Mantan Jadi Mertua

Mantan Jadi Mertua
Bab 23


__ADS_3

Kini Zie sudah kembali ke rumah, begitu pun dengan Alma.


Keduanya sekarang duduk di kamar Zie.


Jika Alma sibuk dengan tugas kuliah, maka lain lagi dengan Zie yang terus fokus mencari sesuatu tentang apa yang barusan terjadi.


Sejak pulang dari hotel bersama Firman, Zie terus mencari di aplikasi pada ponselnya tentang kehamilan.


Alma yang duduk di sampingnya merasa kebingungan melihat Zie yang sangat fokus pada layar ponselnya.


Dengan perlahan Alma mendekati Zie dan melihat apa yang tengah di lihat oleh sepupunya itu.


"Hey!"


Zie menyadari Alma sedang mencuri-curi melihat layar ponselnya dan itu membuatnya kesal.


"Hehehe," Alma cengengesan saat tahu jika tertangkap basah oleh Zie.


"Mau tahu aja!"


"Abisnya lu serius banget," Alma masih penasaran dan seketika matanya melebar setelah menyadari bahwa Zie mencari tahu tentang kehamilan, "Zie?!!" Alma berseru dengan shock.


"Apaan sih?"


Zie mendorong wajah Alma yang begitu dekat dengan nya.


"Lu, ngapain liat tentang kehamilan?!"


"Hussss!" Zie langsung menutup mulut Alma, "diem, bisa diem?"


"Em!" Alma mengangguk.


Zie seketika melepaskan Alma, kemudian ia turun dari ranjang dan mengunci pintu kamarnya.


"Zie, jawab dulu dong?!"


Alma sudah tidak sabar, ia sampai meloncat dari atas ranjang untuk mendekati Zie.


"Jadi tadi itu begini, gue ngomong Pak Firman banci dan di bawa gue ke hotel," Zie menceritakan semuanya pada Alma, tanpa ada yang terlewatkan.


Alma bukannya iba pada Zie tapi malah tertawa sejadi-jadinya, hingga membuat Zie bingung.


"Apaan, sih?" Zie menatap Alma penuh tanya.


"Zie, biasanya lu lebih pintar dari gue, kok sekarang mendadak lu yang bodoh," Alma terus saja menertawakan Zie.


Semakin Zie kebingungan, semakin kencang pula tawa Alma menggelegar.


"Diam bego!" Zie memasukan tisu ke dalam mulut Alma yang terbuka menertawakan nya.


"Sialan lu!" Alma membuang tisu dari mulutnya, lalu menyusul Zie yang sudah naik ke atas ranjang, "hamil dari mana coba? Kan enggak di masukin, perawan aja enggak rusak, masa iya hamil," tambah Alma lagi sambil melempar tubuhnya ke atas ranjang.


Zie seketika bangun dan menatap Alma dengan penuh tanya.


"Apa liat-liat!" Pekik Alma.

__ADS_1


"Hehehe," Zie cengengesan menunjukkan dua baris gigi rapinya, "iya, juga ya, berarti cupu sialan itu udah nipu gue dong," tebak Zie.


Alma seketika bangun dan menatap Zie dengan serius.


"Lu udah baca grup belum?"


"Kenapa?" Zie sama sekali tidak tertarik pada topik pembahasan Alma.


"Besok itu, hari terakhir taruhan lu sama Niken dan kalau lu kalah besok lu jadi babunya, coba lihat di grup!"


"Bodo amat, gue harus telpon dosen sialan yang udah berani melecehkan gue siang tadi."


Zie mencari nomor kontak Firman, siang tadi keduanya sudah bertukar nomor ponsel dan itu karena Firman mengatakan bahwa Zie bisa saja hamil.


Panggilan terhubung Firman menjawab di seberang sana, belum juga Firman berbicara Zie sudah mengomel.


"Bapak bohong ya sama Zie, katanya Zie bisa hamil, padahal kan enggak di masukin, Bapak mau nipu Zie ya!" Sergah Zie dengan rentetan pertanyaan.


Firman sampai menjauhkan ponselnya dari telinga, mendengar teriakan Zie membuat telinga nya sakit.


"Pak, jawab! Jangan diem doang?!" Seru Zie lagi.


Firman kembali mendekatkan ponselnya pada telinga, ingin sekali tertawa terbahak-bahak karena, Zie tahu bahwa siang tadi sudah di tipu habis-habisan.


"Ya sudah besok saya masukin," jawab Firman santai.


Tangan nya memainkan bolpoin, pikirannya tengah pusing karena ada kasus korupsi di perusahaan tapi, mendengar suara Zie membuat moodnya malah membaik.


Padahal Zie menghubungi hanya mengomel saja.


Panggilan terputus dan Firman yang mengakhiri hingga membuat Zie geram.


"Ish!!!" Zie meremas ponselnya dengan amarah yang memuncak.


"Tenang dulu dong, ini ada apa?"


Alma penasaran entah apa kata-kata yang di dengar Zie hingga sepupunya itu terlihat begitu kesal.


"Masa iya setelah gue marah dia malah bilang, ya, sudah besok saya masukin, punya otak nggak sih dia?!"


"Mmmmfffffpp," Alma menutup mulutnya mendengar cerita dari mulut Zie.


"Ketawa aja enggak usah di tahan!"


"Ahahahhaha......" tawa Alma lepas seketika.


"Brengsek lu!" Zie memukul wajah Alma dengan majalah.


"Prediksi gue, lu bakalan jodoh sama Pak Firman," kata Alma di iringi tawa yang masih menggelegar.


"Kalau ngomong hati-hati, mau gue lem itu mulut lemes lu!" Geram Zie.


"Udah, ah, tapi BTW dia tampan lho, usianya memang enggak muda tapi lu enggak ngerasa apa kalau dia itu cool parah."


Alma menutup mata dan membayangkan Firman dengan dada bidangnya nya saat di kantor.

__ADS_1


"Lu enggak liat pas dia di kampus?" Tanya Zie.


Khayalan Alma seketika berubah hancur, karena Firman yang tampan berubah menjadi Firman yang cupu.


"Ngerusak suasana aja lu, ah!" Alma mengibaskan tangannya dan merasa kesal pada Zie.


"Besok kita ke kampus kan?" Tanya Zie.


***


Keesokan harinya.


Hari ini Zie harus ke kampus, setelah itu barulah ia ke kantor.


Tin tin tin.


Alma menekan klakson mobil sebanyak mungkin, ia menunggu Zie cukup lama karena belum muncul juga sampai saat ini.


"Heh, brisik!" Zie segera masuk ke dalam mobil.


"Lama banget," gerutu Alma.


***


Sampai di kampus keduanya berjalan beriringan, masih seperti biasanya menjadi pusat perhatian oleh para mahasiswa.


"Hey!" Niken tiba-tiba berdiri di hadapan Zie dan Alma.


"Apaan, sih!"


Zie ingin menghindari Niken, tetapi Niken terus berusaha menghalangi langkahnya untuk pergi.


"Hari ini lu, gue anggap kalah, karena, sampai detik inipun lu belum bisa deketin Pak Cupu," ujar Niken penuh kemenangan.


Mahasiswa sudah berkumpul dengan banyaknya, Niken memang sudah mengumpulkan mereka untuk menyaksikan Zie di permalukan pagi hari ini.


Niken merasa ia akan menang karena terbukti Zie belum bisa memenangkan taruhan mereka.


"Teman-teman semuanya menjadi saksi, kalau hari ini pun Zie belum bisa memenangkan taruhan itu ya," Niken tersenyum bahagia semakin merasa di atas awan.


Melihat Zie yang tengah diam dan akan segera kalah.


Pertama kalinya Zie bisa kalah dan di permalukan di depan teman-teman kampus membuatnya merasa menjadi manusia paling bahagia di dunia ini.


"Zie," Alma menyenggol lengang sepupunya, ia sangat takut jika Zie kalah.


Zie mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Firman.


[Pak, bantuin Zie] Zie.


Firman masih diam, ia tahu kini di kampus sedang ada ketengan dan ia hanya duduk di ruangannya.


Tanpa membalas pesan dari Zie.


[Pak, please, Zie enggak mau kalah taruhan sama Niken] Zie.

__ADS_1


Zie masih mengirim pesan dan masih saja sama Firman tetap diam hanya membaca tanpa membalas.


__ADS_2