Mantan Jadi Mertua

Mantan Jadi Mertua
Bab 12


__ADS_3

Zie langsung berjalan mencari keberadaan Alma, ternyata Alma duduk di lobi sambil memainkan ponselnya.


"Edan!!! Lu santai aja di sini!"


Alma tersadar saat melihat Zie, "Udah?"


"Pulang yuk."


Sepanjang perjalanan menuju rumah mulut Zie terus saja komat-kamit sampai Alma merasa gendang telinga nya sebentar lagi akan pecah. Mendengarkan segala cerita Zie barusan.


"Terus lu diem aja pas Pak Firman bilang kamu calon istri nya?"


Sekalipun Alma sudah pusing mendengar celotehan Zie tetapi, ada perasaan penasaran juga di dalam hatinya.


"Ya terpaksa, karena Oma punya penyakit jantung," jawab Zie sambil melihat arah lain nya.


Tanpa tahu jika sudah di tipu habis-habisan mengenai penyakit Aurora.


"Zie itu Jio kan?" Alma menunjuk seseorang yang tengah membeli seikat bunga di pinggir jalan.


"Iya Al."


Ting.


Ponsel Zie berdering dan sebuah pesan masuk.


[Ketemuan yuk] Jio.


"Jio ngajak ketemuan Al," wajah gembira Zie tidak terkira, sudah lama Zie tertarik pada Jio tetapi baru kali ini mereka memiliki kedekatan.


"Tanya di mana, gue siap antar lu," jawab Alma penuh semangat.


Zie mengangguk dan membalas pesan dari Jio.


[Di mana] Zie.


[Taman] Jio.


_____________


Mata Zie mengedar mencari seseorang yang baru saja memintanya untuk datang.


"Hay," Jio mengagetkan Zie yang tidak menyadari keberadaan nya di dekat Zie.


Zie berbalik dan tersenyum pada Jio.


"Zie aku suka sama kamu," Jio memberikan seikat bunga untuk Zie, sambil berlutut.


Mulut Zie terperangah menatap bertapa romantis nya Jio.


"Kamu mau kan jadi pacar aku?"


Zie tidak henti-hentinya tersenyum karena setiap ucapan manis yang di utarakan oleh Jio.


"Aku mau," Zie langsung menerima seikat bunga pemberian Jio.


"Makasih."


Dua sejoli yang tengah di mabuk asmara membuat nya lupa dengan Alma yang kepanasan menunggu di dalam mobil.


"Sial, kenapa mereka lama sekali," Alma mengipas-ngipas buku demi meredamkan rasa panas.


Matahari begitu terik, mungkin mobil Lamborghini nya memiliki AC. Hanya saja jika diyalakan AC terlalu lama kemungkinan mobilnya tidak akan bisa di stater, lalu bagaimana mobilnya akan melaju jika tidak mau menyala.


"Sial," Alma segera turun dan menyusul Zie yang tengah tersenyum dan berbunga-bunga, "Adek cinta tak selamanya indah Dek!!!" Ejek Alma.


Zie tersadar saat melihat Alma menyusul dirinya.

__ADS_1


"Ngapain?" Kesal Zie.


"Bentar ya Jio," Alma langsung menarik Zie untuk menjauh dari Jio, "Cepat, gue udah gerah banget di mobil!" Bisik Alma.


"Bentar lagi!"


"Bunda barusan nelpon, entar gara-gara ini kita di hukum gimana?" Bohong Alma.


Bunda Ziva tidak pernah menghubungi sama sekali, akan tetapi Alma yang berbohong karena gerah menunggu.


"Ya, kalau gitu aku pamitan ke Jio dulu!"


"Kenapa Zie?" Tanya Jio dari jarak beberapa meter.


"Aku pulang dulu ya, sampai jumpa lagi," Zie melambaikan tangannya dan tersenyum penuh bahagia.


"Hati-hati di jalan ya Beib!"


Degh!


Manisnya.


Inikah yang namanya cinta?


Rasanya seperti di aduk-aduk di obok-obok terasa nikmat.


"Adek Cinta tak selamanya indah Dek, kadang juga bisa membawa luka," ejek Alma sambil geli melihat tingkah laku Zie yang tengah jatuh cinta.


Sepanjang perjalanan pulang Zie terus saja tersenyum, sebelumnya bibirnya marah-marah tapi kini berganti dengan penuh kebahagiaan karena sudah resmi menjadi kekasih Jio.


"Dasar gila!"


"Bunda!!!!" Zie tidak perduli sekalipun Alma mengatakan dirinya gila atau apapun itu, yang jelas Zie ingin menikmati indahnya jatuh cinta.


"Zie kau kenapa?" Tanya Ziva bingung.


"Bunda dulu gimana rasanya pas pacaran sama Ayah?" Tanya Zie dengan konyolnya.


Uhuk.....Uhuk...


Vano langsung terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Zie.


Ziva menahan tawa melihat wajah Vano yang mendadak masam.


Sejak kapan Ziva dan Vano berpacaran? Yang ada Ziva di paksa menikah dan dijadikan istri kedua. Bahkan sadis nya di saat usia 17 Tahun Zie sudah menjadi istri kedua.


"Mana ada Bunda sama Ayah pacaran!" Jawab Arman yang baru saja datang.


Zie langsung menatap Arman penuh tanya, "Maksudnya Om?"


Arman mengangkat kedua bahunya dan duduk di sofa dengan santai.


"Om, cerita dong," Zie langsung duduk di samping Arman dan penasaran dengan kisah cinta kedua orang tuanya.


"Ayah mu itu yang tergila-gila pada Bunda mu," jawab Arman.


Buk!!


Vano melempar bantal sofa pada wajah Arman memberikan tatapan yang mematikan.


"Ahahahhaha......." Arman tertawa penuh kemenangan saat melihat wajah Vano.


"Pantas saja Ayah takut sama Bunda," kata Zie dengan tersenyum miring.


"Bukan takut, tapi terlalu cinta," jelas Vano.


"Ayah apasih!" Ziva memberikan cubitan cinta pada Vano, suaminya yang selalu mencintainya dengan tulus.

__ADS_1


"Ish!!!! Bunda sama Ayah gemes banget sih," Zie berteriak dan langsung melenggang menuju kamar.


Vano menatap punggung Zie yang sudah pergi dengan jauh.


"Apa anak itu sedang jatuh cinta?" Tanya Vano.


"Wajar, artinya dia normal. Lagi pula usia Zie sudah cukup dewasa, biarkan sejenak dia menikmati masa mudanya," papar Arman.


"Ya biarkan saja, aku juga sedikit kasihan padanya kadang dia terlalu polos karena selalu di kungkung," tambah Ziva.


"Tapi itu demi kebaikan nya sayang," kali ini Vano yang bersuara.


"Kasih waktu Mas, biarkan dia hidup dengan dunia remaja sebentar saja," pinta Ziva.


Vano mengangguk dan merasa apa yang di katakan oleh istrinya sangat benar sekali.


____________


"Zie makan malam!!!! Bangun Nak!"


Ziva membangunkan Zie, sejak pulang siang tadi Zie tidur sampai hari gelap.


"Bunda masak apa?"


"Opor, kesukaan kamu."


"Zie ke kamar mandi dulu ya Bunda."


Ziva langsung keluar dari kamar Zie.


Zie mencuci wajah nya di wastafel, menggosok gigi dan kemudian keluar dari kamar mandi.


Ting.


Zie beralih menatap ponselnya.


"Grup."


Dengan malas Zie mulai membaca setiap isi chat di dalam nya.


[Tinggal ngitung hari ada yang jadi Babu] Clara.


[Serius] Niken.


[Wah jadi taruhannya beneran ya] Kanaya.


[Masa boongan, kecuali kalau Zie takut] Clara.


[Takut kali ya] Niken.


Zie langsung meletakan ponselnya, karena tidak ingin melihat rentetan pesan yang membuatnya pusing bukan kepalang.


"Aku harus menang dan liat aja," gumam Zie.


Tips yang paling tepat saat ini adalah membuat Firman tertarik padanya, dengan cara bertanya cara bagaimana Zie membuat Vano bisa jatuh tergila-gila padanya.


Duduk di kursi meja makan, Zie terus menyedot nasi sambil menatap ke depan. Tetapi dengan pertimbangan yang matang Zie mulai memberanikan diri.


"Bunda dulu ngapain kok Ayah bisa tergila-gila sama Bunda?"


"Zie kamu tanya apa sih, ayo cepat makan," omel Ziva.


"Bunda mu itu dulu main cantik, tebar pesona ke Ayah bikin Ayah panas dingin," jawab Vano.


"Ayah ish!" kesal Ziva, dengan wajah memerah mengingat saat-saat dulu.


"O," Zie mengangguk mengerti.

__ADS_1


__ADS_2