
Menggenggam hatinya adalah salah satu keinginanku sejak lama. Dan rasanya sangat membahagiakan. Mungkin kalian berpikir, aku dan dia saling jatuh cinta. Sekali lagi aku tegaskan.. aku menggenggam hatinya! Hatinya berada di genggamanku...!
.
.
.
.
.
Sheila berjongkok, lalu mengambil sesuatu di kaos kakinya. "Mau bermain denganku?"
Salsa dan ketiga sahabatnya menutup mulut mereka masing-masing dan melemparkan tatapan tidak percaya ke arah Sheila. Bagaimana tidak, sesuatu yang bersembunyi di kaos kaki sheila adalah pisau lipat yang terlihat sangat tajam.
"L-lu gila! Di sekolah nggak boleh bawa pisau." Ujar salsa dengan gemetaran, seraya mengikis jarak dari Sheila.
"Aku tidak melihat peraturannya. Dan aku rasa, itu tidak termasuk sesuatu yang dilarang di sekolah ini."
"Dasar gak punya otak! Kalau bawa pisau ke sekolah nggak dilarang, tragedi pembunuhan pasti kebanyakan terjadi di sekolah." Teman satu geng salsa yang bernama Adelia Tania ikut angkat bicara.
"Oh. Jadi, pembunuhan di sekolah jarang terjadi? Kalau begitu, biarkan sekolah kita menjadi salah satu sekolah yang terkenal karena ada tragedi pembunuhan."
"J-jangan gila lu." Khalisa Gea Syavana yang sedari tadi hanya diam pun kini ikut menimpali.
"Kenapa? Kalian takut? Tenang. Kita hanya bermain saja, dan permainan itu pasti menyenangkan bukan?"
Sheila menatap satu persatu empat orang di hadapannya dengan intens. Hingga tatapannya berhenti ke khalisa. "Ayo! Sepertinya awal permainan lebih menyenangkan jika kamu yang menjadi pemain pertamanya." Sheila mendekati khalisa. Khalisa tidak bisa berbuat apa-apa, begitupun ketiga sahabatnya.
"Kalian bertiga tunggu saja gilirannya. Tapi jangan pernah coba-coba untuk melarikan diri. Karena itu hanya percuma dan membuang-buang energi."
__ADS_1
Sheila mendorong Khalisa dengan keras, hingga kepala khalisa terbentur lantai koridor sekolah. Khalisa menjerit kesakitan namun tidak ada seorangpun yang ingin membantunya. Bahkan, salsa, nara, dan adell.. hanya menonton saja kejadian itu tanpa melangkahkan kakinya satu langkah pun. Atau hanya sekedar mengeluarkan suara.
sheila Tersenyum dengan senyuman andalannya, kemudian berjongkok di hadapan khalisa. Bukan seorang psikopat namanya, jika membunuh korbannya tanpa disiksa terlebih dahulu. Begitu pula dengan sheila, terlebih dahulu memberikan gesekan perkenalan mata pisau yang ada di genggamannya dengan kulit halus khalisa.
Perlahan tapi pasti pisau di tangan Sheila merobek kulit tangan khalisa. Khalisa terus berteriak minta tolong, sialnya, lokasi mereka berada saat ini di tempat yang jarang sekali dilewati. Sepertinya sheila terlalu membuang banyak waktu di dalam permainannya kali ini. Karena ketika Sheila sedang asyik dengan karyanya bel sekolah berbunyi dengan nyaring pertanda jam pelajaran dimulai kembali.
Karena kesal dan terganggu oleh suara bel yang cukup keras Sheila langsung menancapkan pisaunya tepat di bagian perut kanan khalisa dan dada kanan khalisa.
"Astagaaa!!!! " Ketiga sahabat Khalisa sangat terkejut melihat ada darah muncrat begitu saja dari luka tusuk yang di hasilkan oleh tangan cekatan Sheila.
Secara bersamaan pula Pak Rudi lewat ke tempat mereka berada. "Astagfirullah! Khalisa kenapa?! Siapa yang sudah berbuat seperti ini?!"
"Li-lihat CCTV aja Pak." Salsa, Nara, dan Adell langsung pergi meninggalkan khalisa dengan Pak Rudi.
Pak Rudi segera memanggil beberapa guru dan juga petugas keamanan di sekolah.
...
Ternyata bukan hanya Recha, resha pun melihat hal yang sama. Namun bedanya, resha langsung menghampiri sheila. "Lu habis ngapain? Kok di seragam lu ada darah?"
"Tidak usah ikut campur urusanku."
"Ikut gue! Bahaya kalau ada yang lihat darah ini selain gue. Apalagi lo masih baru di sekolah ini. Jangan samakan sekolah ini dengan hutan tempat lu itu, Sheila."
"Kan sudah kubilang. Jangan terlalu ikut campur urusanku! " Resha TIDAK MEMPERDULIKAN PERKATAAN SHEILA, Resha segera menarik tangan Sheila UNTUK PERGI KELUAR KELAS. UNTUNG SAJA GURU MATA PELAJARAN KETIGA belum MEMASUKI KELAS.
Resha hendak membawa Sheila ke toilet, agar Sheila bisa membersihkan bercak-bercak darah di seragamnya. Namun ketika di perjalanan menuju toilet, resha dan Sheila berpapasan dengan Pak Rudi.
"Sheila kamu saya tunggu di ruangan saya." Perintah Pak Rudi, kemudian langsung pergi begitu saja.
"Udah gue duga, pasti ini masalah besar buat lo. Lu tau nggak ruangan Pak Rudi di mana? Kalau nggak tau gue anterin."
__ADS_1
"Saya tau, dan saya tidak perlu bantuan dari kamu." Sheila menarik tangan nya yang digenggam resha dengan paksa, kemudian pergi menuju ke ruangan Pak Rudi.
"Gue susul nggak ya? Ah nggak usah deh, lanjut ke kelas aja."
...
Tok.. tok... Tok...
"Ya silakan masuk!"
"Oh, kamu, sheila, ayo segera duduk!"
"Dari mana? " Tanya Sheila kepada Pak Rudi.
"Recha."
Eh buset dah, yang diomongin Pak Rudi sama Sheila itu tadi apaan ya? Nggak paham aku.
Sorry ya digantung lagi hehe.
See you the next bab.
__ADS_1
\-------------------------