
Aku baru saja sampai di apartemen sehabis kerja. Dan aku melihat istriku yang sedang memangku anak kami di ruang keluarga. Aku berpikir, mungkin ada seseorang yang menyelinap masuk ke apartemenku untuk mengeluarkan anak dan istriku dari dalam lemari.
.
.
.
.
.
Sebelum Bapak tersebut memberi tanggapan, dari belakang Recha terdengar suara langkah kaki seseorang. Tanpa memastikan siapa orang tersebut, bapak itu langsung pergi meninggalkan Recha dengan tergesa-gesa.
"Lu ngapain di sini?"
Pertanyaan seseorang dari belakang Recha berhasil membuat Recha menoleh.
"Ngejar kucing." Untung saja di sekitarnya ada seekor kucing, jadi Recha bisa menjadikan itu sebagai alasan.
"Oh," Ujar delvin singkat kemudian memasukkan ember ke dalam sungai hingga ember tersebut dipenuhi dengan air. Ya, seseorang itu adalah delvin yang hendak mengisi air untuk mandi.
Recha membalikkan tubuhnya hendak kembali ke gubuk, tak lupa Recha membawa seekor kucing digendongannya agar bisa juga menjadi alasannya lagi.. karena Recha yakin teman dan saudaranya akan menghujaninya dengan banyak pertanyaan.
...
Bapak-bapak yang tadi berbincang dengan Recha, kini sedang mempercepat langkah kakinya agar segera sampai ke rumah. Meskipun dalam keadaan panik, bapak itu tidak lupa dengan ucapan Recha yang memintanya untuk memberi tanda-tanda di setiap langkahnya.
"Semoga neng tadi beserta teman-temannya bisa berkumpul kembali dengan keluarganya." Doa bapak itu sambil mengelap keringatnya yang sedari tadi bercucuran.
...
Malam hari...
"Woi! Kenapa lu belum tidur? " Tanya delvin kepada Arvin yang masih membuka matanya. Bahkan tidak terlihat rasa ngantuk di mata Arvin.
"Nggak papa, pengen aja begadang. Lagian jarang-jarang kan kita begadang? Mau begadang Tapi besoknya sekolah ya mumpung besok gak sekolah, kita masih di hutan, jadi ya puas-puasin aja begadang. Apalagi nggak ada yang ngomel."
__ADS_1
"Eh tumben otak lu bisa berpikir benar."
Delvin menyetujui perkataan Arvin barusan, padahal semua kata-kata yang dikeluarkan Arvin penuh dengan kebohongan. Bagaimana Arvin bisa tidur? Kalau tadi siang saja dia melihat sesuatu yang sepatutnya tidak dilihat. Dan ditambah lagi dengan fakta yang terungkap.
"Mudah-mudahan Recha bisa menjalani rencana malam ini." Harap Arvin dalam hati.
"Masa cuman gini-gini doang sih begadangnya?"
"Ya terus mau ngapain?"
"Gimana kalau kita bahas film thriller yang gue tonton terakhir kali sebelum tersesat di hutan ini?"
"Boleh juga tuh, ayolah, Dra, ceritain alur filmnya gimana."
...
Masih di dalam Gubuk, namun di ruangan berbeda. Recha sedang memperhatikan tiga orang di sisinya dengan seksama. Memastikan, mereka benar-benar tertidur pulas atau tidak. Setelah memastikan semuanya tertidur pulas Recha keluar kamar dengan cara mengendap-ngendap seperti pencuri.
Recha menajamkan pendengarannya, ketika mendengar suara orang berbincang-bincang dari kamar sebelah. Setelah Recha perhatikan suaranya, Recha tahu, kalau itu delvin dan Arvin yang sedang mengobrol, tanpa ada Aksa dan Aidan.
Recha juga yakin kalau Arvin sudah memastikan Aidan tidak keluar gubuk malam ini. Dirasa kondisi sudah aman, Recha membuka pintu belakang secara perlahan.
Recha membuka pintu lemari secara perlahan, karena kata Arvin, pintu lemari tersebut jika dibuka akan mengeluarkan suara cukup nyaring. Untuk itu, sebelum membukanya Recha mengoleskan minyak makan di sela-sela engsel pintu lemari. Dengan begitu, suara yang dikeluarkan tidak begitu nyaring.
Recha sudah berhasil membuka pintu lemari tersebut, dan Recha langsung mengambil jubah hitam yang mungkin biasanya digunakan Aidan saat menjalani aksinya. Walaupun warna merah darah tidak terlihat di antara warna hitam, namun aromanya tetap terdeteksi oleh Indra penciuman.
Dengan tangan gemetar, Recha perlahan membalut tubuhnya dengan jubah menjijikan itu. Tak lupa, topeng juga di pakainya.
Recha mengambil sebilah pisau, agar memperkuat penyamarannya. Recha melangkah menuju sungai.
Sebelum sampai di sungai recha melihat cahaya lain dari sekitarnya. Setelah cahaya itu semakin dekat, Recha bisa melihat kalau itu adalah seseorang yang menggunakan pakaian serupa dengan Recha. "Ini pasti Sheila." Ujar Recha dalam hati.
"Kau mau ke mana? " Tanya seseorang dihadapan Recha kepada Recha.
Recha menunjuk arah yang hendak Ia kunjungi, tanpa mengeluarkan suara. Karena Recha yakin jika Recha mengeluarkan suara, tentu Sheila akan curiga.
"Oh kau mau ke sana? Semoga saja ada manusia di sana." Ujarnya, kemudian pergi meninggalkan Recha sendirian.
__ADS_1
"Boleh nggak sih gue bunuh dia aja sekarang? " Rasa kesal menjalar di dalam hati Recha karena seorang psikopat benar-benar pandai memanipulatif keadaan.
Recha melanjutkan langkahnya kembali dengan perasaan lega karena sheila sudah percaya dengan penyamarannya. Recha memperhatikan sekitar, dan recha melihat ada daun-daun yang terlihat berbeda bertuju ke suatu arah.
"Pasti ini tanda-tanda yang dibikin sama bapak-bapak tadi siang," Recha mulai mengikuti tanda-tanda tersebut.
Recha terus berjalan, cahaya lampu pun mulai menyapa penglihatannya. Recha sekarang sudah berada di antara rumah-rumah warga namun, Recha tidak tahu yang mana rumah bapak-bapak tadi siang. (Aduh si recha mikirnya bapak tadi siang mulu, suruh siapa belum kenalan?)
Recha melihat segerombolan bapak-bapak yang sedang berbincang-bincang kemudian Recha menghampirinya.
"Assalamualaikum." Recha mengucapkan salam.
Sontak semua bapak-bapak yang berada di sana menatap Recha dengan tatapan takut. Recha memperhatikan tubuhnya, Recha baru sadar, kalau dirinya belum membuka jubah penyamarannya. Recha perlahan membuka topeng yang digunakannya, tak lupa juga jubah psikopatnya.
"Maaf, Pak, udah bikin Bapak panik, saya akan jelaskan semuanya kepada bapak yang ada di sini. Semoga ada yang berkenan membantu saya." Recha berbicara dengan nada halus walaupun di hatinya sedikit merasa gugup karena Ini pertama kalinya recha berkomunikasi langsung dengan beberapa orang yang baru dikenalnya.
"Oh ini neng yang tadi siang kan? " tanya salah satu bapak-bapak, yang ternyata itu bapak-bapak yang ingin Recha temui.
"Iya Pak, makasih ya Pak, udah mau kasih tanda-tanda untuk saya."
"Oh ini yang tadi diceritain sama Pak Ardi, ayo neng! Masuk aja dulu ke dalam. Jangan takut, saya RT di desa ini." Ujar salah satu bapak-bapak yang mengaku dirinya sebagai Pak RT, Recha pun memasuki rumah Pak RT setelah dipersilahkan oleh istri dan anak Pak RT.
"Jadi apa yang bisa saya bantu? " Tanya Pak RT dengan penuh rasa tanggung jawab.
"Begini Pak, saya hanya ingin meminjam ponsel kepada salah satu anggota keluarga Bapak, untuk menghubungi keluarga saya, itupun kalau bapak mengizinkan."
"Oh boleh boleh boleh.. ini, pakai handphone saya saja." Pak RT memberikan handphone miliknya kepada Recha, Recha pun menerimanya dengan senang hati.
"Makasih ya pak," Recha mulai menekan beberapa tombol angka untuk menghubungi kedua orang tuanya.
...
Sedangkan di gubuk, tanpa sadar, Arvin tertidur dan tidak jadi meneruskan begadangnya sampai pagi datang. Arvin bisa tertidur, karena mendengar cerita delvin tentang film thriller.
"Anjir nih anak malah tidur! Padahal gue cuman mau cerita doang, bukan untuk dongeng." Karena kesal, delvin pun ikut merebahkan dirinya di samping Arvin dan mulai tertidur.
Sudah memastikan kalau Arvin dan Delvin tertidur Aidan pun memutuskan untuk keluar kamar. Aidan membuka pintu gubuk, sepertinya malam ini dia mulai beraksi kembali. Aidan mendekati lemari tempat barang-barangnya di taruh.
__ADS_1
Namun ketika membukanya....
-------------------------