
Arvin dan Aksa keluar dari kamar tidur dengan ekspresi wajah yang masih penuh dengan rasa kantuk.
Namun begitu melihat kedua sahabatnya sedang pingsan dengan kondisi tidak baik-baik saja mereka langsung membuka matanya lebar-lebar. Rasa kantuk yang mereka rasakan menghilang dalam waktu sekejap. Digantikan dengan rasa keterkejutan dan heran.
"Delvin? Resha? Mereka kenapa? " Tanya Arvin kepada Recha.
"Gua nggak tahu kenapa mereka bisa kayak gini." Jawab recha dengan nada datar. Entah apa yang mengakibatkan Recha bisa merubah ekspresinya seperti itu.
Arvin dan Aksa mendekati delvin dan Resha. Arvin mencoba menyadarkan delvin, sedangkan aksa mencoba menyadarkan resha.
"dra, lu kenapa sih? Lu Ternyata, bisa pingsan juga ya. Gua kira lu nggak bisa pingsan, lu kan manusia nggak normal." Ujar Arvin sambil menahan tawa karena merasa lucu dengan apa yang dikatakannya.
"sha, apa yang terjadi sama kamu? Kok tubuh kamu bisa banyak luka-luka kayak gini." Aksa menatap sendu seorang wanita yang selama ini menjadi pelabuhan cinta dalam diam Aksa.
Aidan memutuskan untuk pergi ke dapur untuk membuat minuman hangat agar bisa mereka minum setelah mereka sadar dari pingsannya. Sedangkan Recha memilih masuk ke kamar untuk membangunkan Nazwa.
"Ar.. kok lu ada di sini? Dan gue ada di mana?"
"Kaldraaa.. akhirnya Lu sadar juga. Gua kira lu sadarnya nunggu bertahun-tahun, ternyata cuman beberapa menit doang." Dengan santainya Arvin memeluk delvin.
Arvin memanggil delvin dengan sebutan kaldra, karena kaldra itu adalah nama panggilan Delvin jika bersama keluarganya.
"Apaan sih lu, Ar, najis meluk-meluk gua. gua masih normal kalee." Delvin melepaskan pelukan Arvin secara paksa.
"Mana ada, gua meluk-meluk elu, itu tadi gua ketarik gaya gravitasi mangkanya bisa meluk badan lu."
"Anjir, gravitasi lu bawa-bawa. BTW lu sama siapa aja di sini?"
Arvin memegang kepala delvin lalu memutar ke kanan dan ke kiri. "Udah tahu, ada siapa aja di sini?"
__ADS_1
"Nggak gitu juga caranya! Resha! ternyata dia dari tadi belum sadar."
Aksa menoleh ke arah delvin. "Maksud lu?"
"Haduh nanti deh gua ceritain, tapi beneran nih gua di sini cuman sama kalian berdua doang? Nazwa sama... Ah siapa ya? Gua lupa, oh bukan lupa sih, lebih tepatnya nggak mau nginget lagian nggak penting juga buat diingat. Mereka ke mana? Nggak bareng kalian?"
"Mereka ada di dalam kamar." Jawab Aksa sambil menunjuk salah satu kamar.
"Oh." Respon delvin singkat hingga menciptakan keheningan beberapa saat.
Tak lama kemudian tiga orang wanita keluar dari kamar. Mereka adalah Bu Tika, Nazwa, dan Recha. Nazwa langsung menghampiri Resha, sedangkan Bu Tika pergi ke dapur menemui Aidan setelah menyapa Delvin. Recha hanya berdiri saja di depan pintu kamar.
"Ya ampun, Sha, kita udah lama banget nggak ketemu Eh pas ketemu keadaan lu kayak gini. Siapa sih yang udah bikin lu kayak gini?! Kalau sampai gua ketemu sama orangnya udah gua pisahin tuh organ-organ tubuhnya. Berani-beraninya nyakitin bestie gue." Nazwa terus mengoceh sambil menggunjang-guncangkan lengan resha tidak memperdulikan mata yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan sulit diartikan.
Beberapa saat kemudian Bu Tika dan Aidan kembali dengan membawa nampan yang di atasnya terdapat beberapa minuman hangat.
"Maaf tidak ada cemilan."
"Nggak papa Bu, seharusnya nggak perlu repot-repot bikin minuman untuk kita." Ujar Nazwa.
"Tidak apa-apa. Tidak ada yang merasa direpotkan. kalian semua tamu,, dan tamu itu adalah raja, jadi, saya selaku tuan rumah wajib memberi pelayanan yang baik untuk raja." Ucap Bu Tika sambil tersenyum.
"Aduh bisa aja sih ibu. Saya izin minum boleh ya Bu? " Tanya delvin.
"Silakan diminum! Ibu kan membuat minuman ini untuk diminum bukan untuk dilihatin saja."
"Makasih Bu, Ar bantuin gua minum dong tangan kanan gue sakit banget soalnya."
"Baik tuan muda," Arvin segera membantu delvin meminum minuman yang dibuat oleh Bu Tika dan aidan secara perlahan.
__ADS_1
"Varo." Resha tersadar dari pingsannya.
Resha membuka matanya secara perlahan, menormalkan penglihatannya. Juga mencoba memperhatikan satu persatu orang-orang di sekitarnya.
"Sha, akhirnya Lu sadar juga." Nazwa langsung memeluk ReSHa dengan erat.
"Na, gua ada di mana? Kenapa badan gue sakit semua? dan, Varo ada di mana? Dia nggak apa-apa kan?"
Nazwa menatap delvin dengan penuh tanda tanya.
"Kok nggak ada yang mau jawab? Delvin, Varo nggak kenapa-napa kan? Dia ada di mana sekarang?"
"Recha, Ternyata lu juga ada di sini? Mereka siapa? " Tanya Resha melirik Bu Tika dan Aidan.
"Mereka pemilik gubuk ini. Gubuk yang menjadi tempat persinggahan gue dan yang lainnya di saat tersesat." Jawab Nazwa.
"Syukur alhamdulillah kalian nggak kenapa-napa. Gue khawatir banget sama kalian karena gue takut kalian jadi korban psikopat itu." Setelah mengucapkannya ReSHa langsung meneteskan air mata.
"Astaga Lu kenapa nangis? " Nazwa memeluk resha kembali.
"Psikopat? Maksud kamu apa? " Tanya Aksa kepada Resha.
"Biar gue yang jelasin." Arvin kemudian menjelaskan semuanya kepada yang lain. Mulai dari kabar kematian Riko, Pak Faisal, bahkan kematian Varo yang baru saja terjadi. Mereka semua yang mendengar, terkejut dan tidak percaya. Namun setelah mereka lihat kondisi delvin dan Resha, mereka percaya kalau hutan tempat mereka berada saat ini memang tidak aman.
"Ternyata mereka berulah lagi." Ujar Bu Tika tiba-tiba.
"Maksudnya gimana Bu? " Recha mulai bertanya setelah dari tadi hanya diam saja.
__ADS_1