
Saat Recha dan Bu Tika sedang memasak. Ada dua anggota kepolisian yang menghampiri mereka.
"Permisi, maaf mengganggu waktunya. Apakah adik ini salah satu siswa SMA sinar bangsa? " Tanya salah satu polisi kepada Recha.
Recha berbalik badan lalu menatap dua orang kepolisian di hadapannya dengan heran. "Ya, saya salah satu siswa SMA sinar bangsa. Memangnya ada apa ya pak?"
"Apakah kamu di sini hanya sendirian saja?"
"Ada teman-teman saya yang lain."
"Akhirnya kami menemukan kalian. Tolong kamu sampaikan ini kepada komandan." Suruh anggota kepolisian itu kepada temannya.
Temannya hendak pergi namun tiba-tiba saja dia tergeletak di tanah dengan kondisi kepala sudah tidak berbentuk.
"Astaghfirullahaladzim! Apa yang terjadi sama kamu." Anggota yang tadi menyuruhnya segera menghampiri.
Namun tiba-tiba saja polisi tersebut juga mengalami kondisi yang sama.
recha berteriak tanpa suara sambil memeluk Bu Tika.
"Kamu tenang, ayo kita masuk ke dalam." Bu tika langsung membawa recha masuk dalam gubuk.
"Bu.. i-itu.. kok.. bisa kayak gitu? " Recha sudah mengeluarkan keringat dingin sebesar biji jagung.
"Minum dulu, biar kamu tenang."
Recha meminum air yang diberikan Bu Tika kemudian mulai mengatur nafasnya kembali.
"Ada apa Bu? " tanya Arvin.
"Tadi pada saat ibu dan recha sedang memasak, ada dua anggota kepolisian yang menghampiri kami. Lalu bertanya-tanya kepada Recha, sepertinya kepolisian itu sedang mencari kalian. Saat salah satu anggota polisi hendak memberitahu atasannya, tiba-tiba saja dia tergeletak dengan kondisi kepala sangat mengerikan dan mengeluarkan banyak darah. Polisi yang tadi menyuruhnya menghampiri temannya yang entah masih hidup atau tidak namun kemudian polisi tersebut juga mengalami kondisi yang sama. Dugaan Ibu mereka terkena peluru dari revolver yang tidak mengeluarkan suara apapun."
"Apa yang melakukan ini semua psikopat itu?! " Delvin bertanya dengan kesal.
"Ya mungkin memang mereka. Ibu khawatir jika semakin banyak manusia yang masuk ke hutan ini maka semakin banyak juga nyawa yang akan mereka habisi."
"Berarti nyawa kita benar-benar terancam berada di sini." Ujar aksa.
__ADS_1
"Aidan ke mana? Dia tidak bersama kalian? " Raut wajah Bu Tika berubah menjadi panik ketika mengetahui Aidan tidak ada di sekitarnya.
"Tadi katanya Aidan cuci baju di sungai Bu." Ucap delvin.
"Semoga Aidan nggak kenapa-napa, dan mudah-mudahan Aidan nggak bertemu dengan psikopat itu." Harap Bu Tika.
Mereka semua mengaminkan.
"Recha, silakan kamu panggil saudari dan teman kamu yang satunya, ibu ingin menyiapkan sarapan."
"Oke bu." Recha langsung masuk ke dalam kamar membangunkan Nazwa dan Resha.
"Hei, ayo bangun! Itu Bu Tika udah nyiapin sarapan. Mau makan nggak? Kalau nggak mau makan buat gua aja." Recha berbicara dengan dua orang yang masih berkelana dalam dunia mimpi.
"Resha ayo bangun! Nazwa bangun dong! Cepetan nanti makanan kalian dihabisin sama Arvin dan delvin." Setelah mendengar recha berkata seperti itu, Nazwa dan Resha segera bangun dari tidurnya.
"Ih gak rela gue kalau sampai makanan gue dihabisin sama Arvin." Nazwa segera berlalu dari kamar menuju ke ruang tamu.
"Jangan sampai Delvin kenyang sedangkan gue kelaparan." Resha segera menyusul Nazwa.
"Wah menunya nasi goreng lagi." Nazwa menatap nasi goreng yang berada di piring dengan tatapan berbinar senang.
"Dih kayak nggak pernah melihat nasi goreng." Gumam arvin namun masih bisa didengar Nazwa.
"Lu bilang apa barusan? " Nazwa menatap Arvin dengan tatapan tajam.
"Gua yakin lu udah denger apa yang gua omongin."
"Gua maunya lu ulangin kata-katanya."
"Nggak ada ulang-ulangan, ini bukan lagi di sekolah ada ulangan mendadak."
"Terusin aja ributnya! Sampai nasinya berubah jadi kerak." Tegur aksa.
"Kirain nasinya bakalan berubah jadi rengginang." Celetuk delvin.
"Udah ih kalian ini, ayo makan nggak kasihan apa sama Bu Tika udah masak capek-capek, tapi makanannya malah dijadiin saksi kalian berdebat." Lerai Resha.
__ADS_1
Mereka semua menyantap nasi goreng tentu setelah membaca doa. Sedangkan Recha tidak begitu nafsu memakan nasi goreng di hadapannya karena kejadian yang tadi disaksikan langsung oleh mata kepalanya sendiri. Darah yang muncrat begitu saja, dan kondisi kepala yang sangat mengerikan terus terbayang-bayang di dalam pikiran recha.
Di tengah-tengah acara sarapan mereka, Aidan datang dengan ekspresi menahan sakit.
Bu Tika seketika menghentikan makannya. "Astaga nak! Kamu kenapa?"
Aidan tidak menjawab pertanyaan ibunya melainkan menunjuk pisau yang tertancap di lengan kirinya.
"Astaga! Itu pasti ulah psikopat busuk itu." Bu Tika langsung bangkit berdiri dan membantu aidan menyembuhkan lukanya.
Seketika Recha dan yang lainnya juga menghentikan makannya, lalu menatap Bu Tika dan Aidan dengan tatapan serius.
"Itu tusukanya nggak dalam kan Bu? " Tanya Resha.
"Syukurnya tidak dalam." Jawab Bu Tika sambil menyabut pisau yang tertancap di lengan Aidan secara perlahan.
...
Di sisi lain beberapa tim kepolisian masih menelusuri hutan mencari keberadaan siswa-siswi yang menghilang. Salah satu pemimpin tim sedang gusar menanti dua anggota lainnya yang belum juga kembali.
Apalagi mereka semua tidak ada yang mengetahui ke mana dua anggota itu pergi.
"Apakah mereka tidak memberikan tanda-tanda? " tanya pemimpin.
"Sepertinya tidak, ndan." Jawab anggota yang lain.
"Baiklah, berarti sekarang tugas kita bertambah. Semuanya!! mari kita mulai mencari! " Mereka mulai berpencar kembali. Hingga tanpa ada yang menyadari dari kejauhan ada seseorang yang memperhatikan mereka. Seseorang tersebut terlihat mengeluarkan senyum manis terbaiknya yang terlihat seperti senyuman menyeramkan.
Seseorang itu segera pergi ke suatu tempat. Buat yang menduga kalau seseorang itu adalah psikopat, ya, kalian benar. Sesampainya di tempat yang menjadi tujuannya psikopat langsung menatap mayat dengan kondisi mengerikan itu sambil tersenyum.
Mayat itu adalah mayat 2 anggota kepolisian yang tadi kematian tragisnya disaksikan oleh recha dan Bu Tika. Psikopat itu tersenyum lalu menghampiri salah satu mayat tersebut.
"Sebenarnya aku sudah bosan makan daging manusia, Tapi saat ini yang menjadi canduku adalah darah manusia." Ujar psikopat itu dengan santainya.
"Ternyata revolver ini berguna juga. Tapi tidak terlalu menyenangkan jika aku membunuh menggunakan ini."
-------------------------
__ADS_1