
Firman semakin merasa khawatir saat memikirkan Zie.
Sakit?
Bahkan dalam keadaan tidak hadir di hadapannya pun sudah cukup membuat Firman pusing, apa lagi saat Zie datang.
Sial.
"Cari tahu apakah sakitnya parah!" Titah Firman.
"Cari tahu?"
"Aku meminta mu mencari tahu info mengenai keadaan wanita itu! Bukan malah kembali bertanya pada ku!" Sergah Firman.
"I-iya bos," Rian tidak lagi berani bertanya, apa lagi memberikan sedikit candaan, melihat wajah Firman yang cukup membuatnya ngeri.
"Sekarang!!!"
Dengan segera Rian keluar dari ruangan Firman.
"Apa dia tidak waras," Rian bergumam sambil terus berjalan menuju ruangan nya.
Menatap Alma yang masih terlihat kebingungan, membuat Rian sejenak bertanya mengenai keluhan wanita itu.
"Apa ada yang tidak di mengerti?" Rian berdiri di samping meja dengan mata yang menatap layar laptop yang tengah menjadi pusat fokus Alma.
Alma yang sedang fokus mendadak tersentak, bingung entah kapan Rian kembali ke ruangan nya.
"Kamu ngelamun?" Tanya Rian.
"Enggak Pak, Alma lagi bingung, ini hasil perhitungan nya di buat di mana?" Zie menunjukan layar laptop dan masih kebingungan.
"Di sini," Rian menunjukan tabel yang harus di isi oleh Alma.
"O, ya Pak. Terima kasih," Alma kembali bersemangat untuk mengerjakan tugas nya.
"Apa Zie, sekarang di rumah?"
Tiba-tiba saja Rian bertanya demikian hingga membuat Alma kebingungan harus menjawab bagaimana.
"Saya bertanya, Zie di rumah sakit atau di rumah nya?" Rian mengulangi pertanyaannya.
"Di-" Alma mencoba menatap wajah Rian, melihat exspresi wajah dosennya seperti apa.
Rian masih diam menantikan jawaban dari Alma.
"Di?"
"Di rumah sakit Pak," Alma memejamkan matanya sejenak, kemudian mencoba membuka kembali.
Tetapi, Rian sudah tidak ada di dekatnya hingga Alma merasa bingung.
"Tadi Pak Rian atau?" Alma mendadak merinding merasa horor hingga mengusap tengkuknya sampai beberapa kali.
***
__ADS_1
"Zie di rumah sakit, keadaan nya sangat parah."
Firman semakin panik, dengan segera bangun dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.
"Apa yang kau tunggu di sana?" Firman sejenak berhenti dan memutar leher beberapa derajat hingga menatap Rian.
Rian tidak habis pikir kenapa Firman tidak bisa menutupi rasa paniknya saat ini.
Dengan gerakan cepat tanpa bertanya ia langsung mengikuti langkah kaki Firman.
Setelah keluar dari lobi keduanya langsung menuju parkir khusus Presdir, Rian yang mengemudi dan Firman duduk di jok belakang.
Saat Rian melajukan mobilnya Firman merasa sangat lambat, hingga membuatnya emosi.
"Apa kau tidak bisa mengemudi lebih cepat lagi!"
Rian sebenarnya sedang bingung di rumah sakit mana Zie di rawat, barusan tidak bertanya jelas kepada Alma.
Sampai tiba-tiba mata Rian menatap seorang wanita.
Kemeja hitam, berpadu dengan celana hitam dan rambut di kuncir seperti ekor kuda turun dari motor lalu, berjalan memasuki cafe.
Rian segera memarkirkan mobil, "Bos, coba lihat ke depan!" Sambil menatap wanita itu yang kini sudah benar-benar masuk kedalam cafe.
"Kenapa berhenti?!" Firman sangat geram melihat ulah Rian, saat ini ia sudah sangat menghawatirkan keadaan Zie tetapi, Rian malah bermain-main.
"Apa anda tidak melihat siapa wanita barusan?"
"Tidak penting!"
Firman seketika bingung.
"Apa kau sudah rabun?" Kesal Firman.
"Bos turun sekarang karena aku tidak salah melihat!"
Firman mulai penasaran, dengan segera turun dan masuk ke dalam cafe.
Kaki Firman terdiam sambil mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang mungkin benar ada di sana.
Di salah satu meja dengan nomor 05 Zie tengah duduk berdua, tersenyum pada seorang pria yang kini berstatus sebagai kekasihnya.
"Sayang, kamu cantik banget sih," Jio tidak henti-hentinya mengutarakan kalimat kagum, bahkan kini jarinya menyingkirkan satu anak rambut yang menutupi wajahnya indah kekasihnya.
Zie seakan terbang melayang seiringan dengan sentuhan tangan Jio yang begitu lembut menyentuh wajahnya, hati seakan semakin tidak karuan mendengarkan gombalan dari bibir manis Jio.
Firman melipat kedua tangannya di dada memperhatikan dua anak muda yang sedang kasmaran.
Seketika emosinya mendidih.
Dengan perlahan Firman mendekati dua anak muda yang sampai kini masih saling melempar candaan hingga bibir keduanya terus saja tersenyum.
"Ehem!"
Firman berdehem hingga menyadarkan Zie dan Jio.
__ADS_1
Jio masih bingung siapa pria yang kini berdiri di dekat nya, seperti pernah melihat tetapi, di mana?
Sedangkan Zie langsung menutup wajahnya dengan tas tangan, kemudian segera berdiri dan ingin melarikan diri.
"Mau ke mana?" Tangan Firman dengan cepat memegang pergelangan tangan Zie, hingga sang empu tidak dapat lagi bergerak.
Jio dengan segera berdiri, bingung serta geram pada pria yang berani memegang lengan kekasihnya.
"Lepaskan tangannya!" Geram Jio.
Firman tersenyum sinis dan sama sekali tidak perduli.
"Lepas!" Zie juga mencoba melepas tangan Firman yang mencengkram erat pergelangan tangannya.
"Kemana?" Tanya Firman santai, tanpa melepas Zie.
"Hey, kau siapa? Berani sekali memegang tangan kekasih ku?! Lancang!"
"Dia calon istri ku!" Jawab Firman tanpa terbawa emosi.
Siapa anak bau kencur seperti Jio, terlalu kecil untuk Firman.
"Zie?" Jio menatap kekasihnya dengan bertanya.
"Enggak," Zie menggeleng dengan cepat, "Dia bohong."
Zie sangat menyukai Jio dan tidak akan terima jika Firman mengatakan ia adalah calon istrinya.
"Lepas!" Jio berusaha menarik Zie dari Firman.
"Jangan menyentuh nya!"
"Pak, lepas!" Zie masih berusaha melepaskan tangan Firman tetapi sangat sulit sekali.
"Ikut!" Firman segera menarik Zie ikut dengannya, sekalipun Zie menolak tetapi tidak di perdulikan oleh Firman sedikitpun.
Dengan cepat Zie menyambar tas tangan miliknya di atas meja, sedetik kemudian tubuhnya sudah terhuyung karena, mengikuti langkah kaki Firman yang lebar.
"Lepaskan dia!"
Jio masih menyusul Zie hingga menuju parkiran cafe, ingin melepaskan kekasih nya dari pria yang kini membuatnya bingung.
Wajah Firman seperti tidak asing tetapi, Jio juga belum menemukan jawaban nya.
"Masuk!" Firman memaksa Zie masuk ke dalam mobilnya, setelah itu melayangkan tatapan tajam pada Jio.
"Kau siapa?!" Jio mencoba menarik kerah jas Firman, tetapi, sulit karena Firman menghindari dan masuk dengan segera ke dalam mobil.
Sedetik kemudian mobil melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan Jio yang masih berada di parkiran sambil menatap mobil yang kini membawa kekasih nya.
"Siapa pria itu? Aku seperti sering melihatnya," Jio menunju udara dengan kesal dan masih bingung mengenai pria yang barusan membawa kekasihnya dengan paksa.
Sedangkan Zie kini menatap Firman dengan tajam, tidak perduli Firman adalah dosennya sekalipun.
"Anda itu hanya dosen saya, anda memang lebih tua tetapi, bukan berati punya hak atas saya!" Geram Zie.
__ADS_1
Firman hanya diam sambil menatap ke depan, bahkan masih merasa bingung dengan dirinya sendiri.