Malam Tadi

Malam Tadi
bab 4


__ADS_3

Selesai sarapan, mereka berempat pergi ke luar gubuk untuk mengetahui keadaan sekitar.


"Sumpah ya, di sini tuh enak banget. Aman, nyaman, tentram dan damai. Nggak kayak di kos-kosan gue tiap hari pasti aja ada keributan." Ujar Nazwa.


"Kalau lu betah di sini, lu tinggal di sini aja selamanya. Mau makan daging harus berburu, mau makan sayuran harus memetik. Repot anjir." Sahut Arvin.


"Nggak papa repot, yang penting makanan yang gua konsumsi terjamin semua kebersihan dan kesehatannya. Coba kalau kita makan makanan yang ada di kota, kayak makan makanan cepat saji, emang lu tahu proses masak mereka gimana? Mereka beli daging di mana? Belum lagi daging itu diproses seperti apa." Balas Nazwa.


Arvin tidak menjawab, dirinya juga membenarkan apa yang dikatakan oleh Nazwa.


"Nggak bisa jawab kan lu? Akhirnya gua menang lagi." Ujar Nazwa percaya diri.


"Diam bukan berarti kalah." Arvin tidak ingin dianggap kalah.


"Terus aja berdebat dan bertengkar! Kayaknya nggak ada ujungnya deh kalau ngedengerin pembicaraan kalian berdua." Kesal Recha.


"Untung nggak ada delvin." Aksa menimpali.


"Eh iya juga ya. Gua jadi inget sama mereka. Mereka pasti panik nungguin kita, dan pasti mereka juga lagi mencari kita saat ini." Nazwa mulai merasa rindu dengan teman-temannya yang lain.


"Tenang besok kan kita akan cari jalan keluarnya bareng Aidan." Ucap Arvin.


...


"Aksaaa! Arviiin! Rechaaa! Nazwaaa! " Teriak beberapa orang yang mencari recha beserta ketiga temannya.


"Pak, sampai kapan pencarian ini berlangsung? " Tanya Radit kepada Pak Faisal.


"Ya sampai mereka ketemu lah Radit." Jawab pak Faisal..


"Tapi kalau nggak ketemu juga bagaimana Pak? Ini hutan cukup luas dan lagi pula di sini juga kan katanya banyak binatang-binatang buas."


"Kamu jangan berpikiran negatif. Ayo semuanya! Kita lanjutkan pencarian!"


Semuanya kembali berpencar menelusuri hutan yang lebat.


...

__ADS_1


Waktu makan siang akan segera tiba. Saat ini Recha dan Nazwa sedang membantu Bu Tika memasak.


"Ibu udah lama tinggal di sini? " Tanya Nazwa memecah keheningan.


"Mungkin sudah 5 tahun."


"Sebelum tinggal di sini, Ibu tinggal di mana Bu? Maaf ya bu kalau saya terlalu banyak tanya, hehehe."


"Tidak apa. Ibu cukup senang jika ada seseorang yang banyak bertanya kepada ibu. Asal jangan pertanyaan yang terlalu menuju ke privasi."


"Oh begitu ya Bu? Pertanyaan saya yang kedua tadi pasti bersikap private. Gak usah dijawab deh Bu.. setelah ini ayamnya diapain Bu? " Nazwa mengalihkan pembicaraan.


"Tunggu tumisan bumbunya harum dulu. Nanti ayamnya baru dimasukkan."


Jika Nazwa sedang fokus dengan masakannya.. Recha justru menatap pohon yang jaraknya tidak jauh dari dirinya berada saat ini.


"Tadi kayaknya di situ ada cewek deh. Tapi kok sekarang udah nggak ada lagi ya? Apa cuman perasaan gua aja. Atau mungkin makhluk gaib? Is apaan sih gua zaman sekarang masih aja percaya sama hantu." Recha segera menepis perasaan buruknya.


***


Hari sudah semakin gelap. Matahari perlahan memberikan ruang untuk bulan menggantikan sinarnya menerangi bumi. Hewan-hewan malam mulai bersahutan. Suasana di dalam hutan sudah mulai mencekam karena suhu semakin rendah.


"Pak, ini jalannya kita lewat mana Pak? " Rio salah satu anggota OSIS bertanya kepada Pak Faisal.


"Lah tadi kan kita sudah membuat tanda. Ikuti saja tanda-tanda yang sudah kita buat." Jawab Pak Faisal kemudian mereka melanjutkan langkahnya kembali.


"Bagaimana ini pak? Kok tanda yang kita bikin bisa bercabang seperti ini? Jadi kita ke kanan atau ke kiri? " Radit bertanya dengan heran.


"Sebentar, coba saya ingat-ingat dulu." Pak Faisal sudah mulai merasa bingung karena takut dirinya beserta yang lain  juga tersesat.


"Mikirnya jangan kelamaan dong Pak, ini bisa-bisa kita juga jadi ikut tersesat." Protes Riko.


"Sepertinya ke kanan."


"Bener nih pak? Bapak nggak asal mendebak aja kan? " Tanya Radit memastikan.


"Ya saya yakin." Ujar Pak Faisal kemudian mereka mengikuti arah tanda di sebelah kanan.

__ADS_1


"Pak, ini kita jalan udah lama banget loh, tapi kok belum nyampe juga ke tenda? " Tanya Ryan dengan heran. Karena mungkin mereka sudah berjalan 1 jam lamanya dari pertigaan tadi namun mereka belum juga sampai ke tenda.


"Gimana sih Bapak, kalau kayak gini, kita juga jadi ikut tersesat." Sambung Riko menyalahkan Pak Faisal.


"Cukup! Jangan ada yang berbicara lagi. Kalian ini bisanya hanya menyalahkan saya saja." Pak Faisal tidak terima jika dirinya selalu disalahkan.


"Terus kalau bukan bapak siapa lagi yang kita salahkan? Jelas-jelas bapak yang menjadi penanggung jawab kegiatan camping ini. Dan Bapak juga yang mengarahkan kami untuk mengikuti tanda di sebelah kanan." Riko menyela.


"Sudah. Di saat-saat seperti ini seharusnya kita mencari jalan keluar, bukan malah berdebat dan menyalahkan satu sama lain." Andika menengahi.


"Ini sudah jam 7 malam, lebih baik kita cari tempat untuk beristirahat malam ini. Besok pagi kita kembali ke pertigaan tadi, dan memilih tanda sebelah kiri." Pak Faisal memberikan solusi.


Semuanya setuju, mereka berjalan lagi mencari tempat untuk beristirahat.


"Aaaagrhh..! " Riko tiba-tiba berteriak, sontak mereka semua menghentikan langkah mereka.


"Kamu kenapa Rik---" Pak Faisal tidak melanjutkan kata-katanya karena melihat pisau yang menancap di bahu Riko sebelah kiri.


"Akkh! "S-sakit.. Pak," Riko merintih teman-teman yang lainnya mendekati Riko.


Pak Faisal melemparkan pandangannya ke penjuru arah. Hingga dirinya melihat siluet manusia dengan pakaian serba hitam dan topeng yang menutupi wajah seseorang tersebut.


Radit juga melihat apa yang dilihat oleh Pak Faisal. Hingga Pak Faisal dan Radit memutuskan untuk menghampiri pemilik bayangan tersebut. Sementara yang lainnya membantu Riko.


"Kamu siapa? Apakah kamu yang sudah melemparkan pisau hingga menancap ke bahu salah satu anak murid saya? " Pak Faisal bertanya, sedangkan orang tersebut tidak menjawab sepatah kata pun.


Radit mengarahkan senter handphonenya ke seseorang misterius yang ada di hadapannya. Betapa terkejutnya Radit karena ternyata orang tersebut menggenggam parang di tangan kanannya.


Radit memberikan kode kepada Pak Faisal, lalu Pak Faisal pun sama terkejutnya dengan Radit. Karena merasa ada yang tidak beres, pak Faisal dan Radit segera mendekati yang lainnya.


"Kita harus meninggalkan tempat ini sekarang juga! Ayo Riko kamu biar bapak gendong." Pak Faisal berjongkok agar Riko segera naik di punggungnya.


"Memang ada apa Pak? " Tanya Rizal heran.


"Sudah! Semuanya jangan banyak tanya. Kita pergi dari sini sekarang juga."


Tanpa ada yang menyadari, seseorang misterius tadi sudah tepat berada di belakang Riko.

__ADS_1


-------------------------


__ADS_2