Mantan Jadi Mertua

Mantan Jadi Mertua
Bab 10


__ADS_3

Pintu terbuka Oma Aurora shock melihat Firman dan Zie yang tengah bercumbu mesra, begitulah pikiran Aurora saat ini.


Menyadari ada yang masuk bibir Firman tersenyum samar, lalu menjauh dari Zie dan beralih melihat Aurora.


"Oma," Firman tersenyum lalu kembali duduk di kursi kebesaran nya.


"Oma?" Zie panik, seketika tersadar dan memutar lehernya.


Aurora tersenyum kecil, wajahnya mendadak memucat karena malu merasa mengganggu dua sejoli yang sedang bermesraan.


Firman menatap Zie.


Wajah Zie begitu panik, bangun dan merapikan pakaian nya agar terlihat lebih sopan di hadapan Aurora.


"Maaf ya, Oma sudah mengganggu," ujar Aurora sembari tersenyum lembut.


Mulut Zie ternganga apa yang kini di pikiran Aurora tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Oma, Zie-"


"Zie adalah calon istri Firman Oma!" Dengan cepat Firman menimpali.


Zie menggeleng, jantung Zie bahkan ingin meloncat keluar saat kata-kata mengerikan itu keluar dari bibir Firman.


"Oma-"


"Firman dan Zie sedang marahan Oma, jadi Zie ngambek," timpal Firman lagi.


Aurora tersenyum membuat tangannya mengelus lembut lengan bagian atas Zie.


"Iya Oma mengerti, Oma juga pernah muda dan Oma harap hubungkan kalian segera di halalkan ya," ujar Oma Aurora bertambah senyum bahagia.


Zie mendadak gagu situasi sulit yang kini mengarah pada dirinya, ia hanya bisa menggerakkan tangannya tanpa bisa berucap apapun sangking shock nya.


Firman bangun dari duduknya dan mendekati Zie, "Sudah ya, marahan nya......" Firman merangkul pundak Zie seakan keduanya adalah sepasang kekasih.


Zie tidak henti-hentinya shock pertama kalinya Firman tersenyum lembut dan juga seakan keduanya adalah pasangan kekasih yang di mabuk asmara.


"Ish!" Zie berusaha melepaskan diri tetapi, Firman semakin mengeratkan tangannya.


"Oma punya serangan jantung," bisik Firman.


Zie terkejut tidak ingin terjadi sesuatu hal buruk pada Aurora karena dirinya dan akhirnya Zie memutuskan tetap tenang.


"Wah......" Aurora langsung duduk di sofa, tidak lupa membawa Zie duduk di sampingnya.


Wajah Aurora terlihat begitu bahagia mendengar kabar baik hari ini, tangannya memegang tangan Zie.


"Kenapa kamu tidak bilang terus terang kalau kalian berpacaran? Tau begini Oma tidak akan maksa Firman menikahi Vika,"


Zie mengerjapkan mata ingin mengatakan yang sebenarnya tetapi tidak berani karena, Firman mengatakan penyakit Aurora yang berbahaya.


Akan tetapi Zie juga tidak ingin di sebut kekasih Firman, perjaka tua bukan lah tipekal lelaki idaman Zie.

__ADS_1


"Zie, kamu kenapa diam saja," kata Oma Aurora masih dengan raut wajah bahagia.


"Dia memang sedikit pemalu Oma," ujar Firman.


Zie ingin sekali mencabik-cabik wajah Firman dengan kuku panjangnya, bahkan mencincang dan memberikan untuk makan kucing peliharaan nya.


Jawaban Firman seakan menggambarkan bahwa mereka memang sudah memiliki kedekatan yang sudah cukup jauh.


"Aduh Zie, Oma senang nya bukan main. Kamu bisa masak?"


"Bisa Oma, Zie bisa masak, bisa bikin kopi, bisa menyeterika bahkan bisa benerin genteng," jelas Firman.


Zie sampai melongo bisa memasak, bisa bikin kopi, bisa menyeterika dan membetulkan genteng dari mana?


Untuk memasak air saja bisa gosong.


Sejauh ini Firman semakin membuatnya jengkel, biarkan Zie menahan amarah sampai Aurora pulang. Dan Firman akan merasakan kuku panjang miliknya.


Itu pasti!


"Wah, kamu memang luar biasa. Oma tidak perduli mau kamu anak dari kalangan bawah tapi, Oma mau kamu jadi cucu menantu Oma," pinta Aurora penuh harap.


Aurora dapat menilai Zie dari pakaian yang di kenakalan, melihat yang terpasang di tubuh Zie bukanlah pakaian bermerek dan Aurora menyimpulkan bahwa Zie dari kalangan bawah.


Bukan maksud menyindir tetapi, Aurora tidak ingin ada perasaan minder di hati Zie dan menolak di nikahi cucu kesayangan nya Firman.


Apa lagi mengingat usia Firman yang tidak lagi muda, Aurora juga membutuhkan teman saat di rumah. Ingin menimang anak dari Firman dan mengajaknya bermain, menikmati hari tua dengan sangat bahagia.


Zie ingin sekali muntah, untung saja Aurora masih belum pergi. Jika tidak mungkin ia sudah muntah pada wajah Firman yang sangat menjengkelkan.


"Iya, dan Oma cuman minta cucu!" Tambah Aurora lagi semakin bahagia.


Oh tidak!


Sampai sejauh ini pembicaraan Aurora semakin tidak karuan saja.


Entah apa yang di pikirkan oleh Firman saat ini, tetapi senyuman Firman seakan menertawakan Zie yang tengah menahan emosi.


"Tentu saja Oma," jawab Firman sambil tersenyum pada Zie.


"Apa?!" Pekik Zie.


"Zie," Firman duduk di samping Zie.


Posisi Zie berada di antara Aurora dan juga Firman.


"Jangan marah lagi ya, nanti saya belikan jengkol sesuai kesukaan mu," kata Firman.


Jengkol!


Oh tidak, batin Zie menjerit.


"Kamu suka jengkol Zie?" Aurora semakin antusias mengingat jengkol dan petai adalah makanan kesukaan nya.

__ADS_1


Zie tidak suka jengkol apa lagi petai mungkin Bunda Ziva memang menyukai nya tapi tidak dengan Zie. Mendengar namanya saja ingin muntah.


"Oma," Zie menggaruk tengkuknya sambil bingung dengan situasi nya saat ini.


Zie memang nakal, bahkan tidak jarang membuat ulah tetapi, bukan berarti Zie tidak tahu tatacara saat berhadapan dengan orang tua.


"Sudah Oma, kasihan Zie wajahnya sudah merah begitu," Firman terkekeh merasa dibatas angin.


"Iya juga ya, maaf ya Zie kalau Oma membuat kamu tidak nyaman itu karena Oma terlalu bahagia."


Zie tersenyum kecut.


"Oma," Firman bangun dari duduknya dan mengambil cangkir kopi beberapa saat lalu Zie membuatkan untuk nya, "Ini kopi buatan Zie," Firman tahu Aurora sangat suka meminum kopi.


Firman yakin kopi buatan Zie kali ini pun sama saja tidak ada bedanya dengan kemari hari dan dengan harapan Aurora akan menyemburkannya di wajah Zie.


"Oma sangat suka kopi," Aurora mulai menyeruput.


Firman menantikan reaksi Aurora setelah meminum kopi.


"Em, ini enak sekali dan Oma suka pantas saja Firman memuji kopi buatan mu," Aurora menyeruput sampai beberapa kali, menikmati kopi nikmat racikan Zie.


Firman shock dengan reaksi Oma Aurora, padahal kemarin sudah jelas rasa kopi buatan Zie seperti oli.


Zie mendapatkan ide dan ia tersenyum pada Firman.


"Pak Firman mau saya buatkan yang baru?"


Firman mulai penasaran dan ia mengangguk, ingin membuktikan apa yang di rasakan oleh Aurora.


"Oma sebentar ya, Zie akan menyeduh kan kopi untuk Pak Firman."


"Iya, tapi panggilan kalian lucu sekali ya. Kamu manggil pacar sendiri Pak Firman, tapi tidak apa yang penting nyaman," kata Aurora.


Zie segera menuju pantry, membuatkan secangkir kopi untuk Firman.


Selesai membuat Zie kembali ke ruangan Presdir memberikan kopi racikannya pada Firman.


"Ayo Pak," Zie memberikan pada Firman.


"Ayo Firman, kopi ini enak," Aurora kembali menyeruput kopi hingga beberapa kali.


Firman menatap horor cangkir kopi di tangannya, mengingat saat kemarin rasa kopi Zie yang mengerikan.


"Ayo!"


Firman mulai meneguk kopi dan


****


Tolong lah emak-emak cakep dan imut unyu-unyu kasih like dan Vote ya.


Terutama emak-emak yang otaknya udah traveling, hehehehe.

__ADS_1


__ADS_2