang ingin Mama bicarakan?"
Saras tadi menghubungi Dirga kalau Saras ingin datang ke kantor Dirga karena ada sesuatu hal penting yang ingin dibicarakan.
"Jadi begini, pa, pas waktu itu kita jemput Resha Recha beserta teman-temannya di hutan, Mama bertemu dengan seseorang yang selama ini kita cari-cari. Dan seseorang yang selama ini Mama rindukan."
"Maksud Mama, Laras?"
"Iya, pa, kalau Mama nggak salah lihat waktu itu mama jalan di barisan paling belakang sama Recha, ada seorang wanita yang mencegah pergelangan tangan mama. Dan dia bilang: kalau mama selalu saja merebut sesuatu yang membuat dirinya bahagia."
"Mama yakin, pa, itu memang benar Laras. Karena nggak mungkin, orang yang nggak Mama kenal sama sekali bisa berkata demikian. Mama pengen ketemu sama Laras, pa, Mama ingin bertemu dengan anak-anak Mama." Saras kini sudah menumpahkan air matanya.
"Mama yakin? Bukannya apa-apa, ma, kalau memang benar wanita itu Laras berarti Laras sangat berbahaya bagi masyarakat."
"Laras itu orang baik, pa, Mama yakin Laras bisa berubah menjadi sosok yang seperti itu, karena kejadian di masa lalu. Mama juga sempat membaca artikel dan majalah yang membahas tentang penyebab kepribadian yang berubah menjadi psikopat."
"Papa paham, ma, masa lalu laras memang lah sungguh menyedihkan. Dan pasti masa lalu itu sudah menciptakan ruang kelam yang bernama trauma di dalam diri Laras. Tapi jika mama mau bertemu dengan Laras nanti akan papa pikirkan caranya. Agar, kita tidak menjatuhkan korban dalam hal ini."
"Iya, pa, Mama paham. Nanti Mama juga akan bantu papa untuk mencari caranya."
...
Sheila sedang berjalan di koridor sekolah hendak mencari tempat sepi yang cocok dengan kepribadian dirinya. Sheila tidak suka keramaian, tinggal di dalam hutan selama bertahun-tahun membuatnya merasa tidak nyaman saat berada di tempat yang ramai . Di dalam langkahnya, Sheila dihadang dengan satu geng siswi berjumlah 4 orang.
"Anak baru ya? Kita baru lihat soalnya." Tanya dari salah satu siswi tersebut.
Sheila hanya menjawabnya dengan anggukan saja.
"Mau nggak masuk ke geng kita? Dijamin, satu sekolahan bakalan takut kalau udah gabung sama kita." Siswi yang lainnya memberi sebuah penawaran.
Tidak ingin menanggapi, Sheila hendak pergi meninggalkan 4 siswi remaja SMA tersebut. Baru saja berbalik badan, tangannya langsung ditarik oleh siswi yang ber-name tape salsa Safiranda.
"Enak aja main pergi gitu aja, jawab dulu pertanyaan gue tadi."
Salsa memaksa, sambil mengeratkan genggaman tangannya di pergelangan tangan sheila.
Sheila tidak bereaksi apa-apa dengan santainya sheila melintir tangan salsa yang satunya, hingga genggaman tangan salsa yang begitu erat terlepas. Salsa merasa kesakitan, tiga sahabatnya langsung menghampiri salsa.
"Berani banget lu nyakitin salsa." Sahabat salsa yang ber-name tape anara Yoona hendak menarik rambut Sheila.
__ADS_1
Sheila berjongkok, lalu mengambil sesuatu di kaos kakinya. "Mau bermain denganku?"
-------------------------