Malam Tadi

Malam Tadi
bab 14


__ADS_3

"lapor! Komandan! Saya menemukan sepotong tangan manusia di tangan tersebut terdapat jam tangan yang masih melingkar."


"Baik serahkan kepada saya sepotong tangan beserta aksesoris yang terdapat di tangan tersebut. Nanti akan saya serahkan ini kepada Pak Rudi."


"Komandan! Saya juga menemukan tiga buah handphone jarak tempat handphone ini berada tidak berjauhan." Lapor anggota yang lainnya.


"Kumpulkan semuanya di sini!"


...


"Ih kok dari tadi ikannya nggak mau makan umpan gua ya? " Delvin merasa kesal karena tidak ada seekor ikan pun yang tersangkut di pancingannya.


Saat ini mereka sedang berkumpul di sungai.


"Lu itu nggak cocok mancing ikan, cocoknya mancing kributan." Sinis Nazwa.


"Diem lu! Lama-lama lu gue jadiin umpan."


"Lu kenapa? Ar? Kok dari tadi tengok sana tengok sini, kayak lagi nyari sesuatu."


"Gue trauma, Sha."


"Kok bisa?"


"Kemarin pas gua lagi berenang di sini. Ada kepala manusia lewat gitu aja, dan gua pegang si kepala itu."


"Apa?! Kepala manusia?!"


"Iya, sha, kemarin gue, Aksa, Bu Tika, sama Arvin ngeliat kepala manusia hanyut terbawa arus."


"Lu serius Nazwa?"


"Ya seriuslah, itu buktinya Arvin aja sampai trauma."


"Iya sih, kalau kalian bohong nggak mungkin Arvin sampai ketakutan kayak gitu."


"Lu ngapain sih? Ar? Nggak usah dicariin kali, giliran datang malah ketakutan." Tegur delvin karena Arvin masih melirik kesana kemari.


"Kalau kemarin sih gua takut, kalau sekarang enggak lah."


"Lah kok?"


"Ya kalau nanti ada kepala lagi, gua langsung kasihin lu aja. Lu nggak takut kan? Beranilah megang kelapa eh maksudnya kepala."


"Anjir! Lu jangan macam-macam ya."


"Gua nggak macam-macam Kok cuman semacam doang."


...


"Di sini ada jejak darah. Sepertinya kalau jejak ini kita telusuri, kita akan menemukan petunjuk." Ucap anggota kepolisian kepada temannya.

__ADS_1


"Ya sudah, ayo kita ikuti saja jejak ini." Mereka segera menelusuri jejak darah yang mereka temui.


"Berhenti dulu! Di situ ada gubuk, apakah gubuk itu ada yang menempati?"


"Kita hampiri saja."


Kedua anggota kepolisian tersebut segera mendekat ke arah Gubuk. "Permisi, apakah ada seseorang di dalam?"


"Nggak ada jawaban, sepertinya gubuk ini kosong. Apa mau kita selidiki saja?"


"Jangan, kalau kita masuk begitu saja itu namanya nggak sopan. Kita tunggu beberapa saat mungkin pemilik gubuk ini sedang pergi keluar."


Cukup lama mereka menanti namun sang pemilik gubuk belum juga kembali.


"Bagaimana ini? Kita sudah 30 menit berada di sini. Tapi belum ada seseorang yang datang."


"Kita kembali saja ke tim, mungkin memang gubuk ini tidak ada pemiliknya."


Mereka hendak kembali ke tim mereka, namun mereka mendengar suara seperti sesuatu di seret dari area belakang gubuk.


"Suara apa itu?"


"Ayo kita pastikan."


Salah satu dari mereka berdua hendak pergi ke asal suara namun temannya mencegah.


"Bagaimana kalau itu hewan buas?"


"Oh iya yah."


Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menghampiri suara tadi berasal.


Sreeeeett.. Sreeeet.. Sreeeeett...


Suara itu semakin jelas terdengar.


Sesampainya di tempat, mereka melihat seseorang menggunakan pakaian Serba hitam dengan topeng lengkapnya. Seseorang tersebut sedang menyeret tubuh manusia yang dilumuri darah, dan kondisi tubuh bagian atasnya sudah tidak berbentuk.


"Hei! Apa yang kamu lakukan?! Jangan bergerak!!"


Psikopat atau seseorang tersebut tidak memperdulikan, dirinya malah menunjukkan sebuah revolver yang berada di tangannya. Mengangkatnya tinggi-tinggi, berharap ke-2 polisi yang ada di hadapannya merasa ketakutan.


"Turunkan senjatamu!!!"


Tidak ingin waktu yang terbuang lebih banyak psikopat itu pergi meninggalkan kedua polisi tersebut, dengan tubuh manusia yang tadi diseretnya.


"Dia sudah pergi, ayo kita selidiki siapa mayat itu." Mereka berdua segera menghampiri tubuh manusia yang sangat mengerikan. Bahkan kedua polisi tersebut sudah memprediksi, kalau organ dalam manusia itu sudah tidak ada lagi. Bisa dilihat dari perutnya yang terbelah besar sekali dan juga bagian dada yang tidak kalah mengerikan.


"Ayo kita bawa tubuh ini ke tempat perkumpulan tim." Suruh salah satu dari kedua polisi tersebut kemudian mereka mulai membawa tubuh itu dengan sangat hati-hati.


Dari balik salah satu pohon psikopat itu tersenyum dengan senyuman penuh arti. Iya sudah menarik pelatuk Revolvelnya lalu.

__ADS_1


"Astaghfirullahaladzim!!!!"


Salah satu polisi berteriak, ketika melihat temannya tergeletak dengan kondisi kepala pecah. Bahkan darahnya sampai mengenai wajah polisi yang tadi berteriak terkejut.


Dirinya ingin melarikan diri namun peluru bersarang di punggungnya. Tidak terlalu mempedulikan, dia segera berlari menjauhkan tempat tersebut untuk menyelamatkan dirinya.


Psikopat itu sudah menggantikan posisinya yang tadi di balik pohon sekarang dirinya ada di atas pohon. Psikopat itu segera melompat ke arah 2 tubuh manusia yang telah dihabisinya.


...


"Ayo kita kembali ke gubuk! Ini ikannya sudah lumayan banyak." Ujar Bu Tika mereka pun mulai bangkit dari tempat duduknya masing-masing hendak kembali ke gubuk.


"Ikannya mau diapain Bu? " Tanya Nazwa saat di perjalanan.


"Menurut kalian enaknya diapakan?"


"Dibakar enak juga tuh Bu." Usul Arvin.


"Boleh, kita nanti malam saja ya bakar-bakarannya. Kalau siang ini Ibu sudah menyiapkan menunya."


"Oke siap Buuu." Ujar mereka semua berbarengan.


***


Sore harinya...


Recha dan yang lainnya sedang bersantai di halaman depan gubuk.


Resha mendongakkan kepalanya memandang langit dengan perasaan gundah. Memori otaknya memutar kembali kenangan bersama Varo, dan bersama keluarganya di rumah. Resha sangat merindukan kedua orang tuanya, dan keluarganya yang lain.


"Lu kenapa? Sha? " Tanya delvin ketika melihat resha menampakan ekspresi kesedihan."


"Hmm.. gua nggak kenapa-napa kok, Fin, gua lagi keingat aja sama Varo dan kedua orang tua gue. Terutama Varo, gua merasa bersalah banget atas meninggalnya dia yang secara tidak wajar."


"Lu nggak usah menyalahkan diri lu sendiri, mungkin ini memang udah takdirnya Varo. Lagi pula kan sekarang lu bisa kumpul sama yang lainnya lagi."


"Iya sih, tapi tetep aja, gue maunya kalian itu lengkap, bukan berkurang kayak gini."


"Udah jangan dilanjutin sedihnya, lebih baik sekarang kita pikirkan bagaimana caranya agar kita bisa keluar dari tempat mengerikan ini. Kalau bisa kita juga harus ajak Bu Tika dan Aidan meninggalkan tempat ini."


"Tumben lu bisa berpikir bijak? Lu nggak salah minum obat kan? Vin? " Tanya Arvin dengan kekonyolannya.


"Iya, gua tadi salah minum obat, gua kira obat yang biasa gua minum, ternyata obat nyamuk."


"Heh ya ampun jahat banget lu! Kalau nyamuk itu lagi sakit dan butuh obat gimana? Kalau obatnya habis lu minum." Sambung Nazwa.


"Biarin aja lah, lagian nyamuk kalau dikasih obat bukannya sembuh malah mati."


"ayo masuk ke dalam! Ini udah sore, gua takut nanti kalau lama-lama di sini kuntilanak kesurupan Nazwa." Ajak delvin.


"Heh lu tadi bilang apaan? Kok tiba-tiba otak gua ngelak." Nazwa merasa heran.

__ADS_1


-------------------------


__ADS_2