Malam Tadi

Malam Tadi
bab 5


__ADS_3

Tanpa ada yang menyadari, seseorang misterius tadi sudah berada tepat di belakang Riko.


Seseorang itu menarik baju bagian belakang Riko dengan kuat hingga riko terlepas dari gendongan Pak Faisal.


"A..apa yang kamu lakukan? Lepaskan dia! " Seru pak Faisal.. namun orang misterius itu tidak memperdulikan, ia mengayunkan parang ke atas tubuh Riko.


"Pak, tolong saya Pak! " Riko minta tolong kepada Pak Faisal. Pak Faisal tidak bisa berbuat apa-apa, karena jika dirinya dengan yang lain maju satu langkah mendekati Riko psikopat itu akan lebih brutal lagi menyerang mereka.


Tanpa memperhatikan Riko yang sedang ketakutan. Seorang misterius yang terkenal dengan sebutan psikopat itu langsung mengambil pisau lipat yang ada di saku jubah berwarna hitamnya. Lalu menancapkannya ke perut Riko beberapa kali.


"Pak, apa yang harus kita lakukan? " Tanya Radit. Namun Pak Faisal tidak memberi jawaban apa-apa.


"Aaaadrhhh..!! S-sakittt." Riko merintih kesakitan.


Tidak memperdulikan apa yang dikatakan Riko psikopat itu mengayunkan parangnya ke tangan Riko.


"Aaaaaakkkkhh!!! " Riko menjerit  kesakitan karena tangannya sudah terpisah oleh tubuhnya.


Psikopat itu berbalik badan menatap barisan orang yang sedang ketakutan.


"Pak, lebih baik kita pergi aja dari sini. Daripada kita juga ikut terbunuh oleh psikopat itu." Rizal memberi usulan semuanya setuju kemudian segera berlari meninggalkan tempat psikopat berada saat ini.


Mereka meninggalkan Riko yang sedang sekarat. Psikopat itu tersenyum lalu berbalik badan lagi menatap ke arah Riko. Badan Riko sudah dilumuri oleh darah. Matanya pun sudah perlahan tertutup.


Tanpa rasa kasihan, psikopat itu kembali mengayunkan parangnya ke arah leher Riko. Riko pun meninggal dengan kondisi yang sangat tragis.


...


Di dalam gelapnya malam dan di bawah rimbun pohon. Terlihat ada 9 orang sedang berlari tergesa-gesa menyelamatkan dirinya dari sesuatu yang sangat berbahaya.


Ya, mereka adalah Pak Faisal dengan yang lainnya.


"Gimana ya  nasib riko? Apa dia udah meninggal? Pak, kalau Riko meninggal, kita bilang ke keluarganya gimana? " Radit melontarkan banyak pertanyaan.


"Ya kita jelaskan saja apa yang sebenarnya terjadi."


"Tapi keluarganya nggak mungkin percaya begitu aja Pak." Rizal menimpali.


"Mau percaya atau tidak itu urusan keluarganya. Yang pasti saya sudah menjelaskan kejadian sebenarnya tanpa ada yang ditutupi."


"Kalau di hutan ini ada psikopat.. apakah sebenarnya Aksa dan yang lainnya menjadi korban? " Haikal yang sedari tadi hanya diam kini mulai berbicara.

__ADS_1


"Bisa jadi. Bahkan mungkin kalau kita tidak segera keluar dari hutan ini kita juga akan menjadi korban." Jawaban Pak Faisal membuat mereka semua ketakutan.


"Berarti kita harus segera cari jalan keluar Pak." Ujar radit.


"Iya. Tapi tidak untuk malam ini. Saat ini lebih baik kita mencari tempat persembunyian yang aman dari jangkauan psikopat tadi."


Mereka semuanya kembali melanjutkan perjalanan untuk mencari tempat beristirahat sekaligus tempat persembunyian.


...


Di tempat camping semuanya bertambah panik karena kelompok yang mencari Aksa dan yang lainnya belum juga kembali.


Seluruh panitia dan siswa-siswi sangat mengkhawatirkan akan hal itu. Terutama orang-orang yang dekat dengan mereka.


"Tuh kan Pak Faisal dan yang lainnya belum juga balik lagi ke sini. Itu berarti Recha dan yang lainnya belum ditemukan. Pokoknya gue harus nekat nyari mereka malam ini juga."


"Jangan gegabah, Sha,nanti lu juga bisa-bisa ikut ilang kayak mereka."


"Gue nggak peduli, Vin, yang penting gua bisa ketemu sama adik gue dan teman-teman gue yang lain."


"Ehem.. Aku nggak suka kalau kamu memaksakan diri kamu untuk melakukan hal yang membuat diri kamu dalam bahaya." Alvaro menatap Resha dengan tatapan yang bisa membuat Resha takluk.


"Tapi Var---" Resha tidak berani melanjutkan kata-katanya karna varo sudah menggelengkan kepalanya. Tanda kalau Varo sudah tidak ingin mendengar alasan apapun yang keluar dari mulut Resha.


"Anjir lu malah ketawa."


"Lalu saya harus apa? Apakah saya harus menangis?"


"Iyalah seharusnya lu itu nangis. Lu kan sahabat gue, jadi pastinya lu ngerti apa yang gue rasain saat ini."


"Maksud kamu? Aku sebagai pacar kamu nggak pernah ngerti perasaan kamu?""


"Eh ayang bukan gitu maksud aku." Resha merasa takut karena sudah membuat varol salah paham.


"Udah nggak usah banyak alasan. Kamu balik lagi aja sana ke tenda." Suruh Varo.


Resha segera menurutinya.


"Sabar ya bro, cewek memang kayak gitu. Maunya dimengerti tapi nggak pernah mau mengerti." Delvin menepuk pundak varo untuk menyemangatinya.


Padahal saat ini delvin pun sedang merasakan sakit hati. Karena terus berada diantara Varo dan Resha. Delvin selalu melihat keromantisan mereka ditambah lagi delvin semakin terluka saat Resha berkata kalau dirinya hanyalah dianggap sebagai sahabat saja.

__ADS_1


"Sha, sahabat lu itu udah banyak. Boleh nggak sih gue minta lebih dari sahabat? " tanya delvin, tentu hanya di dalam hati saja.


...


"Kita istirahat di sini aja ya. Tempat yang cukup luas, dan kita juga sudah berjalan jauh dari psikopat itu." Pak Faisal dan yang lainnya memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon yang besar dan menjulang tinggi. Di bawah pohon itu juga tidak ada tanaman-tanaman rumput yang berduri. Jadi mereka bisa tenang jika beristirahat di sana.


Mereka semua menggelar tikar yang tadi dibawa, untuk mereka beristirahat.


Setelah selesai menggelar tikar  mereka semua makan cemilan yang masih tersisa untuk mengurangi rasa lapar.


"Bapak hanya ingin memberi satu pesan kepada kalian. Apapun yang terjadi di malam ini besok pagi kalian harus tetap mencari jalan keluar. Kalian tinggal jalan lurus saja dari sini nanti kalian akan menemukan pertigaan yang sebelumnya kita sudah temui. Pilihlah tanda-tanda yang ada di sebelah kiri nanti kalian akan kembali ke tenda dan berkumpul dengan yang lainnya kembali. Ingat, apapun yang terjadi kalian harus tetap melakukan itu semua." Pak Faisal entah mengapa sudah memiliki firasat kurang baik.


Mereka semua hanya mengangguk mendengarkan Penuturan Pak Faisal.


Satu persatu mereka tertidur karena lelah sudah berjalan seharian.


Yang masih terjaga hanyalah Radit dan Pak Faisal. Pak Faisal berjaga karena memang dirinya memiliki tanggung jawab penuh terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya saat ini.


"Bapak nggak tidur pak? Kalau ngantuk tidur aja. Nanti kita berjaganya bergantian."


"Tidak Radit, Bapak tidak ingin tidur. Lebih baik kamu saja yang tidur, biar Bapak yang berjaga sepanjang malam."


"Beneran Pak? " Tanya Radit memastikan. Pak Faisal menjawab dengan anggukan.


Beberapa menit kemudian telinga Pak Faisal mendengar langkah kaki yang berasal dari belakangnya.


Pak Faisal menoleh ke belakang. Pak Faisal pun terkejut karena yang dirinya lihat adalah psikopat yang tadi membunuh Riko salah satu muridnya di sekolah.


Pak Faisal bisa melihatnya karena dengan bantuan cahaya obor yang menyala.


Psikopat itu terlihat menatap satu persatu 8 orang yang sedang tertidur pulas. Hingga tatapannya mengarah kepada Radit. Pak Faisal yang mengetahuinya hanya diam saja.


Psikopat itu mulai berjalan mendekati Radit. Sebelum sampai di dekat Radit, pak Faisal terlebih dahulu menghampiri psikopat itu.


"Apa yang kamu inginkan? Nyawa? Kalau memang nyawa yang kamu inginkan ambil nyawa saya saja."


Psikopat itu menatap pak Faisal dengan tatapan tajam.


Lalu psikopat tersebut mengambil kertas yang ada di saku jubah hitamnya. Ia memberikannya kepada Pak Faisal pak Faisal pun menerimanya kemudian mulai membaca.


(Aku tidak membutuhkan nyawa, hanya saja aku membutuhkan daging dan darah. Ya mau gimana lagi karena aku menginginkan itu, nyawa pun harus ikut melayang)

__ADS_1


"Kalau itu yang kamu inginkan ambil daging ku saja. Bunuh aku jangan mereka." Pak Faisal menawarkan dirinya karena tidak ingin para muridnya celaka untuk yang kedua kalinya.


-------------------------


__ADS_2