Mantan Jadi Mertua

Mantan Jadi Mertua
Bab 17


__ADS_3

Aurora kembali masuk dengan Firman yang juga ikut masuk bersama nya.


"Kamu itu bagaimana sih," Aurora sangat berapi-api menatap Firman lalu beralih menatap Zie dengan penuh rasa kasihan, "kamu nyuruh Zie untuk membersikan ruangan kamu!"


Ingin sekali Aurora menendang Firman ke samudera Atlantik, agar bisa membuat otaknya lebih jernih.


"Lihat ruangan mu!" Aurora menunjuk sekiranya, "berantakan, seperti habis di goncang gempa berkekuatan dahsyat! Dan kau meminta Zie yang membersikan nya? Kamu punya otak!"


"Oma, masalah nya di mana?"


Tidak ada lagi belas kasih untuk Zie, Firman sudah tidak tertarik sama sekali.


Mungkinkah?


Sehingga alasan Firman kini membuat Zie tersiksa dengan harapan ia tidak akan lagi menyukai Zie.


"Kamu masih bertanya sialan!"


"Oma, ayolah. Firman sedang pusing," berharap kali ini Aurora bisa di ajak berkerja sama dengan tidak terus mengomel.


Tapi sayang.


Tidak ada ampun untuk Firman.


"Zie apa Firman sering memperlakukan mu seperti ini?" Tanya Aurora menatap Zie.


Kesempatan.


Tidak boleh ada yang di sia-siakan, kali inipun sama.


"Iya Oma, tangan Zie jadi kasar."


Bagai petir yang menyambar di pagi hari yang cerah, Zie benar-benar tidak ingin kalah detik ini pun di hadapan Vika.


Sekalipun Firman yang tersudutkan, biar saja itu juga bagian dari pembalasan nya karena sudah menjadikannya tukang bersih-bersih.


"Apa maksud mu?"


Tatapan mata Firman terpancar penuh kemarahan, mengerti Zie kini seakan ingin membuat nya tersudut di hadapan Aurora.


"Oma, lihat Pak Firman, gimana Zie mau buru-buru nikah kalau dia kasar begini," Zie memeluk tubuh Aurora, seakan kini sangat tersakiti.


"Sudah sayang, dia akan berhadapan dengan Oma," Aurora mengelus punggung Zie, takut jika nanti Zie malah meninggalkan cucu bujang lapuk nya.


Aurora sangat menginginkan pernikahan Firman, sulit sekali cucunya jatuh hati sehingga Aurora tidak ingin kehilangan Zie.


Mungkin juga setelah Zie pergi Firman malah tidak pernah lagi tertarik pada wanita, atau bahkan ia kembali gundah karena menganggap tidak normal.


Tidak!


Aurora tidak siap, ia butuh penerus perusahan mendiang suaminya yaitu anak dari Firman.


"Sekarang kau yang harus membersihkan ruangan mu sendiri!" Titah Aurora tanpa ingin di bantah.


Apa?

__ADS_1


Membersihkan ruangannya?


Sejak kapan Presdir memegang sapu.


"Oma, apa itu mungkin?"


"Kenapa tidak?!" Tantang Aurora.


"Oma, Zie haus, tapi harus Pak Firman yang mengambil air minum ke pantry," rengek Zie sambil terus memeluk lengang Aurora.


"Hey, kau jangan gila!" Bentak Firman.


Vika tersenyum penuh kemenangan, melihat Firman membentak Zie artinya adalah sebuah kemenangan untuk nya.


"Udahlah kita putus aja!"


Putus?


Sejak kapan Zie dan Firman berpacaran.


Ingin selalu Zie muntah tetapi harus di tahan dulu, karena harus membungkam mulut Vika.


"Jangan-jangan," Aurora panik bukan kepalang, seketika tatapannya beralih pada Firman, "Firman, ambilkan minum untuk Zie, sekarang."


"Oma?"


"Sekarang Firman!"


Firman menatap Zie dengan tajam, perlahan kakinya keluar dari ruangan nya dan segera menuju pantry.


Sial.


Kembali dengan membawa segelas air putih untuk Zie.


"Apa perlu aku yang menuangkan nya juga kedalam mulut mu!" Sergah Firman.


"Oma," Zie menangis, menjerit dengan sekencang mungkin, "Zie, udah enggak bisa sama Pak Firman, Zie pamit."


Zie langsung menuju pintu dan ingin keluar.


Aurora mendekati Firman, "Besok kau dan Vika harus menikah!"


Firman lebih memilih mengejar Zie, menarik tangan bocah ingusan itu hingga terhuyung.


"Kasar banget sih!" Kesal Zie.


"Firman dan Zie tidak akan putus," kata Firman sambil merangkul pundak Zie.


Zie tersenyum menatap Vika.


"Oma lalu gimana dengan Vika?"


Wajah melas Vika begitu terlihat, Aurora sudah berjanji sejak dulu menyatukan diri nya dan Firman tetapi, sampai saat ini pun tidak nyatanya.


"Vika, Oma minta maaf. Lebih baik kamu cari kebahagiaan lain, sudah bertahun-tahun tetapi tidak sampai saat ini pun kamu bisa membuat Firman luluh."

__ADS_1


Sekalipun tidak tega, Aurora harus mengatakan, mengingat Vika juga selama ini sendiri karena terus menunggu Firman yang tidak perduli sama sekali padanya.


"Ehem, Ehem," Zie melingkar tangannya pada tengkuk Firman, seolah tengah menikmati kemenangan.


"Tapi Oma."


"Kamu harus bahagia dengan pria lain," Aurora mengusap punggung Vika.


Vika menatap Zie yang tengah menunjukkan kemesraan nya dengan Firman.


"Apa-apaan bocah ingusan ini," batin Vika geram sampai ke akar-akarnya.


"Pak Firman sayang nggak sih sama Zie?" Tanya Zie dengan manja.


Firman menegang, apa bocah itu tidak tahu jika Firman merasa gelagat aneh yang mendadak semakin terasa.


"Firman, jawab!" Seru Aurora.


"Ini urusan kami, Oma tidak harus mendengarnya!" Tandas Firman.


"Ok," Aurora mengerti, mengingat semua orang butuh privasi begitu juga dengan Firman, "Oma mau dalam waktu dekat ini kamu menemui keluarga Zie dan melamarnya, Oma tidak mau tahu! Kalau tidak kamu harus menikahi Vika!"


Degh!


Zie langsung menjauh, ini tidak termasuk dalam rencana nya.


"Oma, Zie belum selesai kuliah. Nanti Ibu bisa marah Oma, Zie ini orang miskin, Ibu cuman buruh cuci dan Ayah kuli bangunan, cita-cita mereka adalah melihat Zie memakai baju toga," lirih Zie dengan wajah melasnya.


Firman ingin sekali meremas wajah Zie, sambil berkata, miskin dari Hongkong!


Aurora mungkin tidak tahu siapa Zie dan percaya dengan mudah tetapi, tidak dengan dirinya.


"Ya sudah, Oma sabar menunggu. Bagaimana pun impian orang tua adalah hal utama," Aurora lagi-lagi berpihak pada Zie hingga membuat senyum di bibir Zie.


"Alah alasan, bilang aja kalau cuman mau morotin uang nya doang," pekik Vika.


Semua mata mulai menatap Vika, tidak terkecuali Firman yang malah mulai jijik dengan kelakuan Vika.


Mungkin jika saja tidak tahu siapa Zie bisa saja pikirannya sama tetapi, saat ini tidak, setelah tahu Zie terlahir dari keluarga Zavano pengusaha sukses.


"Vika kamu kenapa ngomong begitu?" Tanya Aurora.


"Dia di ajak menikah banyak alasan, tapi di pacarin doang mau," jelas Vika mengejek.


Aurora seketika menatap Zie penuh tanya.


"Iya sih Oma, wajar kan Oma kalau Zie minta sesuatu sama Pak Firman, Zie ini orang susah Oma, tidak pernah tahu rasanya punya barang mahal," bohong Zie.


Apa lagi anak ini?


Firman tidak menyangka Zie begitu hebat menutupi siapa dirinya sebenarnya.


"Firman, hukuman kamu karena sudah memerintahkan Zie membersihkan ruangan mu adalah mengajaknya berbelanja, sesuai dengan keinginan nya tanpa ada limit! Tegas Aurora.


Apa lagi ini, mengapa sekarang malah di jadikan ATM untuk Zie.

__ADS_1


"Bu Vika, Zie mau shopping manja sama Pak Firman dulu ya," Zie berpindah mendekati Firman, bergelayut manja pada lengan Firman.


Sulit sekali, kenapa malah Zie semakin menjadi-jadi, bagaimana caranya bisa membuat nya benci pada Zie kalau Zie terus saja membuatnya panas dingin.


__ADS_2