Malam Tadi

Malam Tadi
bab 27


__ADS_3

Halo, semuanya. Maaf ya aku udah lama banget nggak up, mungkin sekitar 2 minggu atau lebih aku nggak update novel ini. Mungkin sebagian dari para readers  setiaku juga ada yang udah lupa sama bab sebelumnya, atau sama semua alurnya.


Aku benar-benar minta maaf banget sekali lagi, karena belakangan ini tuh Aku benar-benar super sibuk, dimulai dari kegiatan sekolah, terus juga aku sekarang ikut les musik juga.


Belum ditambah lagi dengan kegiatan-kegiatan lainnya. Maaf banget udah mengecewakan pokoknya aku mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan aku harap, novel ini masih ada yang baca.


Oke, selamat membaca bab 27


.


.


.


.


.


SMA sinar bangsa dikejutkan dengan suara sirine ambulans Yang nyaring begitu keras. Para siswa-siswi sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Mereka berlomba-lomba pergi keluar kelas mencari tahu apa penyebab ambulans datang ke sekolah mereka.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang para siswa-siswi SMA sinar bangsa. Saya ingin memberitahukan jika ada sedikit musibah yang baru saja terjadi. Untuk para siswa-siswi diharapkan agar tidak keluar kelasnya masing-masing." Ucapan yang menggema ke seluruh sekolah melalui speaker tersebut berhasil membuat para siswa-siswi masuk kembali ke dalam kelasnya masing-masing.


Meskipun ada beberapa siswa-siswi kepo yang berusaha mengintip melalui jendela.


"Emang ada apaan sih? " Tanya Arvin kepada teman-temannya.


"Gua juga nggak tau." Jawab Nazwa.


"Ya kalau lu nggak tau nggak usah jawab pertanyaan gua anjir, gua kan nanyanya sama yang tau-tau aja."

__ADS_1


"Tapi masalahnya kita semua nggak ada yang tahu apa yang terjadi diluar sana."


"Sebenarnya gue nggak mau berpikiran negatif, tapi gua merasa Kalau ini ada hubungannya sama Sheila." Ujar aksa.


"Gue setuju, lagian tuh anak kenapa coba dari tadi nggak kelihatan? Masih jadi anak baru aja udah sok-sokan ngebolos." NazwaMenyetujui perkataan Aksa.


Resha dan Recha yang sudah mengetahui apa yang terjadi, hanya bisa diam saja.


"Weh anjir khalisa dibunuh! " Teriak salah satu siswa.


"Apa?! Dibunuh?!"


Seketika penghuni kelas menjadi ramai dan ekspresi mereka semua terpancar ketakutan.


"Tuh kan bener pembunuhan. Fix Ini ulahnya Sheila.." Nazwa langsung saja mengambil kesimpulan.


"Kalau belum tahu versi aslinya lebih baik jangan mengambil kesimpulan deh, Na." Tegur Resha.


...


Di suatu ruangan terlihat seorang gadis berusia 17 tahun sedang menatap serius cermin yang ada di hadapannya. Cermin adalah salah satu benda favoritnya setelah pisau. Menurutnya cermin adalah sesuatu yang setia karena ketika dirinya menangis di hadapan cermin, cermin tidak akan pernah menertawakannya.


"Permainan hari ini tidak terlalu menyenangkan. Sepertinya nanti aku akan bermain lagi dengan--- " Gadis itu menggoreskan pisau di genggamannya kepada jari telunjuknya sendiri, hingga beberapa tetes darah terjatuh.


Gadis itu mulai menulis dengan tintanya yang berwarna merah, hingga menjadi sebuah kata atau nama... Recha...


...


"Anak-anak! Rapikan barang-barang kalian. Segeralah pulang. Dan untuk satu minggu ke depan sekolah ini ditutup. Karena sekolah ini sedang dalam masa penyelidikan kepolisian." Perintah dari ibu Tiara selaku wali kelas XI IPA 2.

__ADS_1


"Yah baru aja masuk sekolah. Udah libur lagi aja." Protes Nazwa.


"Udah lu nggak usah banyak bacot. Gas lah balik." Arvin dengan sigap membereskan buku pelajarannya ke dalam tas.


Sepanjang koridor sekolah yang terdengar hanyalah bisik-bisik para siswa-siswi yang melontarkan dugaan demi dugaan apa yang menjadi alasan polisi menyelidiki SMA sinar bangsa.. hanya beberapa siswa-siswi saja yang mengetahui bahwa alasan utamanya adalah pembunuhan.


Recha, Resha, Arvin, aksa, dan juga Nazwa segera menuju parkiran hendak pulang ke rumahnya masing-masing.


Dari kejauhan Sheila memperhatikan Resha dan Recha. Hingga resha dan Recha berpisah entah karena alasan apa. Yang Sheila ketahui ini adalah waktu terbaik untuk bermain.


Sheila langsung menarik tangan seseorang sambil menutup mulutnya dengan kain berwarna hitam.


sheila membawanya ke toilet sekolah yang jarang sekali dikunjungi. Sheila langsung mendorong tubuh gadis itu Hingga terdengarlah suara nyaring yang dihasilkan oleh tubuh seseorang beradu dengan lantai kamar mandi.


"Halo gadis cantik. Kau tahu tidak apa alasanku mengajak kau ke sini? Alasanku ada banyak. Yang pertama Aku ingin bermain denganmu. Yang kedua, Aku ingin mengucapkan terima kasih, karena kamu sudah mengganggu permainanku."


Sheila membenturkan kepala Gadis itu ke dinding, setelahnya Sheila memaksakan tubuh gadis itu agar bisa masuk ke dalam penampungan air di toilet. Sheila memasukkan kepala Gadis itu ke dalam air berkali-kali tanpa rasa kasihan. Gadis itu tidak melawan sedikitpun walaupun keadaannya sudah cukup memprihatinkan.


Sheila membalikkan tubuh gadis itu hingga posisinya terlentang. Lalu Sheila menginjak perut Gadis itu dengan satu kakinya.


"Oh Tuhan. Ini sungguh permainan yang menyenangkan. Aku sangat suka jika teman bermain ku tidak banyak bicara dan tidak ada perlawanan. Kau teman terbaik."


Sekarang sheila sudah memasukkan kedua kakinya ke dalam bak mandi tersebut, kaki kanannya menginjak perut Gadis itu tetapi...


"Oh ****! Apa ini?!"


Sheila merasakan sesuatu yang tertancap di telapak kaki kirinya.


Gadis itu memanfaatkan waktu dengan baik dia membuka kain yang menutup mulutnya lalu menoleh ke arah Sheila. "Kau pikir aku Recha?"

__ADS_1


-------------------------


__ADS_2