
Keesokan harinya.
Hari ini Zie memutuskan untuk tidak datang ke perusahaan, dikarena kan Jio mengajaknya jalan-jalan.
Zie tentu saja tidak dapat menolak, mengingat Jio adalah pria idamannya.
Saat ini Zie sedang berusaha bernegosiasi dengan Alma, agar ia bisa berpacaran seharian penuh tanpa di ketahui oleh kedua orang tuanya.
Berikut juga Alma harus mengatakan jika ia tengah di rumah beristirahat karena sakit tetapi, saat Alma pulang dari perusahaan harus menjemputnya terlebih dahulu sebelum pulang.
Kemudian keduanya akan pulang bersama, seperti biasanya. Seolah ia juga berangkat ke perusahaan untuk magang.
"Al, tolongin ya," Zie menangkup kedua tangannya berharap Alma bisa di ajak kerjasama.
Alma tidak perduli sama sekali, ia hanya fokus mengemudikan mobil membelah jalanan menuju perusahaan.
Zie masih mencoba untuk memutar otak, mengingat Jio juga ingin mereka pergi berdua saja.
"Al, aku mohon."
Ting.
Ponsel Zie berdering, dengan segera Zie membuka pesan masuk.
[Sayang, jadikan hari ini] Jio.
Zie kembali menatap Alma, karena belum ada jawaban.
"Al, tolongin gue, please!!! Entar kapan-kapan kalau lu butuh bantuan pasti gue bantu," tawar Zie.
"Iya, udah, iya!" Jawab Alma dengan terpaksa, "terus gimana dengan aku? Apa iya aku di sana sendiri?" Alma tidak tahu bagaimana cara berhadapan dengan Firman, dosen dingin yang irit bicara dengan wajah sedingin es.
"Kemarin aku juga tanpa kamu, buktinya aku masih hidup aja," jelas Zie asal.
"CK!"
Jika masalah berdebat, serahkan pada Zie. Tidak ada yang bisa menandingi dirinya.
"Iya!" Jawab Alma ketus.
"Stop!" Seru Zie.
Citttt.
Alma terpaksa mengerem mobilnya dengan mendadak.
"Ada apa Zie?" Tanya Alma panik.
"Gue turun di sini aja, entar Jio jemput di sini," Zie turun dari mobil dengan segera.
"Brengsek lu ya!" Geram Alma, hampir saja ia mati muda karena ulah Zie yang gila.
"Hehehe, entar kalau pulang chat gue ya Beib." Zie cengengesan tidak jelas, kemudian menutup pintu mobil.
Alma kembali melajukan mobilnya membawa rasa kesal pada Zie, beberapa menit kemudian Alma memarkirkan mobil Lamborghini versi Alma tapi realita nya adalah sedan butut, di basemen.
Kemudian ia segera turun, dengan perasaan yang sedikit gundah Alma langsung menuju ruang Presdir.
Tok tok tok.
__ADS_1
Alma mengetuk pintu.
Rian membuka pintu, matanya tanpak jelas melihat mahasiswa nya tetapi hanya Alma saja.
"Selamat pagi Pak," sapa Alma dengan sopan dan sedikit gugup.
"Selamat pagi," Rian masih menatap pintu, mungkin beberapa detik lagi Zie juga masuk.
Tetapi tidak sampai saat ini pun terlihat batang hidup mahasiswa pecicilan itu, hingga membuat Rian penasaran.
"Zie di mana?"
Sedangkan Firman hanya diam tidak perduli, berfokus pada layar laptop di hadapannya.
Wanita bernama Zie itu sangat menjengkelkan, bahkan kemarin menjadikan nya ATM berjalan, belum lagi menjadikan nya supir pribadi yang mengantarkan kemana pun sang majikan pergi.
"Zie ijin Pak, dia sedang sakit," Alma menutup mata nya.
Berusaha tenang karena sudah berbohong, padahal sudah jelas Zie pergi berpacaran.
Tapi mendengar kabar Zie sakit membuat Firman segera menatap Alma, ada rasa penasaran walaupun ia hanya diam tanpa berbicara.
"Sakit?" Tanya Rian kembali.
"Iya Pak, dia sakit cacar," kata Alma lagi, 'Gua sumpahin lu tersedak' batin Alma.
Biar saja ia mengatakan itu, karena Alma sangat kesal pada Zie.
Sedangkan Zie yang tengah berboncengan dengan Jio di atas motor gede mendadak terbatuk-batuk, hingga membuat tenggorakan terasa kering.
"Apa ada yang sedang membicarakan aku," gumam Zie.
Zie terus terbatuk-batuk tanpa alasan yang jelas.
"Apa Alma lagi ngomongin aku ya."
Alma tertunduk sambil mencuri pandang menatap wajah Rian.
"Sakit cacar? Tapi kemarin dia baik-baik saja?* Tanya Rian penuh intimidasi.
"I-iya Pak, Alma juga baru tau," jawab Alma canggung.
Rian mengangguk, "Kamu saya minta untuk mengerjakan beberapa berkas, ikut ke ruangan saya!"
Rian terlebih dahulu keluar kemudian Alma mengikutinya, setelah memberikan apa pekerjaan Alma, Rian kembali keruangan Firman.
Rian melihat Firman terdiam larut dalam pikirannya.
"CK!" Firman memijat dahinya, ada rasa rindu yang tidak bisa di akui, entah mengapa perasaannya malah tidak karuan.
"Bos, ini laporan keuangan," Rian meletakan di atas meja.
Firman menatapnya dan tidak perduli, ada apa dengan dirinya.
"Kau punya nomor ponsel Zie?"
Rian melongo saat mendengar pertanyaan Firman, sehingga masih mematung karena kebingungan.
"Apa kau punya nomor ponsel Zie?!" Sekali lagi Firman mengulangi pertanyaannya.
__ADS_1
Rian mulai tersadar bahwa telinganya masih berfungsi dengan baik.
"Tidak bos."
"Minta pada Alma."
Rian masih mematung dan tak percaya sampai saat ini pun.
"Apa kau sudah tidak betah bekerja di sini?" Cerca Firman dengan pertanyaan.
"Bukan begitu, tapi untuk apa?"
Firman menatap Rian dengan pandangan yang mematikan, ingin sekali mematahkan leher Rian saat ini juga.
"I-iya, baik bos," mengerti dengan tatapan Firman, Rian bergerak cepat berjalan ke arah pintu.
"Tunggu!"
Rian berhenti melangkah lalu berbalik saat mendengar suara Firman.
"Jangan katakan padanya saya yang meminta nya!"
Rian mengangguk cepat lalu, pergi, setelah mendapat apa yang di cari Rian kembali ke ruang Presdir.
Memberikan nomor ponsel Zie.
Firman, memindahkan nomor ponsel Zie pada ponselnya.
Tapi mendadak ia kembali menyimpan ponselnya dan urung menghubungi Zie.
Tangan Firman mengetuk-ngetuk meja, rasa khawatir masih terasa membuatnya seketika kehilangan konsentrasi dalam bekerja.
'Apa maunya wanita itu, saat dia ada di dekat ku selalu membuat ku pusing, bahkan saat dia tidak ada di hadapan ku pun masih saja membuat ku pusing, apa maunya wanita itu' Firman membatin sambil mengingat wajah Zie.
Rian menyadari bahwa wajah Firman terlihat sangat gusar entah apa penyebabnya Rian belum juga bisa menyadari.
Tapi tidak, kini Rian mulai menyimpulkan penyebab utama nya. Zie.
Rian tersenyum samar, penderitaan Firman sangat membuatnya bahagia.
Kapan lagi bisa melihat Firman menderita, selama ini hanya ia yang di buat menderita sendiri.
"Hubungi dia!" Titah Firman.
"Dia?" Tanya Rian berpura-pura bodoh.
"Em," jawab Firman dengan susah payahnya.
Rian ingin sekali melepaskan tawanya, melihat wajah Firman yang seperti ini sangat lucu sekali.
Anehnya seorang bocil malah membuat Presdir dingin itu menjadi tidak karuan.
"Siapa?" Tanya Rian lagi.
Firman menatap Rian dengan tajam, Rian biasanya sangat tahu tentang apa yang di pikirkan oleh nya.
Tetapi mengapa kini mendadak bodoh, ataupun Rian sedang berpura-pura bodoh.
"Kau tidak akan di gaji selama satu tahun!" Ancam Firman.
__ADS_1
"Bos," Rian terperangah, seketika ia mengambil ponselnya dan menghubungi Zie, "tidak di angkat bos," kata Rian dengan wajah memucat, takut gajinya akan di tahan menjadi nyata.