Malam Tadi

Malam Tadi
bab 2


__ADS_3

"mari masuk! Ibuku sudah menunggu di dalam." Ujar laki-laki tersebut kemudian mereka masuk ke dalam gubuk.


Mereka berempat cukup syok saat melihat bagian dalam gubuk. Saat memasuki gubuk mereka berada di tempat yang sepertinya ruang tamu. Karena di sana terdapat bangku kayu atau mungkin batang pohon di sisi kanan dan kiri ruangan untuk tempat duduk. Di dalam gubuk tersebut juga terlihat dua ruangan berderet seperti kamar tidur lalu di samping kamar terdapat pintu entah itu akses menuju ke kamar mandi atau ke dapur. Di salah satu sudut ruangan terdapat obor yang menyala sebagai sumber cahaya.


keadaan di dalam jauh lebih baik dari keadaan gubuk di luar. Lebih bersih dan lebih nyaman walaupun lantainya masih tanah. Bahkan yang menjadi tirai kamar tidur adalah daun pisang yang cukup lebar.


Di salah satu bangku terlihat ada seorang wanita berkisaran umur 50 tahunan sedang duduk sambil tersenyum ke arah Recha dan teman-temannya.


"Selamat malam Tante, maaf kami mengganggu waktu istirahat Tante." Ujar Aksa lagi-lagi mewakili ketiga temannya.


"Selamat malam kembali. Tidak mengganggu sama sekali. Saya senang, jika ada orang yang mau berkunjung ke rumah saya ini. Sebelumnya, perkenalkan nama saya Tika, panggil saja saya Ibu. Dan ini anak saya bernama Aidan." Wanita itu memperkenalkan dirinya beserta laki-laki yang mengajak Recha dan teman-temannya untuk menginap.


Recha dan teman-temannya memperkenalkan diri masing-masing.


"Apakah kalian sudah mengantuk? Kalau sudah yang perempuan tidur bersama ibu di kamar sebelah kanan, lalu yang laki-laki tidur di kamar Aidan yang di sebelah kiri." Ucap wanita itu sambil menunjuk kamar tidur satu persatu.


"Maaf Bu sebelumnya, apa tidak terlalu sempit Bu? Jika satu kamar diisi oleh tiga orang? " Recha bertanya dengan sangat hati-hati.


"Mungkin akan terasa sempit, namun masih cukup untuk 3 orang." Ibu meyakinkan mereka.


Mereka mulai masuk ke dalam kamar dan mencoba untuk tertidur.


Tanpa mengetahui kejadian mengerikan yang terjadi setiap malamnya.


*****


Sementara itu di tempat percampingan seluruh panitia dan pihak sekolah panik karena menunggu satu kelompok yang belum kembali.


"Bagaimana ini pak? Ini sudah terlalu larut malam. Apakah kita mencari malam ini juga? " Radit sang ketua OSIS bertanya kepada Pak Faisal selaku penanggung jawab kegiatan camping.


"Lebih baik kita mencari besok pagi saja. Kalau untuk malam ini terlalu berbahaya, lagi pula saya tidak mau kalau nanti jumlah yang menghilang bertambah."

__ADS_1


...


Di sisi lain tenda Resha sedang khawatir karena saudaranya belum juga kembali ke tenda. Ada dua orang laki-laki yang menenangkan Resha agar tidak terlalu panik.


"Ya ampun, Cha, cha, lu ke mana sih? Senang banget deh kalau bikin gua panik."


"Tenang aja, gue yakin kok Recha dan yang lainnya nggak kenapa-napa. Apalagi kan ada Aksa, dia kan selalu gercep kalau soal melindungi teman-temannya." Ujar delvin.


"Iya. Bener banget kata delvin, kamu jangan terlalu khawatir ya. Kita berdoa aja, mudah-mudahan besok pagi mereka udah kembali lagi ke tengah-tengah kita." Ucap varo kekasih Resha.


"Udahlah jangan cemberut gitu, lu jelek banget tau nggak sih kalau lagi cemberut ataupun lagi sedih. Apalagi dalam keadaan remang-remang kayak gini makin mengerikan. Gua serasa kayak ngeliat monster di film-film fantasy horor." Delvin menghibur Resha.


"Enak aja lu bilang muka gua mirip monster. Yang bagus-bagus dikit apa jangan monster."


Oh ya udah.., yang bagusan dikit itu apa ya? Kayaknya monster udah yang paling bagus deh, Sha."


"Anjir lu ya! " Resha memukul delvin dengan ranting kayu yang dipegangnya.


"Eh jangan gitu dong, kalau Resha ngelakuin itu, gua serasa lagi ada di dalam neraka anjir. Gua belum siap meninggal woi hutang teman-teman  sekelas gue masih belum ada yang lunas sama gua."


"Utang mereka yang belum lunas atau utang lu yang belum lunas?"


"Ya utang mereka lah yang belum lunas sejak kapan, seorang delvin Kalandra ngutang sama orang lain."


"Mungkin sejak bumi ditabrak meteor." Jawab resha asal-asalan.


Resha sudah tersenyum lagi tidak seperti sebelumnya. Itu karena sikap kehumorisan delvin yang selalu menghiburnya meskipun terkadang membuatnya kesal.


Delvin kalandra memanglah seorang remaja laki-laki yang sangat humoris kepada siapapun terkecuali kepada Natalie Marecha. Entah kenapa jika dengan Recha sikap delvin berubah 180 derajat.. menjadi cuek, dingin, bahkan sering kali kata-kata Recha tidak pernah ditanggapi oleh delvin.


Entah apa penyebabnya, yang pasti delvin merasa moodnya berantakan jika ada Recha. Namun jika di dekat Resha mood Delvin berubah menjadi sangat baik.

__ADS_1


*****


Pagi hari pun tiba. Sinar matahari menembus dedaunan pohon-pohon besar yang menutupi area hutan.


Recha merasakan panas matahari yang masuk melalui celah-celah dinding. Recha membuka matanya secara perlahan dan orang yang pertama kali Recha lihat adalah Nazwa yang masih tertidur.


Recha bangkit dari tempat tidurnya hendak menuju keluar dan menghirup oksigen pagi hari sebanyak-banyaknya.


Recha heran, karena saat dirinya sampai di luar Recha melihat kedua temannya yang sedang berekspresi kebingungan.


"Kalian kenapa? " Tanya Recha.


"Recha Lu udah bangun, ikut kita sekarang." Arvin langsung menarik tangan Recha agar mengikutinya ke halaman gubuk.


"Apaan sih lu? Main tarik-tarik tangan orang aja."


"Iya maaf. Ini penting banget sumpah. Coba deh lu lihat itu." Ujar Arvin sambil menunjuk sesuatu di tanah.


Recha mendekati sesuatu yang ditunjuk Arvin. Ternyata itu adalah bercak-bercak berwarna merah seperti darah.


Recha memberanikan diri untuk menyentuh cairan tersebut. Lalu Recha mendekatkan jari telunjuknya yang terkena cairan ke hidungnya.


"Baunya anyir seperti darah. Kayaknya memang bener darah deh, tapi darah siapa? darah hewan atau darah manusia?"


" kalau dilihat dari warnanya sih, mirip banget sama darah manusia." Ujar aksa.


"Oh iya, gua juga tadi malam mendengar suara. Kayak suara orang kesakitan gitu. Gua nengok ke Aksa dan Aidan tapi kalian tidur nyenyak banget. Dan diantara kalian nggak ada yang mengigau." Arvin menjelaskan yang dialaminya tadi malam.


Mereka bertiga melontarkan pertanyaan yang sama. "Apa yang terjadi saat malam tadi?"


-------------------------

__ADS_1


__ADS_2