Malam Tadi

Malam Tadi
bab 12


__ADS_3

"kalian tau Psychiatric hospital center?"


"Oh itu rumah sakit jiwa Yang jadi nomor satu di Indonesia kan?"


"Iya. Itu rumah sakit jiwa terbesar di Indonesia. Apakah kalian tau? Pasien yang mengalami gangguan mental psycho dirawatnya di mana?"


"Emang tempat perawatan penderita psycho dibedakan ya? " Tanya Nazwa.


"Ya beda lah, kalau di satu-in yang ada pasien lainnya dibunuh semua sama si penderita psycho. Dan si penderita psycho bukannya sembuh malahan nambah brutal." Jawab Arvin.


"Tempat perawatan mereka di mana Bu? " Recha mengembalikan ke topik awal karena jika tidak langsung dikembalikan Arvin dan Nazwa akan memperpanjang perdebatan mereka.


"Coba kalian telusuri sungai yang ada di belakang gubuk ini. Nanti kalian akan bertemu dengan sebuah desa. Di dalam desa tersebut ada beberapa rumah yang sebelumnya ada penghuni namun sekarang sudah tidak ada lagi. Desa itu adalah tempat pasien penderita psycho dirawat." Bu tika menghentikan ceritanya sejenak.


"Jadi satu rumah, diisi oleh satu pasien penderita psycho. Saat itu hanya ada satu psikiater  yang sanggup mengendalikan mereka semua. Sedangkan psikiater  yang lain tidak bisa. Suatu hari, psikiater  tersebut  meninggal karena serangan jantung. Alhasil tempat itu tidak bisa dikendalikan. Para penderita psycho melakukan hal-hal yang membuat mereka senang seperti membunuh satu sama lain bahkan memakan satu sama lain. Mereka melakukan itu terus-menerus hingga akhirnya pasien psycho itu hanya tersisa satu atau dua orang saja. Dan mungkin psikopat yang kalian temukan tadi adalah salah satu dari pasien yang masih bertahan."


Bu Tika bercerita cukup panjang, mereka hanya menyimak saja.


"Kan sekarang udah tinggal satu atau dua orang, seharusnya lebih mudah untuk mengendalikan mereka." Ujar Recha.


"Tidak bisa, mereka sudah terlalu lincah bahkan terkadang mereka  saling melindungi."


"Berarti Ibu selama ini tinggal di sini bahaya banget dong Bu." Ujar Nazwa.


"Tadinya saya dan Aidan tinggal di sini aman-aman saja. Dan mereka tidak pernah mengganggu kami. Namun setelah sebagian area hutan sudah dijadikan tempat percampingan mereka semakin brutal demi mencapai kesenangan mereka."


"Psikopat itu beraksi di saat malam hari saja atau tidak kenal waktu? " Tanya delvin.


"Saya tidak tahu kalau mengenai itu."


"Tapi dari kasus-kasus yang kita alami kejadiannya di malam hari."


"Iya, na, itu yang kita alami, mungkin aja kan pas siang hari mereka juga melakukan hal yang sama."


"Iya sih mungkin. Psikopat kan nekat ngelakuin apa aja demi mencapai kebahagiaannya."


"Lalu gimana caranya kita bisa keluar dari sini? " Cemas ReSHa.

__ADS_1


"Nanti kita pikirin. Kamu jangan terlalu banyak pikiran nanti lukanya nggak sembuh-sembuh." Ujar Aksa lembut.


"Anjir, emang apa hubungannya luka kulit sama pikiran?"


"Udah sih na, lu diem aja bisa nggak sih, nyambung aja kayak listrik."


"Lu ngomong sama siapa? Vin?"


"Nih lagi ngomong sama nyamuk.. nyamuknya lagi galau dia korban broken home katanya."


"Udah lu nggak usah gila, lebih baik anak lu bawa dulu ke kamar tuh kasihan udah tidur nyenyak malah digigit nyamuk." Resha melihat Arvin yang sudah tertidur pulas di pangkuan delvin.


"Ya ampun nak, kamu cepet juga tidurnya. Di dongengin sama tante Nazwa ya. Ayo nak pindah ke kamar! Kita ganti pampers dulu." Delvin mengelus-ngelus lembut rambut Arvin seperti mengelus kepala anaknya sendiri.


"Ya ampun Pak, anaknya anteng bener.. ibunya ke mana Pak? " Tanya Nazwa.


"Mama lagi kerja jadi TKW di luar alam tante."


"Oh gitu ya? Tante doakan semoga tuhan segera mempertemukan kalian."


Mereka terus bercanda dan terkadang membicarakan hal yang serius hingga malam berganti pagi.


"Eh udah pagi ternyata, gua mau tidur lah." Nazwa segera masuk ke kamar tidur.


"Lu kalau ngantuk tidur aja, Sha."


"Emang lu nggak ngantuk? Cha?"


"Gak.. gua mau bantuin Bu Tika masak." Recha segera berlalu pergi ke dapur.


"Ya udah deh, gua ke kamar ya." Pamit resha kepada Arvin, delvin dan aksa.


...


Di tempat camping, lagi-lagi hari di awali dengan hal yang membuat mereka semua khawatir. Karena jumlah yang menghilang semakin bertambah, yaitu delvin, ReSHa, dan Varo.


Pak Rudi segera memulangkan raya dan Arin, beserta beberapa anggota OSIS yang lain. Sedangkan Pak Rudi dan 4 orang panitia lainnya masih tetap berada di area percampingan. Mereka sedang menanti kehadiran pihak kepolisian yang sudah mereka hubungi untuk membantu pencarian siswa-siswi yang hilang.

__ADS_1


Polisi segera membagi beberapa tim, lalu dipencar ke beberapa bagian hutan.


"Lapor! Ndan! Saya mencium aroma masakan, dan saya yakin kalau di sekitar sini ada seseorang atau beberapa orang yang sedang memasak." Lapor salah satu anggota kepolisian kepada atasannya.


"Baik, silakan kalian cari sumber aroma masakan itu."


...


"Oh jadi ukuran garam yang pas untuk makanan itu segini." Recha sedang membantu Bu Tika membuat nasi goreng.


"Iya. Cukup segitu, jika lebih nanti rasanya malah asin."


"Aku kalau masak nggak pernah diukur-ukur Bu, sesuka hati aja."


"Waduh, sepertinya kamu kalau masak lebih sering keasinan deh."


"Eh kok ibu bisa tahu? Udah seperti cenayang."


"Untuk makan siang, ibu mau masak apa?"


"Rencananya Ibu mau membuat sup. Kebetulan stok daging ayamnya masih ada."


"Biar cepat, gimana kalau bahan-bahannya diiris-iris sekarang aja Bu? Jadi pas nanti Ibu memasak, tinggal dicampurin aja deh, nggak perlu motong-motong bahannya."


"Boleh juga. Itu bahan-bahannya, dan kamu ambil pisau satu lagi yang ada di sana." Bu Tika menunjuk ke salah satu tempat Recha langsung mendatanginya.


"Wow, banyak banget pisaunya. Dan kelihatan tajam semua. Gua ngambil yang itu aja deh." Recha cukup tertarik dengan pisau yang terlihat berkilap di ujung mata pisaunya.


"Nah yang ini aja pisaunya eh kok pisau itu kayak ada sesuatunya ya? " Recha melihat pisau lain yang terasa janggal.


Recha mengambil pisau yang mengundang rasa penasarannya. dan recha terkejut karena di pisau itu ada sesuatu yang tersangkut, terlihat seperti bola mata.


"Sudah menemukan pisaunya?"


Reca refleks menaruh pisau yang tadi dipegangnya ketika Bu Tika bertanya.


"Eh, iya Bu, ini udah ketemu." Recha segera meninggalkan tempat itu kembali menghampiri Bu Tika.

__ADS_1


"Eh yang gua lihat tadi itu bola mata beneran bukan ya? Apa cuman perasaan gue doang? " Recha bertanya-tanya dalam hati.


-------------------------


__ADS_2