
Aku menyukai jari mungil adikku. Hingga suatu hari, ibu memasak sup, dan akhirnya aku tahu, kalau ibu juga menyukai jari mungil adikku.
.
.
.
.
.
Ini masih flashback yaa
"Papa, Aku boleh nggak memelihara kelinci? " Tanya sang Recha kecil.
"Boleh dong sayang, apa sih yang nggak boleh buat twins princess-nya papa."
"Kakak juga beliin ya Pa." Resha sang kakak ikut menimpali.
"Iya iya, besok ya papa beliin kelincinya. Karena sekarang udah malam jadi lebih baik tidur, besok kan kalian harus sekolah. " Ujar papa lembut sambil membelai rambut kedua putrinya dengan sayang.
Keesokan harinya...
Resha dan Recha sedang bermain dengan kelinci yang baru saja dibeli oleh papa mereka. Kelincinya terlihat sangat imut dan juga lucu pastinya. Mereka memberi makan sang kelinci, lalu bermain berlari-larian dan lompat-lompat ke sana kemari.
Lokasi tempat mereka bermain saat ini, adalah taman kesayangan Resha.. Resha adalah seorang anak yang sangat menyukai tanaman, terutama bunga. Tanpa sengaja kelinci peliharaan Recha yang diberi nama Lily melompat ke arah tanaman bunga kesayangan Resha.
Seketika juga bunga tersebut rusak dan entah apa yang mempengaruhi resha, hingga resha begitu marah sekali dengan kejadian tersebut. Resha menangkap lily dengan kasar bahkan dirinya memegang leher sang kelinci lucu dengan erat.
"Kakak, lepasin lily, kasihan dia." Pinta Recha hampir saja menangis.
Tidak memperdulikan perkataan adiknya, Resha memegang mata sang kelinci lucu lalu menyongkelnya dengan paksa. Seketika mata sang kelinci keluar dari tempat seharusnya, dan kulit sekitar mata terkelupas. Dengan kulit yang sudah terkelupas itu tanpa rasa kasihan Resha melupas kulit itu hingga semakin lebar. Terlihat separuh dari kepala kelinci tersebut tanpa kulit dan darah juga terus mengalir. Kelinci itu terlihat sangat kesakitan karena dikuliti dalam keadaan hidup-hidup.
Recha yang menyaksikan kekejaman kakaknya hanya bisa menangis percuma Recha mencegah pun sang kakak tidak akan memperdulikannya. Resha terus menguliti kelinci itu dengan ekspresi sulit diartikan. Sekarang bukan hanya sebagian kepala tapi sebagian tubuh kelinci tersebut sudah tanpa kulit. Sudah cukup puas dengan hasil karyanya, Resha mematahkan leher Kelinci tersebut dengan santainya.
Krekkkkk..!
Suara tulang patah begitu memilukan ketika didengar.
__ADS_1
Krekkkk!
Krekkkk!!
Bukan hanya lehernya saja yang dipatahkan, namun kaki sang kelinci juga dipatahkannya . Setelah selesai, Resha membuang kelinci yang sudah kehilangan nyawa dengan tragis itu kesembarangan arah.
"Hiks.. hikss.. Kakak jahat! Kakak jahat sama lily! " Recha menangis dengan wajah ditaruh di antara dua lutut.
"Kakak nggak jahat dek, lily yang nakal, lily udah ngerusak bunga kesayangan kakak. Kata Mama kan, kalau nakal harus dikasih hukuman, ya kakak cuman memberi hukuman kepada Lily saja. Memangnya Kakak salah?"
Recha tidak merespon perkataan kakaknya, Recha terus menangis hingga salah satu art menghampiri keduanya.
"Ya ampun! Non recha kenapa? " Tanya bi Mina ketika melihat Recha menangis tersedu-sedu.
"Astaghfirullahaladzim! Non resha juga kenapa?! Kok bajunya bisa banyak darah kayak gini? " Bi Mina tambah terkejut ketika melihat baju Resha dilumuri darah.
"Bi, tadi kakak bunuh Lily." Ujar recha sambil terisak.
"Udah, non Recha jangan nangis lagi ya, mending sekarang kita masuk ke dalam dulu." Ajak bi mina, mereka menurutinya.
Semenjak saat itu, Recha merasa kalau kakaknya semakin aneh. Pernah suatu hari ada seekor kucing yang masuk ke dalam kamar Resha dan Recha, karena terganggu dengan kehadiran kucing tersebut, resha melemparkannya dari atas balkon. Pernah juga saat di sekolah, ada seorang teman mereka yang terjatuh dan mengeluarkan darah dari lukanya, bukannya merasa kasihan ataupun ketakutan ketika melihat darah, Resha malah menjilati darah hingga sesekali membuat lukanya semakin parah dengan cara kulit dikupas secara perlahan. Untungnya saja perbuatan Resha itu segera terhenti di kala seorang guru yang menghampiri. Saat itu juga Resha semakin dijauhi oleh teman-temannya di sekolah, bahkan sesekali dibully dengan disebut sebagai psikopat cilik karena seringkali menyiksa binatang bahkan manusia.
Pada saat kelas 3 SD, kedua orang tua Resha dan Recha memutuskan untuk memindahkan mereka ke sekolah yang baru, karena lingkungan sekolah mereka saat ini sudah tidak menerima lagi kehadiran mereka dengan baik. Recha masih ingat, kalau sebelum masuk ke sekolah yang baru, Resha sempat dibawa ke psikiater, saat dulu, recha hanya mengetahui kalau itu adalah seorang dokter biasa, hingga pada saat dewasa Recha mulai mengerti kalau kakaknya dulu diperiksa oleh seorang psikiater.
Flashback off
Recha menatap pintu yang tertutup rapat dengan tatapan kosong. Memikirkan ulang kejadian di masa kecilnya. Recha juga baru ingat, kalau mamahnya pernah berkata. "Tolong jauhkan Kakak kamu dari sesuatu yang bernama darah." Recha sudah mencoba bertanya-tanya apa maksud dari peringatan mamahnya tersebut namun, Recha tidak pernah mendapatkan jawabannya. "Suatu saat nanti kamu akan mengerti." Begitulah jawaban mamanya ketika Recha bertanya maksud dari peringatan mamahnya.
Sekarang Recha beralih menatap Aidan yang sedang duduk di salah satu bangku. "Apa yang di luar dibiarkan begitu saja?"
Tentu yang dimaksud recha adalah bagian tubuh manusia dan darah yang berceceran di halaman gubuk.
"Mungkin nanti ada hewan yang menyantap daging-daging itu." Jawab aidan.
Recha hanya mengangguk sebagai balasannya kemudian ia menyusul sang kakak masuk ke dalam kamar.
"Woi kapten, emang yang di luar itu tubuhnya siapa aja sih? " Tanya delvin kepada aksa. Delvin memanggil Aksa dengan sebutan kapten, karena Aksa adalah pemimpin tim basket sekolah sinar bangsa.
"Polisi."
__ADS_1
"Kok lu bisa tau?"
"Baju."
"Oh, oke oke."
Di dalam kamar...
Resha sedang menelusuri dinding kamar gubuk untuk menemukan celah. Entah mengapa, darah yang tercium dari dalam kamar semakin membuat Resha tidak terkendalikan. Resha berjongkok meraba-raba bagian bawah dinding berharap menemukan setetes darah saja di sana. Namun sayang resha tidak menemukannya, karena memang lautan darah itu ada di depan gubuk bukan di sisi kanan gubuk.
"Lu nyari apa?"
Pertanyaan recha berhasil membuat resha terkejut.
"Nggak nyari apa-apa. Lu ngapain ke sini?"
"Emangnya kenapa? Nggak boleh? Kalau gua ke sini?"
"Ya bukannya nggak boleh, pastinya kan ada alasannya kenapa lu masuk ke sini."
"Gua nggak tau, alasan gua apa ke sini. Tapi gue rasa, kalau lu lagi menyembunyikan sesuatu. Lu itu kembaran gue, sha, jadi apa yang lu rasain juga imbas ke gue."
"Lu mau bantuin gue gak?"
"Apa?"
Resha benar-benar tidak bisa mengendalikan perasaan aneh di dalam tubuhnya. Resha mengambil liontin di kalungnya. Lalu menatap Recha dengan tatapan aneh.
"Lu mau ngapain? " Tanya Recha heran, ketika melihat Resha mengambil liontin kalung yang ujungnya sedikit runcing dan tajam pastinya.
"Jujur gue nggak tahu apa yang lagi gue rasain sekarang." Resha semakin mendekati Recha.
"Bagian mana yang nggak terlalu menyakitkan? " Tanya resha, tentu hanya Recha saja yang mengerti maksudnya. Ada ketakutan terpancar di wajah cantik Recha namun dengan santainya Recha menunjuk telapak tangannya.
"Ini cukup?"
"Cukup. Beneran nih nggak terlalu sakit?"
Recha menggeleng, kemudian Resha menggoreskan bagian liontinnya yang runcing ke kulit tangan Recha hingga mengeluarkan beberapa tetes darah. Recha meringis menahan sakit entah mengapa rasa di dalam tubuh resha semakin parah. Resha malah menginginkan suara teriakan yang terdengar dari mulut sang adik.
__ADS_1
Masih mencoba mengendalikan dirinya, resha menjilati darah yang keluar dari hasil goresannya di tangan Recha.