Malam Tadi

Malam Tadi
bab 7


__ADS_3

Meskipun tubuhnya terasa lemas. Recha memutuskan untuk keluar kamar menghirup oksigen alami yang belum tercampur dengan polusi polusi berbahaya.


"Eh kok lu keluar? Seharusnya lu di dalam kamar aja istirahat." Saran Nazwa.


"Nggak betah gua di kamar doang. Bu Tika sama Aidan ke mana?"


"Mereka tadi pamit untuk mancing di sungai. Ini gua sama yang lain mau ikut ke sungai buat bersih-bersih diri."


"Kalian mau mandi di sungai?"


"Mungkin cuman yang cowok-cowok doang mandi di sungai. Kalau gue mah mau mandi di kamar mandi yang ada di belakang. Tapi gua mau bantu mereka buat mengisi ember-ember air di kamar mandi. Untuk gua mandi, dan untuk kebutuhan Aidan sama Bu Tika."


"Lu mau ikut ke sungai? " Tanya Arvin kepada Recha.


"Gue di sini aja, jagain gubuk. Lagi pula dengan kondisi gue yang seperti ini takutnya malah merepotkan kalian."


"Emang lebih baik lu istirahat aja sih. Ya udah kalau gitu, gue, Aksa, sama Arvin mau pergi ke sungai dulu. Jangan nangis ya pas ditinggal." ujar Nazwa.


"Recha mah nggak bakal nangis lah emangnya lu, digigit nyamuk aja langsung menjerit-jerit ketakutan sampai nangis karena berpikir kalau darah lu bakalan berkurang."


"Anjir! Udah sih jangan diingat-ingetin lagi. Lu juga sama, ngeliat sapi sama kambing dipotong aja udah nangis-nangis katanya nggak tega. Apalagi kalau melihat manusia dipotong tepat di hadapan lu. Mungkin mental lu terguncang trauma sepanjang masa."


Aksa hanya bisa menghembuskan nafasnya berat ketika kedua sahabatnya ini lagi-lagi bertengkar dan berdebat.


"Ih gua nangis karena gua masih punya pri kesapian dan kekambingan. Emangnya lu darah dimakan nyamuk aja nggak terima, apalagi ngasih makanan ke manusia lain."


"Kapan selesainya? " Tegur Aksa sambil menatap mereka dengan tatapan jengah.


Sementara yang di tatap hanya terdiam.


"Malah diem, jadi nggak ke sungai?"


Nazwa dan Arvin segera mengikuti langkah Aksa hingga sampai di sungai.


Recha yang bosan hanya berdiam diri, memutuskan untuk keluar gubuk dan mengenal lingkungan sekitar.


Sesampainya di halaman Gubuk sama seperti kemarin pagi, reca disambut dengan genangan berwarna merah yang recha dan teman-temannya yakini kalau itu adalah darah.


Entah mengapa rasa penasaran Recha memuncak saat ini. Recha pun memutuskan untuk mengikuti jejak-jejak darah tersebut.


Sepanjang perjalanan Recha berusaha untuk menyimpan liku-liku yang dilewatinya di dalam memori otaknya agar dirinya bisa kembali ke gubuk bu tika.


Recha terus mengikuti jejak darah, hingga berhenti di depan gubuk lain.

__ADS_1


"Lah gua kira di hutan ini cuman ada gubuknya Bu Tika, ternyata ada gubuk yang lain." Recha memperhatikan sekitar gubuk yang baru saja ditemukannya.


Tidak ada yang mencurigakan, hanya saja mengapa jejak darah itu berhenti sampai di depan gubuk tersebut?


Pertanyaan itu yang saat ini ada di kepala Recha. Tanpa sengaja tatapan Recha menangkap sesuatu yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


Tanpa rasa takut Recha mendekati sesuatu yang dilihatnya.


"Tupai? Apa ini hasil buruan orang yang menempati gubuk ini ya? Dan apa juga darah-darah yang gua lihat ini adalah darat tupai? Tapi kalau darah tupai kenapa bisa sebanyak ini? " Beberapa pertanyaan menyatu dalam kepala Recha berharap akan segera ada yang menjawab.


Saat recha sedang mencari jawaban dari pertanyaannya sendiri. Pohon di hadapannya menangkap bayangan lainnya yang berlalu di belakang Recha.


Recha berbalik badan, lalu dirinya melihat seorang perempuan berambut acak-acakan sedang menenteng kresek berwarna hitam.


Karena tidak ingin melontarkan pertanyaan yang baru, Recha memutuskan untuk mengikuti wanita tersebut.


"Bentar, kok jalannya kayak gue kenal ya? " Gumam Recha saat dirinya merasa kalau jalan yang dirinya dan wanita tersebut lalui sudah tidak asing baginya.


Pantas saja tidak asing, karena ternyata wanita yang diikuti Recha berhenti tepat di halaman belakang gubuk. Recha sudah ke belakang gubuk di saat dirinya dan Nazwa membantu Bu Tika memasak kemarin siang.


Wanita tersebut meletakkan kresek berwarna hitamnya di dekat tungku. Yang biasa digunakan Bu Tika untuk memasak.


Wanita itu menatap kesana kemari memastikan kalau tidak ada 1 orang pun yang memperhatikan gerak-geriknya. Setelah memastikan aman, wanita tersebut pergi mungkin kembali ke tempat tinggalnya yaitu gubuk yang tadi didatangi oleh Recha.


Saat ini Recha sudah tepat berada di dekat kresek hitam tersebut. Recha penasaran dengan apa yang terdapat di dalamnya. Yang Recha takuti kalau di dalam kresek hitam itu tersimpan benda-benda yang membahayakan keselamatan Bu Tika dan Aidan.


Saat hendak membuka kresek tiba-tiba saja.


"Apa yang kamu lakukan di sini? " Pertanyaan Aidan sontak membuat Recha terkejut.


"Eeeh.. aku nggak ngapa-ngapain, Tapi tadi ada seorang wanita yang menaruh bungkusan ini di sini. Wanita itu siapa? Dan apa isi dari bungkusan ini?"


Aidan tersenyum kepada Recha. "Oh wanita itu namanya Sheila dia mungkin habis berburu hewan jadi memberikan sebagian dagingnya kepada kami. Kami dan dia memang sangat dekat, karena memang hanya kami bertiga saja yang berada di hutan ini sebelum kehadiran kalian."


"Oh begitu. Maaf ya kalau perbuatanku sungguh lancang."


"Tidak apa-apa. Oh iya, kata temanmu kamu sedang sakit apa itu benar?"


"Iya alergi ku kambuh."


"Kalau begitu kamu istirahat saja di dalam, nanti saya buatkan minuman hangat untuk kamu."


"Nggak usah repot-repot."

__ADS_1


"Tidak merepotkan sama sekali. Tunggu saja di dalam, atau di halaman depan." Ujar Aidan kemudian Recha pun melangkah meninggalkan Aidan sendirian di halaman belakang gubuk.


...


"Nah ini dia pertigaan yang kita temuin tadi malam, kita ambil kiri kan? " Tanya Rizal kepada teman-temannya.


"Iya benar, ayo kita cepet pergi ke arah kiri." Seru Radit mereka pun melanjutkan langkahnya kembali.


kelompok yang saat pergi terdapat 10 orang dan saat kembali hanya terdapat 8 orang sudah sampai di tenda tempat yang mereka harap-harapkan sejak semalam. Malam yang begitu panjang bagi mereka karena rasa ketakutan yang menyerang, terutama bagi Radit.


"Assalamualaikum." Salam mereka berdelapan ketika melihat sekumpulan panitia.


Panitia yang bernama Abi menatap mereka dengan heran.


"Waalaikumsalam." Balas beberapa panitia menjawab salam mereka.


"Alhamdulillah! Ternyata kalian sudah kembali lagi ke sini." Syukur Citra wakil ketua OSIS.


Yang lainnya segera memberi pengumuman kepada siswa-siswi hingga mereka pun berkumpul di tengah-tengah lapangan.


Radit disuruh Pak Rudi untuk menjelaskan apa saja yang terjadi kepada mereka.


Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan oleh beberapa siswa-siswi karena melihat jumlah mereka yang seharusnya bertambah malah berkurang.


Radit menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.. kemudian segera menjelaskan apa yang dialaminya bersama teman-temannya tadi malam. Radit juga menjelaskan kalau selama pencarian mereka, mereka tidak bertemu dengan kelompok aksa.


Setelah Radit menjelaskan, suasana berubah menjadi hening diselimuti dengan duka karena kabar meninggal Riko dan Pak Faisal.


"Apakah ada bukti yang bisa kamu perlihatkan kepada kami kalau Riko dan Pak Faisal sudah meninggal karena ulah psikopat tersebut? " Tanya Pak Rudi kepada Radit.


"Maaf Pak, untuk saat ini kami belum bisa membuktikan apa-apa. Tapi kami yakin psikopat itu pasti meninggalkan jejak walaupun hanya setitik." Jawab Radit.


"Baiklah, kalau begitu hari ini juga bapak akan hubungi pihak kepolisian untuk mencari jejak-jejak yang ditinggalkan oleh psikopat tak punya hati yang kalian temukan tadi malam."


"Pak, lalu saudara kembar saya dan teman saya yang lainnya bagaimana Pak? " tanya Resha sambil menangis. Karena yang ada di pikirannya saat ini saudara dan teman-temannya sudah mati terbunuh oleh psikopat yang diceritakan Radit tadi.


"Tentu pihak kepolisian juga akan mencari mereka Resha, kamu tenang saja ya. Ini semua biar kami yang menangani. Karena radit dan Yang lain sudah kembali, lebih baik sekarang kalian kemasi barang barang kalian masing-masing. Kita pulang hari ini juga!"


"Pak Arin pingsan Pak! " Teriak salah satu siswi bernama raya.


Seluruh panitia langsung mendekati Arin dan juga raya. Mereka segera membawa Arin ke tenda tempat alat-alat kesehatan. Jelas Arin pingsan, karena Arin adalah kekasih Riko. Wanita mana yang tidak syok saat mengetahui pasangannya meninggal? Apalagi dengan tragis seperti Riko.


-------------------------

__ADS_1


__ADS_2