Malam Tadi

Malam Tadi
bab 19


__ADS_3

Mengapa ayah menatapku datar dari langit-langit kamar mandi? Seingatku, ayah ada di dalam koper.


.


.


.


.


.


Saat ini, Recha dan yang lain beserta bu tika juga Aidan sedang berada di kebun milik Bu Tika yang cukup luas. Bu Tika dan Aidan mengajarkan mereka cara menanam bibit-bibit sayuran yang baik dan benar.


"Apa aku boleh bergabung? " Tanya seseorang yang baru datang.


"Tentu, boleh ayo sini sheila." Setelah mendapat izin dari Bu Tika, Sheila bergabung dengan yang lainnya. Mereka yang tidak mengenal sheila saling bertatap-tatapan.


"Dia sheila, dia tinggal di hutan ini juga bersama ibu dan saya." Aidan yang mengerti langsung menjelaskan.


Resha, Nazwa, Aksa, Arvin dan Delvin mengangguk mengerti.


"Bu, aku izin ke gubuk sebentar boleh? " Ujar recha meminta izin kepada Bu Tika.


"Boleh."


"Saya juga izin ke sungai, ya, Bu, mau buang air kecil." Sahut Arvin, Bu Tika pun memberi izin. Arvin dan Recha meninggalkan kebun menuju ke tujuannya masing-masing.


"Lu mau ngapain ke gubuk? " Selidik Arvin kepada Recha.


"Ada aja."


"Udah deh, lu itu nggak usah bohong, apa jangan-jangan kita satu pemikiran? " Tanya Arvin tiba-tiba membuat recha heran.


"Pemikiran apa?"


"Oh ayolah Recha.. gua itu orangnya kayak gimana."


Recha terlihat berpikir sejenak. Recha baru ingat, kalau Arvin adalah salah satu temannya yang sangat jeli akan sesuatu hal. ada satu titik pun hal yang mengganjal di pikirannya Arvin pasti langsung menyelidikinya lebih dalam.


"Udah ngerti kan apa yang gua maksud? " Tanya Arvin ketika melihat Recha berpikir cukup lama.


"Tapi gue nggak mau suudzon."

__ADS_1


"Ais! Setiap suatu hal itu pasti ada sisi positif dan sisi negatifnya. Lebih baik kita menduga-duga sisi negatifnya dulu, biar pas beneran kejadian, kita nggak terlalu kaget Dan panik."


"Iya sih benar, emang apa yang memicu lu sampai bisa berpikir kayak gitu?"


Sebelum menjawab pertanyaan Recha, Arvin terlebih dahulu menoleh ke sana kemari berharap. tidak ada yang memperhatikan mereka berdua.


"Ada banyak hal yang memperkuat gue untuk berpikir demikian. Yang pertama, ini benar-benar sesuatu yang bikin gue memiliki kecurigaan besar. Lu masih ingat kan? Tentang Bu Tika yang menceritakan ke kita semua, tentang penderita psycho."


Recha mengangguk Arvin melanjutkan ucapannya.


"Nah, yang menimbulkan pertanyaan besar di dalam otak gue, dari mana bu tika bisa tahu tentang cerita itu?"


"Dari sheila? Lalu Sheila, dapat informasi itu dari mana? " Arvin melanjutkan pertanyaannya, dan Recha kembali berpikir keras.


"Coba sekarang, lu sebutin kemungkinan arti dari pertanyaan gue tadi." Arvin menyuruh recha.


Recha menarik nafas panjang.. lalu menghembuskannya.


"Ya, kemungkinannya, mereka bertiga adalah pasien. Karena, memang nggak ada yang kasih penjelasan dari mana sumber informasi yang Bu Tika sampaikan ke kita.. memang mungkin aja psikiater yang memberikan informasi kepada Bu Tika, tapi gue rasa nggak mungkin.. karena pihak RSj akan merahasiakannya dan Oh come on! Jarak dari desa ke tempat ini cukup jauh.. untuk apa psikiater itu datang kemari, atau untuk apa, Bu Tika datang ke sana?"


"Oke gue tambahin lagi pertanyaannya." Arvin menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan bicara.


"Udah udah cukup! Pertanyaan dan semua kemungkinan negatifnya udah ada di otak gue." Recha menyela.


"Oke, jadi apa yang mau kita perbuat?"


"Gimana kalau kita bagi tugas "


"Tugas apaan?"


"Jadi tugas lu menyelidiki kebenarannya dan tugas gue mencari jalan keluar dari hutan ini." Arvin pun menyetujui kesepakatan yang dibuat oleh recha.


Arvin dan Recha menukar tujuannya, sekarang Arvin yang ke gubuk, dan recha yang ke sungai.


...


tempat yang Arvin datangi pertama kali, adalah bagian belakang gubuk, karena hanya tempat itu saja, yang belum pernah Arvin selidiki. Arvin melihat ada sebuah lemari kayu berukuran sedang di salah satu sisi gubuk bagian belakang. Arvin mendekatinya sambil menoleh ke sana kemari.


Krieeeekkk!! Pintu lemari tersebut ketika dibuka mengeluarkan suara cukup keras.


Arvin tercengang melihat isi dari lemari tersebut, karena di dalamnya terdapat benda-benda tajam seperti parang, golok, pisau lipat, pisau dapur dan lain-lain. Ternyata lemari tersebut terdiri dari tiga tingkat dan tingkat paling atas diisi oleh benda-benda tajam. Arvin beralih menatap tingkat kedua di mana, di sana, terdapat pakaian serba hitam dengan topeng khas psikopat ketika hendak menjalankan aksinya. Dari pakaian serba hitam itu tercium aroma darah.


Sekarang Arvin berjongkok untuk melihat tingkat dasar lemari tersebut, dan Arvin semakin dibuat terkejut karena di bawah sana ada beberapa kepala manusia beserta organ tubuh lainnya. Arvin sebenarnya sudah tidak kuat lagi melihatnya, namun karena tidak ingin terlalu lama-lama berdekatan dengan psikopat, Arvin mencoba untuk menguatkan dirinya.

__ADS_1


Arvin kembali menutup lemari tersebut, lalu beralih ke baskom besar di dekat lemari tersebut Arvin dapat informasi dari Recha kalau biasanya bu tika mengambil daging dari baskom besar itu. Arvin semakin merasa mual, karena mungkin saja, daging yang selama ini Arvin konsumsi dan yang bu Tika masak adalah... Daging... Manusia...


Arvin tidak jadi membuka baskom yang ditutup oleh daun pisang tersebut karena saat ini pikiran Arvin sudah tidak bisa berpikir jernih.


Arvin melangkahkan kakinya gontai kembali ke kebun tempat teman-temannya berkumpul.


...


Di Lain tempat, Recha mencoba menghampiri seorang bapak-bapak di tepi sungai. Bapak-bapak tersebut terlihat mengendap-ngendap, dan sepertinya sedang ketakutan. Recha menghampirinya.


"Permisi Pak."


Ketika mendengar suara seseorang bapak-bapak itu langsung melompat ke dalam sungai dan menyelam ke dalam air.


"Pak, saya bukan psikopat yang Bapak waspadai." Teriak Recha lantang, berharap terdengar sampai ke telinga bapak-bapak di bawah sana.. Recha tidak akan menyia-nyiakan ini karena mungkin saja, bapak-bapak itu mengetahui jalan keluar dari hutan ini.


3 menit kemudian Bapak tersebut mendongakkan kepalanya dari dalam air. Bapak itu berpikir kalau psikopat sudah pergi dan dia bisa kembali ke rumahnya dengan selamat.


Recha yang melihat bapak itu mendongakkan kepalanya langsung menatapnya serius, alhasil mereka pun saling bertatapan.


"Ka-kamu siapa???"


Bapak itu bertanya kepada Recha dengan suara bergetar.


"nama saya Natalie Marecha, pak, panggil aja saya Recha. Saya dengan beberapa teman saya tersesat saat camping. Dan saya sedang mencari jalan keluarnya."


Bapak-bapak itu bangkit berdiri, lalu mulai mendekati Recha. "Teman-teman kamu semuanya selamat?"


"Alhamdulillah selamat pak, tapi saya rasa kalau semakin lama, nyawa kami juga akan melayang."


"Mari ikut saya, rumah saya tidak jauh dari tempat percampingan, saya kemari untuk mencari tanaman herbal untuk istri saya yang sedang sakit. Saya juga sebenarnya nggak mau datang ke sini, karena kalau saya menginjakkan kaki ke sini sama saja saya menyerahkan nyawa saya dengan gratis. Dan saya nggak mau, mati di tangan manusia kejam seperti mereka bertiga."


Bapak itu bercerita dengan lancarnya, dan itu membuat recha senang. "Baguslah, gue jadi nggak perlu melontarkan banyak pertanyaan." Batin Recha.


"Tunggu! Kalau bapak tadi bilang bertiga berarti memang..." Recha semakin yakin ketika mendengar perkataan bapak-bapak di hadapannya.


"Jadi bagaimana dek? Apa kamu mau ikut ke rumah saya? Biar nanti adik bisa keluar dari hutan ini dengan selamat. Eh, nggak bakal selamat juga sih, emangnya saya Tuhan bisa memastikan keselamatan kamu dan teman-teman kamu." Setelah berucap demikian bapak-bapak itu cengengesan nggak jelas.


"Makasih banyak Pak, untuk tawaran dan kesempatannya, Bapak silakan kasih tanda-tanda aja, jalur dari sini ke rumah bapak, nanti saya dan teman-teman saya akan mengikuti tanda-tanda yang Bapak berikan. Untuk saat ini saya belum terlalu membutuhkan jalan keluar, karena saya harus menyusun rencana agar bisa mengalihkan perhatian psikopat itu."


Sebelum Bapak tersebut memberi tanggapan, dari belakang Recha terdengar langkah kaki seseorang.


-------------------------

__ADS_1


__ADS_2