Malam Tadi

Malam Tadi
bab 24


__ADS_3

Malam itu, aku melihat lukisan seorang wanita cantik, namun di lehernya tertancap sebuah pisau. Keesokan paginya Aku hendak melihat lukisan itu lagi, namun aku tidak menemukannya. Yang aku temukan hanyalah cermin berukuran besar.


.


.


.


.


.


Hari ini bisa dibilang hari perayaan kemenangan bagi 6 orang remaja yang baru saja terbebas dari tempat yang sungguh mengerikan. Tempat yang telah menghabisi beberapa nyawa manusia dengan sadisnya. Tempat yang menjadi saksi bisu bagaimana 3 orang manusia tanpa hati menyantap makhluk sesamanya.


Recha, Resha, Nazwa, Arvin dan juga Aksa sudah kembali mengikuti kegiatan di sekolah sebagaimana mestinya. Ke mana delvin? Delvin sedang menjalani perawatan karena luka tembak di kakinya.


Sesampainya di parkiran sekolah, kelima remaja tersebut disambut dengan Riuh ramai siswa-siswi yang mempertanyakan apa saja yang terjadi selama mereka berada di hutan.


"Kak Aksa, ceritain dong, kalian bersembunyi di mana? Kok bisa terbebas dari psikopat itu?"


"Iya, benar tuh, pasti kalian sempat ketemu sama psikopat itu kan? Tapi kalian mempertaruhkan nyawa kalian hingga masih tetap bertahan sampai hari ini."


"Kak delvin ke mana? Kok nggak masuk sekolah?"


Pertanyaan demi pertanyaan menghujani mereka, namun mereka berlima tidak ada satupun yang membuka mulutnya untuk menjelaskan atau menjawab satu saja pertanyaan.


Nazwa memberi isyarat tangan kepada keempat sahabatnya kemudian mereka segera pergi meninggalkan kerumunan siswa-siswi kepo.


"Gila! Gue serasa jadi selebritis yang kena kasus pidana, lagi di wawancarain sama wartawan." Ujar Nazwa sambil mengatur nafasnya setelah berlari. Saat ini mereka sudah berada di dalam kelas. Untung saja, tidak ada lagi siswa-siswi yang mengikuti mereka.


"Bener banget, iya aja mereka ngumpul-ngumpul kayak gitu minta foto sama gua, ini malah ngasih pertanyaan banyak banget. Kalau dijadiin soal ulangan, entah tuh bisa jadi berapa halaman." Arvin pun merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan Nazwa.


"Terus gimana dong? Mereka pasti nanya-nanya terus sebelum kita jawab." Ucap Resha.


"Aksa aja lah yang ngejelasin, dia kan biasanya maju paling depan."


"Gue mulu yang dijadiin umpan." Aksa sedikit kesal dengan saran dari Arvin.

__ADS_1


"Oh ayolah Aksa, janji deh ini yang terakhir kalinya." Nazwa membujuk.


"Tidak."


"Please lah bro." Kini Arvin yang membujuk.


"Gak."


"Nanti gua traktir, kalau mau." Recha pun ikut angkat bicara.


"Gak, makasih tawarannya."


"Ih pelit banget sih lu. Masa nggak mau ngebantu sahabat sendiri?"


"Iya iya. Gue mau, kapan ngejelasinnya?"


"Anjir! Giliran resha yang ngomong langsung nurut." Nazwa geleng-geleng kepala.


"Males aja kalau ngedengerin Resha ceramah panjang lebar." Aksa mencari alasan.


"Ngeles aja lu, kayak kapal pesiar."


"Oh kapal pesiar udah nggak bisa ngeles lagi?"


"Please deh kok lu jadi ikutan aneh juga sih? Sama kayak Nana, Arvin, dan delvin. Fix, circle kita nambah gestrek." Resha merasa aneh dengan saudari kembarnya yang tiba-tiba berubah menjadi humoris.


"Mungkin ini efek makan daging manusia kemarin."


'hkueeeekkkkk!!' aksa, Resha, arvin, dan Nazwa hendak mengeluarkan isi perutnya ketika mendengar perkataan Recha.


"Udah, gak usah sok-sokan mau muntah, percuma! Si daging manusia itu udah diproduksi sama usus." Recha kembali mengeluarkan kata-kata yang membuat ekspresi wajah ketiga sahabatnya beserta saudarinya merah padam.


"Jangan sampai ada yang ketagihan sama rasa daging manusia." Harap Nazwa.


Mereka semua mengaminkan, tak lama kemudian para siswa-siswi yang satu kelas dengan mereka memasuki kelas. Bel pelajaran dimulai pun berbunyi, dan Bu Kinara selaku guru matematika memasuki kelas.


"Anjir! Baru pertama masuk sekolah jam pertamanya matematika pula. Fix kalau ada Bu Tika sama aidan otak gua dijadiin sayur santan." Gumam Arvin sambil mengeluarkan buku catatan matematikanya.

__ADS_1


Tak lama pelajaran yang membuat kepala sebagian orang mengeluarkan asap tersebut berlangsung ada seseorang yang mengetuk pintu kelas.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk!"


Setelah perintah dari ibu Kinara, pintu kelas pun terbuka dan memperlihatkan Pak Rudi beserta seorang wanita di belakangnya.


"Siapa?"


"Ini, Ibu Kinara, ada murid baru."


"Oh, silakan perkenalkan diri kamu di hadapan teman-teman."


"Halo semua salam ke nal namaku-..."


Recha mendongakkan kepalanya melihat ke arah depan. "Sheila...."




Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.



HAllooooo... 👋👋👋👋



Sumpah aku rindu berat sama kalian semua para pembaca setia malam tadi.



Bagaimana kabarnya? Aku harap baik dan akan selalu baik yaa.


__ADS_1


Insya Allah, mulai hari ini, aku akan update seperti biasanya lagi. Maaf sudah membuat menunggu lama, dan terimakasih banyak karena masih setia menanti novel ini. ❤️🥰🥰


__ADS_2