Malam Tadi

Malam Tadi
bab 9


__ADS_3

Semakin dekat benda itu semakin terlihat jelas. Aksa refleks menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Aaaaa! Itu kepala siapaaaa?!"


Nazwa berteriak karena dirinya juga melihat apa yang Aksa lihat.


"Kepala siapa sih? Mana ada kepala di si---" Arvin terkejut karena ada sesuatu yang menabrak tangannya.


"Ini apaan sih?! " Dengan tangan yang satunya Arvin mengangkat sesuatu yang menabraknya.


"Anjir!!! " Reflek Arvin melempar sesuatu yang tadi diangkatnya


Sesuatu itu adalah kepala manusia yang sudah tidak memiliki bola mata. Juga telinga dan hidung. Kondisinya sangat mengerikan.


Nazwa langsung memeluk Bu Tika yang ada di sisinya sambil mengeluarkan keringat dingin karena ketakutan. Arvin juga langsung naik ke atas batu yang ada di tepi sungai tempat Aksa duduk.


"S-sa, itu kepala siapa njir?! " Arvin memeluk erat lengan aksa.


"Kepala rumah tangga." Jawab Aksa cuek.


"Anjir di saat-saat seperti ini malah bercanda."


"Ayo kita kembali saja ke gubuk." Ajak Bu Tika.


"Bu, Kok ibu biasa aja sih? " Tanya Nazwa.


"Iya, Ibu nggak ada rasa takut sama sekali pas ngelihat kepala itu." Lanjut Arvin.


"Ibu memang sudah terbiasa. Nanti suatu hari Ibu ceritakan, mari kita kembali ke gubuk." Mereka segera beranjak dari tempat duduknya masing-masing kemudian mengikuti ibu kembali ke gubuk.


Sedangkan Arvin masih sesekali menatap telapak tangannya yang tadi digunakannya untuk menggenggam kepala mengerikan. "Please buat kepala siapapun yang tadi gua pegang jangan menghantui gue nanti malam." Mohon Arvin dalam hatinya.


*****


Malam hari...

__ADS_1


Resha sedang mengendap-ngendap untuk meninggalkan tempat percampingan menuju ke dalam hutan agar bisa menemukan saudari dan sahabatnya.


Setelah menoleh ke sana kemari dan Resha sudah memastikan tidak ada yang mengetahui kepergiannya. Dirinya segera melangkahkan kakinya menuju ke hutan yang lebat juga gelap. Resha terus berjalan dengan memegang handphone di tangan kanannya untuk sumber cahaya petunjuk jalan.


Resha tidak memberikan tanda-tanda di setiap langkahnya karena yang ada di pikirannya saat ini hanyalah keselamatan orang-orang yang disayanginya.


Tanpa Resha sadari ada yang mengikuti Resha dari belakang. Dia adalah Varo. Varo diam-diam mengikuti Resha karena dirinya tidak ingin Resha kenapa-napa.


Di belakang Varo juga ada delvin yang mengikuti mereka. Tujuan Delvin sama seperti Varo tidak ingin resha kenapa-napa.


Delvin melangkah cukup jauh dari jarak mereka, karena delvin tidak ingin kalau mereka mengetahui kehadirannya.


Cukup lama mereka berjalan. Meninggalkan tempat percampingan .


"Eh..! " Resha terkejut karena tiba-tiba saja ada seseorang yang memeluk dari belakang.


Resha langsung mengarahkan flash handphonenya ke belakangnya. "VA..Varo." Resha terkejut karena yang memeluknya adalah kekasihnya.


Resha melihat ekspresi Varo yang seperti merintih kesakitan. "Kamu kenapa?"?


Varo tidak menjawab, Varo makin mengeratkan pelukannya pada Resha.


Belum saja Varo menjawab seseorang menarik Varo dari belakang.


Resha melihat seseorang yang menarik Varo dan Resha cukup ketakutan karena seseorang yang dilihatnya sama seperti ciri-ciri yang diceritakan Radit tadi siang. Ya. Dia adalah psikopat.


"Sha, kamu cepetan pergi dari sini!"


"Nggak Aku nggak mau, Aku nggak mau ninggalin kamu sendirian di sini. Kita harus pergi sama-sama! Kita nggak boleh berpisah kayak gini. Varo aku yakin kita pasti bisa selamat." Resha menarik tangan Varo untuk membantunya bangkit berdiri.


"Nggak bisa, Sha, kamu harus tinggalin aku di sini. Bahkan kamu harus kembali ke tenda." Varo berkata sangat lirih.


Karena sudah kesal menyaksikan pertunjukan drama di hadapannya. Psikopat itu hendak menancapkan pisaunya ke bahu resha.


"Sha awas! " Delvin segera menarik tangan resha agar Resha tidak terkena pisau milik psikopat.

__ADS_1


Karena tidak berhasil menancap di bahu targetnya, psikopat itu langsung menancapkan pisaunya ke perut Varo. Seketika juga darah Varo keluar sangat banyak karena tusukannya cukup dalam.


"Vin lepasin gue Vin! Gua mau nyelamatin Varo." Resha terus memberontak dari genggaman delvin.


Psikopat itu melemparkan tatapan malasnya ke arah mereka bertiga. Menurutnya targetnya saat ini sangatlah banyak drama.


"Vin.. to..tolong.. bawa Resha keluar dari tempat ini." Mohon Varo dengan suara yang sangat lemah.


tidak ingin menunggu, dan menyaksikan banyak drama psikopat langsung menancapkan pisau tepat di jantung Varo. Faro kehilangan nyawanya detik itu juga.


"VARoooooo!!!! " Teriak resha histeris.


Tubuh Resha bergetar, lututnya lemas dan air matanya mengalir deras begitu saja. Resha tidak menyangka kalau kejadian yang dirinya alami saat ini adalah nyata. Resha terduduk lemas di tanah sambil menatap jasad kekasihnya dengan kondisi mengerikan.


Tanpa memperdulikan sekitar psikopat itu kembali menancapkan pisaunya berkali-kali ke tubuh Varo yang sudah tidak memiliki nyawa. Setelah berhasil membuat lubang-lubang mengerikan di tubuh Varo psikopat itu beralih ke jari-jari tangan Varo. Ia kembali mengambil pisau yang lain, pisau yang terlihat lebih kecil dari pisau sebelumnya. Dirinya memotong satu persatu jari tangan Varo lalu menyantap nya dengan nikmat.


Resha sudah tidak kuat lagi menyaksikan semuanya, hingga akhirnya dia pingsan.


Delvin yang melihat Resha pingsan tak sadarkan diri langsung menggendongnya dan membawanya berlari dari tempat keberadaan psikopat.


Saat Delvin sedang berlari, lagi-lagi ada pisau yang menancap di bahunya. Delvin tidak memperdulikan rasa sakit yang dirasakannya dirinya semakin mempercepat langkahnya agar tidak ditarik oleh psikopat dari belakang.


Karena terlalu fokus berlari, Delvin tidak sadar kalau handphonenya terjatuh hingga saat ini tidak ada cahaya yang mengiringi langkahnya. Delvin masih terus berlari  hingga kakinya terselandung sesuatu.


Hal itu membuat Delvin  dan resha yang ada di gendongannya terjatuh. "Aduh!  pake jatuh segala sih! " Delvin berusaha kembali bangkit namun kakinya terasa sakit. Ditambah lagi dengan pisau yang masih menancap di bahunya.


"Ayo delvin! Jangan peduli rasa sakitnya! Lo harus bisa selamatin Resha." Delvin menyemangati dirinya sendiri.


Sebelum berhasil berdiri tiba-tiba saja Delvin merasakan ada sesuatu yang menancap di tangannya. Delvin yakin kalau psikopat itu sekarang sudah berada di sekitarnya. "O ****! " Umpat delvin.


"Pergi nggak kau psikopat bajin*an! " Teriak lantang delvin.


Insting delvin berkata kalau psikopat itu akan segera menancapkan pisaunya ke bagian tubuh delvin yang lain.


-------------------------

__ADS_1


•••


Haloo.. maaf ya kemarin nggak up, karena sibuk sama urusan di sekolah. Jadi aku nggak sempat nulis hehehe.


__ADS_2