
Ayahku, tidak terlalu sayang kepada adikku. Suatu hari ayah membersihkan loteng, dan membuang beberapa barang-barang yang sudah tidak dipakai lagi. Termasuk sebuah box berukuran besar. Aku mencegahnya, agar ayah tidak membuang box itu, namun ayah tetap membuangnya, dan aku semakin yakin, kalau ayah masih benci kepada adik ku.
.
.
.
.
.
"NAZWAAA!!!" Recha berteriak ketika melihat wajah seseorang yang sangat dikenalinya berlumuran darah.
Ternyata cahaya yang mereka lihat, adalah cahaya yang berasal dari sebuah center, yang dibawa oleh Recha dan beberapa orang yang ingin memberi pertolongan kepada teman-temannya Recha.
Bu Tika dan Aidan langsung melarikan diri, karena tidak ingin tertangkap. Sedangkan Arvin, langsung membantu yang lain untuk menyembuhkan luka luka di sebagian tubuh Nazwa.
DOORRR!!!!
Suara dentuman begitu keras masuk ke telinga orang-orang di sekitar hutan. Sebagian bodyguard yang dibawa oleh papa Resha dan Recha menghampiri arah suara tadi berasal.
...
"Kita nyari ke mana coba? Hutan ini luas, nggak mungkin kan kita datengin setiap sudut? " Tanya Resha bingung.
"Ya mau gimana lagi, mau nggak mau kita harus berusaha ekstra." Sahut Aksa.
"kayaknya kita harus tinggalin tempat ini deh, soalnya dari tadi feeling gue nggak enak." delvin tiba-tiba mengucapkan kata-kata yang membuat Aksa dan resha panik.
"Maksud lo apaan? " Tanya Resha meminta penjelasan.
"Udah mendingan kita pergi dari tempat ini sekarang juga!! " Mereka hendak berlari, namun tiba-tiba saja ada sesuatu yang menyakiti kaki delvin, bersamaan dengan suara dentuman keras yang terdengar seperti suara tembakan.
Delvin langsung terjatuh, dan resha juga aksa panik akan hal itu. "Fin, lu nggak papa kan? " Tanya AXA dengan wajah panik.
__ADS_1
"AAAARDHHH!!! Peluru!! " Delvin berteriak merasakan kakinya yang begitu nyeri.
"Peluru?! " Resha langsung menoleh ke sana kemari mencari sumber peluru itu berasal. Aksa merobek baju yang dipakainya, untuk sementara menutupi luka tembakan di kaki delvin.
"Kita balik ke gubuk aja ya?!"
"Kalian aja yang balik ke gubuk, tinggalin aja gue di sini sendirian."
"Nggak bisa gitu dong, Vin, kita harus balik ke bubuk bareng-bareng." Resha menolak permintaan delvin.
Saat itu juga, ada tiga orang yang menghampiri mereka. "Apa yang terjadi dengan kalian? " Tanya dari salah satu ketiga orang tersebut.
"Teman saya tertembak." Ujar aksa.
"Ya sudah, kita harus bawa dia segera keluar dari hutan ini! " Mereka mulai memapah tubuh Delvin untuk dibawa pergi dari tempat membahayakan.
Sheila yang melihat targetnya hendak melarikan diri, tidak tinggal diam saja. Sheila menarik pelatuk pistolnya, namun sepertinya kesialan sedang berpihak padanya. Buktinya, peluru di pistolnya sudah habis tak tersisa. Sheila sangat kesal, dia tidak mungkin bisa mendapatkan target malam ini.
...
"Udah nggak terlalu sakit, tante, makasih ya udah ngobatin luka-luka Nazwa."
"Sama-sama. Kalian di hutan ini dengan siapa saja?"
"Ada aku, Nazwa, Arvin, Aksa, Delvin, dan Resha, ma." Jawab Recha.
"Lalu mereka berdua ke mana?!"
"Mereka ada di gubuk, Om." Jawab Arvin.
Sebelum papa bertanya di mana gubuknya, ada beberapa orang yang menghampiri mereka.
"Astagfirullah! Delvin! " Mamah semakin panik ketika melihat darah yang mengucur dari kaki Delvin.
"Lu kenapa? dra? Kok bisa pendarahan? Habis keguguran ya lu? " Tolonglah! Teman seperti Arvin ini enaknya diapain?
__ADS_1
Nazwa menatap Arvin dengan tatapan tajam, "nggak lucu anjir! Ini bukan bercanda! " Kali ini nazwa sudah benar-benar emosi dengan perbuatan Arvin, karena bercanda tidak bisa mengenal situasi dan kondisi.
"Aduh iya nih ar! Gue gugurin aja, lagian gue nggak tahu bapaknya siapa." Benar-benar manusia yang langka, saat mengalami kesakitan pun Delvin tetap meladeni lelucon dari sahabatnya.
"Aduh kalian ini! Ini situasinya lagi bener-bener gawat! Sekarang kita harus keluar dari hutan ini! " Peringatan dari mama, Dengan langkah cepat mereka pergi ke arah yang tadi ditunjukkan oleh Pak Ardi. Masih ingat kan? Kalau nggak ingat, sungguh, terlalu.
Recha dan mamanya berjalan di barisan paling belakang, karena yang barisan paling depan ada beberapa orang yang memapah tubuh delvin dan juga tubuh Nazwa, mungkin memang luka Nazwa tidak terlalu parah, namun darah yang dikeluarkan cukup banyak.
Karena Recha dan mamanya berjalan di barisan paling belakang, tiba-tiba saja ada seseorang yang mencegal pergelangan tangan mamahnya Recha. Seseorang itu menatap Mama dengan sorot tatapan tajam. "Kau dari dulu selalu saja mengambil sesuatu yang membuat ku bahagia." Sarkas orang itu kemudian mendorong tubuh mamah hingga terkhuyung ke belakang. Recha langsung sigap menopang tubuh mamahnya agar tidak terjatuh.
Seseorang itu langsung pergi, tanpa mengucapkan apa-apa lagi. "Maksud perkataan Bu Tika tadi apa ma?"
Setelah mendengar pertanyaan dari putrinya, mama tidak langsung menjawab, melainkan flashback ke masa beberapa belas tahun silam. 'apakah dia memang benar-benar Laras? ' tanya mamah dalam hati.
"Mah! Mama kenapa bengong?! Ayo mah jalan lagi! Itu yang lainnya udah lumayan jauh." Mama Recha yang bernama Saras Mayang afika, langsung tersadar dari lamunannya.
"Eh, iya, ayo! Kita jalan lagi."
...
"Aku membutuhkan manusia lagi." Ujar Sheila kepada seorang laki-laki dewasa di hadapannya.
"Iya. Nanti bapak carikan, lebih baik sekarang kamu pulang dulu ke rumah, karena nenek dan ibu kamu sudah sangat merindukan kamu." Ucap seseorang yang ternyata itu adalah bapaknya Sheila sambil mengusap kepala anaknya tersayang.
•••
Wah, Recha dan yang lainnya sudah berhasil keluar dari hutan. Apakah novel ini akan tamat?
Tentu tidak, nextnya akan ada lanjutan cerita yang insya Allah bakalan lebih mengerikan lagi dari bab bab sebelumnya.
Oh ya, nanti di bab ke-23, itu masa flashback-nya Bu Tika dan mama Saras, atau mamahnya Recha dan ResHa. Jadi jangan kaget ya, kalau tiba-tiba alurnya melenceng, nggak nyambung sama bab ini.
Udah cuman ngomong gitu aja. Selamat beristirahat atau selamat beraktifitas.
-------------------------
__ADS_1