
Ternyata benar kata orang, anak kecil itu manis. Hingga aku tidak perlu menambahkan gula..
.
.
.
.
.
Pagi harinya...
"Hooaaaaam....! Udah pagi ya? " Arvin melontarkan pertanyaan entah kepada siapa, karena dirinya baru saja membuka mata dari tidur lelapnya semalaman.
Arvin menoleh ke sebelah kirinya, di mana ada Aksa yang masih nyenyak dalam tidurnya. Lalu di samping Aksa ada Aidan, Yang sepertinya baru saja terbangun. Di saat menoleh ke sebelah kanannya Arvin terkejut karena melihat wajah delvin yang pucat seperti orang ketakutan.
"Lu kenapa? Kebelet berak ya?"
"Mata lu sabun, ekspresi kayak gini nih bukan nahan berak tolol! " Sekarang perasaan delvin ditambah dengan kekesalan ketika mendengar pertanyaan dari sahabatnya.
"Rabun bego bukan sabun! Ya lagian ekspresi lu benar-benar kayak orang lagi nahan sesuatu."
Aksa yang sedang bahagia di dalam mimpinya, harus terbangun karena mendengar celoteh kedua sahabatnya. "Ngeributin apaan sih pagi-pagi? " Tanya aksa tentu ekspresi cuek dan dinginnya tidak pudar.
"tuh si delvin, gua bangun tidur mukanya udah pucat kayak gitu, nggak tahu kenapa."
Aksa memperhatikan wajah delvin dengan seksama. "Lu sakit?"
"Gak."
Jawaban singkat dari delvin membuat Arvin melongok tidak percaya. "Singkat amat lu jawabnya."
"Singkat salah, panjang salah."
Delvin hanya membuang nafas jengah.
"Udah yuk keluar!"
__ADS_1
Ajak Aksa mereka pun segera turun dari tempat tidur hendak keluar kamar.
Di kamar sebelah...
Recha baru saja terbangun dari tidurnya dan langsung ada aroma tidak sedap menusuk Indra penciumannya. Aroma Anyir darah, yang dipadukan dengan aroma hujan. Ya.. tadi malam memang sempat hujan turun membasahi bumi juga menyatukan air nya dengan tumpahan darah di malam tadi.
"Apa tadi malam ada pembunuhan lagi? Kok bau darahnya menyengat banget ya? " Recha bermonolog dalam hati.
Hanya ingin rasa penasarannya segera terjawab, Recha pergi keluar kamar memantau keadaan sekitar gubuk.
Betapa terkejutnya Recha ketika membuka pintu, disuguhkan dengan lautan darah dan juga beberapa bagian tubuh manusia. Recha memegang perutnya karena merasa mual dengan apa yang dilihatnya. Recha mengeluarkan air mata karena terkejut.
Secara yang bersamaan pula, delvin, arfin, Aksa, dan Aidan keluar kamar. Pandangan Arvin langsung tertuju kepada Recha yang sedang menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Sedangkan pandangan Aksa langsung terpaku kepada lautan darah di halaman. Delvin justru menatap kamar sebelah, menanti Resha keluar dari dalam kamar.
Aidan, menatap halaman dan Recha secara bergantian.
"Cha, lu kenap---" Arvin tidak melanjutkan perkataannya ketika melihat sesuatu seperti tangan manusia tepat di depan pintu Gubuk.
Tatapannya langsung beralih mengikuti arah pandangan aksa, Arvin menutup mulutnya tidak percaya.
Delvin juga mengikuti pandangan mereka dan delvin pun sama terkejutnya. Di saat itu juga, Nazwa, Recha, dan Bu Tika keluar kamar. Delvin dan Aksa yang melihat resha keluar kamar langsung menghampirinya, dan menghalangi pandangan Resha agar tidak melihat sesuatu mengerikan di luar sana.
"Delvin Aksa kalian kenapa sih? Minggir dong! Gue sama Nazwa mau bantuin Bu Tika masak buat sarapan." Resha Mencoba menyingkirkan dua tubuh yang menghalangi pandangannya.
Tanpa aba-aba delvin langsung menarik resha ke dalam pelukannya. "Lu tenang ya. Sekarang situasinya lagi nggak aman, jadi lebih baik lu kayak gini aja posisinya."
Resha mencoba melepaskan pelukan Delvin namun gagal.
"Apa yang terjadi? Mengapa bisa seperti ini?"
"Aku nggak tahu Bu, pas aku buka pintu di halaman udah seperti itu kondisinya." Recha menjawab pertanyaan Bu Tika.
"Tutup aja lagi pintunya!"
Suruh Aidan, karena Recha yang posisinya paling dekat dengan pintu, Recha langsung menutupnya rapat rapat. Walaupun darah masih ada di bawah pintu.
"Memangnya ada apa sih? " Tanya Resha, delvin segera melepaskan pelukannya karena dirasa sudah aman.
__ADS_1
"Udah nggak usah kepo, pada intinya sesuatu itu nggak perlu kamu lihat." Ujar Aksa lembut sekalian menutupi rasa sakit hatinya ketika melihat resha berada di pelukan Delvin.
Resha menatap Arvin, karena resha tau kalau Arvin tidak mungkin berani berbohong kepadanya. "emang di luar ada apa? Ar?"
"Ada banyak darah, dan potongan tubuh manusia." Jawab Arvin dengan lancarnya yang langsung dihadiahi tatapan tajam dari Aksa dan Delvin.
"a..apa! D-darah?! " Tanya Resha dengan penuh keterkejutan.
Namun entah kenapa, dalam hati resha berkata lain, hati resha berkata, kalau resha harus melihat darah itu, dan darah itu pasti akan terlihat indah.. apalagi tadi Arvin menjelaskan, di halaman terdapat banyak darah dan beberapa potongan tubuh manusia. Bukannya rasa ketakutan dan keterkejutan yang mendominasi, perlahan rasa kesenangan dan kegembiraan yang memenuhi hati resha.
"Gu-gue ke kamar dulu yah." Pamit resha kepada semua orang yang ada di sana kemudian masuk kembali ke dalam kamar. Mencoba mengontrol gejolak di dalam tubuhnya yang sangat janggal bagi resha sendiri.
Recha menatap saudari kembarnya yang berlalu ke kamar dengan wajah seperti menutupi sesuatu. Recha kembali mengingat masa-masa saat Recha dan Resha masih duduk di bangku sekolah dasar.
*Flashback on*
Ada sepasang anak kembar perempuan sedang bermain sepeda di lapangan komplek rumahnya. Sepasang anak kembar tersebut adalah Natalie maresha, dan Natalie marecha yang baru saja berusia 6 tahun. Mereka berdua sangat bahagia berkeliling lapangan sambil sesekali melontarkan candaan.
beberapa saat kemudian, resha kehilangan keseimbangannya hingga membuat dirinya jatuh beserta sepeda yang dinaikinya. Saat melihat kakaknya terjatuh, Recha pun reflek berhenti mendadak dan dirinya pun ikut terjatuh.
Resha terjatuh tepat di samping sepeda adiknya hingga bagian mulutnya terbentur goesan sepeda adiknya. Hal itu membuat gigi resha patah, hingga mengeluarkan darah.
Recha yang melihat mulut kakaknya mengeluarkan darah, langsung bangkit berdiri dan menghampiri kakaknya. "Kakak, itu mulut Kakak ngeluarin darah, ayo Kak kita pulang! Biar diobatin sama mamah dan papa." Recha kecil mencoba membantu kakaknya berdiri.
"Kakak nggak papa kok de, nggak usah pulang, kita lanjutin aja mainnya. Kan jarang-jarang kita bisa main di luar."
Saat kecil Resha dan Recha memang jarang sekali diberi kebebasan oleh kedua orang tuanya. Kedua orang tua Resha dan Recha hanya memberikan waktu mereka main di luar pada saat hari Minggu saja, dan itu pun hanya 3 jam. Yaitu: jam 1.00 siang sampai jam 4.00 sore.
"Kakak beneran gak apa-apa? Kata Mama kan, kalau mengeluarkan darah itu pasti rasanya sakit." Recha sangat mengkhawatirkan kakaknya.
Dengan santainya resha menjilat darah-darah yang menempel di bibirnya, lalu menelannya kembali. "Tuh kan udah nggak ada darahnya ayo kita main lagi!"
"Darahnya Kakak telan?"
"Iya dek, Ternyata enak juga rasanya darah." Ujar Resha dengan kepolosannya.
"Tapi kan kata Mama nggak boleh Kak, kalau ada bagian tubuh kita yang luka darahnya harus dibersihkan pake tisu dan harus dibuang, bukan ditelan."
"Ya mau gimana lagi? Darahnya kan udah terlanjur Kakak telan. Udah yuk kita main lagi aja!"
__ADS_1
Mereka mulai melanjutkan bermain, meskipun di dalam pikiran recha kecil merasa heran dengan yang baru saja dilakukan kakaknya.
-------------------------