
Keesokan harinya Zie benar-benar ingin menjalankan tugas dari Aurora, sekaligus ingin membuat Niken tutup mulut karena taruhan yang ia menangkan.
"Assalamualaikum Bunda!!!" Seru Alma.
Seperti biasanya, jika Alma tidak menginap di rumah Zie maka pagi harinya ia akan menjemput Zie dan bersama-sama berangkat ke kampus atau pun kemana saja asalkan berdua.
Keduanya seperti semut dan gula, tidak pernah bisa di pisahkan bahkan walaupun hanya satu hari saja.
"Waalaikumusalam."
Ziva tersenyum melihat Alma datang langsung memeluknya yang tengah sibuk memasak sarapan.
"Bunda, Zie di mana?"
"Di kamar."
"Alma ke kamar Zie ya Bunda?"
"Iya."
Alma langsung berlari menuju lift, sebenarnya biasanya Alma lebih suka menaiki anak tangga tetapi, Alma sedang menghemat tenaga untuk hal-hal yang akan mungkin terjadi nanti.
"Zie!!!"
Alma langsung masuk sambil berteriak.
Lipstik yang sedang mengarah pada bibir akhirnya tergores asal, "Lu bener-bener ya!" geram Zie.
"Ahahahahah....... Sorry!"
"Buruan!"
Zie langsung menyambar tas tangan yang sudah ia siapkan di atas ranjang, lalu cepat-cepat keluar dari kamar.
"Tunggu!!"
Alma langsung berlari dan menyusul Zie.
"Zie, Alma ayo sarapan......" ujar Ziva setelah berteriak saat Zie dan Alma melewati nya.
"Zie sama Alma buru-buru Bun, Zie pamit ya."
Alma naik ke atas mobil dan di susul oleh Zie. Tetapi ada yang berbeda saat ini, Alma mengangkat kedua tangannya dan menutup mata.
"Ada apa?" Zie bingung melihat tingkah aneh Alma.
"Berdoa, semoga Lamborghini kita hari ini bersahabat!" Celetuk Alma sambil menyalakan mesin mobil.
"Sialan lu!" Zie terkekeh geli mendengar jawaban Alma.
Doa Alma terkabul, pagi ini mobil butut yang ia sebut Lamborghini melaju dengan kecepatan sedang dan juga terparkir dengan baik.
"Enak kali ya kita parkir di tempat khusus Presiden direktur," usul Zie.
"Kalau ingin bebas jangan buat masalah, gue udah bahagia banget menikmati kebebasan ini," tegas Alma, "ingat ya Zie, kita harus menang taruhan dengan Niken, karena kalau enggak lu bakalan jadi babu dan Ayah enggak akan diam aja, otomatis kebebasan kita tinggal mimpi!" Alma memberikan peringatan.
"Iya, gue ngerti!"
__ADS_1
Zie dan Alma turun dari mobil, dengan berjalan beriringan.
"Zie kok ke sini?" Alma melihat Zie membawanya ke toilet.
"Bentar!"
Zie masuk ke dalam toilet, mengganti pakaian dengan pakaian yang sudah di siapkan di dalam tas.
"Zie?" Alma terperangah melihat Zie mengganti pakaiannya dengan pakaian mini.
"Udah tengang aja, kalau gue pakai beginian dari rumah bisa abis gue sama Bunda."
"Iya sih Zie," Alma mengangguk mengerti, "cuman masalahnya lu bisa enggak, heels dan juga rok begini?" Alma cukup ragu dengan keputusan Zie.
"Tenang," Zie mengibas tangannya seakan santai saja, "kan ini cara menguji normal atau tidak Pak Firman, kalau gue berhasil artinya gue bisa dekat sama dia dan?" Zie tersenyum menatap Alma.
"Kita memang taruhan, kebebasan yang hakiki!!!"
Seru Alma sekencang mungkin.
"Suuuttt."
Zie sadar Alma juga bahagia tetapi, ia takut ada yang mendengar percakapan mereka yang nantinya sampai di telinga Firman.
"Hehehe....." Alma terlalu bahagia, ia masih saja mengukir senyum.
Merubah dandanan menjadi wanita lebih dewasa, rok mini berpadu dengan blazer hitam membuat penampilan Zie terlihat begitu sempurna.
Tubuh tinggi, rambut Curly dengan warna kecoklatan membuatnya terlihat semakin elegan.
Zie langsung berjalan menuju lift begitu juga dengan Alma di sampingnya, begitu pintu lift terbuka keduanya langsung masuk tanpa memperhatikan ada dua orang pria yang sudah terlebih dahulu masuk.
Firman menunjukkan wajah datarnya, wanita pembuat onar kini berdiri di depan nya.
"Zie, Alma, kenapa kalian ikut masuk pada lift ini?" Tanya Rian.
"Memangnya kenapa Pak? Tidak boleh?" Tanya Zie kembali.
Pintu lift tertutup Zie mundur selangkah, tanpa sadar malah menginjak kaki Firman.
"Sssstttt....." Firman mendesis merasa kesakitan.
"Zie!" Alma menunjuk ke bawah.
"Apa?" Dengan santai nya Zie melihat ke bawah, "OMG!" Cepat-cepat Zie menjauh.
"Ini lift khusus Presiden direktur!" Papar Rian.
Zie langsung menatap Alma begitu pun sebaliknya.
"Jadi kita salah masuk Zie," kata Alma dengan wajah menahan malu.
"Ya ampun, kebanyakan bergaul sama Alma aku ikutan Lola," kata Zie dengan suara yang kecil, bahkan semut pun mungkin tidak bisa mendengar.
Zie melipat tangan di dada dan membuka sedikit kakinya, berdiri dengan santai tanpa merasa bersalah.
Padahal tanpa di ketahui ia tengah berusaha menutupi rasa malu.
__ADS_1
Setiap ada kesempatan harus lah di manfaatkan sebaik mungkin, Zie mulai menebar pesona demi menjalankan misinya.
Aroma strawberry menyeruak ke dalam indra penciuman Firman, sesekali Zie mengibaskan rambutnya agar terlihat mempesona.
Firman mundur selangkah dan memilih menatap ke lain arah, tidak ingin perduli pada wanita aneh di hadapannya.
Ting.
Pintu lift terbuka.
Firman langsung keluar dengan menyenggol lengan Zie.
"Jangan sampai ini terjadi untuk yang kedua kali!" Ujar Firman pada Rian.
"Auuuu!!!!" Zie meringis merasakan sakit pada lengannya, menatap punggung Firman dari kejauhan, "Awas kau dosen sialan," Zie ingin sekali mencongkel kedua mata Firman saat ini juga.
Napas naik turun menandakan tengah menahan emosi dan amarah yang luar biasa.
"Ahahahhaha....." Alma tertawa habis-habisan melihat wajah kesal Zie.
Zie menatap Alma dengan tajam.
"Udah tebar pesona, malah dikacangin," ejek Alma sambil memeluk perutnya.
Karena tidak kuasa lagi menahan tawa dari sejak melihat exspresi wajah datar Firman padahal Zie sudah tebar pesona dengan susah payahnya.
"CK!" Zie tidak perduli dengan Alma, seketika kakinya melangkah masuk kedalam ruangan Presdir.
Tangan Zie mendorong pintu lalu masuk tanpa meminta izin.
Tatapan Firman begitu tajam padanya, tapi itu tidak masalah bagi Zie.
"Selamat pagi Pak Presdir?" Sapa Zie dengan senyuman.
Tidak ada jawaban, bahkan Firman malah beralih pada komputer.
"Mmmmfffffpp!!!" Alma kembali menahan tawa saat berdiri di belakang Zie.
Tidak masalah apa itu hidup bila tidak ada rintangan ingin bebas harus melewati rintangan, senyuman kembali di pancarkan semenarik mungkin.
"Pak Presdir aku akan membuatkan kopi untuk mu," tawar Zie.
Firman hanya diam dan tidak perduli, bahkan tidak melirik sedikit pun.
"Baiklah, tunggu sebentar," Zie berbalik tetapi tanpa sengaja ia malah menabrak daun pintu.
Plak!!!
"Sssstttt....." Zie mendesis sambil mengusap dahinya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Alma.
"Memangnya aku kenapa?" Tanya Zie angkuh, setelah itu ia keluar di susul dengan Alma yang juga ikut berlari.
Firman langsung melihat ke depan, pintu sudah kembali tertutup rapat.
"Itu namanya wanita limited edition bos," ujar Rian sambil tertawa, melepaskan tawa yang dari tadi ia tahan.
__ADS_1
Firman menatap wajah Rian dengan dingin.
"Uhuk....uhuk...." Rian terbatuk-batuk karena terpaksa harus berhenti tertawa.