
Malam hari. Di tempat percampingan...
"Apa hasil penelusuran hari ini pak? " Tanya Pak Rudi kepada para anggota kepolisian.
"Ini Pak, kami menemukan sepotong tangan beserta jam tangan. Kami juga menemukan tiga handphone. Semoga ini bisa menjadi titik terang bagi penyelidikan kami saat ini." Komandan menyerahkan semuanya kepada Pak Rudi.
Pak Rudi memperhatikan jam tangan yang sudah tidak asing di penglihatannya. "Ini jam tangan milik Pak Faisal sang guru kimia di SMA sinar bangsa. Selaku penanggung jawab kegiatan camping yang diadakan oleh sekolah."
"Berarti benar Pak, kalau Pak Faisal meninggal dengan cara terbunuh."
"Salah satu anggota tim kami juga ada yang cedera Pak, sebuah peluru tertancap di punggungnya. Kami membutuhkan penjelasan dari beliau, namun sepertinya kejadian yang beliau alami cukup mengguncang mentalnya." Penjelasan dari salah satu ketua.
"Iya. Apalagi, dia tidak kembali bersama dengan anggota lainnya, yang pergi dengannya.'" lanjut anggota yang lain.
"Apakah pencarian ini akan tetap dilanjutkan? Pak? " Tanya Pak Rudi.
"Tetap kami lanjutkan. Ini kasus cukup bahaya, dan harus kita selesaikan segera. Jika tidak, akan ada semakin banyak nyawa yang melayang."
"Tapi komandan, baru satu hari pencarian saja, sudah ada beberapa anggota kita yang menghilang dan satunya lagi terluka fisik dan mentalnya. Maaf sebelumnya kalau saya lancang, saya rasa, jika semakin banyak manusia yang memasuki hutan tersebut, maka semakin banyak pula jiwa-jiwa yang menjadi korban." Papar salah satu anggota.
Semuanya menyetujui perkataan anggota yang baru saja mengeluarkan pendapatnya.
"Lalu kita harus bagaimana? Tidak mungkin kita hanya diam saja."
"Bagaimana kalau hari esok, kita jadikan sebagai hari terakhir pencarian ini?"
Mereka semua menyetujui.
"Ya sudah kalau begitu, semuanya silakan beristirahat ke tempatnya masing-masing! Kita akan lanjutkan pencarian esok hari." Suruh komandan, mereka segera kembali ke tempat istirahatnya masing-masing.
DORR!!!!!
DORR!!!!
DORR!!!!!
Para tim kepolisian, beserta pak rudi dikejutkan dengan suara tembakan yang begitu keras.
Mereka semua keluar tenda, dan mencari seseorang yang melepaskan peluru nya dengan sembarangan.
__ADS_1
"Itu dia orangnya!!! " Teriak salah satu anggota ketika melihat seseorang di balik pohon.
"Jangan bergerak!!!"
"Diam di tempat!!!!"
Para polisi sudah mengepung seorang misterius yang mereka duga kalau itu adalah psikopat.
"Anda sekarang sudah kami kepung! Mau menyerahkan diri dengan cara baik-baik atau harus kami lumpuhkan dengan pistol?"
Beberapa kata ancaman yang dikeluarkan oleh para polisi hanya dianggap angin lalu saja oleh psikopat tak punya hati itu. Dengan lincahnya, ia berhasil keluar dari kepungan para polisi, lalu memanjat ke salah satu pohon yang cukup tinggi.
"Jangan harap anda bisa lolos dari kami!!!"
Bukan psikopat namanya, jika dia mendengarkan perkataan orang-orang di sekitarnya. Psikopat tersebut mengambil 2 revolver dari saku jubah kanan dan kirinya. Sekarang di masing-masing tangan psikopat itu sudah menggenggam revolver yang kapan saja bisa Ia tarik pelatuknya.
DORRR!!!!!!
Salah satu polisi melepaskan pelurunya namun sayangnya tidak tepat sasaran. Psikopat tersebut berhasil menghindarinya dengan cara melompat ke pohon yang lain. Hebatnya, dia bisa secepat itu berganti tempat.
Salah satu anggota kepolisian kembali melepaskan peluru pistolnya ke arah psikopat. Lagi-lagi psikopat itu berhasil menghindar, saat ini bayangannya pun sudah tidak terlihat lagi.
"Semuanya berpencar!! Kita harus bisa menangkap psikopat itu!!"
DORRR!!!!
Psikopat kembali melepaskan peluru yang ada di pistol miliknya dengan sembarangan arah. Dirinya sengaja melakukan itu agar para polisi tidak begitu sulit mencarinya. Apakah benar tujuannya seperti itu?
Seluruh anggota kepolisian mendekati asal suara yang tadi mereka dengar.
"Tetap berhati-hati! Kita harus lebih teliti dalam membaca situasi. Jangan sampai si kopat kejam itu lolos dari jangkauan kami. Apakah semuanya paham?!"
"Siap! Paham! Komandan!"
Di atas pohon psikopat tersenyum bahagia. Iya mulai menarik pelatuk revolver yang ada di tangan kanannya. Peluru revolver tersebut mengenai satu persatu anggota kepolisian yang ada di bawah. Dengan penuh kegembiraan dan kesenangan psikopat itu terus menghujani mereka dengan banyaknya peluru. Hingga tubuh para anggota kepolisian itu sudah sulit untuk dideskripsikan.
Hanya ada satu orang saja yang tidak berhasil terkena hujan peluru. Dia adalah Pak Rudi, Pak Rudi berhasil menyelamatkan dirinya dari jangkauan psikopat.
Pak Rudi sangat sok menyaksikan satu persatu tubuh manusia yang sebelumnya gagah, kini hancur.
__ADS_1
Karena takut psikopat mengetahui keberadaannya Pak Rudi segera melarikan diri kembali ke tenda.
Entah Pak Rudi yang terlalu pintar, atau memang kebodohan psikopat sedang hadir saat ini. Karena, psikopat tidak menyadari kalau ada seseorang yang lolos dari nya.
Sudah cukup dengan permainan yang menyenangkan di malam hari ini, psikopat itu segera meninggalkan tempat nya berada saat ini.
...
Di sisi lain, lebih tepatnya di dalam gubuk. Ada seorang remaja laki-laki sedang memukul-mukul lengannya sendiri, berharap apa yang baru saja dilihatnya bukanlah kenyataan.
Ia adalah delvin kalandra remaja yang humoris dan selalu menumpahkan banyak kasih sayang kepada orang-orang di sekitarnya. Mentalnya hampir saja terguncang karena tadi delvin melihat dari sela-sela dinding gubuk kejadian mengerikan di luar.
Bagai kan tersihir, delvin tidak bisa mengalihkan pandangannya ketika pertumpahan darah itu disaksikan oleh matanya. Bulan yang bersinar lebih terang dibandingkan malam-malam sebelumnya menambah kesan tersendiri bagi delvin ketika melihat warna merah darah di bawah Cahaya bulan.
Tubuhnya bergetar hebat ingin menangis tapi tidak bisa mengeluarkan air mata, ingin berteriak tapi tidak bisa mengeluarkan suara. Untuk bergeser dari tempatnya duduk saat ini pun tidak bisa melakukannya.
Delvin sebenarnya memang seorang remaja yang gemar akan sesuatu berbau thriller dan misteri, namun Delvin hanya menyukai di dalam perfilman saja bukan untuk disaksikan secara nyata. Ketakutan sangat mendominasi perasaannya saat ini. Delvin perlahan menggerakkan kepalanya untuk menoleh ke arah dua sahabatnya dan satu orang yang baru dikenal.
Ada rasa ingin membangunkan mereka, namun delvin tidak ingin mengganggu tidur lelap mereka. Delvin juga merasa heran mengapa hanya dirinya saja yang terbangun ketika mendengar suara tembakan tadi? Entahlah... Mungkin memang delvin lebih sensitif dari yang lain.
Tubuhnya sudah mengeluarkan keringat dingin terlalu banyak, hingga tenggorokannya pun tercekat membutuhkan air untuk membasahinya. Namun delvin tidak seleluasa itu untuk mengambil air minum yang dibutuhkan karena sadar, dirinya saat ini berada di tempat asing. Selain karena itu, delvin juga masih belum sanggup untuk kembali menggerakkan tubuhnya dengan lincah.
Delvin menatap jam tangan yang bertengger di tangan kirinya dan di sana terdapat pukul 02.00.
Delvin memperhatikan jam tangannya, berharap waktu akan lebih cepat berlalu.
-------------------------
•••
Hai readers ku tersayang.
Aku mau nanya sesuatu nih.. hehehe.
Menurut para readers cerita novel ini monoton nggak sih?
Karena cuman di sekitaran hutan dan lagi-lagi temanya tentang pembunuhan.
Kalau memang terasa monoton. Skip aja nggak papa kok, cari novel misteri yang lebih keren dari novel ini.
__ADS_1
Udah cuman mau ngomong gitu aja.
Selamat beraktifitas, atau selamat beristirahat.