Malam Tadi

Malam Tadi
bab 18


__ADS_3

Anakku lebih harum dan sedap dipandang, ketika keluar dari oven.


.


.


.


.


.


"Maaf." Ujar Resha lirih. Ada penyesalan terpancar di raut wajahnya.


"Nggak papa, tapi lain kali Lu harus bisa nahan diri. Kalau memang udah nggak bisa nahan, temuin aja gua jangan orang lain."


"Sekali lagi gue minta maaf. Gue udah jadi kakak yang jahat dan kembaran yang jahat sama saudaranya sendiri."


"Nggak usah membuang-buang waktu hanya untuk menyesali suatu hal, lebih baik kita keluar sekarang."


"Resha lu nggak papa kan? " Tanya delvin ketika melihat resha dan Recha keluar kamar.


"Gue nggak papa kok."


"Bu Tika mana? " Tanya Recha yang tertuju kepada aidan.


"Ada di dapur sedang memasak dengan Nazwa." jawab aidan, Resha dan Recha pun pergi ke dapur menghampiri Nazwa dan bu Tika,. Tanpa recha sadari, kalau Aidan memperhatikan darah yang tersisa di telapak tangan Recha. "Darah." Gumam Aidan sangat kecil bahkan tidak terdengar oleh siapapun.


"Pagi Bu Tika, dan pagi juga Nazwa." Resha menyapa mereka berdua ketika sampai di dapur.


"Pagi too Resha." Balas Nazwa.


"Kalau ngomong tuh jangan dicampur-campur anjir." Protes resha.


"Bodo amat suka-suka gue." Sinis Nazwa.


"Gue ke kamar mandi dulu ya." Pamit recha kepada semua yang ada di dapur.


"Mau ngapain ke kamar mandi?"


"Main basket." Recha menjawab pertanyaan aneh Nazwa kemudian masuk ke kamar mandi yang ukurannya sangat kecil. Bahkan dengan tempat tidur Recha di rumahnya pun masih luasan tempat tidurnya.


Sebelum melakukan niatnya ke kamar mandi, pandangan Recha justru terpaku dengan sesuatu di sudut kamar mandi. Sesuatu itu terbungkus oleh plastik berwarna hitam. Karena recha adalah seseorang yang memiliki rasa penasaran cukup tinggi, Recha pun melangkah mendekati bungkusan tersebut.

__ADS_1


"Sopan nggak sih kalau gua buka bungkusan ini? " Recha bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Ah bodo amat lah, lagi pula nggak ada yang tau kalau gue buka bungkusan ini." Akhirnya Recha memutuskan untuk membuka bungkusan yang menimbulkan rasa penasaran dalam dirinya.


Plastik itu perlahan terbuka.


"Hhh!" Recha menutup mulutnya agar tidak berteriak begitu keras.


Jelas recha ingin berteriak, karena di dalam bungkusan tersebut ada sepotong tangan manusia beserta kepala. Recha Mengikat bungkusan itu kembali dan membiarkannya. Recha pun memutuskan keluar dari kamar mandi setelah membasuh wajahnya. Recha mencoba bersikap seperti biasa, agar tidak ada yang curiga.


"Oke, sekarang gue udah dapat secercah cahaya siapa psikopat itu." Ucap recha dalam hati. Kemudian membantu Bu Tika dan yang lainnya memasak sarapan.


***


"Alhamdulillah hiladzi at-amanah wasaqona Waja Alana minal muslimin." Arvin mengucapkan doa setelah makan ketika selesai sarapan. Maaf ya hehe kalau penulisannya ada yang salah.


Reflek, delvin, Aksa, Nazwa, dan Resha, menoleh ke arah Arvin secara bersamaan.


"Apaan? Kok pada ngeliatin gua kayak gitu? " Tanya Arvin heran.


"Lu nggak lagi kerasukan? Kan? " Tanya aksa.


"Ya kagak lah."


"Astaghfirullahaladzim! Dari dulu kan gue emang anak yang sholeh."


"astaghfirullahaladzim! Kerja lembur bagai kuda... Sampai lupa orang tua." Delvin malah menyanyikan satu jinggel iklan yang sempat viral di masanya.


"Dih, ini orang malah nangis."


"Gue nggak nangis resha gue tuh lagi ketawa."


"Oh oke oke."


Ketika teman dan saudarinya sedang bercanda, recha justru membantu Bu Tika merapikan piring dan gelas bekas sarapan. Recha membawanya ke bagian belakang gubuk untuk dicuci.


"Biar Ibu aja yang nyuci. Kamu sama temen-temen kamu aja!"


"Nggak apa-apa kok, Bu, aku boleh ya bantuin beres-beres." Bujuk recha, akhirnya Bu Tika pun menyetujui.


Saat recha dan Bu Tika sedang menyuci piring dan alat-alat masak, ada seseorang yang menghampiri mereka berdua. Seseorang itu adalah wanita yang pernah dipantau Recha kegiatannya (bab 7)


"Sheila, ada apa kamu kemari? " Tanya Bu Tika kepada wanita itu.

__ADS_1


"Ibu memasak apa hari ini?"


"Seperti biasa, nasi goreng. Kamu mau?"


"Masih ada?"


"Masih."


"Aku minta ya sedikit saja, beras di rumahku sudah habis." Ujar sheila bu Tika mempersilahkan.


"Bu, boleh aku bertanya sesuatu? " Tanya Recha.


"Boleh."


"Sheila kenapa bisa ada di hutan ini?"


"Dia dibuang oleh orang tuanya."


"Astagfirullah! Tega banget orang tuanya."


"Ya begitulah. Memang di dunia ini banyak sekali orang-orang kejam."


"Bu, makasih ya nasi gorengnya."


"Iya sama-sama Sheila, kamu makan di sini aja."


"Oke bu," Sheila segera duduk di samping Recha.


"Nama kamu siapa?"


"Eeemmm.. namaku Natalie Marecha. Panggil aja Recha. Kalau nama kakak?"


"Namaku Sheila Kirana Putri, panggil aja sheila."


"Oh oke oke kak sheila."


"Panggil nama aja, usiaku baru 17 tahun."


"Lah aku 16 tahun. Oke deh, aku panggil kamu Sheila."


Mereka mulai mengobrol hingga sesekali bercanda.


"Kau baik, dan kau juga tulus, apakah harus kau juga menjadi korban? " Batin seseorang entah tertuju kepada siapa.

__ADS_1


-------------------------


__ADS_2