Mantan Jadi Mertua

Mantan Jadi Mertua
Bab 18


__ADS_3

"Ayo Pak, kita shopping."


Firman masih berdiri di tempat tanpa ingin pergi, siapa memangnya Zie bisa mengatur dirinya.


"Bapak pilih di anggap enggak normal atau gimana? Atau menikah sama Buk Vika," bisik Zie.


Sial!


Lagi-lagi bocah ingusan itu memiliki alasan untuk membuatnya takluk.


Seorang Firman pria dingin dan tak suka di atur malah dengan mudahnya di kendalikan oleh seorang bocah.


Nasib malang apa yang menimpa, sehingga ini terjadi.


Dengan terpaksa Firman mengikuti Zie, yang berjalan di hadapannya.


Sesekali wanita itu bergoyang-goyang, dengan kakinya yang terus melangkah.


Sekarang berbalik sambil berjalan mundur, seakan tengah menarik dirinya.


Anak-anak yang masih di bawah ketek ibunya tapi sudah punya kuasa atas dirinya.


Dengan santai Zie masuk kedalam lift khusus petinggi perusahaan, lalu Firman menyusul.


Setelah pintu lift tertutup, Zie langsung berdiri sambil bersandar dengan santai pada Firman.


Andai saja hari ini Alma tidak ijin, mungkin akan menjadi saksi bahwa hari ini ada Firman yang akan membayarkan semua belanjaan miliknya.


Mengingat kini saldonya sangat kecil, belum lagi kartu kredit dan black card di cabut sementara selama uji coba kebebasan.


Senangnya bukan kepalang.


Firman menjauh hingga Zie hampir terjatuh, tapi tiba-tiba Zie berpindah ke belakang Firman dan meloncat keatas punggungnya.


Firman tersentak, apa yang di lakukan bocah gila itu.


"Turun!"


"Gendong!"


Kata Zie dengan senyuman kebahagiaan.


Sial!


Bibir Firman terus komat-kamit mengucapkan sumpah serapah.


Bingung dengan wanita aneh yang kini tengah naik di atas punggungnya, apa wanita itu tidak merasa jika tubuh bagian depannya melekat pada punggung Firman.


Firman bingung bagaimana kedua orang tua Zie membesarkan anaknya. Sehingga wanita itu sangat polos, apakah tidak mengerti keadaan ini sangat mengundang jiwa kelakiannya.


Banyak karyawan yang menatap Firman menggendong seorang wanita, tetapi tidak ada yang berani bersuara apa lagi bertanya secara langsung.


Zie menyembunyikan wajahnya, agar tidak ada yang melihatnya. Tanpa Firman tahu kini Zie tengah berusahalah menutupi wajahnya nya takut ada yang memata-matai dirinya.


Akhirnya Firman kini berada di dekat mobilnya, meminta Zie untuk turun.


"Turun!"


"Hehehe, bukain pintunya," pinta Zie dengan cengengesan.


"Bocah sialan."


Sekalipun mulutnya terus berujar kebencian tetapi, tangan tetap membuka pintu.


"Terima kasih ayang Bebeb," celetuk Zie sambil terkekeh.

__ADS_1


Brak!


Firman menutup pintu dengan membantingnya.


Seketika Firman merasa geli dengan kata Ayang Bebeb yang keluar dari mulut Zie.


Setelah duduk di kursi kemudi, Firman mulai melajukan mobilnya menuju mall sesuai dengan keinginan bocah yang duduk di samping nya.


Jika Firman hanya diam maka lain halnya dengan Zie, mulut wanita itu tidak ada habisnya komat-kamit hingga membuat kepala Firman hampir pecah.


"Pak, nilai Zie aman kan?"


Firman hanya diam bahkan tanpa melirik Zie.


Zie tidak serta diam, karena masih memiliki banyak bahan obrolan.


"Pak Firman, kenapa tidak mau menikah? Kenapa di kampus cupu? Kenapa tidak mau dengan Ibu Vika? Kenapa-"


Citttt.


Firman mendadak mengerem mobilnya, Zie sampai terhuyung beruntung menggunakan sabuk pengaman.


Jika tidak mungkin kepalanya sudah menghantam dasbor mobil.


"Ish!!!!" Zie menatap Firman dengan tajam, "Bapak kalau nyetir hati-hati dong!" Omel Zie.


Firman tidak perduli ia hanya menatap ke depan, seketika Zie juga mengikuti arah pandang Firman.


Mata Zie melebar saat melihat nya.


"Bunda," Zie seketika berjongkok, bersembunyi karena takut terlihat.


Sedangkan Firman mulai tersadar, seketika ia melihat reaksi Zie.


Firman tidak melihat Zie di samping nya.


"Pak!"


Zie menepuk pundak Firman, hingga tersentak kaget.


"Hehehe," Zie cengengesan menunjukkan dua baris gigi rapinya.


Firman mendesus menatap wanita gersek yang kini tengah bersembunyi di jok bagian belakang, entah kapan ia pindah ke sana.


Seketika Firman sadar, baru saja Zivanya menyebrang jalan bersama ibu mertua nya dan kini tiba-tiba Zie bersembunyi saat melihat Zivannya.


Ya ampun ini nyata, ini benar-benar tidak salah lagi.


Zie memang putri kandung Zivanya mantan kekasih nya.


Hanya bisa menarik napas dengan dalam seakan tengah terkurung dan sulit walaupun hanya bernapas dan sialnya semakin berusaha membenci Zie malah semakin membuat tertarik.


Entah apa yang di lihatnya dari bocah ingusan dan polos itu, tapi Firman tidak munafik memuji kecantikan Zie.


Rasa cinta pada Zivanya sudah tidak ada sejak lama. Tetapi, malah Firman merasakan desiran aneh saat bersama anak mantannya seakan ingin memilikinya.


Mustahil.


Itu tidak akan mungkin.


Apa yang akan di katakan dunia bila ia meminang anak bekas pacarnya.


Apa mungkin dulu mencintai Ibunya sekarang beralih mencintai anak nya.


Dunia ini luas, tak sekecil daun kelor bagi orang-orang tetapi, tidak bagi Firman.

__ADS_1


Jika pun di paksakan tidak akan mungkin, karena sudah pasti Vano tidak akan mengijinkan nya menikahi Zie.


Galau sampai tingkat dewa.


"Pak!"


"Bocah sialan!"


"Jalan, ngapain masih melamun!" Omel Zie.


Jika wanita lain yang melakukan ini sudah pasti Firman membuka pintu mobil dan membuangnya tetapi itu tidak berlaku untuk Zie.


Wajah imut Zie membuat Firman tidak bisa melakukan itu.


Sampai di mall Zie segera turun, di susul Firman yang kini juga berdiri di sampingnya.


Dengan perlahan Zie memeluk lengan Firman sambil melangkah masuk beriringan.


"Pak, tadi kata Oma tidak ada limit," Zie memperingati Firman.


"Dasar mata duitan!" Geram Firman.


"Namanya juga cewek miskuin Pak," jawab Zie asal.


Dalam hatinya tertawa terbahak-bahak, kapan lagi bisa berada di posisi ini.


"Dasar gila!"


Firman tersenyum sinis saat Zie menyebut dirinya sendiri sebagai wanita miskin.


Padahal dibandingkan dirinya pun Vano masih jauh lebih jaya.


"Pak, Zie mau yang ini, yang ini, yang ini, yang itu, itu, itu itu," tunjuk Zie dengan asal.


"Sialan!"


Wajah Firman sudah tertutup oleh pakaian yang di gantung Zie dengan asal, sekalipun ada pramuniaga tetapi Zie hanya ingin Firman yang membawanya.


"Ini juga," Zie mengambil dengan asal, dalam hati jika pun Firman memanfaatkan dirinya saat ini, Zie tidak terlalu bersedih.


Karena dengan begini secara tidak langsung Firman sudah membayar nya, apa lagi mengingat taruhan nya dengan Niken.


Jika pun kalah Zie sudah berhasil menikmati uang Firman.


Firman membawa banyak barang belanja Zie, bahkan sampai menggantung di lehernya.


"Ahahahhaha," Zie tertawa terbahak-bahak melihat Firman yang seperti ini.


Setelah memasukkan semua barang belanja ke dalam mobil, Zie meminta Firman untuk mejalankan mobilnya.


Namun, tiba-tiba sampai di lampu merah Zie membagikan semua barang belanjaannya pada pemulung, pengamen, dan lainnya.


Firman sampai melongo.


"Kenapa di berikan?" Firman menatap ke belakang tidak ada lagi satupun tersisa.


"Emang Zie belanja buat di bagi-bagi," jawab Zie enteng.


"200 juta," Firman mendesus, dalam sekejap Zie menghabiskan uangnya dan ternyata untuk di bagi-bagi kan.


"Tenang Pak, Zie cuman bantu menyalurkan pada yang membutuhkan, pahalanya di jamin untuk Bapak!" Jelas Zie dengan bangga.


Sedangkan Firman ingin pingsan.


Ampun.

__ADS_1


__ADS_2