
Di tempat camping. Pak Faisal dan beberapa orang sudah mempersiapkan diri untuk mencari Recha dan teman-temannya yang menghilang tadi malam. Resha ingin ikut namun varo dan delvin mencegahnya. Bahkan Pak Faisal pun tidak mengizinkan, karena takut resha juga akan menghilang seperti saudara kembarnya.
"Bapak dan yang lainnya pergi dulu ya. Kalian harus jaga diri kalian dan jaga teman kalian dengan baik. Jika ada apa-apa lapor saja kepada Pak Rudi." Pesan Pak Faisal kemudian pergi memasuki hutan bersama sembilan orang lainnya.
"Pokoknya kalau sampai malam Recha dan yang lainnya nggak ketemu gua akan nekat nyari mereka ke dalam hutan." Resha masih bersikeras untuk mencari ketiga sahabat dan adiknya.
"Terserah lu Lu kan orangnya susah banget dibilangin. Apalagi dilarang." Delvin hanya bisa pasrah dengan sikap keras kepalanya Resha.
"Sekarang kita kumpul sama yang lain yuk." Ajak varo mereka pun mengikuti Varo untuk kembali berkumpul dengan yang lainnya.
***
Nazwa terbangun dari tidurnya. Dan memperhatikan sekitar dengan raut wajah heran. Apalagi nazwa tidak melihat siapapun di tempatnya berada saat ini.
Nazwa coba mengingat mengingat kembali apa yang terjadi tadi malam. Setelah berhasil mengingatnya, Nazwa segera bangun dari tempat tidur kemudian mencari keberadaan ketiga temannya beserta tuan rumah.
Nazwa menghampiri ketiga temannya yang ada di halaman Gubuk.
"Hoaaaaammm.. ternyata kalian udah bangun, parah banget sih lu cha, gak bangunin gue." Ujar Nazwa dengan nada kesal.
"Sorry, lagian tadi gua lihat lu tidurnya nyenyak banget. Jadi gua nggak berani ngebangunin."
"Eh Mbak Nazwa Shihab baru bangun. Tadi malam habis banyak jam syuting ya mbak? " Arvin mulai memancing emosi Nazwa.
__ADS_1
"Lu tahu nggak? Kalau puncak tertinggi emosi manusia itu di saat baru bangun dari tidurnya. Jadi, kalau saat ini gua lagi megang benda tajam udah gua cincang-cincang tuh badan lu. Lumayan buat menu sarapan atau mungkin makan siang." Balas Nazwa sambil memberikan tatapan psikopat.
"Sok-sokan mau nyincang-nyincang tubuh gue. Bedah kodok buat penelitian aja lu nangis. Karena nggak tega ngeliat organ dalamnya."
Nazwa tidak membalas perkataan Arvin karena malas berdebat di pagi hari. Nazwa beralih menatap sesuatu yang berwarna merah di hadapan Recha.
"Eh cha, itu apaan? Kok kayak darah, jangan bilang lu habis muntah darah cha." Nazwa mendekati Recha dengan ekspresi panik lalu menatap wajah Recha dengan khawatir.
"Iya gue habis muntah darah. Itu Aksa juga habis muntah paku." Ujar Recha sambil menunjuk arah sebelah kanan Aksa.
Reflek Aksa menoleh ke arah yang ditunju Recha dan dia pun terkejut karena baru menyadari kalau di sekitarnya ada paku.
"Ih, jangan-jangan kalian berdua abis kena sate."
"Sate apaan anjir? Orang dari kemarin kita nggak makan sate sama sekali." Recha merasa heran dengan perkataan nazwa.
"Itu ilmu santet Mbak Nazwa Shihab." Arvin membenarkan sesuatu yang dimaksud Nazwa.
"Apaan? ilmu santen?"
Recha, Aksa, dan Arvin menepuk keningnya masing-masing.
"Eh kalian sudah bangun. Kalau begitu ayo sarapan! Ibu sudah menyiapkan makanan di dalam." Ujar Bu Tika dari depan pintu gubuk.
__ADS_1
Mereka beranjak kemudian memasuki gubuk kembali.
Sampainya di dalam mereka melihat sudah ada beberapa piring yang berisi nasi goreng dengan suwiran daging di atasnya.
Mereka berempat saling menatap satu sama lain karena merasa heran dari mana ibu dan anak itu mendapatkan daging.
"Ayok dimakan! Maaf menunya hanya sederhana saja." Bu Tika mempersilahkan.
"Maaf Bu kalau saya lancang. Kalau boleh tahu, Ibu mendapatkan daging itu dari mana ya Bu? " Recha bertanya dengan nada halus agar tidak menyinggung perasaan Bu Tika dan Aidan.
"Kebetulan dua hari yang lalu kakaknya Aidan membawakan ayam goreng kemari. Tapi tenang saja, meskipun ayam itu sudah dua hari lamanya dagingnya tetap baik. Karena Ibu sudah mengawetkannya dengan rempah-rempah berkualitas." Bu Tika menjelaskan.
"Oh ini daging ayam. Okelah Bu, kebetulan aku suka banget sama nasi goreng dengan toping suwiran daging ayam." Arvin mulai menyantap lahap nasi goreng di hadapannya Bu Tika dan Aidan tersenyum.
Dengan sedikit keraguan di dalam hati. Recha dan yang lainnya menyantap nasi goreng secara perlahan.
Saat lidah sudah menyentuh nasi goreng itu kenikmatan begitu terasa oleh keempat remaja tersebut.
"Bu ini rasanya enak banget. Daging ayamnya juga lebih enak dari daging ayam yang pernah saya makan selama ini." Nazwa memuji masakan Bu Tika.
"Iya Bu bener banget kata Nazwa. Kalau boleh, nanti saya dan Nazwa diberitahu Bu resep rahasia ibu agar daging ayam ini terasa begitu enak dikonsumsi. Dan rempah-rempah apa saja yang digunakan." Sambung recha.
Bu Tika tersenyum. "Jika kalian ingin Ibu beritahu resep rahasianya. Nanti di saat makan siang bantu ibu memasak ya."
__ADS_1
Recha dan Nazwa mengacungkan jempol tangannya masing-masing. Mereka berdua sangat antusias mendengar perkataan Bu Tika sampai-sampai mereka lupa apa tujuan mereka di pagi hari ini.
-------------------------