Mantan Jadi Mertua

Mantan Jadi Mertua
Bab 34


__ADS_3

Setelah kemarin hari bertemu dengan Vano, kini Firman terlihat santai seakan tak perduli. Tapi benarkah demikian?


Di kediaman keluarga Vano semua sudah di persiapkan sebaik mungkin, acara pun akan di selenggarakan esok hari dengan besar-besaran sekalipun Zie tidak tahu besok akan menikah dengan siapa.


Satu hal yang ia tahu, besok harus menikah dengan pria pilihan Vano tanpa ada penolakan, Zie menurut saja. Apapun yang di lakukan Ayahnya adalah yang terbaik, lihat saja baru beberapa hari di bebaskan sudah membuat masalah.


Dan masalah itu semua membuatnya jera, sekalipun hati terasa begitu bimbang. Tidak tahu akan menikah dengan siapa, seperti apa calon suaminya dan apakah bisa mencintai dengan tulus tanpa memandang harta Ayahnya.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu membuat Zie tersadar dari lamunan panjangnya, seketika pintu terbuka dan Zivanya masuk.


"Kamu makan dulu ya," Ziva melihat begitu banyak makan di atas meja, Art sejak tadi terus bergantian untuk mengantarkan makan. Tapi, tidak satupun yang disentuh oleh Zie.


Pikirannya menerawang menembus jauh, pernikahan paksa ini membuatnya menjadi hampir gila.


"Zie," Zivanya duduk di sisi ranjang, mengusap pelan punggung sang anak dengan rasa sedih ikut merasakan kegundahan hati putrinya.


"Zie belum lapar Bunda, nanti kalau lapar Zoe pasti makan," terpaksa Zie memasang senyum, agar tidak membuat perasaan menjadi tegang.


"Bunda, keluar dulu. Jangan lupa makan."


Zie mengangguk lemah kemudian membaringkan tubuhnya, masalahnya saat ini benar-benar rumit.


"Ngomong-ngomong Ayah nikahin Zie sama siapa ya."


***


Pagi ini semua akan dilakukan, Vano benar serius menikahkan Zie dengan pria pilihannya.


"Kau yakin?" Bilmar bertanya dengan wajah serius dan suara pelan.


Para tamu mulai berdatangan, bahkan banyak wartawan yang ikut meliput pernikahan putri konglomerat yang akan segera di laksanakan.


"Iya, jangan sampai anak itu hamil sebelum menikah."


Mengingat Zie dan Firman sudah tidur bersama membuat Vano merasa was-was putrinya hamil sebelum menikah. Sebagai seorang Ayah tentunya tak ingin putrinya di pandang rendah oleh orang lain.


"Biarkan pria itu menikahi Zie, jika dia tidak baik kita bisa membuatnya bercerai seakan dia yang menyakiti Zie, ataupun jika memang nanti Zie merasa tidak bahagia aku pun akan membuat pria itu menceraikan Zie dengan semua kesalahan ada padanya, bukan pada Zie."


Sekalipun Vano kesal akan apa yang dilakukan oleh Zie bukan berati juga benci. Sekalipun memaksa menikah tetapi, semua masih dalam pengawasan nya memastikan jika putrinya baik-baik saja.

__ADS_1


"Baiklah, bagaimana baiknya saja," Bilmar hanya bisa mengangguk, sekalipun ini terdengar gila.


Tamu semakin berdatangan tapi anehnya sampai detik ini pun belum ada tanda-tanda calon mempelai pria datang, hingga para tamu undangan kasak-kusuk berbisik-bisik bertanya mengenai calon mempelai pria.


Waktu terus berlalu, suara semakin menegangkan hingga seorang pria datang mewakili keluarga calon mempelai pria.


"Nyonya, Tuan, calon mempelai pria sedang di rawat di rumah sakit, sebelumnya mengatakan membatalkan pernikahan ini," ujar pria tersebut.


Emosi Vano seakan mendidih, tangannya yang menggantung terkepal hingga buku-buku jarinya mengeras.


Apa jadinya jika pernikahan ini di batalkan, wartawan sudah banyak dan ini akan sangat memalukan. Belum lagi mental Zie bisa terganggu karena malu.


"Aku yang akan menikahinya," Firman bersama dengan Aurora datang.


Sial!


Yakin 2000% Firman terlibat akan semua ini, dan ini sungguh menjengkelkan.


"Tuan Vano, bisa kita bicara?" Tanya Aurora.


"Mas, ada banyak tamu sebaiknya bicara di tempat lain," pinta Zivanya, menimbang banyak pasangan mata yang menatap mereka.


"Tuan Vano, saya baru tahu Zie adalah putri anda. Saya harap anda memberikan restu pada cucu saya menikahi putri anda," pinta Aurora penuh harap.


Apa-apaan ini semua sangat di luar naluri, niat hati ingin membuat Firman kesal dan bunuh diri dengan sendirinya malah berbalik padanya.


"Di luar banyak tamu, wartawan, pikirkan mental putri anda jika pernikahan ini batalkan?!" Tanya Aurora.


Tok tok tok.


Terdengar suara ketukan pintu, Zivanya segera membukanya.


"Nyonya tamu bertanya kapan acara akan di mulai?"


"Sebentar lagi, katakan pada mereka ya," Zivanya tersenyum dan bingung sendiri.


Setelah itu pintu kembali di tutup nya.


"Anda mendengarnya Tuan Vano? Tidak ada waktu lagi, tidak mungkin anda menjadikan satpam yang bertugas di rumah sebagai suami anak anda bukan?" Aurora ingin membujuk Vano, memberikan restu pada Firman untuk menikahi Zie, sebab, ia pun sudah sangat menyayangi Zie dan sangat menginginkan menjadi bagian keluarganya.


Vano menatap Zivanya yang berdiri di sampingnya, tapi apa yang bisa dikatakan olehnya selain diam dan menerima apapun keputusan Vano.

__ADS_1


Sesaat kemudian Vano menatap Firman yang diam tanpa bicara menatap dirinya juga.


"Ini sangat menjijikan," gumam Vano dengan sejuta kebencian.


"Tuan Vano, anda tak punya pilihan!" Papar Aurora lagi.


Tok tok tok.


Kembali terdengar suara ketukan pintu, hingga membuat Vano merasa gundah yakin itu adalah seseorang yang diutus para tamu untuk bertanya perihal pernikahan Zie.


Vano segera keluar di ikuti oleh lainnya, ia melihat Zie yang murung duduk di kursi akad dengan di kelilingi tamu.


"Hanya sampai satu Tahun ke depan!"


Firman tak perduli, sekalipun dua hari. Sebab, setelah menikahkan dirinya dan Zie, Vano tak bisa lagi mengatur hubungan nya dengan Zie.


Zie masih fokus dengan lamunannya bahkan tak tahu menikah dengan siapa, hatinya yang gundah membuatnya menjadi tidak perduli pada keadaan sekitarnya.


Firman duduk bersebelahan dengan Vano dan berjabatan tangan, di saksikan oleh para tamu dengan penghulunya.


"Saya terima nikahnya dengan mahar tersebut tunai!"


Selesai sudah, Zie kini sudah menyandang status istri dari Firman.


Zie baru tersadar dari lamunannya saat Anggia menyandarkan untuk saling bertukar cincin, wajah Zie shock berat melihat Firman yang kini sudah selesai memakaikan cincin pernikahan di jari manisnya.


"Bapak di sini?!" Tanya Zie sambil menutup mulutnya.


Firman hanya diam tanpa kata, baginya apapun pertanyaan Zie sama sekali tidak penting.


Karena yang terpenting adalah memiliki Zie dan sudah didapatkan.


"Pak ngomong kali Pak, diem aja!" geram Zie.


"Zie, dia suami mu, jadi bicaranya harus sopan," ujar Anggia berbisik di telinga Zie.


Mata Zie membulat sempurna, kemudian menatap sekelilingnya dan ternyata benar Firman sudah menikahi nya.


"Ayo pakaikan cincin itu di jari suami mu," Anggia lagi-lagi memperingati Zie, agar para tamu tidak menaruh curiga.


"Mom?" Zie ingin sekali menolak tapi Anggia menggeleng, lalu berbisik, "jangan permalukan Ayah dan Daddy di sini banyak tamu."

__ADS_1


__ADS_2