Mantan Jadi Mertua

Mantan Jadi Mertua
Bab 21


__ADS_3

Hay sahabat setianya Author Munthe, apa kabar, hehe....


Minal aidzin wal faizin mohon maaf lahir dan batin.


Maaf kalau ada salah-salah dalam menanggapi komentar atau lainya, dan Author kembali lagi.


Happy reading!!!


***


Firman masih diam sambil memikirkan kebodohannya sendiri, siapa Zie? Kenapa bisa memporak porandakan perasaannya.


Sial!


Semakin Firman berusaha membenci Zie, maka semakin besar rasa ingin memiliki bocah ingusan yang sialnya adalah anak dari Ziva.


Siapakah Ziva?


Mantan kekasihnya sendiri yang kala itu harus rela ia lepaskan karena, seorang pria brengsek yang malah mengambil kekasih yabg sangat di cintai nya.


Gilanya lagi Zie ada karena buah dari pernikahan Vano dan Zivanya.


Ini sangat di luar akal sehat!


Siapa yang bisa menerima hal gila ini.


Tidak ada.


Ini sangat sulit untuk di mengerti bahkan terlalu sulit untuk bisa di terima oleh akal sehat.


"Pak Firman!!!"


"Diam!" Firman mendorong wajah Zie dengan telapak tangan nya, kesal sekali pada bocah sialan yang selalu mengganggu pikirannya itu.


"Ish!"


Zie kesal dan langsung memukul lengan bagian atas Firman, sialnya malah tangannya yang terasa sakit karena otot Firman yang begitu keras.


"Sakit banget sih!"


"Kualat!" Jawab Firman.


Rian yang mengemudi menatap aneh antara dua orang yang duduk di jok belakang, sesekali matanya mencuri pandang pada kaca spion.


Melihat bertapa Firman dan Zie bukan seperti dosen dan mahasiswa nya, melainkan seperti kucing dan tikus yang selalu bertengkar.


Namun, aneh nya malah rindu saat tidak bertemu.


Aneh tapi nyata.


"Apa bola mata mu ingin di keluarkan?!" Firman sadar akan Rian yang menatapnya melalui kaca spion dan itu sangat tidak sopan menurutnya.


Rian kembali fokus mengemudikan mobil, sejenak seakan tidak perduli sama sekali pada Firman dan Zie.


Drett!


Ponsel Zie berdering dengan segera ia mengeluarkan dari tas kecil miliknya, dan melihat nama sang pujaan hati yang tertulis di sana.


Bibir Zie mengembang sempurna, seketika itu ia ingin menjawab panggilan tersebut.


Tapi, tiba-tiba senyuman itu menghilang seiring ponselnya yang berpindah tangan pada Firman.

__ADS_1


"Balikin!"


Zie berusaha untuk meminta dengan baik-baik, masih ingin bersabar mungkin Firman bisa di ajak berdamai.


Tapi sayang Firman semakin menjauhkan ponselnya dari Zie.


"Bapak pikir Zie takut, dasar dosen sialan, enggak ada akhlak!"


Zie segera mengeluarkan tenaga ekstra dan berusaha merebut ponselnya kembali.


Firman pun terus berusaha untuk menjauhkan ponsel di tangannya, bagaimana pun Zie tidak boleh mendapatkan nya dan entah apa alasannya.


Sampai akhirnya Zie tidak sadar sudah duduk di pangkuan dosen gila nya bahkan melingkarkan kakinya di pinggang Firman.


"Balikin!!!" Seru Zie yang masih fokus pada ponselnya.


Sial!


Firman mulai tersadar dengan posisi mereka, Zie duduk di atas pangkuan nya hingga membuat adiknya mengeras sempurna.


Citttt!!


Rian yang tengah fokus mengemudikan mobil malah mengerem mendadak setelah melihat posisi mengerikan antara Zie dan Firman dari kaca spion.


"Aaaaa!!!!"


Tubuh Zie terhuyung dan Firman juga ikut terhuyung kedepan.


Zie berusaha melindungi diri hingga ia memeluk Firman erat, begitu juga dengan Firman.


Rian menatap langsung kebelakang, melupakan banyaknya suara klakson mobil yang kesal karena ia menghentikan laju mobilnya di tengah jalan.


Zie mulai diam setelah sadar sudah duduk di atas pangkuan dosen mengesalkan yang biasa di panggil nya bujang lapuk itu.


Firman berusaha tenang seperti biasanya walaupun saat ini terbilang aneh jika ia masih bisa tenang.


"Kau yang duduk di atas pangkuan ku!" Firman menunjukkan posisi Zie.


"O iya," Zie segera turun dari pangkuan Firman dan duduk saling bersebelahan dengan Firman.


"Jalan bodoh!" Titah Firman geram.


"I....Iya," Rian tersadar dan segera melajukan mobil kembali.


Walaupun sebenarnya Rian masih begitu terkejut dengan apa yang barusan di lihat nya, bayangkan saja ia seperti sedang menonton drama romantis dengan live.


"Balikin ponsel Zie!" Pinta Zie lagi, kali ini ia memanyunkan bibirnya karena, sudah benar-benar tidak ingin lagi melakukan cara paksa.


Dengan terpaksa Firman mengalah dari pada Zie merebutnya kembali dengan cara barusan.


Bahkan Firman tidak mengerti mengapa bocah ingusan itu begitu polos.


Tapi ia suka.


Gila.


Firman kini tidak lagi suka pada wanita dewasa yang mengerti akan bahasa tubuh, mungkin gadis polos seperti Zie akan membuat hidupnya menjadi lebih berwarna.


Sial.


Apa yang kini tengah di pikirkan oleh Firman, tidak. Firman tidak boleh tertarik pada Zie.

__ADS_1


Apa kata dunia jika nantinya mantan kekasihnya menjadi mertuanya sendiri.


Ini sangat aneh, mungkin juga Firman akan masuk pemecahan rekor pria pertama yang memiliki mertua mantan kekasihnya sendiri.


Tidak.


Firman masih berusaha untuk tetap menjaga hati dan perasaan agar tidak jatuh hati pada Zie.


"Pak!" Zie menyenggol lengan Firman.


Firman langsung menoleh, menatap wanita di sampingnya.


"Bapak kenapa ganggu saya pacaran?!" Zie masih butuh alasan dan kali ini Firman harus menjelaskan nya.


"Kau itu sudah berbohong, dan Alma juga sudah membantu mu, apa lagi alasan mu?!" Firman tidak ingin di tersudutkan sehingga otaknya cepat-cepat mencari alasan yang tepat.


Zie merasa kesal karena, alasan Firman cukup masuk akal.


Akan tetapi bukan putri Vano kalau tidak membantah seperti Ayahnya.


"Tapi ini urusan pribadi Pak!" Elak Zie.


"Tapi kau bolos!" Firman juga merasa aman, kapan ia bisa di kalahkan, begitu juga kali ini.


"Saya kan juga butuh waktu refreshing Pak, saya ini juga bosen dong kuliah, tugas dan tugas Mulu! Memangnya bapak!"


"Kenapa dengan saya!"


Firman menunjukkan wajah dinginnya, bersiap mendengar hinaan apa yang akan di dengar nya dari mulut mahasiswa sialan yang kini menatapnya tajam.


Bahkan mungkin Zie ingin sekali menelan Firman hidup-hidup.


"Bapak itu tidak normal, dunia bapak itu berbeda! Akui saja kalau bapak itu penyuka sesama jenis!"


Sialan!


"Rian boking hotel!"


Titah Firman dengan emosi.


"Hotel bos?" Tanya Rian dengan suara bergetar, semakin lama semakin terasa horor, sekalipun hari masih begitu terang tapi terasa gelap untuk Rian.


"Apa kau tuli!"


Rian tidak berani membantah.


"Ngapain boking hotel?!" Zie menatap Firman dengan senyum miring, baginya Firman adalah manusia paling menjengkelkan.


"Untuk membuktikan kalau aku ini normal!" Tandas Firman.


"Mmmmfffffpp!!!!" Zie menutup mulut menahan tawa mengejek Firman.


Rian memarkirkan mobilnya sesuai dengan keinginan Firman, walaupun Rian sangat ragu dengan ini semua.


"Turun!"


Firman segera menarik Zie untuk turun dari mobil, membawa wanita itu masuk menuju lobi hotel, setelah itu menuju kamar yang sudah di pesan oleh Rian.


"Pak, ngapain narik Zie ke hotel!" Zie berusaha melepaskan tangannya yang di cengkram oleh Firman.


***

__ADS_1


Please like and Vote, thank you.


__ADS_2