
Aku sedang makan malam di rumah temanku. Salah satu menunya daging, Aku bertanya kepadanya "daging apa ini? " Dia jawab "daging manusia." Ucapnya sambil tertawa. Aku berpikir, sepertinya bukan, karena rasanya berbeda.
.
.
.
.
.
Ketika membukanya, Aidan terkejut, karena pakaian yang biasanya digunakan saat mencari target, tidak ada di tempatnya.
Aidan pergi meninggalkan gubuk, mencari seseorang yang dicurigai nya. Tak lama mencari, Aidan pun menemukan seseorang tersebut yang sedang santainya mengemil jari-jari manusia. "Kau mau apa kemari?"
"Tidak usah berpura-pura bodoh, untuk apa kau mengambil pakaianku?"
"Hohoho pakaian? Pakaian apa yang kau maksud? Oh ya, bukannya tadi kau pergi mencari mangsa? Mengapa kau sekarang ada di sini? Apakah engkau tidak mendapatkan target?"
"Kau tidak pantas menjadi seorang psikopat, karena kau terlalu banyak bertanya. Tunggu! Kau tadi bilang apa? Kau melihat ada seseorang yang memakai pakaianku? Ke mana perginya dia?"
"Cih! Tadi kau baru saja mengejekku dengan berkata: aku tidak pantas menjadi seorang psikopat karena terlalu banyak bertanya.. lalu apa yang kau lakukan sekarang? Bukankah itu sebuah pertanyaan?"
"Segera jawab pertanyaanku!"
"Ya Ya baiklah. Aku tadi melihat orang itu pergi ke arah utara." Setelah mendengar itu, Aidan langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Aidan tidak pergi ke arah utara yang diberitahukan oleh Sheila, melainkan Aidan kembali ke Gubuk untuk memastikan siapa orang yang telah berani menggunakan pakaiannya tanpa seizinnya. Sesampainya di dalam gubuk, aidan langsung menghampiri kamar yang ditempati ibunya beserta orang orang yang cukup mengganggunya beberapa hari ini. Aidan berdiri di depan pintu kamar menatap satu persatu tiga orang wanita yang sedang tertidur.
3 orang? Bukankah seharusnya ada 4 orang? Kini aidan tahu siapa seseorang yang sangat lancang kepadanya. Bu Tika merasa ada seseorang yang mengawasinya, hingga dirinya perlahan membuka mata.
Ketika berhasil melihat sekitarnya dengan utuh, Bu Tika menatap Aidan dengan satu alisnya yang terangkat. Bermaksud menanyakan apa yang sedang dilakukan oleh anaknya. Aidan memberikan isyarat tangan untuk mengajak ibunya keluar, dan Bu Tika pun langsung mengikuti.
"Ada apa? " Tanya Bu Tika kepada anaknya ketika sampai di belakang gubuk. Bu Tika memperhatikan ekspresi wajah anaknya, sepertinya menahan emosi, dan bu Tika cemas akan hal itu.
"Ke mana salah satu dari mereka? Mengapa yang tidur dengan ibu hanya 2 orang saja? Bukannya seharusnya ada 3 orang?"
"Apa?! Kamu serius? Gawat! Apa salah satu dari mereka sudah ada yang mencurigai kita. Ibu tidak tahu ke mana pergi nya salah satu dari mereka. Yang Ibu tahu, kalau ini adalah ancaman bagi kita."
"Biarkan yang 1 lolos, yang terpenting masih tersisa 5 orang di sini."
"Kau benar, dan kita harus segera bergerak cepat." Ibu dan anak itu saling menyusun rencana buruk kepada 5 orang remaja, yang tidak mengetahui apapun, kecuali Arvin.
"Setidaknya ada salah satu saja yang kita jadikan korban malam ini, aku sangat ingin meminum darah, karena stok darah sudah habis." Saat berkata seperti itu ekspresi Aidan sangatlah mengerikan,Β membuat siapapun yang melihatnya pasti akan berdidik ngeri. Bayangkan saja, ekspresi manusia yang haus akan rasa darah.
"Sepertinya Ibu tahu siapa orang yang pantas untuk kita jadikan korban malam ini." Bu Tika tersenyum miring.
__ADS_1
Kini ibu dan anak yang memiliki jiwa psikopat itu, sudah menetapkan pandangannya ke salah satu gadis berwajah cantik bernama Nazwa sierra. Aidan dan Bu TikaΒ membawa Nazwa ke tempat yang cukup jauh dari gubuk untuk melancarkan aksinya. Mulut Nazwa dibekap, dengan kain berwarna hitam, agar Nazwa tidak mengeluarkan suara ketika terbangun dari tidur.
Nazwa menggeliat di gendongan Aidan dan membuka matanya secara perlahan. Yang Nazwa lihat pertama kali adalah ekspresi wajah Aidan yang sedang tersenyum menyeramkan. Nazwa tidak mengerti apa yang terjadi mengapa dia bisa berada di gendongan Aidan, dan mengapa Aidan tersenyum kepadanya seperti itu.
Ingin bertanya, tapi mulut Nazwa tertutup oleh kain. Saat ini nazwa sudah tidak bisa berpikir baik lagi, Nazwa memberontak untuk diturunkan namun aidan tidak memperdulikannya.
Di gubuk, Arvin terbangun dari tidurnya dengan perasaan takut dan jantungnya berdebar sangat cepat. "Astaga! Bisa-bisanya gue ketiduran! " Arvin segera beranjak dari tempatnya berada. Arvin memperhatikan sekitar, tidak ada yang aneh, bagi seseorang yang tidak teliti.
Karena Arvin adalah seseorang yang teliti, Arvin bisa melihat kejanggalan dari pintu belakang gubuk yang tidak tertutup rapat. Entah itu bekas akses Recha keluar, atau firasat buruk arvin benar kalau itu adalah Aidan yang melakukannya.
Arvin menjatuhkan pandangannya ke kamar sebelah, dan ternyata kamar itu terbuka cukup lebar, tirai yang menutupi kamar tidak menutup seutuhnya. Arvin terkejut, karena yang dirinya lihat hanya ada Resha di dalam sana. Kalau Recha, Arvin sudah mengetahui Recha pergi ke mana. Tapi yang membuat heran, kemana Bu Tika dan Nazwa? Arvin kembali membuka tirai kamar yang di tempatinya, dan benar saja, kalau di sana tidak ada aidan.
Tanpa berpikir panjang Arvin langsung pergi keluar gubuk mencari keberadaan sahabat debatnya itu. Arvin yakin, kalau Nazwa saat ini sedang dalam bahaya.
...
"Halo, assalamualaikum." Recha menyapa seseorang di seberang telepon.
"Waalaikumsalam. Maaf, ini siapa ya?"
Terdengar suara seorang wanita menjawab salam Recha. Reca sangat mengenali suara itu, itu adalah suara mamahnya. "Ini aku, ma, Recha."
"A-apa?! Ini beneran kamu nak?"
"Iya."
"Masih di hutan tempat percampingan, ma, sekarang aku sama yang lain benar-benar lagi membutuhkan bantuan."
"Tenanglah, sekarang juga papa sama Mama, mungkin akan membawa beberapa orang lainnya untuk menolong kamu dan teman-teman kamu."
"Makasih, ma,. Aku tunggu ya, Ini aku lagi di rumah Pak RT."
"Kamu berhasil keluar dari hutan? Siapa aja yang berhasil keluar?"
"Untuk saat ini cuman aku doang, ma, yang ada di luar hutan, yang lainnya masih ada di sana. Mungkin terdengar egois, tapi aku memang harus main taktik dalam hal ini."
"Kamu nggak egois sayang, tunggu mama ya, ini mama sama papa otw ke sana."
"Oke, ma."
Recha menutup telepon, kemudian menyerahkan kembali handphonenya kepada Pak RT.
"Sekali lagi terimakasih banyak ya pak."
"Sama-sama. Nanti saya beserta beberapa warga juga akan ikut membantu menyelamatkan teman-teman kamu."
...
__ADS_1
Di tengah gelapnya malam, di antara pepohonan yang menjulang tinggi terlihat seorang remaja sedang menelusuri tempat yang ia pijak untuk mencari teman dekatnya. Siapa lagi kalau bukan Arvin, Arvin tidak berteriak memanggil nama Nazwa, karena Arvin tahu itu bukanlah cara mencari yang baik di saat berhadapan dengan seorang psikopat.
Indra pendengaran Arvin benar-benar harus lebih tajam lagi di saat-saat seperti ini, karena panik, Arvin tidak membawa obor atau lilin. Kini Arvin hanya mengandalkan Cahaya bulan yang tidak terlalu terlihat terang. Arvin melangkahkan kakinya berusaha agar tidak mengeluarkan suara yang begitu mendominasi di kesunyian malam.
Dari sebelah kiri Arvin, Arvin bisa mendengar seperti ada suara dibalik semak-semak. Ada dua kemungkinan antara manusia dan hewan yang menimbulkan suara seperti itu.
Arvin menghentikan langkahnya, mengamati sekitar. Tak lama kemudian, Arvin mendengar suara seseorang yang sedang berbincang-bincang tepat di samping kirinya.
"Kita mulai dari mana?"
"Wajahnya begitu cantik, bagaimana kalau dari wajahnya saja?"
"Ide yang tidak terlalu buruk. Ayo Aidan anakku tersayang, buka dulu kain yang menutupi mulutnya itu. Agar suara indahnya bisa terdengar oleh kita." Aidan melakukan apa yang diperintahkan sang ibu.
"A..APA yang mau kalian lakukan?"
"Jangan merasa takut gadis manis, ibu dan aidan ingin memperbaiki kulit wajahmu saja. Agar terlihat lebih berwarna."
"Maksud ibu apa?!"
"Tidak usah terlalu banyak pertanyaan mari kita mulai." Bu Tika mendekatkan pisau kecil di genggamannya ke wajah Nazwa. Tubuh Nazwa bergetar hebat, air matanya pun menetes begitu saja karena ketakutan. Gadis yang terkenal dengan sikap friendly-nya itu kini sedang menatap nanar pisau yang berjarak hanya beberapa senti saja dari matanya. Nazwa masih berharap kalau ini hanyalah mimpi.
Bukan hanya wajahnya saja, tangan kiri Nazwa pun terasa ada yang menggenggam. Oh sekarang bukan hanya genggaman hangat telapak tangan saja tapi ada benda sedikit tajam Yang menggores kulit mulusnya. Nazwa menutup matanya menahan rasa perih akibat goresan benda tajam Yang Nazwa tidak ketahui. Karena Nazwa menutup matanya, bu tika langsung menjalani aksinya dengan menggoreskan sedikit demi sedikit mata pisaunya ke pipi mulus Nazwa.
Awalnya Nazwa meringis, namun karena luka goresan semakin dalam, Nazwa pun berteriak.
"Sungguh indah suaramu. Teruslah berteriak, malam ini akan hampa tanpa rintihanmu." Ucap Bu Tika dengan lembut namun terasa menyakitkan bagi siapapun yang mendengarnya.
Arvin mematung di tempatnya berdiri, tidak bisa berbuat banyak untuk saat ini. Arvin mencoba mencari sebuah balok kayu atau mungkin batu yang bisa mengalihkan perhatian ibu dan anak itu.
Rintihan Nazwa di kesunyian malam amat sangat memilukan di telinga. Sedangkan Arvin, masih memutar otaknya mencoba menyari sesuatu yang bisa menyelamatkan dirinya beserta Nazwa atau mungkin semua teman-temannya dari perbuatan manusia tak berhati seperti, Bu tika, Aidan, dan sheila.
Di dalam Gubuk, Resha sedang kebingungan karena tidak melihat siapa-siapa di sekitarnya. Resha memutuskan untuk pergi keluar kamar dan melihat keadaan sekitar, namun tetap saja, Resha tidak melihat Bu Tika ataupun teman temannya yang lain.
Resha memberanikan diri untuk membangunkan Aksa dan delvin, 5 menit kemudian mereka terbangun, dan mereka bertiga sama-sama memiliki perasaan khawatir kepada Recha Arvin, dan Nazwa. Mereka memutuskan untuk keluar dengan Aksa yang memegang sebuah obor.
"Ingat! Kita jangan sampai berpisah." Peringatan dari Aksa, delvin dan Resha menyetujuinya.
Nazwa terus meminta ampun dengan suara lirihnya, namun tidak didengarkan oleh Bu Tika dan Aidan. Saat pisau yang digenggam aidan hendak memotong jari lentik milik Nazwa, mereka melihat ada cahaya yang berjalan ke arah mereka.
"Sial! Siapa yang berani mengganggu acara bahagiaku?! " Bu Tika dan Aidan sama-sama melemparkan pisaunya ke sembarang arah lalu berdiri dengan bersedekap dada. Bu Tika dan Aidan sangat tidak suka jika ada yang mengganggu kegiatan membahagiakan mereka. Nazwa sangat senang, karena jari jarinya masih utuh walaupun ada darah yang terus menetes.
Cahaya tersebut semakin mendekati mereka, dan....
Hayo digantung lagi sama author. ππββοΈπββοΈπββοΈ
-------------------------
__ADS_1