Mantan Jadi Mertua

Mantan Jadi Mertua
Bab 30


__ADS_3

"Zie, nggak mau nikah sama Bapak!" Seru Zie, "Bapak jahat!!! Bapak udah ngapa-ngapain Zie!!" Teriak Zie histeris.


"Kamu gila ya, kamu yang banyak minum dan menggoda ku, menciumi ku! Kamu lupa!!!" Firman segera turun dari atas ranjang, memakai celana pendek.


Zie masih diam sambil meremas selimut putih yang menutupi dari bagian dadanya, menangis tersedu-sedu ketakutan.


"Kamu yang memaksa ku, aku ini lelaki normal, dan kalau ini terjadi bukan salah ku, kalau kau tidak mau aku nikahi juga tidak masalah yang rugi bukan aku!"


Zie mendongkak menatap Firman, air matanya terus menetes merasa kesal atas kejadian ini pada dirinya sendiri.


"Kamu mau hamil di luar nikah? Kalau kamu mau tidak masalah, aku tidak di rugikan sama sekali!"


"Hamil? Di luar nikah?"


Zie mengingat wajah Vano dengan ketakutan, ternyata ini alasan mengapa ia selalu memiliki bodyguard karena, ingin melindungi dirinya.


"Ya udah, Bapak harus nikahin Zie!"


Firman tersenyum samar, merasa rencananya mulai berjalan dengan lancar.


"Ayo ke rumah orang tua mu, aku akan meminta kita di nikahkan secepatnya!"


"Enggak secepatnya juga kan, Pak?"


"Kalau dua Minggu ke depan kamu hamil, artinya anak itu adalah anak haram! Pilih mana? Hamil sebelum menikah atau setelah menikah?!"


***


"Kemana anak itu, sudah jam segini belum juga pulang?" Ziva terus mondar-mandir di depan pintu gerbang, menantikan putrinya belum juga pulang sampai malam semakin larut.


Vano pun berdiri di balkon menantikan anaknya, bahkan menyebarkan bodyguard mencari putrinya.


Berulang kali Vano menghubungi ponsel Zie tapi, tidak satu kali pun bisa terhubung.


Sampai akhirnya sebuah mobil memasuki gerbang rumah, Vano menatap mobil tersebut dari balkon.


Sedangkan Ziva langsung mendekati mobil asing tersebut dan melihat Zie turun dari dalamnya.


"Zie," Zivanya langsung memeluk putrinya, rasa khawatirnya terobati dengan kepulangan putri tunggalnya.


Vano masih diam di balkon menatap istri dan anaknya berpelukan.


Sampai akhirnya Firman juga ikut turun, menatap Ibu dan anak itu saling berpelukan.


"Firman?!" Zivanya terkejut melihat siapa pria yang mengantarkan putrinya.


"Bunda, kenal sama Pak Firman?" Tanya Zie bingung.


Zivanya masih menatap Firman, wajahnya tak jauh berbeda hanya kini Firman semakin dewasa.


"Apa kabar?" Firman mengulurkan tangannya.


Zivanya hanya tersenyum canggung dan tidak membalas uluran tangan Firman, karena takut Vano marah.

__ADS_1


Sedangkan Vano juga perlahan turun, merasa pernah melihat pria asing tersebut.


Vano terus mengingat wajah pria itu, saling berhadapan namun, tidak ada yang berbicara sama sekali.


Seketika Vano mulai mengingat wajah lelaki di hadapannya.


"Kenapa putri ku bisa bersama mu?!" Tanya Vano dengan wajah dinginnya.


Zie di buat bingung, menatap Firman dan Vano saling bergantian, dari sini menyimpulkan bahwa Bunda Zivanya, Ayah Vano, dan Firman saling mengenal.


"Pergi dari sini!" Vano menatap arah pagar yang masih terbuka lebar.


"Saya, datang ke sini baik-baik, meminta restu untuk kami menikah!" Terang Firman dengan tenang.


"Menikah?" Zivanya sampai mengusap wajahnya, merasa salah dalam mendengar.


Vano tersenyum miring, merasa Firman sedang bercanda.


"Tidak lucu!" Ejek Vano.


"Zie, jelaskan?" Firman menatap Zie yang berdiri di samping Zivanya.


Zie hanya diam sambil meremas kedua tangannya, merasa tersudut. Jujur dari hati paling dalam Zie tidak mau menikah dengan Firman.


Zie hanya ingin menikah dengan orang yang di cintainya, atau orang yang mencintai nya. Sedangkan Firman tak mencintainya, apa jadinya jika ia menikah dengan Firman tanpa ada cinta.


"Zie?!" Suara berat Vano menyadarkan Zie dari lamunannya.


Degh!


Jantung Zivanya berdetak hebat, seketika terjatuh pingsan.


"Bunda," seru Zie dengan ketakutan.


Dengan sigap Vano mengangkat tubuh istrinya membawanya masuk dan memanggil Anggia untuk memeriksa keadaan Zivanya.


"Dia hanya shock," jelas Anggia.


Setelah itu mata Zivanya terbuka, tersadar dari pingsannya.


"Mas, tadi aku mimpi mengerikan," cepat-cepat Zivanya bangun dan merasa apa yang terjadi barusan hanyalah sebuah mimpi buruk.


Tapi, saat melihat wajah Firman duduk di salah satu sofa membuatnya bingung dan bertanya-tanya.


"Zie, kamu sama dia?" Zivanya menatap Firman sekalipun bertanya pada Zie.


"Jangan pernah berharap untuk menikahi putri kami, silahkan keluar dari rumah saya!" Vano menunjuk arah pintu, mengusir Firman dengan terang-terangan.


Firman tidak perduli, cinta sudah pada titik akhir sehingga apapun akan di lakukan asalkan mendapatkan Zie, sekalipun anak mantan.


Firman mengambil sebuah amplop dari saku jasnya, kemudian meletakan pada meja agar Vano melihatnya.


Perlahan tangan Vano mengambil benda tersebut kemudian, melihat satu persatu wajah-wajah wanita dan pria yang berada di atas ranjang berdua saja.

__ADS_1


Amarah Vano membuncah seketika ia mengambil vas bunga dan melempar kearah Firman.


Krang!


Suara pecahannya membentur dinding, beruntung Firman mengelak dengan cepat sehingga tidak menghantam wajahnya.


"Terserah pada anda, jika saya tidak bisa menikahinya, dan jika terjadi sesuatu apa anak mu, jangan mengharap pertanggung jawaban," tutur Firman santai.


"Zie, apa ini benar?" Tanya Vano.


Vano berdiri dan mendekati putri nya.


Zie hanya menunduk tanpa berani menjawab, melihat wajah Vano saja ia sudah begitu ketakutan.


"JAWAB!!!" Bentak Vano.


Zie terperanjat kaget, pertama kalinya Vano membentak dirinya.


"Ayah," Zie cepat-cepat bersimpuh di kaki Vano memohon ampun pada sang Ayah.


Vano meninju udara merasa kecewa, atas apa yang sudah di lakukan oleh Zie.


"Kenapa kau menjadi murahan, apa kau menerima bayaran dari nya! Baru satu bulan Ayah mengurangi uang saku mu! Dan kau sudah membuat Ayah kecewa!"


Vano melemparkan beberapa fhoto di tangannya pada wajah Zie.


"Yah, maaf," lirih Zie dengan tangisan yang tak dapat terbendung lagi.


Zivanya memijat dahinya, mengapa bisa putri nya melakukan hal serendah itu. Hatinya begitu kecewa dan sangat terluka, sebagai seorang ibu yang melahirkan Zie, tak kan bisa menerima dengan mudah.


"Keluar dari sini, sampai kapan pun kami tidak akan pernah merestui hubungan kalian, dan jangan pernah lagi kembali!"


"Kenapa? Kenapa tidak bisa merestui kami?" Tantang Firman.


"Kau ingin menjadikannya putri ku sebagai alat balas dendam?" Tebak Vano berapi-api.


Firman tersenyum miring, "Jangan menghubungkan yang dulu dan sekarang, sekarang dan dulu berbeda."


"Jangan pernah bermimpi meluapkan dendam mu pada putri ku!"


"Tidak ada hubungannya sekarang dan dulu, aku sudah tidak memikirkan dulu dan sekarang!" Jawab Firman.


"Keluar dari sini!"


Buk.


Buk.


Vano menghajar Firman hingga babak belur, rasanya ingin sekali menghabisi Firman saat ini.


Firman hanya diam tanpa melawan, bukan tidak mampu tapi rasanya sangat sulit.


Mengingat Vano adalah calon mertuanya, posisi nya sangat menyakitkan.

__ADS_1


__ADS_2