
Gadis itu memanfaatkan waktu dengan baik dia membuka kain yang menutup mulutnya lalu menoleh ke arah Sheila. "Kau pikir akuRecha?"
Sheila terdiam. Sepertinya Sheila salah orang. Memang tidak mudah membedakan resha dan Recha hanya orang-orang terdekat saja yang mengetahui perbedaan di antara mereka.
"Hahaha. Ini lucu sekali. Ada seorang psikopat salah menaklukan target." Resha tertawa sambil memegang perutnya yang terasa sedikit nyeri akibat diinjak Sheila tadi.
"Tidak ada kesalahan dalam duniaku. Mau kamu Recha atau bukan, aku tidak peduli sekarang yang terpenting adalah kepuasan hasratku untuk membunuh dan bermain."
"Tenang dulu kawan. Kau terlalu bodoh untuk menjadi seorang psikopat. Karena apa? Karena engkau tidak menggunakan strategi ketika bermain. Kau tahu apa yang kumaksud?"
"Strategi apa itu? Menjalani strategi hanya membuang waktu."
"Tapi rasanya itu sungguh jauh lebih memuaskan."
"Kau siapa? Kau itu hanya seorang gadis remaja pada umumnya. Jangan belaga sok tahu tentang duniaku."
"Bagaimana jika sebenarnya aku pun seseorang yang sama sepertimu?"
"Itu tidak mungkin." Sheila mencabut pisau kecil yang tertancap di telapak kakinya lalu mengarahkan pisau itu tepat kehadapan Resha.
"Hei! Itu pisau milikku. Cepat kembalikan! " Resha mencoba mengambilnya.
"Kau tidak pantas memakai pisau untuk melukai seseorang." Sheila berbalik badan hendak meninggalkan Resha, selera membunuhnya sudah hilang saat ini.
"Kau mau ke mana? Nggak mau bermain?"
Sheila tidak memperdulikan pertanyaan resha, Sheila hendak membuka pintu toilet.
Setelah pintu toilet terbuka seutuhnya, dan ketika Sheila hendak melangkahkan kaki keluar. Sheila merasakan ada beberapa benda yang menancap di bagian punggungnya.
__ADS_1
Sheila sudah memprediksikan jika itu adalah pisau. Sheila meraba-raba tubuh bagian belakangnya hingga Sheila menemukan pisau yang tertancap di bahu sebelah kirinya. Sheila menariknya dengan paksa kemudian menarik pisau yang satunya lagi di bahu sebelah kanannya.
Oh tidak, sepertinya di bagian betis kaki Sheila pun ada pisau yang menacap. Sheila mencabutnya kembali dengan paksa dan saat ini lantai toilet sudah dilumuri oleh darah Sheila.
"Bagaimana permainanku? Menyenangkan bukan? Aku masih punya pisau banyak." Resha mengeluarkan beberapa pisau lipat yang ukurannya sangat kecil dari saku seragam sekolahnya.
Sheila hanya menatap resha dengan tatapan tajam, sepertinya sekarang Sheila sudah merasa lemas karena darahnya sudah cukup banyak yang terbuang. "Aku sedang tidak ingin bermain denganmu." Sheila bangkit berdiri kemudian pergi meninggalkan toilet dengan darah yang terus menetes dari bagian-bagian yang tertusuk pisau.
Resha tersenyum bahagia kemudian ikut pergi meninggalkan toilet. Sebelum pulang ke rumahnya resha terlebih dahulu mengganti seragam sekolahnya dengan seragam cadangan, karena seragam yang digunakannya saat ini sudah basah.
...
Setelah membeli siomay atas perintah sang kakak, Recha kembali ke parkiran sekolah. Namun, recha tidak melihat keberadaan Resha di sana. Hanya ada beberapa orang polisi yang sedang menggali informasi tentang kejadian yang menggemparkan tadi.
Recha berusaha untuk menghindari polisi, karena Recha tidak ingin terlibat dalam kasus ini. Walaupun sebenarnya, Recha ada pada saat kejadian itu. Bahkan Recha yang melaporkan kepada Pak Rudi.
Dari kejauhan Recha melihat Resha dengan seragam lengkapnya.
"Udah. Lu dari mana? Kok pas gue datang ke sini nggak ada siapa-siapa."
"Tadi gua ke toilet sebentar."
"Lu ganti seragam?"
"Iya. Tadi pas di toilet nggak sengaja seragam gue basah kena air. Ayolah cepetan balik, mama sama papa pasti nungguin."
Resha dan recha pulang ke rumah dengan menggunakan mobil yang difasilitasi oleh kedua orang tua mereka.
Hanya ada keheningan di antara mereka, hingga recha berani memulai pembicaraan. "Khalisa nggak kenapa-napa kan?"
__ADS_1
"Nggak kenapa-napa otak lu bulat, orang dia sampai kena luka tusuk gitu."
"Iya maksud gua, lukanya nggak terlalu serius kan?"
"Alhamdulillah enggak. Tadi sih gua nggak sengaja dengar, katanya Untung aja darahnya nggak terlalu banyak yang keluar. Karena kalau memang itu terjadi khalisa bisa aja mati kehabisan darah."
"Lu tau nggak pelakunya siapa? " Tanya Recha sambil membuang nafas jengah.
"Sheila ya kan?"
"Tau dari mana?"
"Tadi pas dia masuk ke kelas bajunya kan ada darah."
"Apa kita bilang aja ya sama pihak sekolah kalau psikopat yang di hutan tempat kita cammping kemarin itu ada di sekolah? " Saran dari Recha.
"Gua takut mereka nggak percaya."
...
Di salah satu kamar rawat di rumah sakit, ada seorang gadis remaja yang sedang terbaring lemah karena nyawanya hampir saja dihabisi oleh seseorang pada siang hari tadi. Benar, Gadis itu bernama khalisa Gea Syavana. Kondisinya masih lemah, bahkan sampai sekarang belum sadarkan diri.
Beberapa anggota keluarganya yang menjaga, sudah tertidur lelap karena waktu sudah larut malam. Seorang misterius dengan lancangnya membuka pintu kamar rawat khalisa, lalu melangkahkan kakinya dengan perlahan ke ranjang yang halisa tempati.
Seseorang misterius tersebut menatap khalisa dengan tatapan aneh kemudian perlahan membuka selimut yang menutupi tubuh khalisa. Sebelum itu, seseorang tersebut menyuntikkan cairan yang bisa membuat khalisa lebih lama di dalam tidur lelapnya. Seseorang tersebut perlahan merobek pakaian pasien yang digunakan Khalisa di bagian perutnya.
Tujuan seseorang itu adalah luka tusuk yang baru saja dokter jahit. Luka itu berhasil ditemukannya, dengan tidak punya rasa kasihan, seseorang itu membuat luka tusuknya semakin lebar hingga tangan seseorang itu bisa memasuki lubang tusukan tersebut.
Dengan ekspresi senang, seseorang itu mengacak-ngacak perut Khalisa hingga organ dalamnya ada beberapa yang keluar.
__ADS_1
Tidak ada satu orang pun yang melihat kejadian ini. Setelah merasa puas dengan apa yang dilakukannya, seseorang tersebut langsung pergi begitu saja.
-------------------------