Malam Tadi

Malam Tadi
bab 6


__ADS_3

Mata psikopat tersebut terlihat berbinar senang. Mungkin Ini pertama kali baginya ada seseorang yang dengan sukarela menyerahkan tubuh dan nyawanya.


Tanpa berpikir panjang tangan pak Faisal ditarik oleh psikopat itu hingga pak Faisal semakin jauh dengan tempat murid-muridnya beristirahat.


"Tunggu!! " Seru  pak Faisal ketika psikopat itu hendak menghabisi nyawanya dengan pisau lipat.


Terlihat psikopat itu memberi tatapan tidak sukanya kepada Pak Faisal. Mungkin karena dirinya merasa dipermainkan dan kesenangannya diperlambat.


"Sebelum kau membunuh aku. Aku mohon tolong bebaskan murid-muridku. Biarkan mereka kembali ke tenda. Biarkan mereka kembali ke keluarga mereka masing-masing. Cukup saya dan seseorang yang kamu bunuh  tadi yang meninggal dengan tragis."


Psikopat tersebut kembali mengambil kertas di saku jubah hitamnya. Lalu memberikannya kepada Pak Faisal.


(Untuk malam ini mungkin ada kesempatan orang-orang yang ada di sana terbebas. Karena aku hanya membutuhkan satu manusia saja setiap malamnya. Tapi aku tidak bisa berjanji jika malam-malam selanjutnya mereka akan aku jadikan target)


Tidak ingin menunggu terlalu lama psikopat itu segera menancapkan pisaunya ke beberapa bagian tubuh Pak Faisal. Hingga pak Faisal meninggal karena kehabisan darah.


Di balik topengnya, psikopat itu tersenyum senang. Lalu psikopat tersebut menyeret tubuh Faisal yang sudah penuh dengan luka tusukan untuk dibawa ke tempat tinggalnya.


Ia terus menyeret tubuh Pak Faisal sehingga darah-darah yang ada di baju Pak Faisal meninggalkan jejak di tanah yang dilalui.


Tanpa diketahui oleh psikopat, ternyata dari tadi ada yang memperhatikan tanpa bisa berbuat sesuatu.


"Saya janji Pak, saya akan membawa teman-teman hingga sampai ke tenda dengan selamat tanpa ada yang berkurang. Saya janji pengorbanan nyawa bapak untuk kami semua tidak akan sia-sia. Terima kasih Pak sudah menjadi guru dan pembimbing yang rela mengorbankan apapun demi kami." Ujar Radit dengan deraian air mata. Ya. Seseorang yang sedari tadi memperhatikan itu adalah Radit. Radit sebenarnya tidak tidur, dia hanya pura-pura tidur saja. Karena Radit tidak mudah untuk tertidur di tempat asing.


*****


Pagi hari pun tiba. Mentari kembali hadir dengan melaksanakan tugasnya untuk menyinari seluruh semesta alam. dengan cahayanya yang bersinar terang. Membuat siapapun yang melihatnya mendapatkan semangat yang berkobar.


Seperti seorang laki-laki berusia 16 tahun yang menatap sinar matahari dengan berbinar senang. Berharap dirinya akan kembali mendapatkan kebebasan seperti sebelum-sebelumnya.


Dia adalah Arvin elvano Barata. Yang sedang memendam rindu dengan sahabat-sahabatnya yang lain beserta keluarganya. Arvin juga rindu dengan kegiatan yang biasa dilakukannya setiap hari.


Bermain game, bermain alat musik, bermain basket. Arvin merindukan semuanya. Hari ini dirinya menyambut pagi dengan harapan yang besar berekspektasi hari ini dirinya bisa merasakan kembali apa yang dirasakan beberapa hari sebelumnya.


"Eh Vin, lu udah bangun?"


"Belum Ini gua masih tidur."


"Bangun geh, takut kebablasan."


"Gue nggak nyangka ternyata seorang Aksa bisa melawak."

__ADS_1


"Ketularan lu."


"Sukurin, emang enak terjangkit virus yang disebar oleh delvin. Ya udah yuk keluar, kita kan rencananya mau balik ke tenda hari ini."


Aksa dan Arvin segera bangkit dari tempat tidurnya kemudian keluar dari kamar tidur yang berukuran sangat kecil tersebut.


"Lah Nana sama Recha ke mana? Kok belum kelihatan." Tanya Arvin ketika sampai di luar.


"Mungkin masih tidur, tunggu aja di sini."


Sementara di dalam kamar satunya Recha sedang memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Haduh, nih pala gue kenapa sih? Sakit banget, kayak orang lagi punya banyak hutang di pinjol." Begitulah Recha, sebenarnya Recha adalah seseorang yang humoris dan periang seperti kakaknya. Namun tidak ada yang mengetahuinya, karena Recha selalu menyembunyikannya.


Di samping kiri recha ada Nazwa yang sedang mengerjapkan berkali-kali matanya untuk mengumpulkan nyawa.


"Eh, lu kenapa cha? Kok mukanya pucat? Jangan-jangan lu sakit." Seketika nyawa Nazwa langsung terkumpul ketika melihat wajah pucat saudara kembar sahabatnya.


Nazwa duduk lalu menempelkan telapak tangannya di kening recha yang terasa hangat.


"Eh lu demam. Oh iya gua baru ingat, lu kan alergi dingin. Mana di sini cuacanya dingin banget lagi."


"Nggak mungkin secepat itu, gua udah tahu semuanya dari Resha. Ya udah kalau gitu hari ini kita nggak jadi balik ke tenda."


"Eh, kalian tetep balik aja ke tenda. Gua nggak papa kok, ditinggal juga nggak papa."


"Nggak mungkinlah kita ninggalin lu gue sama yang lainnya nggak enak sama Resha kalau sampai ninggalin lu di sini sendirian."


Lagi-lagi yang recha dengar masih seputaran Resha.


"Oh jadi itu alasannya, ya udah deh terserah kalian."


"Oke, bentar ya, gua bilang ke Aksa sama Arvin kalau kita nggak  jadi balik ke tenda."


Nazwa pergi ke luar kamar setelah mendapatkan persetujuan dari Recha.


"Guys, hari ini kita nggak jadi balik ke tenda. Recha demam, mungkin besok aja kita baliknya."


"Kok recha bisa demam na?"


"Kayaknya alergi dingin dia kambuh."

__ADS_1


"Astaga Iya, Recha kan punya alergi dingin. Ya udah deh besok aja kita cari jalan keluarnya nggak enak sama Resha kalau kita ngebiarin Recha di sini sendirian."


"Itu dia, Vin, yang gua pikirin. Tumben otak lu waras? Sa, nggak papa kan besok aja kita pulangnya?"


"Nggak papa." Respon Aksa singkat.


Sedangkan Recha yang mendengar pembicaraan mereka dari dalam kamar hanya bisa meremas jari-jari tangannya.


"Nggak ada alasan yang lain selain alasan itu? Atau memang rasa kasihan itu nggak pernah diperuntukkan untuk gue. Sepertinya gua ada di dunia ini cuman berada di atas nama kakak gue doang. Parah lu Recha, nggak bisa berdiri di kaki sendiri." Recha bermenolok pada dirinya sendiri di dalam hati.


...


"Pak, mereka semua belum kembali. Apa kita lapor ke pihak yang berwajib saja Pak? " Tanya salah satu panitia kepada Pak Rudi perwakilan Pak Faisal.


"Untuk Aksa dan yang lainnya mungkin bisa kita laporkan ke pihak yang berwajib karena waktu mereka hilang sudah dua kali 24 jam. Sedangkan untuk Pak Faisal dan yang lain kita masih belum bisa melaporkannya. Kita jadikan ini sebagai hari terakhir untuk kita menunggu mereka."


"Baiklah kalau begitu. Apa sebaiknya anak-anak kita pulangkan besok juga pak? Kebetulan hari ini sudah hari terakhir. Mungkin karena kita menunggu orang-orang yang hilang untuk kembali, kita undur saja waktu kepulangannya menjadi besok. Bagaimana Pak? " Tanya panitia yang lainnya dijawab anggukan oleh Pak Rudi.


...


Di sisi lain hutan, terlihat ada 8 orang remaja yang masih terlelap dalam tidurnya. Mungkin efek dari lelah yang mereka rasakan seharian penuh kemarin.


"Guys, ayu bangun! Ini udah pagi, kita kan harus kembali lagi ke tenda." Radit membangunkan teman yang lainnya karena saat ini tanggung jawab berada di tangannya.


Andika membuka matanya secara perlahan. "Udah pagi ya?"


"Ya udah pagi, ayo bantu gue bangunin yang lain."


Radit dan Andika membangunkan mereka satu persatu.


"Eh pak Faisal ke mana? Kok gua dari tadi nggak ngeliat dia? " Irfan baru menyadari kalau Pak Faisal tidak ada di antara mereka.


"Nanti gua ceritain. Untuk sekarang lebih baik kita kembali lagi ke tenda, kalian masih ingat kan pesan Pak Faisal tadi malam?"


Mereka semua mengangguk.


"Ya sudah kalau gitu, ayo semuanya kita kembali melanjutkan perjalanan. Sekalian mencari buah-buahan untuk kita sarapan." Ujar Haikal.


Mereka pun mulai melangkah meninggalkan tempat yang menjadi saksi hilangnya satu nyawa seseorang yang sangat berjasa bagi mereka.


-------------------------

__ADS_1


__ADS_2