Malam Tadi

Malam Tadi
bab 8


__ADS_3

Sebagian siswa-siswi dan panitia sudah mengemasi barang-barang milik mereka masing-masing untuk dibawa pulang kembali lagi ke rumah.


Resha sedang memperhatikan segerombolan orang yang ada di dekatnya. Di antara mereka ada yang terlihat berbahagia karena mereka teman atau mungkin pacar dari 8 remaja yang berhasil kembali lagi ke tenda. Diantara mereka juga ada yang senang, karena akhirnya mereka bisa keluar dari hutan yang cukup mengancam nyawa mereka.


Resha beralih menatap delvin, varo, raya, dan Arin yang masih terbaring lemah. Raut wajah mereka sama seperti Resha sama-sama menggambarkan rasa khawatir, sedih  dan kecemasan.


"Raya, Resha, bisa tolong pertemukan gue sama Pak Rudi nggak? Ada yang mau gua omongin." Ujar Arin lirih.


"Biar gua aja yang panggil Pak Rudi." Tanpa mendapatkan persetujuan dari siapapun Varo segera mencari keberadaan Pak Rudi.


Belum lama Varo mencari, Varo pun sudah melihat keberadaan Pak Rudi yang sedang berbincang dengan beberapa panitia dan anggota OSIS.


"Permisi, pak, maaf kalau saya mengganggu waktu Bapak dan waktu semuanya yang ada di sini. Saya hanya ingin menyampaikan kepada Pak Rudi kalau tadi Arin meminta saya untuk mempertemukan Bapak dengan Arin."


"Memang apa yang terjadi dengan Arin?"


"Entah, pak, sepertinya ada sesuatu yang ingin dibicarakan."


"Baiklah. Yang lain silakan lanjutkan diskusinya, nanti kalau sudah mendapatkan inti lapor kepada saya." Pak Rudi dan Varo berjalan berdampingan menuju tenda kesehatan tempat Arin berada saat ini.


"Arin, apa yang ingin kamu bicarakan? " Tanya Pak Rudi ketika sampai di tenda kesehatan.


"Begini, Pak, bisa tidak kalau kepulangan saya tidak untuk hari ini. Ada banyak alasan Pak, Yang pertama. Sebenarnya fisik saya lemah sekali Pak, karena saya memiliki kelainan jantung. Pastinya saya drop banget ketika mendengar kabar ini. Dan yang kedua saya juga ingin melihat untuk terakhir kalinya tubuh pacar saya. Saya janji Pak, saya nggak akan ikut dalam pencarian, saya hanya menunggu di sini saja.  Jika Bapak mengizinkan saya untuk tidak ikut pulang hari ini, tolong berikan beberapa orang untuk menemani saya seperti raya dan Resha." Jelas Arin panjang lebar.


"Baiklah kalau memang begitu keadaannya. Bapak izinkan Resha, raya, delvin dan Varo untuk tetap di sini menemani kamu."

__ADS_1


"Makasih banyak Pak."


"Apakah ada yang ingin dibicarakan lagi? " Tanya Pak Rudi dibalas gelengan oleh Arin.


"Kalau begitu Bapak kembali melanjutkan aktivitas bapak. Kalian semua jaga Arin ya di sini."


Pak Rudi segera kembali ke kumpulan orang-orang yang sedang berdiskusi bersamanya tadi.


...


"Ini, saya buatkan kamu minuman jahe." Lagi-lagi kedatangan Aidan yang secara tiba-tiba berhasil membuyarkan lamunan  Recha.


Recha segera mengambil minuman yang ada di genggaman aidan. "Makasih ya, seharusnya nggak usah terlalu repot-repot kayak begini."


Aidan pergi meninggalkan Recha yang kembali melanjutkan lamunannya setelah kepergian Aidan.


Recha menatap minuman yang sedang digenggamnya. Minuman itu masih panas, terbukti dengan asap-asap yang mengepul di atasnya. Aroma khas jahe yang berada di dalam minuman itu berhasil menembus Indra penciuman recha, dan itu membuat kepalanya semakin fresh tidak pusing seperti  tadi.


Dirinya meneguk minuman jahe itu secara perlahan. Seketika kehangatan menjalar di seluruh tubuhnya. Setelah menghabiskannya sampai setengah gelas Recha kembali menatap ke arah depan di mana masih terlihat jelas genangan berwarna merah.


"Wow, sepertinya hidup gue sekarang semakin penuh dengan misteri. Terjebak di tempat yang asing, bersama dengan beberapa orang yang gak gue kenal. Juga kejadian-kejadian janggal yang mengganggu pikiran gue beberapa hari ini. Oke, karena gue udah lama nggak mengupas semua misteri, mari kita mulai mengikisnya. Nanti malam gue akan berjaga siapa tahu aja gue nemuin jawaban dari pertanyaan gue."


Recha menanamkan tekad di dalam dirinya untuk mengupas tuntas misteri yang takdir persediakan untuknya.


"Kita mulai nanti malam." Recha melemparkan senyuman smir kepada genangan di hadapannya.

__ADS_1


...


Di sungai, Arvin sedang kegirangan berenang ke sana kemari seperti anak kecil ketika menemukan tempat renang yang asik.


Aksa, Nazwa dan Bu Tika yang sedang di pinggir sungai hanya terdiam menyaksikan tingkah laku Arvin yang terlihat seperti bocah.


"Sa, Enak banget loh berenang di sini. Lu mah cemen, beraninya cuman dipinggir-pinggir doang." Arvin mulai berenang menuju ke arah aksa.


"Aksa bukannya cemen, tapi dia tuh nggak norak kayak lu. Melihat air sungai aja kayak ngeliat sebongkah berlian."


"Apaan sih Lu, na, nggak ada yang ngomong sama lu. Lebih baik diam deh, kuping gua sakit lama-lama dengar suara lu."


"Emang lu pikir kuping gua nggak sakit dari tadi dengar teriakan lu kegirangan berenang di sungai. Memang bener ya kata orang-orang, dewasa itu nggak memandang usia. Umur 16 tahun kayak lu aja kelakuannya masih kayak bocah umur 6 tahun. Gini nih kalau di masa kecilnya kurang merasakan kebahagiaan." Kata Nazwa panjang lebar seperti ibu yang memarahi anaknya karena terlalu lama mandi di sungai sampai lupa waktu.


"Astaga mulut lu itu nggak ada remnya apa ya, dari tadi. Mulut lu udah kayak rucika pipa yang mengalir sampai jauh."


"Terserah lu mau ngomong apa, mendingan waktu gue dihabiskan untuk membersihkan ikan-ikan ini daripada debat sama lu buang-buang waktu."


"Anjir! Yang mulai duluan aja lu."


Jika kedua sahabatnya sedang memperdebatkan sesuatu yang tak penting, mata Aksa justru tidak berpaling dari sesuatu yang hanyut terbawa arus sungai.


Semakin dekat benda itu semakin terlihat jelas. Aksa refleks menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


 

__ADS_1


__ADS_2